Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.
Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.
Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.
Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.
Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.
Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Duduk ditaman
Malam itu, rumah keluarga Argas terasa lebih tenang dari biasanya. Lampu taman menyala redup, memantulkan cahaya kekuningan di jalan kecil berbatu yang mengelilingi halaman belakang rumah. Angin malam bertiup pelan.
Di langit, bintang terlihat samar. Tidak terlalu banyak, tapi cukup membuat suasana terasa damai.
Setelah semua pekerjaan selesai, Aurel keluar pelan dari dapur belakang. Tangannya memegang secangkir teh hangat yang tadi dibuat Feni.
Ia berjalan perlahan menuju taman. Hari itu cukup melelahkan. Namun entah kenapa, hatinya justru tidak tenang.
Aurel duduk di bangku kayu dekat pohon kecil di tengah taman. Matanya menatap langit. Diam.
Pikirannya melayang ke banyak hal. Tentang rumah, tentang ibunya, tentang Arvano. Dan tanpa sadar, Ia menghela napas panjang.
Suara langkah kaki terdengar dari belakang. Pelan, dan tenang. Aurel menoleh, dan langsung sedikit terkejut.
Arvano keluar dengan jaket hitam tipis dan celana santai. Rambutnya masih sedikit berantakan sehabis mandi.
Aurel buru-buru berdiri. “Mas.”
“Duduk saja.” Arvano berjalan mendekat, lalu duduk juga. Tidak terlalu dekat, tapi juga tidak jauh.
Suasana langsung menjadi canggung. Aurel menunduk kecil. Sementara Arvano ikut melihat ke arah langit.
Tidak ada yang bicara. Sampai akhirnya Arvano bicara duluan. “Kenapa masih di luar?”
Aurel memainkan jarinya sendiri. “Cuma pengin duduk aja.”
“Hm.” Jawab Arvano.
Sunyi lagi.
Arvano melirik sekilas ke arah Aurel. “Kenapa Lo, mau kerja gantiin ibumu?”
Pertanyaan itu membuat Aurel sedikit terdiam. Ia tersenyum kecil. “Tadinya sih karena kasihan sama Ibu.”
Arvano mendengarkan.
“Ibu sakit, tapi tetap maksa kerja.” Aurel menunduk.
“Saya nggak tega lihatnya.” Angin malam meniup pelan rambutnya. “Terus… saya juga bosan jadi pengangguran.” Aurel tertawa kecil setelah mengatakannya, namun tawanya terdengar hambar.
Arvano memperhatikan wajahnya diam-diam. “Di desa susah cari kerja?”
Aurel mengangguk. “Iya. Apalagi saya habis lulus SMA.”
“Kenapa enggak kuliah?” Pertanyaan itu membuat Aurel diam sebentar, lalu tersenyum tipis. “Biaya.”
Satu kata itu cukup membuat suasana berubah pelan. Namun Aurel cepat-cepat tersenyum lagi.
“Tapi nggak apa-apa kok. Saya juga belum tentu pintar.”
Arvano tahu. Gadis itu sedang mencoba terdengar baik-baik saja, padahal sebenarnya tidak.
Beberapa saat kemudian, Aurel kembali bicara. “Dulu saya punya teman dekat banget, yaitu Tara.”
Arvano menoleh sedikit.
“Tara itu sahabat saya waktu SMA.” Tatapannya mulai kosong. “Kami selalu bareng, duduk bareng, pulang bareng, bahkan sering dibilang saudara.”
“Terus?” Ucap Arvano penasaran.
“Setelah lulus, keluarganya pindah ke Jakarta.” Nada suaranya mulai pelan. “Awalnya kami sering chat.” Aurel menatap langit lagi. “Tapi lama-lama sibuk sendiri.”
“Sekarang masih dekat?” Tanya Arvano sambil menoleh ke Aurel.
Aurel menggeleng kecil. “Enggak kayak dulu.” Ada kesedihan kecil di matanya. “Saya kadang iri lihat orang yang punya teman lama terus tetap dekat.”
Arvano diam, tidak tahu harus menjawab apa. Karena dirinya sendiri, bukan tipe orang yang pandai menghibur.
Namun entah kenapa, melihat Aurel sedih membuat dadanya terasa aneh. “Gue, masih dekat sama teman-teman.”
Aurel menoleh cepat. “Mas Alga, Mas Devon dan Mas Fero?”
“Iya.”
Aurel tersenyum kecil. “Berarti Mas beruntung.”
Untuk pertama kalinya, Arvano merasa percakapan sederhana seperti ini terasa menyenangkan. Tidak ada kepura-puraan, tidak ada kepentingan, hanya obrolan biasa dan itu justru membuatnya nyaman.
Setelah itu mereka kembali diam. Sama-sama menatap langit. Angin malam bertiup pelan.
Dan tanpa sadar, keheningan di antara mereka tidak lagi terasa canggung. Aurel memeluk lututnya pelan. Sementara Arvano tidur dirumput dengan santai.
Setelah itu, perlahan tatapan Arvano bergeser ke arah Aurel. Gadis itu terlihat sederhana. Sangat sederhana, namun justru itu yang membuatnya berbeda dari semua wanita yang pernah Arvano kenal. Tidak dibuat-buat, tidak penuh kepentingan dan semakin lama, perasaan itu semakin jelas. Arvano benar-benar jatuh cinta.
Aurel menguap kecil tanpa sadar, lalu langsung menutup mulut cepat-cepat. “Maaf.”
Arvano hampir tersenyum lagi. “Mengantuk?”
Aurel mengangguk malu. “Sedikit.”
“Tidur sana.”
“Iya.”
Aurel berdiri perlahan. “Mas juga jangan tidur malam-malam.”
“Hm.”
Aurel tersenyum kecil lalu berjalan masuk ke dalam rumah dan Arvano masih tidur dirumput taman. Memandangin Bintang bintang dan bulan.
Pagi datang dengan cepat. Rumah sudah mulai sibuk sejak subuh. Bagaskara dan Indah bahkan sudah berangkat lebih pagi karena ada urusan kantor. Kini rumah terasa lebih sepi.
Feni sedang di dapur. Sementara Aurel membersihkan ruang tengah. Hari itu suasana hatinya cukup baik. Entah kenapa, apa mungkin karena obrolan semalam.
Aurel mengepel lantai sambil bernyanyi kecil. Suaranya pelan, sedikit fales, tapi terdengar lucu. “Laaa la laaa…” Ia bergerak santai sambil membawa pel.
Aurel tidak sadar, lantai di dekat tangga masih licin.
Di saat yang sama Arvano baru turun dari lantai atas. Begitu melihat Aurel, langkahnya melambat sedikit. Tatapannya langsung tertuju pada gadis itu.
“Eeh?!” Aurel terpeleset. Tubuhnya oleng ke belakang.
Dan refleks, Arvano langsung bergerak cepat.
Bruk!
Aurel jatuh, tepat ke pelukan Arvano.
Tepat di saat itu, pintu depan terbuka.
Erika masuk sambil membawa tas dan beberapa kantong buah. Langkahnya langsung berhenti, matanya membesar. Karena yang dilihatnya
Arvano dan Aurel yang sedang berpelukan.
Suasana langsung membeku. Aurel langsung panik. Ia buru-buru menjauh. “Maaf! Saya jatuh tadi!” Wajahnya merah total.
Namun Erika tetap tersenyum manis. “Oh… begitu ya.” Tapi di balik senyum itu, tangannya mengepal kuat. Kuku panjangnya bahkan hampir melukai telapak tangannya sendiri, dan matanya dingin.
Arvano langsung berdiri tegak. Tatapannya berubah datar saat melihat Erika. “Lo lagi.” Nada suaranya langsung membuat suasana makin tegang.
Erika masih tersenyum. “Aku cuma mau jenguk kamu.”
“Sudah lihat?” Ucapan Arvano membuat senyum Erika sedikit goyah.
Aurel makin tidak enak hati. “Maaf Mbak, tadi benar-benar salah paham.”
Erika menoleh ke Aurel. Senyumnya masih ada. “Iya, nggak apa-apa kok.” Namun matanya berkata sebaliknya.
Arvano berjalan mendekat. “Lo, bisa pulang sekarang.”
“Van....” Sahut Erika terputus.
“Aku capek.” Nada suaranya dingin. Tidak memberi ruang untuk membantah.
Erika akhirnya tersenyum tipis lagi. “Yaudah. Aku pergi dulu.” Namun sebelum keluar, tatapannya berhenti lama pada Aurel. Tatapan yang membuat bulu kuduk Aurel merinding.
Setelah Erika pergi, suasana rumah kembali sunyi.
Aurel masih berdiri canggung sambil memegang gagang pel. “Saya beneran nggak sengaja.”
Arvano meliriknya sebentar. “Gue, tahu.”
Jantung Aurel langsung berdegup aneh. Tak lama kemudian, Arvano mengambil jasnya.
“Mau kerja?” Tanya Aurel refleks.
“Hm.”
“Mas belum sarapan.”
“Gue, enggak lapar.” dan tanpa menunggu jawaban lagi, Arvano langsung pergi. Pintu rumah tertutup.
Aurel berdiri diam di tempat. Sementara jauh di luar sana. Di dalam mobilnya, Erika menggenggam setir kuat-kuat. Wajahnya tidak lagi tersenyum.
Tatapannya penuh kebencian. “Kalau dia terus dekat sama Arvano…” menarik napas panjang. “…aku harus singkirkan dia.” Rencana licik mulai muncul di kepalanya.