Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.
Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Setelah penerbangan panjang selama sembilan jam yang cukup melelahkan, burung besi yang mereka tumpangi akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah. Proses imigrasi dan pengambilan bagasi berjalan lancar karena bantuan pihak travel khusus yang sudah dipesan Zuhair jauh-jauh hari. Dari Jeddah, mereka langsung bertolak menuju Madinah menggunakan mobil sedan mewah yang nyaman.
Malam sudah larut ketika mobil berhenti tepat di depan halaman sebuah hotel bintang lima yang megah, yang letaknya hanya beberapa langkah saja dari pelataran Masjid Nabawi. Begitu masuk ke dalam kamar tipe suite yang luas, Celina langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur berukuran king size yang dilapisi sprei putih bersih beraroma lavender.
"Hahhh... surga dunia beneran ini, mah Gus! Pinggang gue rasanya mau copot, kaki juga pegel banget dalem pesawat," keluh Celina sambil meregangkan kedua tangannya lebar-lebar.
Zuhair menutup pintu kamar rapat-rapat, lalu meletakkan tas selempangnya di atas meja. Ia berjalan menghampiri kasur, melepas beberapa kancing teratas kemejanya, lalu ikut merebahkan diri di samping Celina. Alih-alih langsung berbuat "liar" seperti biasanya, kali ini Zuhair hanya memiringkan tubuhnya, menumpu kepalanya dengan satu tangan sambil memandangi wajah lelah istrinya yang masih mengenakan khimar.
Suasana kamar hotel begitu tenang, hanya terdengar sayup-sayup gema selawat dan langkah kaki para jemaah dari luar jendela yang menghadap langsung ke arah kubah hijau Masjid Nabawi.
"Capek sekali ya?" tanya Zuhair dengan suara yang terdengar sangat lembut dan adem.
"Banget, Gus. Kepala gue juga agak keliyengan," jawab Celina sambil menoleh, menatap mata teduh suaminya dari dekat. "Lo... lo nggak minta jatah malam ini kan? Sumpah ya, tenaga gue bener-bener habis sekarang."
Zuhair terkekeh rendah, suara tawa kecilnya bergetar hangat. Ia mengulurkan tangan untuk melepas jarum pentul yang menyemat khimar Celina, membiarkan rambut panjang istrinya yang sewangi buah-buahan itu terurai bebas di atas bantal.
"Enggak, Sayang. Malam ini kita istirahat total. Saya tahu kamu lelah," ucap Zuhair lembut. Ia menggeser tubuhnya mendekat, lalu menarik Celina ke dalam dekapannya. Lengan kokohnya menjadi bantal bagi kepala Celina, sementara tangannya yang lain melingkar di pinggang istrinya.
Celina merasa sangat nyaman. Ia menyurukkan wajahnya di dada bidang Zuhair, menghirup dalam-dalam aroma parfum khas suaminya yang selalu berhasil membuatnya tenang. Di kamar semewah ini, tanpa ada gangguan dari siapa pun, mereka benar-benar hanya menikmati kehangatan pelukan masing-masing tanpa melakukan aktivitas apa pun.
Zuhair membiarkan keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat, sampai akhirnya ia menggerakkan tangannya yang berada di pinggang Celina turun ke bawah. Telapak tangan besar dan hangat milik Zuhair itu berhenti tepat di atas perut rata Celina, mengusapnya perlahan dengan gerakan memutar yang sangat lembut melalui balik gamisnya.
Zuhair menunduk, mengecup puncak kepala Celina dengan sangat lama dan penuh penjiwaan.
"Cel..." panggil Zuhair lirih di tengah kesunyian malam.
"Hmm?" gumam Celina yang matanya sudah setengah terpejam karena saking nyamannya didekap.
Zuhair menghentikan usapan tangannya di perut Celina, membiarkan telapak tangannya diam di sana seolah sedang menyalurkan seluruh kehangatan dan doa dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Semoga sehabis kita pulang dari sini... perut kamu sudah ada baby-nya ya," bisik Zuhair dengan suara yang sangat rendah,dan penuh harap di telinga Celina.
Mendengar bisikan tulus suaminya, kantuk Celina mendadak hilang sebagian. Ia membuka matanya perlahan, merasakan debaran halus di dadanya bukan karena gairah, melainkan karena rasa haru yang teramat sangat. Celina membawa tangannya sendiri untuk menggenggam tangan Zuhair yang masih menempel di atas perutnya.
"Gus... lo beneran pengen banget ya punya anak dari gue?" tanya Celina pelan, menatap lurus ke dalam manik mata gelap suaminya.
Zuhair tersenyum sangat manis—sebuah senyuman penuh ketulusan seorang suami yang mencintai istrinya seutuhnya. Ia mengecup kening Celina sekali lagi. "Tentu saja, Sayang. Saya ingin melihat ada anak kecil yang punya mata indah seperti kamu, tapi sifatnya penurut seperti saya. Makanya, di tanah suci ini kita ketuk pintu langit sama-sama, ya?"
Celina tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca menahan haru. Ia semakin mempererat pelukannya di tubuh bidang Zuhair, menyembunyikan senyumnya di dada sang suami. "Amin, Gus. Doain gue ya di sini."
"Pasti, Sayang. Sekarang tidur, besok subuh kita harus sudah ambil shaf di Nabawi," pamit Zuhair sambil merapatkan selimut tebal yang membungkus tubuh mereka berdua.
Malam itu, di dalam kamar hotel mewah yang menghadap ke rumah Rasulullah, pasangan suami istri itu tertidur lelap dalam dekapan yang erat, membawa sejuta doa dan harapan baru yang siap mereka langitkan esok hari.