Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sampai kapan
Monique terpaku di ambang pintu yang masih terbuka lebar, membiarkan udara malam yang dingin menusuk kulitnya yang halus. Deru mesin mobil Alan perlahan mengecil, tenggelam di balik gerbang besi yang menutup otomatis, meninggalkan Monique dalam keheningan yang menyesakkan.
Ia menatap kosong ke arah kegelapan. Hatinya terasa seperti diremas tangan tak kasat mata. Sakit, perih, dan hampa. Tiga tahun. Seribu malam lebih ia habiskan di bawah atap yang sama dengan pria itu, namun rasanya Alan masih tetap berada di galaksi yang berbeda.
"Tiga tahun, Alan... Tiga tahun," bisik Monique parau. Suaranya pecah, tertelan angin malam.
Ia teringat bagaimana semua ini dimulai. Pernikahan ini bukanlah dongeng romantis, melainkan wasiat terakhir almarhum suaminya, Tuan Baskoro. Monique masih ingat betul wajah pucat almarhum suaminya di ranjang rumah sakit setelah serangan jantung itu merenggut kekuatannya.
"Alan adalah orang baik, Monique," suara suaminya kala itu bergetar. "Dia menyelamatkan nyawa Papa di hutan itu. Tanpa dia, Papa sudah habis di tangan begal-begal itu sebelum sempat pulang dari tambang. Menikahlah dengannya. Hanya dia yang bisa menjagamu dan perusahaan dari serigala-serigala bisnis di luar sana."
Demi menyelamatkan imperium bisnis keluarga dan sebagai balas budi, Alan menerima tawaran itu. Imbalannya? Saham sebelas persen dan posisi puncak. Namun bagi Monique, Alan adalah segalanya. Bagi Alan? Monique hanyalah tugas administratif yang harus dijalankan.
Monique berjalan gontai kembali ke ruang tengah. Teh aromatik yang tadi ia sesap sudah mendingin, sama dinginnya dengan sikap suaminya. Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa tempat Alan duduk tadi. Aroma parfum maskulin Alan masih tertinggal di sana, seolah mengejek kesepiannya.
"Alan, mau sampai kapan kamu nggak menganggap aku ini istrimu yang sah?" tangis Monique akhirnya pecah. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang hebat. Biar bagaiman apun, apa lagi usia Monique sudah mencapai kepala lima. Monique juga membutuhkan kasih sayang serta perhatian seorang pria. Dan Alan lah yang dia butuhkan.
Di sisi lain kota, Alan memacu mobilnya tanpa arah yang jelas, meski batinnya terus menuntunnya kembali ke daerah pinggiran itu. Ia menepi di sebuah minimarket 24 jam, hanya untuk sekadar mengatur napas. Ia butuh sesuatu yang dingin untuk mendinginkan otaknya.
Di dalam minimarket, ia berdiri lama di depan rak lemari pendingin. Matanya terpaku pada deretan kotak susu kecil berwarna merah muda.
Susu stroberi.
"Sial," umpat Alan pelan. Ia mengambil satu kotak, membayarnya, lalu duduk di kursi plastik di teras minimarket.
Seorang pria seumurannya, mengenakan jaket ojek online, duduk di meja sebelah sambil menyeruput kopi instan. Pria itu memperhatikan Alan yang tampil necis dengan kemeja mahal tapi terlihat sangat berantakan secara mental.
"Berat ya, Mas, urusan kantor?" celetuk pria itu santai, mencoba berbasa-basi.
Alan menoleh, tersenyum tipis yang dipaksakan. "Lebih berat dari target bulanan, Mas."
Pria jaket hijau itu tertawa kecil. "Kalau kantor mah ada liburnya, Mas. Kalau urusan hati, nah itu yang nggak ada tanggal merahnya. Kayak saya nih, narik seharian buat beli mainan anak. Capeknya hilang pas lihat dia senyum."
Alan terdiam. Kata 'anak' seperti jarum yang menusuk tepat di ulu hatinya. "Mas punya anak? Umur berapa?"
"Baru tiga tahun, Mas. Lagi lucu-lucunya. Namanya juga anak, Mas, biar kata kita lagi pusing tujuh keliling, kalau dia sudah manggil 'Ayah', rasanya dunia oke-oke aja."
Alan meremas kotak susu stroberi di tangannya. "Kalau... kalau Mas tahu anak itu ternyata bukan anak Mas, gimana?"
Pria itu terdiam sejenak, menatap Alan dengan dahi berkerut, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Wah, berat itu pertanyaannya. Tapi kalau menurut saya ya, Mas... anak itu nggak punya dosa. Siapa pun bapak biologisnya, yang jadi bapak itu kan yang nemenin dia tumbuh, yang beliin susunya, yang jagain dia pas sakit. Tapi ya, jujur aja, kalau saya di posisi itu, mungkin saya bakal ngamuk dulu sebelum mikir jernih."
Alan mengangguk pelan. "Makasih, Mas. Kopinya lanjutin."
Alan bangkit, meninggalkan pria itu yang kebingungan. Ia kembali ke mobil. Ucapan tukang ojek tadi berputar-putar di kepalanya. Siapa yang menemani dia tumbuh.
Alan akhirnya sampai di depan rumah pagar putih itu. Lampu terasnya masih menyala, temaram. Ia mematikan mesin mobil dan lampu depan agar tidak mencolok. Dari kejauhan, ia melihat bayangan dari balik jendela yang tertutup tirai tipis.
Pintu rumah terbuka. Satria keluar mengenakan kaos oblong dan celana pendek, membawa plastik sampah besar ke depan pagar. Tak lama kemudian, Xarena menyusul keluar. Ia mengenakan daster batik sederhana, rambutnya dicepol asal-asalan, namun di mata Alan, dia tetap Xarena yang sama. Cantik yang alami, tanpa polesan berlebih seperti Monique.
"Sat, Ciara sudah tidur?" suara Xarena terdengar samar terbawa angin malam.
"Sudah, Mbak Ren. Tadi habis minum susu stroberinya langsung pules. Capek dia kayaknya habis main sama 'Om Ganteng' tadi sore," sahut Satria sambil terkekeh.
Alan menahan napas di balik kemudi. Om Ganteng? Berarti Ciara bercerita soal dirinya?
"Kamu jangan godain dia terus, Sat. Dia itu gampang akrab sama orang baru, aku jadi khawatir," ujar Xarena sambil menyandarkan tubuhnya di tiang teras.
"Khawatir kenapa? Kan ada aku yang jagain kalian. Lagian, pria tadi... siapa namanya? Alan ya? Kayaknya dia bukan orang jahat. Cuma ya itu, mukanya kayak orang yang kehilangan arah," Satria berjalan mendekati Xarena, lalu menepuk bahunya pelan. "Sudah, masuk yuk. Dingin."
Xarena mengangguk, tapi sebelum masuk, ia sempat menatap ke arah jalanan, tepat ke arah mobil Alan yang terparkir di kegelapan. Alan refleks merunduk, jantungnya berdegup kencang seperti remaja yang ketahuan mengintip.
Setelah pintu rumah itu tertutup rapat, Alan kembali menegakkan duduknya.
"Dia nggak manggil Satria 'Papa' atau 'Ayah'?" gumam Alan. "Xarena panggil dia Satria, bukan 'Sayang'?"
Otak bisnis Alan yang biasanya dingin kini mulai bekerja membedah setiap detail percakapan tadi. Ada jarak yang terasa antara Xarena dan Satria, meski mereka terlihat akrab. Bukan jarak seperti dirinya dan Monique yang penuh kebencian, melainkan jarak yang... berbeda.
Alan mengambil ponselnya, mengetik sebuah pesan singkat kepada asisten pribadinya.
[Alan]: Cek semua data tentang pria bernama Satria di alamat yang saya kirim tadi sore. Saya mau tahu statusnya di rumah itu. Dan satu lagi, cari tahu catatan kelahiran atas nama Ciara di seluruh rumah sakit sekitar daerah itu. Sekarang.
Setelah mengirim pesan itu, Alan menyandarkan punggungnya. Ia merasa seperti pengkhianat. Ia mengkhianati Monique yang menunggunya di rumah, dan ia mengkhianati janji pada dirinya sendiri untuk melupakan masa lalu.
"Kenapa kamu harus muncul lagi, Xarena? Dan kenapa kamu harus bawa bocah yang punya mata persis mataku?"
Alan menatap kotak susu stroberi yang kini sudah penyok di kursi sebelah. Ia membayangkan Ciara meminumnya dengan riang. Rasa hangat yang aneh menjalar di dadanya, rasa yang tidak pernah ia rasakan selama tiga tahun tinggal di rumah megah bak istana bersama Monique.
Di rumah megah itu, Monique mungkin sedang menangis atau menghancurkan barang-barang karena marah. Alan tahu dia jahat. Dia tahu dia egois. Monique telah menawarkan segalanya—cinta, tubuh, hingga seluruh harta warisan Baskoro—tapi Alan tetap bergeming. Baginya, menyentuh Monique adalah bentuk pengkhianatan terakhir pada satu-satunya bagian dari dirinya yang masih murni: cintanya pada Xarena.
"Maafin aku, Mon," bisik Alan dingin. "Tapi hati nggak bisa dipaksa dapet bagian saham sebelas persen."
Alan kembali menyalakan mesin mobilnya. Ia tidak pulang ke rumah megah itu malam ini. Ia butuh jawaban, dan ia tidak akan berhenti sampai ia tahu pasti siapa sebenarnya bocah bermata bulat itu. Malam yang makin larut itu menjadi saksi, bahwa sebuah rahasia besar dari lima tahun lalu mulai terkuak, dan tidak ada satu pun dari mereka yang siap menghadapi kebenarannya.