NovelToon NovelToon
MANISNYA SI BOS NARSIS

MANISNYA SI BOS NARSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.


Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.

Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.

Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: INTIMIDASI DI JOK BELAKANG MOBIL

Suasana di dalam toko bunga mendadak hening, seolah-olah seluruh pasokan oksigen tersedot keluar begitu Bima melayangkan kalimat interogasinya.

Bu Ambar yang biasanya menjadi sutradara segala drama di keluarga mereka, mendadak pura-pura sibuk merapikan kelopak bunga mawar yang sebenarnya sudah sangat rapi. Sementara Papa Hartawan dengan santainya membuang muka, kembali fokus mengunyah sisa risoles keduanya seolah-olah anak kandungnya yang sedang mengamuk itu hanyalah sekelebat angin lalu. Jelas sekali, kedua orang tua itu memutuskan untuk berkhianat dan menolak menjadi tameng keselamatan bagi sang sekretaris.

"Eh... Pak Bima," Anaya akhirnya bersuara, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa keberaniannya. Dia memamerkan senyuman kaku yang justru terlihat seperti orang sedang menahan sakit gigi. "Bapak sejak kapan di situ? Itu... tadi saya cuma lagi bahas studi banding antropologi, Pak. Serius."

"Ikut saya. Sekarang," potong Bima tanpa ekspresi. Suaranya datar, namun ada nada absolut yang tidak menerima bantahan apa pun.

Bima berbalik, melangkah keluar toko bunga tanpa berpamitan lagi pada kedua orang tuanya. Mau tidak mau, dengan langkah gontai dan hati yang ketar-ketir, Anaya mengekor di belakang bosnya setelah memberikan tatapan "tolong saya" yang diabaikan total oleh Bu Ambar.

Bukannya menyuruh Anaya naik ke mobil Alphard kantor yang membawanya tadi, Bima justru menggiring sekretarisnya menuju Porsche hitam miliknya yang terparkir di depan toko. Bima membukakan pintu penumpang bagian belakang dengan sentakan kasar.

"Masuk," perintah Bima pendek.

Anaya mengernyit bingung. "Lho, Pak? Biasanya kan saya duduk di depan, di sebelah sopir? Atau kalau Bapak yang nyetir, saya di samping Bapak?"

"Saya bilang masuk, Anaya. Jangan membuat saya mengulang kalimat yang sama tiga kali," desis Bima, matanya menatap tajam.

Dengan menggerutu pelan, Anaya akhirnya masuk dan menggeser duduknya hingga ke sudut jok kulit mobil mewah tersebut. Begitu dia mapan duduk, pintu ditutup dari luar dengan bunyi deb yang solid. Anaya mengira Bima akan memutari mobil dan duduk di kursi kemudi. Namun, sedetik kemudian, pintu belakang di sisi satunya terbuka.

Bima masuk, menutup pintu, lalu mendudukkan tubuh jangkungnya tepat di sebelah Anaya. Dia kemudian mengetuk kaca pembatas depan, memberi kode pada sopir pribadinya yang bernama pak Jaka yang baru saja masuk ke kursi kemudi untuk segera melajukan mobil kembali ke kantor.

Atmosfer di dalam jok belakang mobil Porsche itu mendadak berubah menjadi sangat padat dan menyesakkan. Wangi maskulin perpaduan sandalwood dan musk dari tubuh Bima menguar hebat, bercampur dengan aroma vanilla dari tubuh Anaya.

Anaya berusaha merapatkan tubuhnya ke pintu mobil, berharap bisa melebur dengan kaca jendela agar jaraknya dengan Bima tidak terlalu dekat. Namun, Bima tampaknya tidak berniat membiarkan wanita itu bernapas lega.

Perlahan namun pasti, Bima menggeser tubuhnya. Pria itu merangkak mendekat di atas jok kulit yang mahal, memperkecil jarak di antara mereka hingga tidak ada ruang lagi bagi Anaya untuk menghindar. Dengan satu gerakan yang sangat terencana, Bima mengangkat tangan kanannya, menumpukannya pada sandaran jok tepat di belakang kepala Anaya, sementara tangan kirinya mencengkeram pinggiran jok di sisi paha Anaya.

Brak. Tubuh Anaya resmi terkunci di sudut jok mobil.

Napas Anaya langsung tercekat di tenggorokan. Jarak wajah mereka kini hanya tersisa beberapa senti. Dia bisa melihat dengan jelas bagaimana rahang tegas Bima mengeras, dan bagaimana sepasang mata elang itu menatapnya dengan binar yang... sama sekali tidak ramah untuk kesehatan jantungnya. Tiga kancing kemeja putih Bima yang masih terbuka memperlihatkan dengan jelas pergerakan dadanya yang naik-turun dengan cepat.

"Pak... Pak Bima, ini namanya pelanggaran jarak sosial di tempat kerja," bisik Anaya, suaranya mendadak bergetar halus. Dia mencoba mendorong dada bidang Bima dengan kedua telapak tangannya, namun dada itu terasa sekeras dinding beton. Sama sekali tidak bergeser.

Bima terkekeh rendah, sebuah suara serak yang terdengar sangat berbahaya namun sialnya terdengar begitu seksi di telinga Anaya. Pria itu memajukan wajahnya lagi, hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Kehangatan napas Bima menyapu permukaan bibir Anaya yang mulai mengering.

"Manusia purba tanpa perasaan, huh?" Bima berbisik tepat di depan wajah Anaya, nadanya lambat namun sarat akan intimidasi yang intim. "Jadi itu penilaian kamu terhadap saya setelah lima tahun kita kerja bareng, Anaya?"

Anaya menelan ludah dengan susah payah. Di dalam dadanya, jantungnya mendadak berdegup kencang, melakukan gerakan disko yang tidak beraturan. Saraf-saraf di tubuhnya kembali berteriak histeris karena kombinasi ketakutan dan... getaran aneh yang terus menjalar dari sentuhan tangan Bima.

"Saya... saya kan cuma bercanda tadi, Pak. Serius deh, itu cuma hiperbola komedi," kilah Anaya, matanya bergerak panik, bingung harus menatap ke mana karena ke mana pun dia melihat, yang ada hanyalah ketampanan narsis Bima yang sedang berada dalam mode predator.

"Kamu tahu, Anaya..." Bima menurunkan pandangannya sebentar ke arah bibir Anaya yang sedikit terbuka karena kehabisan napas, sebelum kembali menatap lurus ke dalam matanya. "Manusia purba itu bergerak berdasarkan insting. Mereka tidak pakai logika, mereka tidak peduli dengan SOP, dan mereka... akan mengambil apa saja yang sudah menjadi milik mereka dengan cara yang liar."

Bima memiringkan kepalanya sedikit, mengikis sisa jarak yang ada hingga helaian rambut mereka saling bersentuhan.

"Kamu mau saya buktiin sekarang... seberapa liarnya insting purba saya kalau lagi berdua saja sama kamu di belakang mobil ini?"

DEG!

Wajah Anaya langsung merona merah padam, seolah seluruh pasokan darah di tubuhnya mendadak berkumpul di pipinya. Mulutnya terkatung-katung tanpa bisa mengeluarkan kata-kata. Otaknya mendadak macet total. Ini bukan lagi sekadar intimidasi bos kepada sekretaris, ini sudah masuk ke ranah ketegangan romantis tingkat tinggi yang membuat seluruh bulu kuduknya meremang hebat.

Ketegangan aneh diluar perasaan profesional yang sesekali muncul diantara mereka, selama lima tahun ini tertutup rapat oleh tumpukan dokumen, laporan keuangan, dan sindiran sarkasme, mendadak meledak begitu saja, membakar habis batas profesionalisme yang selama ini mereka agungkan.

Melihat reaksi Anaya yang membeku dengan wajah merah merona, Bima merasakan sebuah kepuasan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dia suka melihat bagaimana sekretarisnya yang biasanya selalu punya jawaban tajam ini mendadak kehilangan kata-kata di bawah kungkungannya. Ada rasa kepemilikan yang amat sangat yang mendadak mengakar kuat di dalam hati Bima. Dia tidak akan pernah membiarkan wanita ini pergi ke toko kue mana pun. Anaya adalah miliknya, di kantor, maupun di luar kantor.

Perlahan, Bima merogoh saku jasnya tanpa memutuskan kontak mata mereka. Dia mengeluarkan benda tipis berpenutup warna pastel dan menjatuhkannya ke atas pangkuan Anaya.

"Ponsel kamu ketinggalan di meja saya," kata Bima, suaranya melembut namun tetap terdengar posesif. "Dan soal cincin dari Mama..."

Bima melirik sekilas ke arah tangan kiri Anaya yang masih berusaha menyembunyikan berlian besar itu. Dia tersenyum tipis, sebuah senyuman kecil yang terlihat begitu tulus dan tampan, membuat pertahanan hati Anaya semakin goyah.

"Jangan berani-berani kamu lepasin sebelum saya sendiri yang minta," bisik Bima lagi, sebelum akhirnya menarik kembali tubuhnya dan duduk tegak di joknya semula, meninggalkan Anaya yang masih bersandar lemas di sudut mobil dengan jantung yang berdegup tak karuan.

Tunggu kelanjutannya besok, bakal rilis 2 bab tiap harinya jam 08.00 dan 11.00. Stay tune ya kakak, boleh juga kasih hadiah dan dukungannya juga kalau berkenan. Thank uuu

-

1
English Lesson
semangat 💪🏻
English Lesson
Bagus👍🏻
Mar lina
Kirain mau kiss
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
Mar lina
Di tunggu
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!