NovelToon NovelToon
Suami Mafia Sang Polwan

Suami Mafia Sang Polwan

Status: tamat
Genre:Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas / Action / Tamat
Popularitas:196.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.

Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.

Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.

Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.

Seorang penegak hukum menikahi penjahat?

Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Siapa Kamu Sebenarnya?

Belum?

Kalimat singkat itu justru membuat Rahardja semakin sulit berkata-kata.

Sebelum suasana menjadi semakin canggung, Chantika segera berdiri. "Pa..."

Rahardja menoleh.

"Boleh kita bicara di ruang kerja Papa?" pinta Chantika. Tatapannya penuh permohonan. "Bertiga... bersama Enzo."

Rahardja memandang putrinya beberapa detik, lalu mengangguk pelan.

"Baik." Ia menutup kembali map tersebut. "Mari ke ruang kerja Papa."

Rahardja berdiri lebih dulu sambil membawa map hitam itu.

Enzo ikut bangkit dari duduknya. Sebelum melangkah, ia sempat memberi isyarat kecil kepada Marco agar tetap berada di ruang tamu. Marco mengangguk paham.

Tak lama kemudian, Rahardja, Chantika, dan Enzo menghilang di balik pintu ruang kerja. Pintu pun tertutup.

Begitu pintu tertutup rapat, Saras langsung menoleh ke arah ibunya. "Ma... Apa sebenarnya isi map itu?"

Ranti menggeleng pelan. "Mama juga belum tahu. Tapi ekspresi Papa kamu sampai berubah begitu..."

Saras menggigit bibirnya. "Pasti bukan dokumen biasa."

Di sisi lain, Marco hanya duduk dengan punggung tegak. "Kalau mereka tahu Bos sebenarnya menyerahkan aset bernilai ratusan miliar rupiah saat lamaran, mungkin mereka bukan cuma terkejut..."

Sudut bibir Marco terangkat samar, nyaris tak terlihat. "Mereka bisa mengira Bos sedang mengakuisisi keluarga calon istrinya."

Marco segera mengusir pikiran itu dan kembali memasang wajah datar.

Sebagai asisten dan sekretaris utama, ia sudah terbiasa melihat keputusan-keputusan besar Enzo. Namun bahkan baginya, lamaran kali ini tetap terasa di luar dugaan.

Ia menghela napas pelan. "Bahkan aku yang sudah lama bekerja dengan Bos pun masih dibuat terkejut."

 

Sementara itu, begitu pintu ruang kerja Rahardja tertutup di belakang Enzo, suasana langsung berubah hening.

Rahardja tidak segera duduk. Ia kembali membuka map hitam di tangannya. Satu per satu dokumen itu diperiksanya lagi.

Akta hibah hotel. Akta hibah vila. Dokumen pengalihan saham. Semua menggunakan kop perusahaan yang sama.

Nomor akta. Tanda tangan notaris. Cap resmi. Tidak tampak sedikit pun seperti dokumen palsu. Rahardja mengangkat wajahnya.

"Ini asli?"

"Asli, Pa," jawab Enzo tenang.

"Kalau begitu..." Tatapan Rahardja menajam. "Siapa kamu sebenarnya?"

Enzo tidak langsung menjawab. Ia justru menoleh kepada Chantika. Chantika mengangguk pelan, seolah memberi izin.

Enzo menarik napas. "Nama saya Enzo Arkan Pradana."

Rahardja menunggu kelanjutannya.

"Saya CEO Arkana Global Logistics."

"..."

Beberapa detik Rahardja hanya memandang wajah Enzo. "CEO Arkana...?"

"Iya, Pa," jawab Enzo mantap.

Rahardja kembali melihat dokumen di tangannya. Pantas saja. Semuanya kini terasa masuk akal. Ia kembali menatap Enzo.

"Kalau kamu memang CEO, kenapa datang berpakaian seperti staf?"

Kali ini Chantika yang menjawab. "Itu permintaanku, Pa."

Rahardja menoleh.

"Aku ingin mengenalkan Enzo apa adanya," jelas Chantika. "Bukan karena jabatan. Bukan karena hartanya. Aku ingin tahu... apakah keluarga kita bisa menerima seseorang hanya karena dia adalah pilihanku."

Rahardja terdiam.

Chantika melanjutkan dengan pelan. "Dan ternyata dugaanku benar."

Rahardja mengernyit.

"Dari awal Tante Ranti dan Saras sudah menganggap Enzo rendah karena mengira dia hanya staf."

Rahardja langsung teringat gumaman Saras beberapa menit yang lalu.

"Yakin ini semua premium?"

Chantika menatap ayahnya. "Papa juga mendengarnya, 'kan?"

Rahardja mengangguk pelan. "Lalu..."

Chantika tersenyum tipis. "Papa ingat dulu waktu Papa ingin menjodohkanku dengan putra rekan bisnis Papa?"

Rahardja mengangguk lagi. "Masih."

"Waktu itu Tante Ranti yang membujuk Papa agar perjodohan itu dikasih sama Saras. Aku gak keberatan. Karena saat itu aku memang ingin fokus mengejar cita-citaku menjadi polisi."

Rahardja mulai memahami arah pembicaraan putrinya.

"Tapi sekarang berbeda, Pa." Chantika menatap lurus ke mata ayahnya. "Kalau Saras tahu Enzo adalah CEO Arkana Global Logistics..."

Ia berhenti. Tak perlu melanjutkan kalimatnya. Rahardja sudah mengerti. Saras kemungkinan besar tidak akan berhenti membandingkan.

Bahkan bukan tidak mungkin mencoba merebut perhatian Enzo seperti yang pernah terjadi pada perjodohan dahulu.

Rahardja mengembuskan napas panjang. Ia menoleh kepada Enzo. "Jadi... kamu rela menyamar hanya karena permintaan Chantika?"

Enzo mengangguk tanpa ragu. "Kalau itu bisa membuat Chantika merasa tenang, saya gak keberatan."

Rahardja memerhatikan pemuda di hadapannya cukup lama. Bukan jawabannya yang membuatnya terdiam. Melainkan caranya menjawab.

Tidak ada nada membanggakan diri. Tidak ada kesan sedang memamerkan kekayaan. Semuanya diucapkan setenang orang yang memang tidak merasa statusnya perlu dibicarakan.

Perlahan sudut bibir Rahardja terangkat. "Kalau begitu..."

Ia menutup kembali map di tangannya. "Sepertinya malam ini aku bukan cuma belajar mengenal calon menantuku."

Rahardja tersenyum tipis. "Aku juga sedang belajar mengenal putriku sendiri."

Rahardja akhirnya mengalihkan pandangannya kepada putrinya. "Jadi... selama ini kamu merasa tertekan tinggal di rumah ini?"

Chantika menggeleng pelan. "Gak juga, Pa." Ia tersenyum hangat. "Aku masih punya Papa yang selalu berusaha ngertiin aku."

Jawaban itu justru membuat dada Rahardja terasa semakin sesak. Ia mengembuskan napas panjang.

"Dulu Papa berpikir, setelah mamamu meninggal, kamu butuh figur seorang ibu." Tatapannya perlahan menunduk. "Karena itu Papa menikahi Ranti."

Ia kembali menatap Chantika. "Alasan Papa yang lainnya juga sudah pernah Papa ceritakan kepadamu."

"Iya, Pa." Chantika mengangguk pelan. "Aku ngerti. Aku gak pernah nyalahin Papa. Papa ngambil keputusan itu juga dengan banyak pertimbangan. Lagipula, Papa memang berhak memiliki pendamping hidup setelah Mama meninggal."

Rahardja tersenyum pahit. "Tapi ternyata..." Ia menghentikan kalimatnya sejenak. "Papa salah memperkirakan."

"Bukan salah, Pa." Chantika menggeleng. "Hanya saja... siapa sangka sejak awal aku merasa ada jarak antara aku dan Tante Ranti."

Ia tersenyum tipis. "Jarak yang rasanya sulit sekali untuk diseberangi."

Rahardja memejamkan mata sesaat. "Maafkan Papa."

Suara pria itu terdengar lebih berat dari biasanya. "Papa benar-benar mengira keputusan itu juga akan baik untukmu. Papa berharap kamu kembali punya sosok ibu yang bisa menemani dan menyayangimu."

Ia menghela napas. "Awalnya Papa melihat hubungan kalian memang masih canggung. Papa pikir itu wajar. Papa yakin seiring berjalannya waktu kalian akan semakin dekat."

Rahardja tersenyum getir. "Ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Jarak itu semakin lama semakin lebar."

Chantika menggenggam lembut tangan ayahnya. "Karena itu aku memilih tinggal bersama Nenek. Tapi Papa tetap berusaha ngasih aku perhatian dan kasih sayang. Walaupun dari jauh. Walaupun kita gak bisa ketemu tiap hari."

Ia tersenyum hangat. "Bagiku... itu sudah lebih dari cukup."

Rahardja menggenggam balik tangan putrinya. "Makasih..."

Suara itu hampir tak terdengar. "Makasih karena gak pernah membenci Papa."

Chantika menggeleng sambil tersenyum. "Aku gak punya alasan untuk membenci Papa. Aku justru bangga punya ayah seperti Papa."

Di sudut ruangan, Enzo hanya terdiam. Sejak tadi ia memilih menjadi pendengar. Namun melihat percakapan ayah dan anak itu, ada sesuatu yang menghangatkan dadanya.

"Ternyata... Chantika menyayangi ayahnya bukan karena beliau sempurna. Tetapi karena di balik kekurangannya, Papa selalu berusaha menjadi ayah yang bertanggung jawab."

Enzo menunduk tersenyum pahit. "Gak kayak ayahku." Jemari tangannya perlahan mengepal. "Pria brengsek itu malah bikin aku trauma hingga saat ini."

Enzo kembali menatap Chantika. Urat-urat di jemari tangannya perlahan mulai mengendur.

"Pantas saja Chantika tumbuh menjadi perempuan yang begitu lembut, gak pendendam, dan selalu berusaha memahami orang lain."

Perlahan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Dalam hati ia berjanji...

"Mulai hari ini, bukan hanya Chantika yang akan aku jaga. Tetapi juga keluarga yang begitu berarti baginya."

"Jadi..." suara Rahardja memecah keheningan yang sempat menyelimuti ruangan.

Ia menatap Enzo dan putrinya secara bergantian.."Kalian ingin Papa merahasiakan identitas Enzo?"

Chantika dan Enzo saling berpandangan sejenak. Tak satu pun dari mereka langsung menjawab.

 

...🔸🔸🔸...

..."Tidak semua rahasia lahir dari kebohongan. Ada yang disimpan demi melindungi ketenangan orang-orang yang kita cintai."...

..."Status bisa disembunyikan, tetapi ketulusan akan selalu menemukan jalannya untuk dikenali."...

..."Keluarga yang baik bukan keluarga tanpa kekurangan, melainkan keluarga yang mau saling memahami dan memperbaiki kesalahan."...

..."Anak yang baik bukanlah anak yang tidak pernah terluka, melainkan anak yang tetap memilih menghormati orang tuanya meski pernah kecewa."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anonim
Enzo sudah siap membidik tepat di kepala penyendera. Namun Enzo tidak mau ambil resiko. Bisa mengenai Chantika yang berada di depan penyandera.

Chantika masih mempertimbangkan untuk menggunakan cincin pemberian Enzo. Menunggu saat dan tempat yang tepat. Jangan sampai keputusannya salah.

Enzo dari jarak jauh mengenali gerakan kecil ibu jari Chantika
Anonim
Chantika dan anggota lain perhatiannya tertuju pada kondisi Rizal. Sampai tidak menyadari bahaya mengancam Chantika.

Duuh Chantika disandra - badannya, lehernya disikep tangan kekar lawan, ditodong pistol tepat di pelipisnya.

Penyandera minta disiapkan kendaraan.

Penyandera menyeret tubuh Chantika mundur selangkah demi selangkah.
Anonim
Yang ditunggu selama tujuh menit akhirnya datang juga.

Duuuuh malah terjadi tembak menembak.

Rizal kena sasaran tembak. Bersyukur mengenakan rompi anti peluru, kalau tidak sudah terlentang tinggal nama. Tapi peluru kedua menyerempet bahu kirinya.

Kalau Chantika tidak tepat waktu menerobos hujan peluru untuk melindungi Rizal dari dua pria bersenjata, tamat sudah riwayatnya.

Tembakan Chantika tepat sasaran, salah satu pria bersenjata langsung roboh. Yang satunya lagi berlindung.

Kuat ya Chantika menyeret Rizal dengan satu tangan untuk di bawa ke balik kontainer.
Anonim
Enzo tersenyum melihat istrinya menggunakan anting pemberiannya sebagai senjata untuk memperdaya lawan.

Enzo masih membiarkan istri dan anggota Resmob berlari keluar dari kejaran lawan yang semakin bertambah dari arah belakang.

Belum saatnya Enzo turun.
Anonim
WOW...Chantika ingat anting pemberian dari Enzo, yang sudah terpasang alarm ultrasonik.

Chantika dan tim sudah terdesak, sekarang saatnya anting dilepas dan dilempar ketengah kerumunan.

Gelombang suara berfrekuensi tinggi efeknya luar biasa untuk mengalihkan perhatian lawan.

Seluruh pria bersenjata jadi terlihat kacau.

Chantika tidak menyia-nyiakan kesempat yang ada. Ia memberikan perintah menyerang.

Chantika memberikan tembakan perlindungan. Menyuruh anggotanya keluar.
Ass Yfa
dari awal aku seh ngira Saras ank bawaaan Ranti ternyata benar
Anonim
Tujuh menit kelamaan komandan.

Duuuh Chantika kehabisan peluru lagi. Rizal juga pelurunya tinggal sedikit.

Chantika membagikan penyumbat telinga pada rekan-rekannya. Dipakai nanti kalau terdesak kali.

Duuuhhh IPTU Chantika sudah dikenali oleh pemimpin lawan.

Saatnya timnya memakai penyumbat telinga, setelah Chantika bilang - sekarang.
Anonim
Chantika dengan tim hanya berjumlah enam orang. Tak sebanding dengan pihak lawan yang berjumlah dua puluh tiga orang bersenjata.

Chantika dan timnya sudah dikepung

Waduuuh - komandannya tidak melihat situasi yang dihadapi Chantika dan timnya. Kelamaan datangnya tim bantuan.

Enzo si The Ghost dan seluruh tim yang sudah siap menolong Chantika.
Anonim
Rizal pasti sangat panik nengetahui jalur keluar untuk menghindar dari lawan tertutup sebuah truk trailer.

Tak ada pilihan keluar selain mundur ke dermaga.

Waduh anggota perempuan terkena serpihan peluru dikakinya. Chantika segera menarik rompi rekannya.

Lawan lebih dari dua puluh orang.

Lawan yang dipanggil Bos meremehkan polisi, melihat cuma satu tim yang datang.

Melarang anak buahnya menghabis Chantika dan timnya. Instruksinya tangkap hidup-hidup.
Anonim
Enzo sudah berada di atas crane bongkar muat - mengamati semua melalui teropong optik.

Menatap Chantika yang berada dibawah hujan peluru memimpin anggotanya mundur dengan tenang.

Titik berdiri Enzo jauh amat. Beberapa ratus meter dari Chantika berada.

Jangan sampai tidak bisa memberikan perlindungan untuk Chantika.

Vito saja sangat khawatir dengan keselamatan Chantika.
Anonim
Jeli juga tuh pria bertubuh kekar, segel plastik pengaman sedikit bergeser tahu dia.

Sepertinya yang buka pintu kontainer nomor tujuh belas anak buah Vito. Anak buah Vito jadi tahu isi kontainer minyak goreng.

Yang kena getahnya Chantika dan timnya ini.

Duuuh Chantika dan timnya dalam bahaya. Kepala Chantika hampir kena sasaran tembak.

Seruuuuu...ikut sport jantung membacanya
Anonim
Tiga puluh menit, Enzo. Mesti terbang ke sana. Chantika dalam bahaya seperti yang Vito khawatirkan.

Enzo sendiri tahu lawan Chantika dan timnya bukan orang biasa.

Semoga saja Enzo tiba di kawasan pelabuhan belum terlambat.
Anonim
Enzo mendengar laporan dari Vito, Chantika ada di kawasan pelabuhan, di duga sebagai surveillance.

Enzo pasti tahu apa resiko yang akan dihadapi Chantika serta timnya di sana.
Anonim
Saras sebagai anak maupun sebagai karyawan di perusahaan milik Papanya tidak ada yang bisa dibanggakan.

Bagaimana bisa dengan tepat menyelesaikan laporan, kalau Saras sering meninggalkan kantor di jam kerja.
Anonim
Nah lo Saras mendapatkan ceramah panjang dari Papanya.

Kapok kau Saras. Tiga puluh menit belum ada di kantor, dianggap mengundurkan diri.

Akhirnya Saras mesti harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan laporan evaluasi proyek.

Jangan harap bisa mengetahui siapa Enzo.
Anonim
Saras ketahuan Papanya tidak ada di kantor.

Tanggung jawab kerjaan diabaikan. Keperluan pribadi kepo siapa Enzo diutanakan. Dasar Saras. Macam begini kok mau jadi manajer.

Tidak bisa menjawab cepat pertanyaan dari Papanya. Keperluan pribadi.

Weleeehhh Saras
Anonim
He he...Enzo ngerjain adik ipar yang kepo berat serta tak tahu diri.

Enzo menyuruh Marco yang turun menemui Saras. Dan mengatakan tidak mengenal Saras.

Saras sangat kesal terhadap Marco yang tidak mengenalnya.

Mau ketemu kakak ipar kok sulit ya Saras 😁. Dianggurin satu jam di ruang tunggu.

Bisa jadi tuh Enzo yang menghubungi Papa mertua.
Anonim
Saras kurang kerjaan, mendatangi kantor Enzo, Arkana Global Logistics. Masih saja penasaran dengan Enzo.

Di depan meja resepsionis, Saras bilang mau bertemu Enzo. Belum ada janji. Dia bilang adik iparnya.

Marco yang sudah dihubungi resepsionis, memberi tahu Enzo.
Anonim
Enzo telah mendapat laporan dari Vito tentang tim pengintai yang telah mendapati aktivitas yang mencurigakan di gudang kawasan pelabuhan.

Dokumen pengiriman menyebutkan muatan berupa mesin industri.

Anak buah Vito sudah memastikan isi kontainer minyak goreng.

Pemiliknya belum diketahui. Pengawalnya kelompok bersenjata.

Chantika memimpin tim surveillance.

The Ghost dan anak buahnya malam nanti juga akan menggagalkan penyelundupan minyak goreng.

Pertempuran nanti malam bakal seru.
Zieya🖤
karya yg bagus🖤🖤🖤🖤
꧁꒰✨N̊ån̊å K̊i̊år̊å✨ ꒱꧂: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!