NovelToon NovelToon
Dewa Abadi

Dewa Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.

Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Lembah Angin

Musim gugur di Benua Selatan tidak seindah lukisan para penyair. Daun-daun yang berguguran tidak berwarna keemasan cerah, melainkan kuning kusam yang berbau seperti tanah basah dan sisa-sisa pembusukan alam.

Jalan setapak tanah liat yang membelah perbukitan itu terasa sangat panjang.

"Kakiku... Ah, lututku pasti sudah lepas," keluh Qian Fugui untuk yang ketujuh kalinya dalam satu jam terakhir.

Pria buncit berjubah kuning kotor itu berjalan terseok-seok, memanggul kantong kain besar yang bergemerincing dengan suara panci dan perbekalan. Meskipun ia adalah kultivator Pengumpulan Qi Tahap 6, kemalasannya membuat fisik tubuhnya tidak lebih baik dari pedagang beras di pasar.

Sebaliknya, beberapa langkah di depannya, berjalanlah seorang pemuda yang seharusnya sudah mati berkali-kali.

Zeng Niu melangkah dengan ritme yang lambat namun tenang. Ia menjadikan sebatang dahan pinus tua sebagai tongkat untuk menopang sebagian berat tubuhnya, mengurangi tekanan pada dadanya yang masih dibalut perban. Wajah perunggunya pucat, keringat dingin terus mengucur di pelipisnya, namun tidak ada satu patah kata keluhan pun yang keluar dari mulutnya.

Di sisinya, Zhao Ying berjalan anggun dengan gaun rami kasarnya, sesekali mengulurkan tangan untuk menyingkirkan ranting berduri yang menghalangi jalan Zeng Niu.

"Saudara Niu, aku tidak mengerti," Fugui mengusap peluh di dahinya, berlari kecil menyusul mereka. "Dantianmu hancur, meridianmu putus. Secara logika, bernapas saja seharusnya membuatmu batuk darah. Bagaimana kau bisa mendaki bukit ini lebih cepat dariku yang memiliki Qi? Apakah ototmu terbuat dari baja?"

Zeng Niu tidak berhenti berjalan. Ia menatap jalan setapak di depan. "Saat rasa sakit menjadi satu-satunya hal yang mengingatkanmu bahwa kau masih hidup, kau akan belajar untuk bersandar padanya, Fugui."

Fugui bergidik mendengar jawaban filosofis yang sangat suram itu. "Terlalu dalam, terlalu gelap untukku! Aku lebih suka bersandar pada ranjang empuk dan arak hangat."

Matahari perlahan turun ke cakrawala barat, mengubah langit menjadi hamparan ungu kemerahan. Angin dingin mulai berhembus menuruni perbukitan, membawa suara desisan aneh yang menyerupai bisikan ribuan orang.

"Kita berhenti di sini," ucap Zeng Niu tiba-tiba, menunjuk ke sebuah ceruk dangkal di bawah tebing batu yang terhalang dari arah angin. "Malam akan segera tiba. Kau bilang lembah di depan kita adalah Lembah Angin Berbisik, kan?"

"Benar sekali," Fugui menjatuhkan kantong perbekalannya dengan napas lega, seolah baru saja meletakkan beban dunia. "Lembah itu adalah pintu masuk menuju wilayah luar Kota Daun Gugur. Angin di sana terbentuk dari formasi alam yang aneh. Suaranya bisa membuat manusia biasa berhalusinasi jika didengar di malam hari."

Zhao Ying mulai mengumpulkan ranting kering dan daun-daun pinus di sekitar ceruk. Tanpa banyak bicara, Zeng Niu mengeluarkan batu pemantiknya, namun Fugui buru-buru menepisnya dengan gaya sok pahlawan.

"Tunggu, tunggu! Jika hanya untuk membuat api unggun, serahkan pada Daoist ini!"

Fugui merogoh lengan bajunya yang kotor dan mengeluarkan secarik kertas kuning murah berukir rune api yang tulisannya sedikit meluber. Ia memutar sedikit Qi di jari telunjuknya, lalu melemparkan kertas itu ke tumpukan kayu.

Puff!

Sebuah lidah api kecil menyala, membakar ranting kering itu dengan cepat. Fugui tersenyum bangga, menepuk dadanya hingga perut buncitnya berguncang.

Zeng Niu dan Zhao Ying hanya bertukar pandang. Menggunakan Jimat Api barang yang biasa dipakai untuk membakar rumah atau musuh hanya untuk menyalakan api unggun adalah bentuk kemalasan kultivator yang paling absolut. Namun, Zeng Niu tidak berkomentar. Ia menyimpan kembali batu pemantiknya dan duduk bersandar ke dinding tebing.

Malam itu, Fugui menunjukkan keahlian sejatinya. Di dalam kantong besarnya, ia ternyata menyimpan seekor kelinci hutan gemuk yang ia beli (atau curi) dari warga desa sebelum berangkat. Dengan cekatan, ia menguliti, membumbui, dan memanggang kelinci itu di atas api unggun. Bau harum lemak yang terbakar membuat suasana malam yang dingin terasa sangat hangat dan manusiawi.

"Jadi, tentang Tabib Gila di Kota Daun Gugur ini," potong Zeng Niu, menerima sepotong paha kelinci panggang dari Fugui. "Apa yang membuatnya begitu hebat hingga bisa menyambung kembali meridian yang putus?"

Fugui menggigit rakus daging kelincinya, mengunyah sambil berbicara. "Namanya Gu Mian, Sang Jarum Beracun. Dia bukan tabib dari aliran ortodoks. Jika tabib biasa menggunakan pil emas untuk memperkuat Qi, Gu Mian menggunakan bisa siluman tingkat tinggi untuk melumpuhkan rasa sakit dan jarum emas untuk menjahit urat nadi spiritual secara manual!"

Fugui menelan dagingnya dan menatap Zeng Niu dengan serius. "Tapi aku peringatkan, Niu-bro. Tabib Gu ini sangat aneh. Dia tidak selalu menerima Batu Spiritual sebagai bayaran."

"Lalu apa yang dia minta?" tanya Zhao Ying, alisnya bertaut.

"Tergantung suasana hatinya," Fugui bergidik. "Kadang dia meminta mata kanan pasiennya. Kadang dia meminta memori paling berharga dari masa lalu mereka. Dan kudengar, dia pernah menyembuhkan seorang kultivator Golden Core hanya dengan bayaran... janji untuk membunuh seseorang di masa depan."

"Tabib yang bermain-main dengan karma," gumam Zhao Ying. Di Surga Atas, kultivator yang berani memanipulasi karma orang lain biasanya adalah iblis kuno.

Zeng Niu menatap sisa daging kelinci di tangannya. Mengorbankan mata atau ingatan? Ia sudah mengorbankan Dantiannya. Selama ia bisa kembali melindungi Zhao Ying, kehilangan satu mata tidak ada artinya bagi nya.

WUUUUUSSSSH...

Percakapan mereka tiba-tiba terputus oleh suara angin yang menggeram dari arah mulut lembah di depan mereka. Suara itu bukan sekadar hembusan alam; ia membawa desisan yang menyerupai tawa melengking seorang wanita.

Api unggun di depan mereka bergoyang liar, cahayanya meredup.

"A-Apa itu?" Fugui langsung melempar sisa tulangnya dan merapat ke dinding batu, memeluk pedang kayu persiknya erat-erat. "K-Kukira hantu hanya ada di desa..."

Zeng Niu meletakkan paha kelincinya. Ia mengambil dahan pinus tebal yang tadi ia jadikan tongkat dan golok karatan di pinggangnya. Rasa sakit di dadanya ia tekan paksa ke dasar pikirannya.

"Itu bukan hantu," bisik Zhao Ying, insting bahayanya menyala. "Tutup telingamu, Fugui! Itu suara Siluman Angin Tulang!"

Dari balik kegelapan mulut lembah, tiga pasang mata berwarna hijau menyala perlahan muncul.

Bentuk mereka menyerupai serigala raksasa seukuran sapi jantan dewasa, namun tubuh mereka sangat kurus hingga tulang rusuknya menonjol menembus kulit. Mereka tidak berjalan di atas tanah, melainkan melayang beberapa inci di udara, ditopang oleh pusaran angin kecil di bawah cakar mereka.

"Serigala Bayangan Angin tingkat tiga!" jerit Fugui histeris. "I-Ini monster setara dengan Pengumpulan Qi Tahap 8! Dan ada tiga ekor! Habislah kita, kita akan jadi kotoran serigala malam ini!"

Fugui sangat panik hingga kakinya gemetar dan ia tidak bisa merapal mantra penyerangan apa pun.

Serigala pertama menggeram rendah, bersiap menerjang ke arah Zhao Ying yang memancarkan energi darah murni yang wangi.

Namun, sebuah bayangan tegap memblokir pandangan serigala tersebut.

Zeng Niu berdiri di sana, golok karatan di tangan kanannya, dan tongkat pinus di tangan kirinya. Tidak ada Qi petir ungu yang meledak dari tubuhnya. Tidak ada Domain Bencana. Ia hanya berdiri layaknya patung batu, matanya segelap malam tanpa bintang.

"Zeng Niu, tubuhmu!" peringat Zhao Ying, menyadari pemuda itu memaksa berdiri.

"Tetap di belakangku," desis Zeng Niu. Ia melirik ke arah kultivator gendut yang sedang meringkuk. "Fugui! Kau masih punya jimat api murahanmu?!"

"A-Ada! Aku punya selusin!"

"Jika kau ingin melihat matahari terbit besok, lemparkan tiga sekaligus tepat ke depan mataku saat aku berteriak!" perintah Zeng Niu dengan nada algojo yang mutlak, tidak menerima penolakan.

Ketiga serigala itu melesat maju secara bersamaan. Kecepatan mereka luar biasa, hanya menyisakan bayangan kabur di udara malam. Mulut mereka terbuka, memperlihatkan taring-taring yang berputar layaknya bor angin!

Zeng Niu tidak mundur. Dengan kalkulasi murni seorang seniman bela diri fana yang telah ribuan kali di ambang kematian, ia membaca arah angin dari pergerakan mereka.

"SEKARANG!" raung Zeng Niu.

Qian Fugui yang sedang ketakutan setengah mati, menutup matanya erat-erat dan melemparkan tiga lembar jimat api ke arah depan dengan Qi-nya yang berantakan.

BLAAAAR!

Tiga jimat itu meledak di udara, menciptakan bola api terang benderang disertai suara letusan yang sangat memekakkan telinga.

Serigala Bayangan Angin memiliki mata yang sangat sensitif terhadap cahaya terang mendadak. Ledakan itu membuat ketiganya melolong kesakitan, formasi serangan mereka kacau balau, dan mereka mendarat di tanah karena angin penyokong mereka goyah.

Di detik jimat itu meledak, Zeng Niu sudah bergerak.

Ia memutar tubuhnya, mengayunkan tongkat pinus di tangan kirinya dengan seluruh tenaga murni fisiknya, menghantam rahang serigala pertama dengan keras hingga tulang monsternya retak.

Saat serigala pertama terpental, serigala kedua menerjang dengan mata masih memicing. Zeng Niu menjatuhkan dirinya ke tanah, meluncur di atas kerikil kasar, lalu menusukkan golok karatannya ke atas, merobek perut bagian bawah serigala kedua yang melayang tepat di atas tubuhnya!

CRAT! Darah panas dan organ dalam tumpah membasahi jubah Zeng Niu.

Namun, ia hanya manusia fana sekarang. Gerakannya tidak bisa sepenuhnya sempurna. Serigala ketiga, meski terhuyung, berhasil mengayunkan cakar anginnya dan menyapu punggung Zeng Niu.

SRAAAK!

Luka sayatan panjang tercipta di punggung sang pemuda. Darah memercik. Zeng Niu terjerembap ke depan, namun ia menggunakan momentum jatuhnya untuk berguling dan langsung bangkit dengan lututnya.

Ia tidak mempedulikan rasa sakit di punggungnya, juga tak peduli lukanya di dada kembali robek. Otak Zeng Niu hanya memikirkan satu hal: Bunuh sebelum dibunuh.

Serigala ketiga meraung, bersiap melompat lagi.

Namun, sebelum monster itu bisa bergerak... TUK! Sebuah batu seukuran kepalan tangan melesat dari belakang Zeng Niu, menghantam tepat di dahi serigala itu dengan akurasi yang luar biasa menakutkan.

Batu itu dilempar oleh Zhao Ying. Gadis itu mungkin tidak memiliki kultivasi, tapi akurasi bidikan seorang Bintang Putih dari Surga Atas tak pernah pudar. Hantaman batu itu cukup untuk membuat sang monster pusing selama setengah tarikan napas.

Setengah tarikan napas sudah terlalu mewah bagi sang algojo.

Zeng Niu melesat ke depan, mencengkeram tengkuk serigala ketiga dengan tangan kirinya, dan menancapkan golok karatannya dalam-dalam ke leher monster tersebut. Ia memutar bilah golok itu dengan paksa hingga memutus urat saraf tulang belakangnya.

Monster ketiga ambruk, tak bernyawa.

Zeng Niu menjatuhkan goloknya. Ia jatuh berlutut di tanah yang kini berlumuran darah siluman, memuntahkan darah hitam dari mulutnya. Tubuh fananya benar-benar telah mencapai batas dari kehancuran fisik.

"Zeng Niu!" Zhao Ying berlari mendekat, langsung menahan tubuh pemuda itu agar tidak jatuh sepenuhnya ke tanah berkerikil.

Di belakang mereka, Qian Fugui perlahan membuka matanya. Ia melihat tiga mayat siluman tingkat tiga terkapar di tanah, dan pemuda fana yang sedang berlutut memuntahkan darah di depan sana. Pria gemuk itu menelan ludah yang terasa kering.

"D-Dewa macam apa yang sedang kupandu ini?" bisik Fugui, kakinya kembali lemas.

Zeng Niu menatap tangan kanannya yang gemetar. Goloknya sudah patah menjadi dua di dalam leher monster itu. Di bawah sinar bulan yang tertutup awan, ia tersenyum pahit pada Zhao Ying.

"Setidaknya... kita tidak kelaparan untuk tiga hari ke depan," bisik Zeng Niu sebelum pandangannya perlahan menggelap, pingsan di dalam pelukan sang Bintang Putih.

Lembah Angin Berbisik kembali menelan keheningan, namun kini, bau darah telah membuka gerbang petualangan fana mereka menuju Kota Daun Gugur.

1
Rinaldi Sigar
lanjut
Sang_Imajinasi: siap🙏
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
saniscara patriawuha.
gasddd polllll
Sang_Imajinasi: okehh🙏
total 1 replies
saniscara patriawuha.
nahhh lohhhhh....
Arinto Ario Triharyanto
telan aja dulu pil nya, pengen tau efeknya gmn
Sang_Imajinasi: iyah 🤭🤭
total 2 replies
eka suci
pengumuman pengakuan 😥
Sang_Imajinasi: 😄😄😄😄😄
total 1 replies
yos helmi
🤣🤣🤣👍👍
eka suci
tenang ya niu sang putri menemani, walaupun perjalanan masih jauh untuk level fana udah out of the box🤭
🔴༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Meluncur 6 gift ☕ Lanjut Crazy Up Thor 💪💪
Sang_Imajinasi: terimakasih mbah atta🙏
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
Sang_Imajinasi: siap🙏
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
eka suci
waahhhhh langsung menyalakan suar💪
eka suci
aku suka keributan kata Lei Ling 🤭
Arinto Ario Triharyanto
masih jauh dr level mertua nya, cuman arogan nya doang kocak
Sang_Imajinasi: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
saniscara patriawuha.
sikatttt sudahhhhh.....
Sang_Imajinasi: gaspol
total 1 replies
saniscara patriawuha.
cincang cincang sudahhhh....
saniscara patriawuha.
gasssss polllllll....
Simon Semprul
sanggat menarik
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!