Seorang ayah angkat yang secara terpaksa menikahi putri angkat nya. Dia melakukan hal itu karena memenuhi janjinya kepada almarhumah sahabat nya untuk melindungi nya.
Sebenarnya dia telah gagal memenuhi janjinya karena nasib malang yang menimpa Artika. Ternyata masih memiliki hubungan darah dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MCT 27
"Darling, kok sepi banget sih? Para tamu undangannya pada ke mana? Apa nggak ada yang datang? Duh, kasihan tante dong. Dia pasti sedih atau kita yang salah jam?" Antika merasa khawatir.
Aldri dan Indira tersenyum. Mereka menggandeng tangan Antika dari kedua sisi lalu membawanya masuk.
"Surprise!!!!" Tiba-tiba Egi datang dan mengejutkan mereka.
atika tidak hanya terkejut tapi dia juga bingung.
"Selamat ulang tahun sayang." ucapan itu datang dari tiga orang secara serempak.
"Jadi hari ini ulang tahunku?" Mata Antika berkaca-kaca.
"Betul sayang. Selamat kini kamu sudah genap berusia 19 tahun. Semoga kamu semakin bahagia." Aldri memeluk Antika.
"Makasih Darling." Air mata lolos tanpa mampu ditahan lagi. Ia sangat bahagia.
"Aduh sudah sudah hari ini tidak boleh ada air mata. Nanti Sayang itumu make up nya luntur, fotonya nanti jadi jelek."
Atika melepas pelukan Aldri dan mengulas senyum. Gadis itu mulai memandang satu persatu foto yang ada di dinding. Foto yang sengaja Aldri siapkan. Kenangan sejak Antika bayi hingga dewasa. Semua kenangan itu membawa Antika dalam dunia mimpi karena baginya semua seolah tak nyata. Ternyata kehilangan ingatan bisa membuat seseorang merasa menjadi orang lain.
Di tempat lain lebih tepatnya di Surabaya. Anggara sengaja meminta sopir pribadinya untuk mengantarkannya menemui Antika meskipun kondisinya masih dalam pemulihan dan kontrol dokter. Pemuda itu ingin memberikan kejutan kepada Antika.
Ini pertama kalinya Anggara datang ke rumah Antika. Selama ini Anggara selalu dilarang Antika mengantarnya hingga ke dalam rumah. Antika tidak ingin Anggara kena marah Ayah angkatnya yang tidak menyetujui Antika berpacaran.
Kini Anggara menyesalinya mengapa tidak ada keberanian untuk membantah keinginan itu. Sejujurnya Anggara sama sekali tidak peduli seandainya ia kena marah. Setidaknya ia bisa bertemu keluarga Antika.
Anggara berada di depan rumah Aldri. Ia memencet bel, lama tak nampak seorang pun hingga akhirnya seorang satpam mendekat.
"Mau mencari siapa, Mas?"
"Maaf, Pak. Saya teman Antika. Apa dia ada?"
"Maaf, Mas. Neng Antika sudah lama pindah ke Jakarta bersama Pak Aldri."
"Apa? Pindah? Tapi, sejak kapan Pak?"
"Sudah hampir 2 bulan, Mas. Tapi maaf saya tidak berani kasih alamatnya. Itu perintah pak Aldri soalnya."
"Tapi, Pak. Saya ingin sekali ketemu Tika, Pak."
" Maaf kan saya, Mas." setelah memberikan tanda maaf dengan kedua tangan menyatu satpam itu kembali ke posnya.
Tubuh Anggara terasa lemas tanpa daya. Ia hampir saja menjatuhkan dirinya ke tanah. Namun sopirnya dengan sigap membantu Anggara kembali ke mobilnya.
Supir yang sudah lama ikut keluarga Andika itu merasa iba dengan kondisi majikannya. Dengan tubuh yang baru keluar dari rumah sakit memaksakan diri untuk datang ke Surabaya. Padahal kedua orang tuanya menentangnya. Akan tetapi mereka luluh dengan permintaan itu mengingat Anggara adalah buah hati satu-satunya. Kebahagiaan Anggara yang utama bagi mereka.
"Jadi, bagaimana, Den? Kita kembali atau menginap di hotel?"
"Kenapa? Kenapa mereka harus pindah? Dan kenapa juga harus menyembunyikan alamat rumah mereka? Kenapa? Arrrrgh!" air mata Anggara meluncur diikuti amarah dalam dirinya.
"Sabar, Den! Kita ambil hikmahnya. Justru malah bagus kan, Den. Aden Gara tidak perlu jauh-jauh untuk bisa menemui Non Antika. Kalau masalah alamat itu gampang, Den, Aden bisa minta bantuan Bapak kan." Ozi si supir pribadi keluarga Andika mencoba menenangkan.
Setelah mendengar penjelasan sopirnya anggaran merasa lebih tenang. Apa yang dikatakan sopir tersebut memang benar adanya.
"Kamu benar. Ayo kita segera kembali ke Jakarta!"
" Tapi, Den. Aden Gara tidak capek kah? Kita sudah melakukan perjalanan seharian. Maafkan saya, Den. Bukan nya ingin membantah, tapi Saya khawatir mengantuk saat menyetir nanti. Tolong maafkan saya, Den."
Sesungguhnya Ozi tak masalah seandainya harus kembali malam ini juga ke Jakarta. Akan tetapi ia sudah berjanji kepada orang tua Anggara untuk menjaga dan memperhatikan kesehatan putra mereka. Saat ini yang mereka butuh kan adalah istirahat yang cukup untuk menjaga kesehatan dan terutama keselamatan. Ia tidak ingin mempertaruhkan keselamatan mereka karena menuruti semua kemauan majikannya apalagi saat ini sedang kalut.
Anggara menyadari keegoisannya. Ia bahkan tidak mengajak Ozi istirahat untuk sekedar makan siang. Karena rasa antusiasnya, Anggara melupakan hak orang lain.
"Ya Allah. Maaf kan aku, ya, Zi. Baiklah kita nginap di hotel terdekat."
"Baik, Den. Terima kasih banyak, Den."
"Nggak. Aku yang harusnya berterima kasih, Zi."
"Sama-sama, Den." osi tersenyum ramah kepada Anggara.
Di Jakarta tepatnya di rumah Egi. Antika menyentuh satu persatu foto yang terpajang. Rasa takjub menyelimuti hatinya. Ternyata dirinya memang sudah bersama keluarga suaminya sejak masih bayi. Dalam hati Antika merasa sangat bersyukur bisa memiliki keluarga meskipun sejatinya ia sebatang kara.
"Ayo, sini! Cepat kita berdoa dan potong kue. Setelah itu makan malam dan buka kado! Ayo!" Egi sangat antusias. Keceriaan nya itu memberikan efek positif kepada orang-orang di sekitarnya.
"Ayo, Tika."
Antika mengangguk. "Iya, Darling."
"Wah kuenya gede banget. Padahal kita cuma bertiga aja."
"Tenang aja, Tika nanti kita sisihkan untuk paman, bibi dan Mbak yang selalu bantu kita. Sekarang kamu potong kuenya. Jangan lupa kasih dulu ke Aldi biar tidak ngambek." Egi terbahak-bahak.
"Edan kamu, Gi. Sejak kapan aku suka ngambek?"
"Sejak Kamu kenal gadis yang bernama Antika." Egi semakin terbahak. Indira pun tak bisa menutupi tawanya. Antika pun akhirnya ikut tertawa meski wajahnya bersemu merah.
Mereka memotong kue dilanjutkan makan malam. Suasana bahagia sangat terasa. Kini, mereka berada di ruang keluarga rumah Egi. Antika akan membuka kado dari mereka bertiga. Usai acara Antika beserta Aldri dan Indira pamit pulang.
Dalam perjalanan Indira menyampaikan rencananya untuk segera kembali ke Surabaya. Meskipun terasa berat mereka berdua harus merelakan keinginan Indira tersebut.
"Kenapa buru-buru, sih, Bu? Nggak nunggu sebulan lagi gitu? Atauuuu sekalian setelah kami umumkan pernikahan? Gimana?"
"Masalah itu gampang nanti kalau saatnya tiba Ibu bisa ke Jakarta lagi. Sekarang Ibu sudah kangen ingin pulang ke Surabaya. Ibu juga mau sowan ke makam Bapak, Nak "
"Ya sudah tidak apa-apa Tika. Ibu benar. Beliau sudah lama di Jakarta dan sudah saatnya kembali. Jangan ditahan lagi. Kasihan Ibu pasti juga ingin ketemu tetangganya." Aldri tertawa kecil.
"Heh, Al. Bukan begitu kamu ini." keduanya pun tertawa.
Mereka berdua tidak menyadari bahwa kata-kata Aldri membuat Antika merasa sedikit sedih. Bahkan di hari ulang tahunnya, mereka hanya merayakan berempat. Antika ingin sekali mengundang teman-temannya. Seandainya saja ia tidak lupa ingatan. Siapa sajak teman-temannya? Ia sungguh tidak ingat apapun.
"Tika kamu kenapa, Nak?"
"Ha? Oh, nggak kenapa-kenapa, kok , Bu." Antika mencoba tersenyum.
Aldri menyadari kekeliruannya. Pria itupun terdiam. Kini mereka berada dalam pikiran masing-masing.