Krystal, reinkarnasi Naga Es yang melupakan 98 kehidupan lamanya, tumbuh menjadi putri terbuang Kekaisaran Aethermoor. Dibuang ke Istana Aquamarine sejak usia tiga tahun oleh ibu yang dimanipulasi sihir, ia ditemani Mira dan dilindungi Eros—Dewa Nafsu yang menjadikannya calon istrinya. Kecantikannya memikat, namun hatinya rapuh akibat trauma penolakan. Ia membangun Proyek LadyBug untuk menghancurkan Ratu Seraphina dari dalam, merekrut para jenius terbuang sebagai senjata rahasia. Ketika Eros menolaknya demi kesucian, egonya hancur; ia nekat memeluk Hyal hingga batuk darah, menyadari racun berkat sang kakaklah yang menyiksanya. Kini di tanah Herkimer, Krystal bangkit—lebih dingin, lebih licik, dan bertekad menggulingkan takhta dengan tangannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noulmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Tahun-tahun berlalu seperti embusan angin yang mendingin. Sejak malam purnama yang menyakitkan di usia tiga tahun itu, kehidupan Krystal berubah drastis. Kehangatan keluarga kandung yang sempat ia rasakan meski sangat sebentar telah luruh, digantikan oleh jarak yang membentang lebar; dunia seolah lupa ia pernah ada, dan Krystal pun berhenti berharap.
Kini, di usianya telah mencapai tujuh belas tahun, Krystal telah menjelma menjadi wanita yang memukau namun berbahaya. Rambut pirang panjangnya terurai indah, membingkai wajah yang menyimpan melankolis di balik tatapan mata biru yang tajam. Gaun malam perak metalik yang dikenakannya melekat sempurna, memperlihatkan siluet tubuhnya yang menyerupai jam pasir.
Untuk pertama kalinya, ia diundang ke Pesta Kekaisaran. Tentu saja, yang memberikan undangan itu bukan Ratu ataupun Hyal. Yang mengundangnya adalah Felix, undangan pesta pertunangannya dengan seorang putri dari Kekaisaran Suci.
Ia menggoyangkan gelas martini berisi wine jingga dengan gerakan malas. "Membosankan," desahnya.
"Eros, apa kau punya sesuatu yang menyenangkan?" tanyanya tanpa menoleh.
Eros muncul dari balik bayangan. Ia merebut gelas Krystal dan meminumnya hingga tak bersisa. "Arah jam tiga," bisiknya.
"Wah, model gaun wanita di sana aneh sekali. Tidak sesuai dengan gaya rambutnya," komentar Krystal sinis.
Eros menghela napas panjang. "Aku sedang memberi tahu bahwa ada pelayan yang mencurigakan, bukan mengomentari busana."
"Oh, kau menyukainya?"
Eros maju, memeluk Krystal dari belakang dengan gerakan yang tampak sangat intim di mata publik. Ia berbisik tepat di telinga Sang Putri, "Lihat apa yang ada di saku pelayan itu. Dia akan meracuni Felix."
Seketika, ia mendorong Eros dan bergegas menuruni tangga—di lantai dansa, Felix sedang berbincang dengan para tamu, sama sekali tidak menyadari maut di dalam gelasnya. Sebelum bibir Felix menyentuh pinggiran gelas, Krystal menyambar minuman itu dan menenggaknya habis.
"Pwaah!—Aku haus sekali," ucap Krystal sambil tersenyum manis pada Felix yang tertegun.
Eros yang menyusul di belakang segera bertindak. Sebelum racun bereaksi, ia menarik tengkuk Krystal dan menciumnya dengan dalam di depan seluruh tamu. Kerumunan seketika riuh; pemandangan Sang Putri dan Putra Bungsu Diov yang berciuman panas menjadi skandal luar biasa.
Namun, di balik tautan bibir itu, Eros menggigit lidahnya sendiri agar darahnya terminum oleh Krystal sebagai penawar, sekaligus menarik sisa racun yang belum tertelan. Tanpa memedulikan tatapan Felix yang membeku, Eros menggendong Krystal pergi.
Dengan satu kedipan mata, pemandangan aula dansa yang riuh langsung berganti menjadi langit-langit kamar tidur Istana Aquamarine yang familier. Eros menggunakan sihir teleportasi demi memangkas waktu, karena jarak kamar ini jauh lebih dekat daripada harus membawa Krystal menembus perbatasan wilayah Biov.
Eros dengan cekatan membaringkan tubuh Krystal yang mulai mendingin ke atas ranjang beludru. Pintu kamar berderit terbuka—Krieeeet!—, Mira yang masuk dengan wajah pucat pasi setelah menyadari situasi darurat ini. Tanpa membuang waktu, Mira segera mengambil air hangat dan dengan telaten menyeka keringat dingin yang terus bercucuran di dahi Krystal. Di sisi ranjang, Eros bergerak cepat menyalurkan sihir pemurnian untuk membersihkan sisa-sisa racun dari aliran darahnya.
"Apa yang terjadi pada Rys? Malam ini bukan purnama," tanya Mira yang masih menyeka keringat Krystal.
"Tadi Rys meminum racun menggantikan Felix."
"Apa Rys sudah gila? Bagaimana bisa dia malah membantu orang yang sudah menyakitinya?!" ucap Mira dengan sangat kesal.
"Aku pun ingin memarahinya. Tapi kau tau sendiri bagaimana sifatnya kan, Mira?"
Setelah rasa sakit yang membakar di dadanya mulai reda, Krystal membuka matanya perlahan. Suaranya terdengar parau dan tersengal.
"Hey, apa kau sudah tidak waras? Menciumku di muka umum? Itu ciuman pertamaku," desis Krystal lemah, menatap tajam ke arah pria berambut hitam itu.
Eros yang kini sudah beralih duduk di sofa ujung ruangan, tampak mengunyah sebuah apel dengan santai, seolah baru saja menyelesaikan tugas remeh. "Jika kau mati, keluargaku mungkin akan dihukum gantung karena gagal menjagamu. Lagi pula, itu juga ciuman pertamaku, dan aku tidak menciummu karena nafsu. Aku hanya mengeluarkan racunnya."
"Kau menelannya?" tanya Krystal, sedikit terkejut.
"Aku kan sudah kebal racun," jawab Eros datar, mengedikkan bahu.
Krystal menghela napas, tatapannya menuju ke arah jendela yang menampilkan lautan dan pantulan cahaya bulan. "Kenapa kau selalu saja begitu? Apa aku sangat berharga?"Krystal tertawa kecut. Ia memejamkan mata, merasakan lelah yang luar biasa menjalar ke seluruh sendinya. "Mira, bantu aku membersihkan diri."
Mira yang mengerti situasi segera membantu Krystal untuk membersihkan diri dan mengganti gaun pestanya yang ketat dengan pakaian tidur yang lebih longgar.
"Eros, berikan tanganmu. Aku ingin tidur."
Setelah Mira pamit undur diri dan menutup pintu rapat-rapat, Krystal kembali ke ranjang besar itu.
Eros pun telah berganti pakaian menjadi kemeja santai yang longgar. Tanpa canggung, ia melangkah mendekat lalu berbaring di samping Krystal; begitu posisi mereka sejajar, Krystal segera meraih lengan kekar Eros, menariknya tanpa ragu, dan menjadikannya sebagai bantal.
"Apa tanganku benar-benar senyaman itu?" tanya Eros ketus, meski ia sama sekali tidak menarik lengannya menjauh.
"Sangat nyaman," gumam Krystal, menenggelamkan wajahnya di lengan itu.
"Orang-orang akan berpikir kita melakukannya setiap malam," sahut Eros lagi, nadanya sarkastik namun tetap membiarkan Krystal mendekat.
Krystal tertawa ringan, sebuah tawa tulus yang jarang ia perlihatkan pada dunia. "Orang gila mana yang melakukan itu setiap malam?"
Cahaya bulan menyelinap masuk melalui salah satu jendela besar di kamar Krystal yang langsung menghadap ke laut lepas. Suara deburan ombak yang menghantam dinding batu di bawah istana menciptakan ritme yang menenangkan, berpadu dengan napas teratur Eros yang berada di sisinya.
Setelah memastikan Krystal benar-benar tenggelam dalam mimpinya, Eros dengan sangat perlahan menarik lengannya yang dijadikan bantal. Ia membenarkan posisi selimut Krystal agar kehangatannya tetap terjaga dari terpaan angin malam yang masuk lewat celah jendela.
Eros berdiri sejenak di sisi ranjang, menatap wajah polos sang putri yang kini bebas dari topeng keangkuhan. Tanpa suara, ia melangkah keluar dari kamar berukuran sedang itu—ruangan yang sengaja dipilih Krystal karena posisinya yang menghadap langsung ke arah timur, memungkinkannya melihat matahari terbit pertama kali di atas hamparan laut.
Krystal selalu menghindari kamar utama istana yang berukuran jauh lebih besar dan megah; ruangan luas itu kini justru lebih sering digunakan oleh Mira atau ibu-ibu dari desa sekitar yang sesekali datang menginap untuk menemani dan merawat sang putri. Bagi Krystal, kemegahan tanpa jiwa hanya akan membuatnya merasa semakin terasing.
Eros berjalan menuju kamar berukuran kecil yang terletak tepat di sebelah kamar Krystal. Kamar pribadi pengawal itu sangat sederhana, namun posisinya sengaja dirancang agar ia bisa mendengar setiap pergerakan atau rintihan Krystal jika demam purnamanya tiba-tiba kambuh di tengah malam.
Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang kecil tanpa melepaskan kewaspadaannya. Matanya menatap langit-langit, sementara telinganya tetap terpasang tajam pada suara deburan ombak di luar dan napas sunyi dari kamar sebelah. Di balik ketenangannya, Eros tahu bahwa ketenangan malam ini adalah ketenangan terakhir sebelum badai politik kekaisaran menghantam mereka esok hari.