Alya adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.
Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!
Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.
Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
Devan sama sekali tidak meninggalkan sisi Alya sejak mereka kembali dari menara Dirgantara Group. Pria itu membatalkan seluruh agenda bisnisnya, memilih untuk bekerja dari ruang kerja pribadi di penthouse sembari memastikan Alya berada di dalam jangkauan pandangannya setiap detik.
Malam kian larut, suara gemuruh guntur bersahut-sahutan di langit ibu kota, menandakan badai besar akan segera turun.
Alya sedang berbaring miring di atas ranjang *king size*, mencoba menenangkan pikirannya yang terus dibayangi ketegangan dari instruksi Devan tadi sore. Tangan cantiknya mengelus lembut perutnya yang membuncit di usia lima bulan. Anehnya, sejak dua jam lalu, suasana di dalam kandungannya terasa sangat hening. Kehadiran Baby El yang biasanya selalu ramai berceloteh atau memberikan komentar taktis mendadak membisu total.
"El?" batin Alya, memanggil janinnya dengan cemas. "Kamu tidur?"
Tidak ada jawaban. Hanya ada denyutan lambat yang tak biasa.
Alya menghela napas, mencoba berpikiran positif. Mungkin Baby El sedang kelelahan setelah mendeteksi ancaman dari Klan Blackwood tadi sore. Namun, tidak beberapa lama kemudian, sebuah sensasi aneh mulai menjalar dari dasar panggulnya.
*Sreeek...*
Awalnya, itu hanya seperti rasa mulas biasa—cengkeraman halus yang menyapu bagian bawah perutnya. Alya mencoba menggeser posisinya, meraih bantal tambahan untuk menopang punggungnya. Tapi bukannya mereda, rasa mulas itu mendadak berubah menjadi denyutan tajam yang menghantam tanpa peringatan.
*NIL!*
"Ugh!" Alya memekik pelan, tangannya seketika mencengkeram erat seprai sutra. Wajahnya yang semula tenang langsung memucat, keringat dingin sebesar biji jagung mulai membasahi dahinya dalam hitungan detik.
Rasa sakit itu bukan mulas biasa. Itu adalah rasa sakit melilit yang luar biasa dahsyat—seolah-olah ada ribuan jarum panas yang menusuk dinding rahimnya secara bersamaan, disertai sensasi tarikan yang sangat kuat dari dalam.
"D-Devan..." panggil Alya, suaranya sangat lirih, tertahan oleh rasa sakit yang membuat napasnya memburu terengah-engah. "Devan... tolong..."
Devan yang sedang memeriksa peta radar keamanan di meja kerja yang terletak di sudut kamar, seketika membeku. Pendengarannya yang tajam langsung menangkap intonasi rintihan Alya. Dalam sekejap, laptop mahal di depannya diabaikan begitu saja hingga hampir terlempar. Pria itu melesat mendekati ranjang dengan wajah yang dipenuhi kepanikan liar.
"Alya?!" Devan berlutut di tepi ranjang, merengkuh bahu Alya yang gemetar hebat. Matanya membelalak kaget saat melihat wajah istrinya yang sudah memutih dan bibirnya yang mengering bergetar. "Sayang, ada apa?! Kamu kenapa?!"
"S-sakit... Devan, perutku..." ringis Alya, memegangi perutnya yang mendadak terasa sangat keras dan tegang seperti batu. "Perutku sakit sekali... kramnya... ugh! Serasa mau pecah!"
Mendengar kata "sakit perut" dari bibir Alya di usia kehamilan lima bulan, darah di sekujur tubuh Devan seketika menyembur dingin. Rasa takut yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya—rasa takut kehilangan—mencengkeram dadanya hingga ia hampir lupa cara bernapas.
"Dokter! YUDHA! PANGGIL DOKTER KURNIAWAN SEKARANG!" raung Devan dengan suara baritonnya yang menggelegar menembus pintu tebal kamar.
Pintu kamar mendadak terbuka lebar. Yudha bersama dua pengawal masuk dengan napas memburu. "Siap, Tuan Muda! Ada apa?!"
"Dokter Kurniawan dan tim medis darurat! Bawa mereka ke penthouse detik ini juga! Kalau dalam lima menit mereka belum sampai, aku akan membumihancurkan rumah sakit mereka!" ancam Devan dengan mata abu-abu yang memerah penuh kemurkaan dan kepanikan mutlak.
"B-baik, Tuan Muda! Tim medis internal sudah berada di ambulans VVIP di lobi bawah, mereka segera naik!" Yudha berlari keluar sambil berteriak ke dalam *walkie-talkie*-nya.
Devan kembali memfokuskan seluruh perhatiannya pada Alya. Ia menaiki kasur, mengangkat bagian atas tubuh Alya dan mendekapnya erat-erat ke dalam dadanya. Tangannya yang gemetar mengusap keringat dingin di dahi Alya, sementara tangan lainnya mencoba mengelus perut Alya dengan sangat pelan, takut jika dorongan sekecil apa pun akan memperparah keadaan.
"Tahan, Alya... tolong tahan, Sayang. Aku di sini. Jangan tinggalkan aku," bisik Devan, suaranya yang biasanya dingin bagaikan baja kini terdengar sangat serak dan penuh permohonan yang memilukan. Ia mengecup kening Alya berkali-kali secara kalap. "Dokter sedang jalan ke sini. Kamu dan anak kita akan baik-baik saja... aku mohon!"
Di dalam kegelapan rasa sakit yang mencekam itu, kesadaran batin Alya mendadak ditarik masuk ke dalam ruang spiritual rahimnya. Di sana, bukannya melihat suasana hangat seperti biasa, Alya terperanjat melihat bentuk aura Baby El yang meredup drastis.
Cahaya keemasan yang biasanya melingkupi janin ajaib itu kini dikelilingi oleh kabut hitam keunguan yang sangat pekat—sebuah serangan racun spiritual jarak jauh!
> *[I-Ibu...]*
> *[Ugh... Maafkan aku, Ibu...]*
Suara Baby El terdengar sangat lemah, terputus-putus, dan sarat akan penderitaan yang luar biasa.
"El?! Apa yang terjadi?! Kenapa perut Ibu sakit sekali? Kamu kenapa?!" jerit Alya di dalam batinnya, menangis histeris saat melihat 'wujud' energi bayinya yang tampak mengkerut menahan sakit.
> *[Penembak jitu Klan Blackwood... di gedung seberang...]*
> *[Mereka tidak memakai peluru biasa, Ibu... Mereka menggunakan gelombang frekuensi audio infrasonik khusus perusak jaringan saraf janin yang ditembakkan lewat gelombang mikro menembus kaca penthouse!]*
> *[Aku... aku menggunakan seluruh energi pelindungku untuk menahan gelombang itu agar tidak menghancurkan otak dan jantungku... Tapi dampaknya... rahim Ibu mengalami kontraksi kejang hebat beruntun! A-aku tidak kuat menahannya sendirian lagi, Ibu... sakit sekali...]*
*DEG!*
Alya merasa jiwanya terhempas kembali ke dunia nyata. Rasa sakit di perutnya semakin memuncak, membuat tubuhnya melonjak kecil di dalam dekapan Devan sebelum terkulai lemas dengan erangan panjang.
"Aaargh! Devan... serangga itu... di gedung seberang..." rintih Alya, matanya menatap Devan dengan tatapan sayu yang nyaris kehilangan kesadaran. "Mereka... mereka pakai gelombang... untuk... membunuh... bayi kita..."
Mendengar bisikan terbata-bata dari Alya, mata Devan mendadak berkilat dengan amarah liar yang tak terbayangkan. Pria itu mengalihkan pandangannya ke arah jendela berlapis baja. Pikirannya yang jenius langsung menyambungkan semua titik: Klan Blackwood tidak mencoba menembus pintu depan yang dijaga ketat, mereka menggunakan teknologi serangan frekuensi tak kasat mata dari jarak jauh!
"Yudha!" raung Devan seraya terus memeluk erat tubuh Alya yang makin dingin. "Gedung Komersial Seberang! Lantai teratas! Tembak hancurkan tempat itu sekarang juga! Musnahkan siapa pun yang ada di sana!"
Tepat saat itu, pintu kamar kembali terbuka kasar. Dokter Kurniawan bersama dua perawat senior masuk membawa peralatan medis darurat dan mesin USG portabel. Wajah sang dokter veteran memucat melihat kondisi Nyonya Muda Dirgantara.
"Tuan Muda! Baringkan Nyonya Muda! Kami harus menyuntikkan obat penghenti kontraksi rahim dan penstabil hormon sekarang!" perintah Dokter Kurniawan tergesa-gesa.
Devan dengan sangat hati-hati membaringkan Alya di kasur, namun ia menolak melepaskan genggaman tangannya dari jemari mungil Alya yang terasa sedingin es. "Dokter Kurniawan... jika terjadi sesuatu pada istri dan anakku... kamu tahu konsekuensinya!"
"Kami akan melakukan yang terbaik, Tuan Muda!" Dokter Kurniawan dengan cepat menyiapkan jarum suntik berisi larutan penenang rahim dosis tinggi, lalu menusukkannya ke selang infus di tangan Alya.
Di saat obat kimia mulai masuk ke dalam pembuluh darah Alya, di dalam batinnya, Alya menyalurkan seluruh sisa tenaga dan cintanya sebagai seorang ibu untuk memeluk energi Baby El yang kian melemah.
"El... bertahanlah, Nak..." bisik Alya di dalam hati, air matanya menetes melewati pipinya yang pucat. "Ibu di sini... Ayah di sini... Jangan menyerah, Sayang..."
> *[I-Ibu... Ayah...]*
> *[Suntikan obat itu... membantu melonggarkan dinding rahim... Tapi serangan gelombang luar... harus dihentikan... atau aku... aku akan terpaksa lahir prematur malam ini...]*
Di luar Penthouse Lavender, suara ledakan dahsyat mendadak bergema di udara malam. Helikopter tempur internal Dirgantara Group yang dikirim Yudha baru saja menembakkan rudal presisi ke arah lantai teratas Gedung Komersial seberang, menghancurkan seluruh peralatan frekuensi milik assassin Klan Blackwood menjadi puing-puing berapi.
Seketika itu juga, tekanan tak kasat mata yang menghantam perut Alya terputus total!
*Hah... Hah... Hah...*
Alya mengembuskan napas panjang, kontraksi melilit di perutnya perlahan mulai menyurut, digantikan oleh rasa lemas yang luar biasa. Grafik di mesin pemantau detak jantung janin yang dipasang Dokter Kurniawan yang tadinya menunjukkan garis berbahaya, perlahan kembali berdenyut stabil: *Bip... Bip... Bip...*
"Denyut jantung janin mulai stabil kembali, Tuan Muda!" seru Dokter Kurniawan dengan napas lega, menyapu keringat di pelipisnya. "Krisis awal berhasil dilewati! Tapi kondisi kandungan Nyonya Muda sangat lemah, beliau harus istirahat total dan tidak boleh mengalami tekanan atau gerakan fisik sedikit pun selama beberapa minggu ke depan!"
Devan yang mendengar pernyataan itu merosot berlutut di samping ranjang, membenamkan wajahnya di atas tangan Alya yang saling bertaut. Pria yang tak pernah tunduk pada siapapun itu kini gemetar hebat, bahunya naik turun menahan isolasi rasa syok yang teramat sangat.
"Terima kasih... Tuhan... terima kasih..." bisik Devan serak, air mata yang amat jarang menetes kini membasahi jemari Alya.
Alya yang sudah melewati masa kritisnya, membuka matanya yang layu. Ia merasakan sebuah getaran sangat halus, hangat, dan kelelahan dari dalam rahimnya.
> *[Haaaah... Hampir saja aku terlempar keluar dari dunia ini...]*
> *[Ayah... Ibu... terima kasih sudah menyelamatkanku... Tapi perang ini... baru saja dimulai. Klan Blackwood harus dibayar tuntas sampai ke akar-akarnya!]*
Alya mengelus rambut hitam Devan dengan sisa tenaganya, menyunggingkan senyuman tipis yang sangat penuh kehangatan. "Devan... kami selamat... bayi kita selamat..."
Devan mendongak, menatap Alya dengan sepasang mata abu-abu yang kini tak lagi hanya memancarkan rasa cinta, melainkan dendam membara yang siap membumihancurkan seluruh anggota Klan Blackwood dari muka bumi tanpa sisa.