Black Rose julukannya, ada tatto mawar hitam di punggungnya. Dia agen rahasia XpostOne 06 yang paling ditakuti. Sepak terjangnya terdengar sampai belahan dunia. menyamar sebagai jurnalis dan presenter hot news di sebuah televisi swasta milik ayahnya.
Kini ia ditugaskan untuk menangkap seorang pemb*nuh bayaran yang lari ke luar negeri. Konon pemb*nuh ini sangat licik dan dilindungi oleh sindikat bawah tanah.
Mampukah dia menangkap pemb*nuh itu atau dia malah terb*nuh?
*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft
Kesempatan berada dirumah keluarga Raharja hanya seminggu, setelah itu ia akan pergi ke Thailand. Kebohongan yang terencana ini membuatnya terjebak.
Dewi tidak tahu apa yang akan terjadi. Dengan hati-hati ia masuk ke kamar pak Wijaya. Hari ini laki-laki tua ini harus mati. Pak Wijaya semakin sehat, matanya bisa melihat walaupun samar.
"Ayah kira Qai, kau temannya?" pak Wijaya mendekatinya saat Dewi mengambil spuit yang sudah berisi racun arsenik.
"Minum susunya dulu setelah itu tidur yang nyenyak." ucap Dewi menuntun pak Wijaya ketempat tidur.
"Ayah mau minum, mana Qai kenapa belum pulang."
"Besok dia datang, tidurlah." ucap Dewi menutup hidung pak Wijaya dengan saputangan yang sudah berisi bius.
Orang tua itu tertidur pulas, saat itu Dewi menyuntikan racun Arsenik di sumsum tulang belakang pak Wijaya. Sebagai intelijen tentu ia sangat mudah beraksi dan melakukan sesuatu tanpa orang tahu.
Yang menemukan pak Wijaya men*nggal adalah perawat. Semua menangis sedih tapi yang paling keras nangisnya adalah Dewi. Actingnya bagus, semua orang menghiburnya. Padahal ia tertawa dalam hati, rencananya berhasil karena sudah matang menyusunnya.
Setelah pemakaman pak Wijaya, Dewi mulai berkemas untuk misi ke Thailand. Dia tidak mau menghubungi Qai tentang kem*tian pak Wijaya Ia pura-pura pingsan untuk menyempurnakan actingnya.
"Kakek, paman, tante, aku mau pergi keluar negeri beberapa minggu..." ucap Dewi seraya menghapus air matanya.
Semua mata memandangnya, kakek menahan sendok yang hampir menyentuh mulut. Mata tuanya menatap Dewi dengan sedih.
"Kau mau menghibur diri, apa perlu kakek panggil Berlin untuk menemanimu."
"Tidak usah, Berlin sudah menolak cinta ku dan dia tidak mau bertunangan. Biar aku sendiri keluar negeri paling seminggu kalau kakek tidak keberatan aku minta sangu..."
"Qai..paman akan memberimu sangu, soal Berlin tidak usah dipikirin, masih ada Rio yang akan menikahimu." ucap Flores.
Dewi langsung menatap Rio, pria yang duduk disampingnya, Rio juga tampan hanya saja ia terlanjur mencintai Berlin.
"Paman aku mencintai Berlin, Rio ganteng tapi aku menganggap dia kakak ku."
Semua diam sambil memasukan makanan ke mulut masing-masing. Selesai makan Flores memberi cek sepuluh juta dan kakek lima puluh juta.
Hati Dewi berbunga-bunga, ia juga akan minta kepada Ende dan Berlin uang. Enak sekali jadi orang kaya yang disayang. Ia tahu setelah Qai pulang sandiwara ini akan berakhir dan dia akan terpuruk.
Jalan satu-satunya melenyapkan Qai mumpung ia berada di luar negeri. Tidak ada jalan lain.
Akhirnya hari itu tiba, Dewi menggendong ransel yang penuh senjata dan koper, ia berpamitan. Ini pertemuannya terakhir jika ia sandiwaranya terbuka. Tapi kalau ia berhasil membunuh Qai, ia akan pulang dan kembali menjadi anggota keluarga Raharja.
"Aku pamit kakek, paman, tante, kak Rio. Aku minta maaf apabila kalian kesal dan marah kepadaku atas kelakuan ku yang tidak mencerminkan orang bermartabat."
"Qai..kau anak baik, kita semua sayang padamu. Hiburlah dirimu, setelah kau puas pulang lagi dengan selamat."
"Ya tante, makasih..."
Keluarga Raharja melepas Dewi dengan terharu. Mereka bercerita ngalor ngidul walaupun banyak yang tidak nyambung, kadang Emely ragu bahwa dihadapannya bukan Qai.
DI THAILAND.
Sudah pernah dua kali Dewi kesini, orang disini banyak yang cantik termasuk pria yang merubah gender, kalau mau operasi plastik disini tempat direkomendasikan.
"Agung, kita langsung menemui Qai." ucap Dewi ketika mereka sudah berada di phuket.
Phuket adalah provinsi sekaligus pulau terbesar di Thailand yang terletak di Laut Andaman, kawasan Thailand Selatan. Destinasi ini merupakan salah satu surga wisata pantai paling populer di dunia yang terkenal akan perairannya sangat jernih, pasir putih menawan, kehidupan malam yang meriah, dan budaya kulinernya yang dasyat saat menyentuh lidah.
Disini Qai menyewa apartemen dengan fasilitas yang seadanya. Tidak begitu mahal, harga standard. Dewi dan Agung mengetuk pintu utama dan yang keluar adalah anak lelaki yang berjalan tertatih-tatih.
"Ya ampun Qai...." teriak Dewi kaget.
"Aku disini, itu anakku." ucap Qai santai.
"Kau tidak takut anakmu di culik?" ucap Agung menggendongnya.
"Ngapain takut aku sudah tahu yang datang kalian berdua. Pintu ku otomatis memakai remote, jadi kalau penjahat yang masuk aku buka setengah pintunya, kalau badannya setengah masuk aku jepit pakai pintu, hehe..."
"Sudah pernah ada yang kejepit?"
"Belum...hahaha. Duduk dulu, kita bersantai sebelum m*ti."
"Mulut mu, hati-hati bicara Qai entar di dengar setan lewat."
"Kalau mau minum ambil sendiri kalau makan beli sendiri, disini simpel."
"Elehhh...kau menyambut kami tidak sempurna." ucap Dewi.
Qai adalah teman sejatinya, rasanya tidak tega membunuhnya, tapi ia harus melakukan itu, demi bisa tetap menjadi keluarga Raharja.
"Siapa namanya, ia begitu tampan dengan rambut ikalnya."
"Adrian.." ucap Qai pendek.
"Qai, aku tidak tahu masalahmu, aku kaget atas keberadaan putramu, apakah ada bapaknya?" tanya Agung hati-hati.
"Gung kalau kambing gesek di pohon bisa hamil, tapi Qai manusia butuh laki lah. Pertanyaanmu tidak masuk akal, tinggal cari yang bikin anak, di tinju boleh atau di potong anunya juga gak masalah." sahut Dewi mengepalkan tangan.
"Siapa orangnya, kenapa kau tak bilang? Aku jadi geram dengan laki-laki tidak tanggung jawab."
"Tenang gung, bukan dia yang tidak mau tanggung jawab, aku yang lari karena dia hanya main-main dan tidak mencintai ku."
"Gadis sesempurna kau di lepas? Gimana kalau sku jadi bapaknya, aku serius."
"Elehhh...rayuan gombal, nih minum dulu." ucap Qai menyodorkan air mineral.
"Miskin banget, cuma air mineral, cemilannya mana?"
"Ambil di Mart disitu apa ada, hehe..."
"Dasar peyit...peyit..." ucap Agung gemes menoel pipi Adrian.
"Sini sama tante Dewi, anakmu guanteng mirip siapa ya, familiar banget. Aku jadi pingin punya anak."
"Dewi kau tambah cantik, segar dan outfit yang kau pakai branded semua, apa kau dipelihara sugar daddy?" tanya Qai kagum memandang Dewi yang banyak berubah.
"Semenjak bertemu keluarga kandungnya dia jadi kaya raya."
"Hebat sekali, kau dapat cipratannya Gung atau kau dianggap lalat saja."
"Aku ingin menjahit mulut kalian berdua, kau ingin tahu, ini kekayaan ku." ucap dewi mengeluarkan kartu hitam dari Ende, cek dari kakek dan Flores Raharja.
Dada Qai berdebar, walaupun sudah lama tak bertemu, cek keluaran group Raharja sering dia lihat, karena ayahnya selalu dapat hadiah dari kakek berupa cek. Ia tidak akan bertanya dan pura-pura tak tahu. Instingnya berkata bahwa Dewi ada apa-apanya dengan keluarga Raharja.
"Gimana khabar ayah, aku kangen?" tanya Qai menatap Dewi.
"Aku menerima misi ini diawali kesedihan yang mendalam. Ayah sudah lumpuh, pikun dan rabun. Pokoknya kasihan sekali melihatnya." ucap Dewi berjeda.
"Terus gimana ayah?"
"Ayah meninggal karena lama sakit, aku sengaja tidak memberitahumu karena aku mau langsung datang menemui mu."
Air mata Qai menetes tanpa permisi. Dewi memeluknya dengan perasaan bersalah. Andai saja kau bukan keluarga Raharja aku pasti menyayangimu, kini aku harus membunuhmu. Bathin Dewi.
Agung berdiri menggendong Adrian dan mengajaknya keluar. Ia tidak habis pikir kenapa Qai bisa punya anak, gimana kalau Jhon Meyer tahu. Ia baru ingat pria yang datang ke XpostOne. Jangan-jangan itu ayahnya. Namanya Berlin, ya ampun kenapa kebetulan. Black Rose julukan Qai. Aku mau merahasiakan dulu. Pikir Agung.
*****