NovelToon NovelToon
Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Anak Genius
Popularitas:410
Nilai: 5
Nama Author: Naga Ruwet

Dika Pratama ialah seseorang yang secara tak terduga kembali ke masa SMA ya ditahun 2010. dikarenakan ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus penyesalan terbesar nya yaitu ia tidak memanfaatkan bakatnya yaitu bermain sepakbola, lantas di kehidupan ini ia akan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan bakatnya untuk membawa Indonesia menjadi juara piala dunia.


yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Dika untuk menjadi seorang pesepakbola terbaik di dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naga Ruwet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aksi di Lapangan, Gempar di Tanah Air

Lokasi: Lapangan Latihan Utama Akademi Manchester City, Etihad Campus.

Waktu: Pagi hari cerah, keesokan harinya. Matahari bersinar terang menembus sela-sela awan putih, menyinari hamparan rumput hijau yang terlihat sangat halus, rata, dan berkilau basah oleh embun pagi. Udara pagi terasa segar dan dingin, namun suasananya di lapangan itu terasa panas dan penuh ketegangan.

Di sana, seluruh skuad tim U-21 Manchester City sedang berkumpul lengkap. Ada sekitar 25 pemain muda berbakat dari berbagai negara di Eropa, Amerika, dan Afrika. Semuanya bertubuh atletis, tinggi besar, dan terlihat sangat percaya diri. Di tengah-tengah mereka, berdiri dua sosok yang menjadi pusat perhatian semua orang: Dika Pratama dan Rio.

Dika berdiri tegap, tinggi 179 cm, berat 72 kg. Tubuhnya proporsional, berotot padat dan kering, kulit sawo matangnya bersinar terkena matahari. Ia mengenakan kostum latihan berwarna biru langit, nomor punggung 10 tercetak besar di belakang bajunya. Wajahnya tenang, tatapannya tajam namun ramah, berdiri dengan sikap seorang kapten yang lahir dan batin. Di sebelahnya, Rio berdiri seperti gunung yang kokoh. Tinggi 183 cm, berat 78 kg, tubuhnya sangat besar, kekar, dan berisi. Bahunya sangat lebar, dadanya bidang, dan kakinya besar berotot kuat. Rio mengenakan nomor punggung 5, nomor khas bagi seorang bek tengah andalan. Ia berdiri diam, rahang kerasnya terkatup rapat, menatap lurus ke depan dengan sikap siaga, persis seperti seekor singa yang menjaga wilayahnya.

Pelatih tim U-21, Patrick Vieira – legenda sepak bola dunia yang kini menukar sepatu bolanya dengan jas pelatih – berjalan masuk ke tengah lingkaran pemain, wajahnya serius namun tersenyum penuh rasa ingin tahu. Ia sudah membaca data mereka, sudah melihat rekaman video, tapi pagi ini adalah kali pertamanya melihat langsung kemampuan dua talenta dari Indonesia itu secara nyata.

"Oke anak-anak! Perhatikan sebentar," seru Patrick dengan suara lantang dan tegas. Ia menunjuk ke arah Dika dan Rio.

"Perkenalkan, ini Dika Pratama dan Rio. Mereka bergabung dengan kita mulai hari ini. Dika bermain sebagai gelandang serang dan pengatur serangan, sedangkan Rio adalah bek tengah utama kita yang baru. Saya tahu banyak dari kalian penasaran, ada yang ragu, ada yang berpikir apakah mereka sanggup bersaing di level ini... Biar saya katakan satu hal: Berkas mereka ada di meja saya, dan profil mereka jauh melampaui standar rata-rata di ruangan ini. Sekarang... mari kita buktikan di lapangan. Ayo kita mulai latihan tanding! Tim A melawan Tim B."

Pembagian tim pun dilakukan. Dika dimasukkan ke Tim A sebagai pengatur serangan utama, sementara Rio ditempatkan di Tim B sebagai benteng pertahanan paling belakang. Ini sengaja diatur agar mereka saling berhadapan, menguji kemampuan satu sama lain.

Peluit panjang berbunyi, pertandingan latihan pun dimulai.

Detik-detik awal, pemain-pemain lain masih sedikit meremehkan. Mereka mengira dua anak Asia ini mungkin punya fisik bagus, tapi teknisnya pasti masih tertinggal. Namun, dugaan itu hancur lebur dalam hitungan menit saja.

Di menit ke-5, bola jatuh di kaki Dika. Dengan posisi tubuh yang tegak dan santai, Dika menerima bola itu dengan sentuhan pertama yang sangat halus, seolah bola itu menempel di kakinya. Tanpa menunduk sedikit pun, matanya menatap ke depan, membaca pergerakan teman dan lawan dalam sekejap mata. Dua pemain lawan berlari mendesaknya, berniat merebut bola dengan kekuatan fisik. Namun Dika hanya sedikit menggeser berat badannya, memutar tubuhnya yang lentur dan atletis dengan sangat cepat, menerobos di sela-sela keduanya seolah-olah mereka tiang listrik yang diam.

Wusss!

Dika melesat maju, kecepatan larinya luar biasa, langkahnya panjang dan ringan. Ia tidak berlari kaku seperti pemain lain, gerakannya mengalir indah, penuh kendali. Saat seorang bek lain mencoba menutup ruang, Dika dengan tenang mengangkat kakinya, memberikan umpan matang melengkung indah melewati kepala pertahanan, jatuh tepat di dada rekannya yang berlari masuk ke kotak penalti. Gol!

"WUAHHH!!" Teriakan kagum meledak dari pinggir lapangan. Patrick Vieira sendiri sampai bertepuk tangan perlahan, matanya terbelalak takjub. "Visi permainan! Sentuhan pertama! Kecepatan pikiran! Itu kualitas pemain kelas dunia!"

Namun kehebatan belum berhenti di situ. Giliran Rio yang memamerkan dominasinya.

Di menit ke-12, serangan balik Tim B berjalan deras. Bola dioperkan ke depan ke arah penyerang andalan mereka, seorang pemuda berkebangsaan Inggris yang tinggi 185 cm dan sangat kuat fisiknya. Ia berlari kencang membawa bola, yakin tidak ada yang bisa menghentikannya. Tapi saat ia mendongak ke depan, napasnya seolah terhenti. Di hadapannya, berdiri sosok raksasa berbadan besar, berkulit gelap, dengan tatapan tajam yang mengintimidasi: Rio.

Penyerang itu mencoba mendribel melewati sisi kanan, tapi Rio bergeser dengan sangat cepat untuk ukuran tubuhnya yang raksasa. Kakinya yang besar dan kokoh menempel di tanah tak tergoyahkan. Saat penyerang itu mencoba menabrakkan badannya untuk menggeser Rio, Rio hanya sedikit menahan bahunya yang keras dan bidang itu. Brak! Penyerang itu malah terpental mundur beberapa langkah, seolah menabrak tembok beton.

Rio tidak panik, ia menunggu momen yang pas. Saat bola sedikit menjauh dari kendali lawan, dengan satu gerakan kaki yang tegas dan akurat, ia menyambar bola itu dan menguasainya. Tidak hanya itu, Rio tidak langsung menyepak bola jauh ke depan seperti bek biasa. Ia menenangkan bola di kakinya besarnya, memutar badan dengan tenang, lalu memberikan umpan akurat sejauh 40 meter tepat ke kaki rekannya di sisi kiri lapangan.

"BENTENG BETON DENGAN OTAK CERDAS!" seru pelatih asisten sambil mencatat cepat di buku catatannya. "Dia tidak cuma besar dan kuat, dia pintar membaca permainan, dia tenang saat punya bola! Ini tipe bek tengah modern yang paling mahal harganya!"

Pertandingan berlanjut, dan semakin lama, semakin terlihat perbedaan kelas antara keduanya dengan pemain lain.

Dika menguasai seluruh tempo permainan. Ia mengatur irama, memperlambat atau mempercepat sesuai keinginannya. Tendangan jarak jauhnya keras dan melengkung mematikan. Saat duel udara, tingginya 179 cm kalah angka, tapi lompatannya, waktu loncatnya, dan kekuatan tolakan kakinya membuatnya sering menang melawan pemain yang lebih tinggi 10 cm darinya.

Sementara Rio di belakang sana, tak ada satu pun bola lintang yang berhasil lolos. Ia memenangkan 100% duel udara yang ia ikuti. Ia memerintah pertahanan, menyuruh teman-temannya maju atau mundur dengan suara berat dan lantang yang didengar satu lapangan. Ia adalah jangkar yang tak tergoyahkan.

Di penghujung sesi latihan, Dika menerima bola di sisi kanan, dikelilingi tiga pemain bertahan. Dengan gerakan indah, ia mengelabui ketiganya sekaligus, lalu melesat ke dalam, menembak keras dengan kaki kiri. Bola meluncur deras ke pojok kiri gawang, tak terjangkau kiper. Gol indah!

Saat itu juga, Rio berlari dari jarak jauh dari belakang, menyambut Dika dengan pelukan erat yang kuat. Dua sahabat itu tersenyum lebar, saling menyikut bahu satu sama lain, sama seperti saat mereka masih kecil di lapangan tanah Sidoarjo. Mereka tahu... hari ini, mereka baru saja menggebrak markas raksasa biru langit ini.

Patrick Vieira berjalan menghampiri keduanya, wajahnya yang biasanya dingin dan serius kini berubah bersinar antusias. Ia menepuk-nepuk dada Dika, lalu menepuk lengan Rio yang tebal dan berotot.

"Kalian... kalian ini apa? Apa rahasia yang kalian makan di Indonesia sampai punya kualitas setinggi ini?" tanya Patrick takjub. "Dika, kamu punya visi dan keahlian teknis setara pemain tim utama. Rio... kamu adalah bek tengah paling lengkap yang pernah saya latih di usia semuda ini. Kuat, lincah, pintar, tenang... Kalian bukan sekadar tambahan skuad. Kalian adalah aset terbesar kami tahun ini. Teruskan seperti ini... waktu tidak lama lagi, kalian akan pakai seragam tim utama di Stadion Etihad."

Tepuk tangan riuh terdengar dari teman-teman satu tim yang tadi sempat ragu. Kini mereka semua mengakui kehebatan dua pendatang baru itu. Di lapangan itu, di Inggris, Dika dan Rio sedang bersinar terang, memamerkan keahlian tingkat dewa mereka dengan santai dan gembira.

Namun... di belahan dunia lain, ribuan kilometer jauhnya, di Indonesia, keadaan sedang benar-benar kacau, gempar, dan heboh tak terkira.

Siang itu, tepat saat latihan sedang berlangsung, akun resmi PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) di media sosial mengunggah sebuah postingan yang menggetarkan seluruh bangsa.

Di unggahan itu terdapat dua foto besar, beresolusi tinggi, dan sangat resmi. Foto pertama adalah Dika Pratama, berdiri tegap, mengenakan seragam lengkap Manchester City dengan latar belakang lambang klub yang megah. Ia tersenyum gagah, tangan kanannya memegang ujung seragam klub, wajahnya berwibawa dan mempesona, memperlihatkan tubuh atletisnya yang sangat gagah dan berotot. Foto kedua adalah Rio, berdiri dengan sikap kokoh dan berkarisma, tubuhnya yang raksasa dan kekar memenuhi bingkai foto, senyum percaya diri terukir di wajahnya, membuktikan betapa hebatnya fisik seorang bek tengah andalan.

Keterangan tulisan di bawah foto itu berbunyi:

"KABAR GEMBIRA! Dua putra terbaik bangsa, Dika Pratama dan Rio, RESMI menjadi pemain profesional Akademi Manchester City, Inggris! Dika Pratama (Gelandang Serang, 18 tahun) dan Rio (Bek Tengah, 18 tahun) telah menandatangani kontrak resmi dan kini bergabung dengan salah satu klub terbesar dan tersukses di dunia. Ini adalah kebanggaan seluruh rakyat Indonesia. Kami mendoakan kesuksesan mereka. Terbanglah tinggi, putra-putri kami! 🇮🇩💙 #DikaRioDiCity #IndonesiaBangga"

Dalam waktu kurang dari 10 menit saja, unggahan itu meledak. Ribuan komentar, ribuan kali dibagikan, ratusan ribu suka membanjiri kolom itu. Dalam satu jam, berita itu sudah ada di beranda semua portal berita, televisi, radio, hingga menjadi pembicaraan utama di setiap warung kopi, kantor, sekolah, dan jalanan.

Kata kunci "Dika Pratama Manchester City" dan "Rio Bek Tengah City" langsung menjadi tren nomor 1 di seluruh media sosial Indonesia, menggeser semua topik lain.

Rakyat Indonesia bersorak kegirangan, menangis bahagia, dan sangat bangga. Ini adalah momen bersejarah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, ada pemain muda Indonesia yang masuk ke klub raksasa kelas dunia seperti Manchester City dengan status kontrak profesional resmi, bukan sekadar uji coba atau promosi pemasaran.

Dan yang paling membuat heboh dan bikin merinding seluruh rakyat... adalah kenyataan bahwa wajah Dika di foto itu, adalah wajah yang selama ini dicari-cari oleh jutaan orang.

Orang-orang mulai berteriak, berkomentar histeris, saling mengirim pesan dengan terkejut:

"TUHAN... TUHANKU LIHAT ITU WAJAHNYA! WAJAHNYA DIKA PRATAMA! ITU DIA! ITU DIA SOSOK YANG KITA CARI SELAMA INI! PEMILIK SUARA HATI DIKA! AKUN YANG 19 JUTA PENGIKUT ITU! GILA! GILA!!"

"Jadi benar dugaan kemarin?! Pria bersuara emas yang suaranya menyejukkan hati kita semua itu... ternyata bukan penyanyi, bukan artis, bukan pejabat... tapi PEMAIN SEPAK BOLA?! DAN BUKAN SEMBARANG PEMAIN! DIA PEMAIN MANCHESTER CITY! LIHAT BADANNYA! GAGAH BANGET! GANTENG BANGET! BEROTOT BEGITU RUPANYA! AKU PINDAH DUKUNG MANCHESTER CITY SELAMANYA SEKARANG!"

"Lihat Rio juga! Itu badan apa raksasa?! Kok bisa orang Indonesia sebesar dan sekekar itu?! Dia bakal jadi tembok pertahanan kita di timnas nanti ya? Ya Allah, indah sekali rasanya jadi orang Indonesia hari ini!"

"Baru kemarin dia beli Persida pakai uang 10 Miliar, ternyata dia punya uang triliunan. Kemarin kita penasaran siapa pemilik suara itu. Hari ini kita tahu... dia jenius, dia kaya raya, dia berhati mulia, dia punya suara indah, dan ternyata dia juga jenius main bola! Dika Pratama... kamu bukan cuma kebanggaan Sidoarjo, kamu kebanggaan satu bangsa!"

"Aku merinding lihat fotonya. Wajahnya gagah, matanya tajam, badannya atletis sempurna. Ternyata sosok di balik suara itu setampan dan segagah ini... Rasanya mau teriak sekencang-kencangnya ke seluruh dunia: LIHAT! INI ANAK KAMI! INDIKETUAAN!"

Kabar itu menyebar bagai api di hutan kering. Televisi nasional membuka berita kilat, menampilkan foto-foto Dika dan Rio dengan latar belakang lagu-lagu indah dari akun YouTube "Suara Hati Dika", yang kini diketahui pasti pemiliknya. Dunia maya Indonesia benar-benar runtuh karena kegembiraan dan rasa takjub. Misteri terbesar akhirnya terungkap, dan jawabannya jauh lebih hebat dari yang pernah dibayangkan siapa pun.

Di tengah kemeriahan dan kehebohan itu, ada satu fakta yang makin membuat orang takjub: kekayaan Dika yang luar biasa, kepemilikan klub Persida, rencana investasi Bitcoin, dan kemampuan bahasa Inggrisnya yang fasih... semuanya menyatu dalam satu sosok pemuda berusia 18 tahun itu.

Sementara itu, di Inggris, sesudah latihan usai, Dika dan Rio berjalan santai kembali ke ruang ganti, masih tertawa membahas aksi-aksi indah mereka tadi. Dika mengusap peluh di dahinya, lalu mengambil ponselnya. Ia tersenyum lebar melihat notifikasi yang tak berhenti berdatangan. Ia tahu, saat ini di seberang sana, negaranya sedang bersorak untuknya.

Rio menepuk punggung sahabatnya sambil tertawa puas.

"Dik... denger itu nggak? Rasanya tanah air kita lagi bergemuruh ya? Pasti heboh banget di sana sekarang."

Dika mengangguk, matanya berbinar bangga namun tetap tenang. Ia menatap foto dirinya dan Rio di layar ponsel, foto yang kini sedang dipajang di setiap berita di Indonesia.

"Biarkan mereka bergembira, Rio. Biarkan mereka bangga. Ini baru permulaan. Baru sekadar foto, baru sekadar kontrak. Nanti... nanti kalau kita sudah cetak gol di Liga Utama, nanti kalau kita sudah angkat piala juara... mereka bakal terbang ke langit ketujuh karena bahagia. Tugas kita sekarang makin berat, Kawan. Seluruh bangsa Indonesia sedang menatap punggung kita, berharap kita membawa nama mereka tinggi-tinggi."

Dika menatap lurus ke depan, ke arah koridor yang menuju ke dunia sepak bola utama.

"Kita sudah buktikan kita bisa main di sini. Kita sudah bikin heboh satu negara. Sekarang saatnya... bikin heboh satu Eropa."

1
WER
semangat author bikin bab nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!