NovelToon NovelToon
Nyonya, Tuan Tidak Mau Bercerai!

Nyonya, Tuan Tidak Mau Bercerai!

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Zhao_Xena

Hezlin terjebak dalam pernikahan bisnis dengan Garra Xaverius Kingston, menggantikan Felicia—wanita yang meninggalkannya demi karier. Selama empat tahun, Hezlin perlahan jatuh cinta, meski tahu dirinya hanya pengganti.
Saat Felicia kembali, Hezlin memilih pergi. Ia meminta cerai, yakin Garra akan kembali pada cinta lamanya. Namun keputusan itu justru mengguncang Garra, yang baru menyadari bahwa kehilangan Hezlin lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Di antara masa lalu dan perasaan yang tak terucap, keduanya dihadapkan pada satu pilihan: berpisah… atau memperjuangkan cinta yang terlambat disadari.

"Aku ingin kita bercerai," -Hezlin Rayla Iyzebelle.

"Apa yang selama ini tidak cukup membuatmu tetap berada di sisiku?" -Garra Xaverius Kingston.

"Nyonya, Tuan tidak mau berceri!" -Ervan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11 ~ Masih Milikku

Hezlin tersenyum getir. "Aku rasa semuanya sudah jelas, jadi seharusnya kita tidak perlu bertemu lagi sampai proses perceraian selesai."

Belum sempat ia melangkah menjauh, Garra langsung menjulurkan tangan dan mencengkeram pergelangan tangannya dengan erat, tak memberi ruang sedikit pun untuk melepaskan diri. Tatapannya menajam, matanya memancarkan penolakan tegas.

"Dengarkan aku, Hezlin!" tegasnya dengan suara rendah namun bergetar kuat. "Surat perceraian belum turun, kita belum menandatanganinya. Jadi sampai detik ini, kamu masih istriku. Tidak ada yang bisa mengubah status itu hanya karena kamu memutuskan pergi begitu saja."

Hezlin merasakan genggaman itu makin kuat, membuat tulang pergelangannya terasa perih. Ia mendongak, menatap balik dengan pandangan yang tak kalah tajam.

"Lepaskan!" tekan Hezlin. "Kontrak pernikahan kita sudah berakhir, Garra! Bukankah kamu sendiri yang selalu bilang kalau pernikahan ini hanyalah urusan bisnis semata?"

"Jadi begini caramu berterima kasih pada keluargaku? Kalau bukan karena kami menolongmu saat itu, kamu dan keluargamu pasti sudah terlantar di jalanan!"

"Lepaskan aku!" Hezlin menarik tangannya sekuat tenaga. "Jangan pernah lagi membawa masalah hutang itu ke dalam pembicaraan kita!" sahutnya tajam.

Seketika tatapan Garra meredup, seolah ada sesuatu yang terpendam dalam benaknya yang tak pernah diungkapkan.

"Jika pernikahan ini soal hutang keluargaku.. Maka aku pun sudah melunasi semua itu dengan pengabdianku selama empat tahun menjadi istrimu," lanjut Hezlin dengan suara pelan namun tegas, napasnya mulai tersengal. "Apa masih belum cukup buatmu?"

"Cukup?!" desis Garra dengan nada mengerikan. "Aku sudah memberikan segalanya yang kalian minta… Apa semua yang aku berikan masih belum cukup untuk membuatmu tetap berada di sisiku?!"

“Apa maksudmu?!” Hezlin menatap tajam, matanya menyala oleh amarah. "Aku tidak pernah meminta apapun. Aku hanya melakukan sesuai kontrak pernikahan kita. Sekarang waktunya sudah habis, bukan? Akhiri saja semuanya! Aku tak ingin ada hubungan apa pun lagi dengan keluarga Kingston!”

Wajah Garra memerah menahan luapan emosi. Kata-kata Hezlin terasa seperti pisau yang menyayat, tapi bukannya rasa bersalah, yang muncul justru amarah karena merasa ditolak.

"Jadi kau benar-benar ingin mengakhiri semuanya?!" serunya dengan suara yang makin meninggi.

Tanpa berpikir panjang, ia mendorong tubuh Hezlin hingga terpepat rapat ke dinding, lalu menendang pintu hingga tertutup rapat dengan bunyi keras memastikan tak ada jalan keluar bagi wanita itu.

BRAKK!

"Garra, apa yang... Emhh!!"

Tak ada lagi kata-kata. Garra langsung menundukkan kepalanya dan menekan bibirnya ke bibir Hezlin dengan kasar dan paksa. Ciuman itu bukan tanda kasih sayang, melainkan luapan amarah, rasa memiliki, dan keinginan untuk membungkam semua ucapan yang menyakitkan hatinya.

Satu tangannya menekan bahu Hezlin agar tak bisa bergerak, sementara tangan lainnya mengunci tengkuknya agar wajahnya tak bisa berpaling. Bibirnya menekan keras, bahkan sedikit menggigit ujung bibir wanita itu karena rasa frustasi yang memuncak.

"Lepaskan… mmph! Garra, lepaskan aku!"

Hezlin meronta sekuat tenaga, memukul dada dan lengan Garra, bahkan mencoba mendorong tubuh besar itu menjauh. Namun tenaga pria itu jauh lebih mendominasi, membuat segala perlawanannya terasa sia-sia. Air mata mulai menetes di sudut matanya bukan hanya karena sakit, tapi juga rasa muak dan kecewa yang selama ini terpendam.

Hezlin semakin melawan, tenaganya terkumpul kembali hanya untuk menolak setiap sentuhan pria itu. Ia menggelengkan kepala dengan keras, memutar wajah ke samping berusaha melepaskan bibirnya, sementara kedua tangannya memukul dada Garra dengan lebih kuat, seolah ingin menepis segala rasa yang mungkin tersisa di hatinya. Tidak, kali ini ia tidak akan luluh lagi, tidak akan tergoda oleh kelembutan yang tak pernah nyata, tidak akan terbuai oleh sentuhan yang hanya muncul saat Garra merasa memiliki.

Namun bukannya mengendur, Garra justru semakin memperdalam ciumannya. Ia mendesak lebih dekat, menekan tubuh Hezlin rapat ke dinding hingga tak ada celah sedikit pun, lalu menyelipkan satu tangannya ke belakang pinggang wanita itu untuk mengunci posisinya agar tak bisa bergeser. Ciumannya yang tadinya kasar kini berubah menjadi lebih menggila, penuh hasrat dan kepemilikan yang tak terbantahkan seolah ia ingin menanamkan kembali tanda bahwa wanita ini masih miliknya, bahwa ia berhak atasnya kapan pun ia mau.

Jari-jarinya meremas lembut tengkuk Hezlin, memaksakan kepala wanita itu tetap menghadapnya, sementara lidahnya menjelajah masuk dengan berani, menuntut balasan yang tak pernah ia dapatkan. Ia ingin menghapus setiap kata perpisahan yang baru saja diucapkan, ingin membuktikan bahwa perasaan yang ia sembunyikan selama ini tak akan dilepaskan begitu saja.

Hezlin terengah-engah di sela-sela ciuman itu, dadanya naik turun hebat. Rasa panas yang menjalar seketika membuatnya marah pada dirinya sendiri tubuhnya masih merespons, meski hatinya sudah menolak habis-habisan. Ia menggigit bibir bagian dalamnya hingga terasa perih, berusaha melawan reaksi alami itu, berusaha mempertahankan keteguhan hati yang sudah susah payah ia bangun.

"Lepaskan… sialan… lepaskan aku!" desisnya parau begitu bibir Garra sedikit terangkat untuk menarik napas, matanya berkaca-kaca bukan karena terharu, tapi karena marah melihat betapa mudahnya pria itu memperlakukannya seperti barang milik semata.

Garra menatap wajahnya yang memerah, napasnya juga memburu, matanya gelap penuh emosi yang bercampur aduk, marah, takut kehilangan, dan hasrat yang meluap. Ia mengusap bibir Hezlin yang sedikit lecet dengan ibu jarinya, suaranya rendah dan berat, terdengar seperti peringatan sekaligus pengakuan yang tersembunyi.

"Kau bisa melawan sekuat apa pun, Hezlin… tapi percayalah, selama aku belum melepaskanmu, kau tidak akan bisa lari dariku."

Mendengar ucapan itu, tatapan Hezlin berubah seketika menjadi tajam dan penuh kebencian. Matanya memandang Garra seolah sedang melihat sesuatu yang paling menjijikkan di dunia ini. Rasa muak, sakit hati, dan amarah yang selama ini dipendam akhirnya meledak tanpa tersisa.

Tanpa ragu sedikit pun, ia mengangkat tangannya sekuat tenaga dan melayangkan tamparan keras tepat di pipi kanan Garra.

PLAK!

Suara benturan itu terdengar nyaring dan menggema di seluruh ruangan. Kepala Garra terayun ke samping akibat kekuatan pukulan itu, sementara bekas telapak tangan perlahan membentuk garis merah terang di kulitnya.

Hezlin menarik kembali tangannya, tangannya sedikit gemetar bukan karena takut, tapi karena luapan emosi yang meluap. Air mata kini mengalir bebas di pipinya, namun tatapannya tetap lurus menatap Garra tanpa rasa gentar sedikit pun.

"Bajingan!"

❤️

1
Zhao_Xena
bagi yang sudah membaca, author minta maaf ada revisi sedikit didalamnya yakk... tidak banyak tapi cukup mempengaruhi ceritanya.. terimakasih 💋
Siti Amalia
ceritanya bagus banget thor, jgn digantung ceritanya ya ...plisss
Siti Amalia
Novel nya bagusss banget thor ..jgn digantung ceritanya. plisss
Zhao_Xena: terimakasih banyak, selalu author usahakan sampai selesai ya... 🥰
total 1 replies
Emi Sudiarni
krang suka dgn sikat nya hezlin, kok cpat ambil kesimpulan klw garra mau kmbalidgn felicia
Alya Bau
up lagi kak, ceritanya seru😍
Zhao_Xena: di tunggu ya kak../Smile/
total 1 replies
Siti M Akil
lanjut thor
Zhao_Xena: Siap kak 🫡
total 1 replies
You `ka
lanjut 💪
Zhao_Xena: siap!🫡
total 1 replies
You `ka
semoga saja hamil, biar Felicia nggak ada kesempatan ganggu lagi
You `ka
🤣🤣🤣 kode itu.. butuh yang anget-anget
You `ka
jih! dasar ulat bulu. ada aja akalnya si Felicia.
You `ka
mendingan mundur deh, Felicia.. hati Garra udah bukan buat kamu 🤣🤣
N. Siti 12mplb_ukk
lnjut thor💪
Zhao_Xena: siap🫡
total 1 replies
🥀
laki kayak garra ni perlu dibuang kelaut
Zhao_Xena: buang aja kak.... biar dimakan paus 🤣🤣🤣
total 1 replies
You `ka
Kalau memang Hezlin beneran hamil, lebih baik tidak bercerai, dan Garra harus memperbaiki diri, jangan terus bersama Felicia..😤😤
Zhao_Xena: Garra harus belajar menjadi lebih romantis dan tidak kaku mungkin ya kak?🤣🤣
total 1 replies
You `ka
Garra mulai posesif...😝😝😝
Brown choco
Lemah banget cewe nya
You `ka
sampai muak Garra... sampai gumooh...🤣🤣🤣. jangan² Hezlin hamil itu..
You `ka
wahh.. seru ini.../Joyful/
You `ka
mampus! kena mental kan dengan jawaban Hezlin?🤣🤣
You `ka
wahh.. kael, jangan terlalu berharap dulu pada Hezlin.. takutnya nanti patah hati..🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!