NovelToon NovelToon
THE 13TH FLOOR

THE 13TH FLOOR

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:221
Nilai: 5
Nama Author: Putri CS

1. "THE 13TH FLOOR"

Genre: Horror • Mystery • Psychological • Plot Twist

Sinopsis: Sekelompok siswa mengikuti study tour ke sebuah hotel tua. Hotel itu hanya memiliki 12 lantai... tapi setiap jam 00.13, lift selalu berhenti di lantai 13.

Anehya, lantai itu tidak ada di denah hotel.

Satu per satu siswa yang turun ke lantai itu mulai menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri CS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23 dewaris darah arunika

DOR!

Peluru melesat lurus ke arah Naura Dalam sepersekian detik, Elang mendorong tubuh Naura hingga keduanya jatuh di balik meja perpustakaan.

BRAK!

Peluru menghantam rak buku dan membuat puluhan buku berjatuhan.

"Apa kamu nggak apa-apa?" tanya Elang sambil terengah-engah.

Naura mengangguk, meski wajahnya masih pucat.

Di luar perpustakaan, tiga orang bertopeng putih mulai memasuki gedung sekolah.

Guru dan murid berlarian menyelamatkan diri.

Suara kepanikan memenuhi koridor.

Raka mengintip dari balik jendela.

"Mereka masuk!"

Alea segera mengambil keputusan.

"Kita harus keluar lewat pintu belakang."

Mereka berlari melewati lorong perpustakaan yang sempit.

Namun ketika sampai di ujung lorong...

Seseorang sudah menunggu.

Seorang wanita berambut panjang mengenakan jas hitam.

Di dadanya terpasang lambang XIII berwarna perak.

Ia melepas kacamatanya dan tersenyum.

"Naura..."

"Akhirnya kita bertemu."

"Siapa kamu?" tanya Naura.

Wanita itu membungkukkan badan sedikit.

"Namaku Selena."

"Aku anggota Dewan Ketiga Organisasi XIII."

"Tugasku adalah menjemputmu."

"Aku nggak akan ikut!" jawab Naura tegas.

Selena tersenyum tipis.

"Itu bukan pilihan."

Ia mengeluarkan sebuah amplop tua dari tasnya.

"Ini milik ayahmu."

Naura membeku.

"Ayahku?"

Selena mengangguk.

"Ayahmu, Ardi Azzahra..."

"...adalah mantan peneliti Hotel Karunia."

"Beliau menemukan sesuatu yang seharusnya tidak pernah diketahui siapa pun."

"Tapi sebelum sempat mengungkapkannya..."

"...ia menghilang."

Naura menggeleng.

"Itu bohong."

"Ayahku masih hidup."

Selena memandangnya dengan tatapan iba.

"Kalau begitu..."

"Sudah berapa lama kamu tidak bertemu dengannya?"

Naura terdiam.

Ia baru sadar...

Ayahnya memang sering pergi berbulan-bulan dengan alasan pekerjaan.

Bahkan terakhir kali mereka bertemu sudah hampir setahun yang lalu.

Alea mengepalkan tangannya.

"Berhenti memainkan pikirannya!"

Selena tertawa pelan.

"Aku tidak berbohong."

Ia melemparkan amplop itu ke arah Naura.

Di dalamnya terdapat sebuah foto.

Foto lama yang memperlihatkan seorang pria muda.

Di sampingnya berdiri...

Raka kecil.

Dan pria itu...

Memang ayah Naura.

Raka membelalak.

"Itu Om Ardi..."

"Aku ingat beliau."

"Dulu beliau sering datang ke rumah."

Di balik foto itu terdapat tulisan tangan yang mulai pudar.

«"Jika suatu hari Naura menerima pesan dari Karunia, jangan biarkan dia datang sendirian."»

Tangan Naura mulai gemetar.

"Itu..."

"Itu tulisan Ayah..."

Belum sempat ia membaca lebih jauh...

DING...

Suara lift kembali terdengar.

Padahal mereka masih berada di lantai dasar sekolah.

Di tengah lorong...

Perlahan muncul sebuah pintu lift tua yang sebelumnya tidak ada.

Angka di atasnya berkedip merah.

13

Pintu lift terbuka perlahan.

Namun kali ini...

Yang keluar bukan makhluk menyeramkan.

Melainkan...

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan wajah penuh luka.

Pria itu menatap Naura dengan mata berkaca-kaca.

Lalu berbisik pelan,

«"Naura... Ayah datang menjemputmu."»

Naura membeku.

Wajah pria itu...

Sangat mirip dengan foto ayahnya.

"Ayah...?"

Suara Naura bergetar Matanya berkaca-kaca saat menatap pria yang berdiri di depan pintu lift.

Wajah itu...

Senyum itu...

Bahkan bekas luka kecil di pelipis kirinya sama persis seperti yang ia ingat Pria itu mengulurkan tangan.

"Naura."

"Ayo pulang."

"Ayah sudah lama mencari mu."

Naura melangkah satu langkah ke depan.

Namun...

"JANGAN!"

Teriakan Elang menggema di lorong sekolah.

Ia langsung menarik lengan Naura hingga gadis itu mundur beberapa langkah.

"Itu bukan ayahmu!"

Pria itu masih tersenyum.

"Elang..."

"Masih keras kepala rupanya."

Elang mengepalkan tangannya.

"Aku pernah melihat trik ini."

"Mereka bisa menciptakan ilusi dari ingatan seseorang."

Naura menoleh bingung.

"Tapi wajahnya..."

"Suaranya juga sama..."

Elang menggeleng.

"Itulah yang membuat Organisasi XIII berbahaya."

"Mereka bukan cuma memanfaatkan rasa takut..."

"...mereka memanfaatkan kerinduan."

Kalimat itu membuat Alea teringat pada kejadian di Hotel Karunia bertahun-tahun lalu.

Saat itu, kutukan juga hampir membuat mereka percaya pada sesuatu yang tampak nyata.

Pria yang mengaku ayah Naura menurunkan tangannya perlahan.

Senyumnya menghilang.

"Aku sudah bilang..."

"...jangan biarkan Elang hidup."

Seketika ekspresi wajahnya berubah.

Kulit di pipinya mulai retak.

Matanya berubah menjadi hitam pekat.

Tubuhnya perlahan hancur menjadi serpihan seperti kaca.

Dan di balik sosok itu...

Berdiri seorang pria bertopeng putih.

Direktur X.

"Selamat."

"Kalian lulus ujian pertama."

Suara pria itu terdengar melalui pengeras suara kecil di topengnya.

"Ujian?"

tanya Raka.

Direktur X mengangguk.

"Kalau Naura mengikuti sosok itu masuk ke lift..."

"...dia tidak akan pernah kembali."

Naura langsung merinding.

Direktur X menatap mereka satu per satu.

"Kalian ingin tahu kenapa kami mengincar Naura?"

Ia mengeluarkan sebuah map tua.

Di dalamnya terdapat silsilah keluarga.

Satu nama dilingkari tinta merah.

NAURA AZZAHRA

Di atas nama itu tertulis:

Keturunan ke 13 Penjaga Gerbang Karunia.

Semua terdiam.

"Ayah Naura bukan orang biasa."

"Begitu juga kakeknya."

"Selama puluhan tahun..."

"...keluarga mereka diam-diam menjaga agar Gerbang Karunia tidak pernah terbuka lagi."

Alea mengernyit.

"Kalau begitu, kenapa Organisasi XIII memburu mereka?"

Direktur X tertawa pelan.

"Karena..."

"...hanya darah keluarga itu..."

"...yang bisa membuka Gerbang untuk kedua kalinya."

Ucapan itu membuat wajah Elang langsung pucat.

"Tidak..."

"Itu tidak boleh terjadi."

Direktur X mengangkat tangannya.

Semua anggota XIII yang tadi mengejar mereka tiba-tiba berhenti.

"Aku tidak akan menangkap kalian hari ini."

"Permainan yang bagus harus dinikmati perlahan."

Ia mundur memasuki lift.

Sebelum pintu tertutup, ia mengucapkan satu kalimat terakhir.

«"Tiga belas hari lagi, Gerbang Karunia akan terbuka. Datanglah... atau biarkan dunia menanggung akibatnya."»

DING...

Pintu lift menutup.

Saat dibuka kembali...

Lift itu kosong.

Tidak ada siapa pun di dalamnya.

Namun di lantai lift...

Tertinggal sebuah jam pasir kecil.

Pasir hitam di dalamnya mulai mengalir perlahan.

Di bagian bawah jam pasir terukir angka:13 HARI

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!