NovelToon NovelToon
Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:540
Nilai: 5
Nama Author: zehn hart

Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.

Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.

Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.

Rachael Velencia.

Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.

Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17 - Anak Tunggal Keluarga Velencia

Suasana ruang makan mansion keluarga de Arther perlahan berubah semakin sunyi.

Lampu kristal besar di atas meja makan memantulkan cahaya hangat ke permukaan meja hitam mengilap. Bayangan gelas kaca dan alat makan terlihat samar di atasnya, menciptakan suasana elegan yang biasanya terasa nyaman.

Namun malam ini berbeda. Tidak ada yang benar-benar fokus pada makanan. Tatapan mereka semua perlahan tertuju pada satu orang.

Rachael Velencia.

Gadis itu duduk cukup tenang di kursi dekat Evelyn. Punggungnya tegak. Kedua tangannya bergerak pelan dan rapi saat memegang sendok.

Gerakannya terlihat sopan. Seolah semua tindakan yang ia lakukan sudah terbiasa dikontrol.

Leon memperhatikannya diam-diam dari seberang meja. Dan semakin lama ia melihat Rachael, semakin terasa jelas satu hal, gadis itu selalu menjaga dirinya sendiri.

Rachael menyendok sup pelan lalu memakannya tanpa suara. Tatapannya sesekali bergerak kecil memperhatikan ruangan, refleks yang sangat halus sampai mungkin tidak akan disadari orang lain.

Keluarga de Arther bukan orang biasa, Arthur dapat menyadarinya. Sebastian juga, bahkan Leon sudah cukup sering melihat kebiasaan itu di sekolah.

Rachael selalu sadar dengan keadaan sekitarnya. Selalu tahu siapa yang bergerak. Siapa yang bicara. Dan pintu keluar ada di mana.

Hening kecil kembali memenuhi meja makan.

Sampai akhirnya Evelyn meletakkan gelas tehnya perlahan. “Kamu benar-benar tinggal sendiri di rumah itu?” Nada suaranya lembut bukan menginterogasi.

Rachael mengangkat kepala kecil. Rambut hitam panjangnya jatuh pelan di sisi wajah saat ia mengangguk. “Iya.” Jawaban singkat, baginya itu bukan sesuatu yang aneh.

Leon langsung mengernyit samar. Karena entah kenapa, jawaban itu terdengar terlalu biasa keluar dari mulut Rachael.

Evelyn kembali bertanya pelan. “Orang tuamu sering pergi?”

“Iya.”

“Berapa lama biasanya?”

Rachael berpikir sebentar sebelum menjawab. “Kadang seminggu. Kadang beberapa bulan.”

Axel yang sedang minum langsung berhenti di tengah gerakan. “Hah?”

Rachael menoleh kecil bingung karena reaksi itu.

“Ada masalah?”

Axel menatapnya tidak percaya. “Lu ditinggal sendiri berbulan-bulan itu menurut lu normal?”

Rachael diam sebentar. Lalu menjawab jujur, “...Bukannya memang normal? Mereka kan sibuk, dan aku bukan anak kecil. Aku bisa menjaga diriku.”

Suasana meja makan langsung terasa lebih berat.

Karena cara Rachael mengatakannya benar-benar terdengar tulus. Bukan bercanda, melainkan seperti seseorang yang memang tidak pernah mengenal hal lain selain itu.

Leon perlahan menurunkan pandangannya ke piring makan di depannya. Rahangnya sedikit menegang.

Sebastian menyandarkan tubuhnya perlahan ke kursi. Tatapannya masih tertuju pada Rachael. “Kamu tidak pernah protes?”

Rachael menggeleng kecil. “Untuk apa?”

“Karena mereka orang tuamu.”

Rachael tersenyum kecil samar. Namun senyum itu terasa kosong. “Mereka sibuk.”

Kalimat sederhana itu kembali membuat ruangan hening.

Arthur yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara. “Velencia bukan keluarga yang membiarkan kelemahan.” Nada suaranya datar.

Tenang.

Namun tajam.

Rachael perlahan menoleh ke arahnya. Tatapan matanya sedikit berubah lebih waspada sekarang.

Arthur melanjutkan tanpa mengalihkan pandangan. “Kamu dilatih sejak kecil.” Bukan pertanyaan, tapi kesimpulannya sejak datang ke mansion.

Rachael terlihat diam sedikit terlalu lama.

Leon langsung menyadari perubahan kecil itu.

Jemari Rachael berhenti bergerak. Tatapannya turun sesaat ke meja makan sebelum akhirnya kembali tenang.

“Ayah cuma bilang...” suara Rachael pelan, “kalau terlalu lengah bisa mati.”

Axel langsung menatap Rachael.

Sementara Evelyn perlahan menghela napas kecil.

Karena cara gadis itu mengucapkannya terasa kalimat seperti itu memang sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil.

Sebastian tersenyum tipis samar. “Dan kamu percaya itu.”

Rachael mengangguk kecil. “Karena memang benar.”

Jawaban cepat itu membuat suasana kembali diam.

Leon memperhatikan wajah Rachael lama.

Rachael bukan hanya gadis pendiam dengan sikap aneh dan emosi tidak stabil. Ia dibesarkan dalam lingkungan yang membuatnya selalu siaga.

Selalu hati-hati. Selalu siap menghadapi sesuatu.

Itu sebabnya ia begitu sensitif terhadap keadaan sekitar. Karena sebagian dari dirinya mungkin memang sudah diajarkan untuk hidup seperti itu sejak kecil.

Evelyn akhirnya tersenyum kecil, mencoba menghangatkan suasana lagi. “Tapi malam ini kamu tidak perlu terlalu waspada.”

Rachael menoleh pelan. "Kenapa?"

Evelyn melanjutkan lembut, “Tidak ada yang akan menyakitimu di sini.”

Entah kenapa kalimat sederhana itu membuat Rachael diam cukup lama. Tatapannya perlahan bergerak mengelilingi ruang makan besar itu.

Lampu hangat.

Suara pelan alat makan.

Leon yang diam memperhatikannya. Axel yang masih terlihat bingung setengah stres. Sebastian yang tenang. Dan Evelyn yang sejak tadi terus bicara lembut padanya.

Suasana asing itu terasa aneh. Terlalu hangat, sesuatu yang tidak pernah benar-benar dimiliki Rachael sebelumnya.

Akhirnya sudut bibirnya naik kecil, senyumnya terlihat jauh lebih tulus dibanding sebelumnya.

“...Baik. Aku mengerti, dan aku sudah santai dari awal datang.”

Evelyn tertawa kecil mendengar jawaban itu.

“Kalau ini sudah versi santaimu...” wanita itu menoleh sekilas ke Sebastian sambil tersenyum samar, “aku penasaran bagaimana versi tidak santainya.”

Rachael terlihat berpikir sebentar. Lalu menjawab polos, “Aku biasanya langsung pergi pulang.”

Axel langsung menahan tawa kecil di sampingnya.

“Wah gawat. Berarti kita hampir gagal.”

Rachael menoleh bingung kecil. “Memangnya tadi ada ujian?”

“Secara tidak langsung iya,” gumam Axel pelan.

Leon yang sejak tadi diam akhirnya tanpa sadar sedikit menghela napas lega. Karena setidaknya sekarang ekspresi Rachael terlihat lebih ringan dibanding saat pertama masuk mansion tadi.

Namun tetap saja, Leon tahu gadis itu belum benar-benar nyaman. Ia hanya sedang berusaha menyesuaikan diri.

Pelayan mulai datang mengganti beberapa hidangan di meja makan.

Aroma makanan hangat perlahan memenuhi ruangan besar itu.

Rachael memperhatikan semua itu diam-diam. Tatapannya bergerak kecil mengikuti gerakan pelayan yang masuk dan keluar ruangan dengan tenang.

Arthur menyadari itu lagi. Tatapannya tertuju pada Rachael beberapa detik sebelum akhirnya bertanya datar, “Kamu pernah diajari membaca situasi?”

Pertanyaan itu membuat Axel langsung melirik Arthur cepat. Karena pertanyaan itu terdengar terlalu langsung.

Rachael sendiri terdiam sebentar. Jemarinya perlahan berhenti di atas gelas teh hangat di depannya.

Namun berbeda dari sebelumnya kali ini ia tidak langsung terlihat defensif. Ia hanya terlihat berpikir.

“Tidak...” suara Rachael pelan, “Tapi kalau masuk tempat baru memang harus tahu siapa yang paling berbahaya, dan harus tahu situasi yang akan di hadapi.”

Axel langsung hampir tersedak minumannya sendiri.

Sebastian tertawa kecil samar.

Sementara Arthur tetap tenang. “Lalu?” tanyanya.

Rachael mengangkat pandangan pelan. Tatapannya bergerak singkat ke arah Arthur.

“Kalau di ruangan ini...” Rachael berhenti sebentar, “yang paling berbahaya Tuan Arthur.”

Hening.

Axel membeku. Leon langsung memijat pelipis pelan.

Sementara Sebastian malah tertawa cukup jelas sekarang. “Hahaha... menarik.”

Arthur sendiri tidak marah. Namun tatapannya sedikit menyipit memperhatikan Rachael lebih serius. “Kenapa?”

Rachael menjawab santai, “Karena Tuan Arthur paling tenang.”

Jawaban itu membuat ruangan kembali sunyi beberapa detik. Dan jujur saja, itu jawaban yang tepat.

Orang paling berbahaya memang sering kali bukan yang paling keras. Melainkan yang paling tenang saat situasi apa pun terjadi.

Arthur akhirnya bersandar pelan ke kursinya. Tatapannya masih ke arah Rachael. “Kamu memperhatikan banyak hal.”

Rachael mengangguk kecil. “Kalau tidak begitu biasanya aku oleng, tidak tahu harus bagaimana. Makanya otak di gunakan untuk berpikir situasi dan kondisi nanti kedepannya.” Kalimat itu terdengar ringan.

Namun lagi-lagi membuat suasana sedikit berubah.

Karena semakin lama mereka mengenal Rachael—semakin jelas kalau hidup gadis itu tidak pernah benar-benar santai sejak awal.

Evelyn langsung menyela lembut sebelum suasana kembali terlalu berat. “Sudahlah. Hari ini bukan untuk membahas hal serius terus.”

Wanita itu lalu menatap Rachael sambil tersenyum hangat. “Kamu suka dessert?”

Rachael berkedip pelan. “Dessert?”

“Iya. Manis-manis.”

Dan untuk pertama kalinya malam itu, mata Rachael sedikit berbinar kecil. Perubahannya sangat halus.

Leon melihatnya jelas, dalam hati Leon "Kenapa ekspresi wajahnya berubah cepat, dia tampak senang sekarang... cukup manis."

“Suka.” Jawab Rachael cepat kali ini.

Axel langsung tertawa kecil. “Wah akhirnya ada topik yang bikin dia semangat.”

Rachael terlihat sedikit malu karena reaksinya sendiri. Ia buru-buru mengambil gelas tehnya lagi sambil menghindari tatapan semua orang. Namun ujung telinganya sedikit memerah.

Pemandangan kecil itu, entah kenapa membuat suasana ruang makan keluarga de Arther terasa jauh lebih hangat malam itu.

Evelyn menyuruh pelayan menghidangkan Dessert, cake strawberry. "Silahkan makan" nada lembut jelas sepertinya menyayangi Rachael.

Pelayan segera datang membawa dessert ke meja makan.

Piring-piring kecil putih dengan potongan cake strawberry tersusun rapi di atasnya. Lapisan cream lembut berwarna putih terlihat halus dengan potongan stroberi segar di atasnya.

Aroma manis samar langsung memenuhi udara.

Reaksi Rachael benar-benar berubah cukup jelas. Matanya langsung mengikuti cake itu sampai diletakkan di depannya.

Dalam hati Rachael, "Manis-manis... Damn... Ibu Dokter akan memarahiku kalau banyak-banyak makan manis, hmm... aku tidak mau menolak kesempatan makan manis-manis ini. Melihatnya saja sudah menggugah selera ku. Tapi sayangnya, kalau ADHD ku kambuh bagaimana? Ah, masa bodoh."

Leon yang duduk tidak terlalu jauh langsung menyadari perubahan ekspresi kecil itu lagi.

Beberapa menit lalu Rachael masih terlihat waspada dan tenang.

Namun sekarang, sudut matanya sedikit melembut.

Tatapannya fokus ke dessert di depannya dengan cara yang anehnya terlihat... lucu.

Leon tanpa sadar terus memperhatikannya.

Dalam pikirannya hanya ada satu hal: “Kenapa ekspresinya bisa berubah secepat itu...”

Dan yang lebih mengganggu lagi, Leon merasa perubahan kecil itu cukup manis.

Rachael memperhatikan cake strawberry itu beberapa detik seperti sedang memastikan sesuatu.

Lalu perlahan menoleh ke Evelyn. “Ini buat ku?”

Evelyn langsung tersenyum hangat. “Tentu saja.”

Rachael diam sebentar. Lalu pelan berkata, “Terimakasih banyak.” Nada suaranya terdengar jauh lebih lembut dibanding sebelumnya.

Axel yang melihat perubahan itu langsung menyenggol Leon kecil dari bawah meja.

Leon langsung melirik dingin.

Namun Axel malah menahan tawa sambil berbisik pelan, “Dia seneng banget tuh.”

Leon tidak menjawab. Tetapi tatapannya memang belum lepas dari Rachael.

Sementara itu Rachael perlahan mengambil sendok kecil. Ia memotong sedikit bagian cake strawberry itu dengan hati-hati.

Lalu memakannya pelan. Dan tepat beberapa detik kemudian, matanya sedikit membesar kecil. Reaksi kecil yang spontan itu tidak dibuat-buat sama sekali.

Dalam hatinya Rachael, "Ini kemanisan... tapi enak"

Sebastian langsung tertawa kecil melihatnya. “Kelihatannya enak.”

Rachael yang sadar dirinya diperhatikan langsung buru-buru kembali memasang wajah tenang. Namun telinganya sudah mulai memerah lagi. “...Lumayan.”

Axel langsung menutup mulut menahan tawa. “Woi. Muka lu nggak bilang lumayan.”

“Kenapa? Ini memang enak kok.” jawab Rachael cepat sambil menghindari tatapan semua orang.

Evelyn tersenyum semakin lembut sekarang.

Entah kenapa, melihat Rachael menikmati hal sesederhana cake strawberry membuat wanita itu merasa sedikit sesak.

Karena gadis itu terlihat seperti seseorang yang terlalu jarang mendapatkan hal-hal kecil yang hangat.

Leon masih diam memperhatikan. Lalu tanpa sadar sudut bibirnya naik tipis samar.

Pemandangan Rachael yang diam-diam senang hanya karena dessert terasa jauh lebih hidup dibanding saat gadis itu tertawa aneh karena stresnya kambuh. Leon lebih suka melihat yang sekarang.

Sementara itu Rachael kembali memakan cake kecilnya pelan.

...****************...

Bersambung...

1
Kartika Bessy
sangat bagus, ditunggu chapter berikutnya hingga tamat
Kartika Bessy
kak lanjutan mana sih 🥲
T28J
semangat update nya thor...
iklan buat kamu
Wawan
Rachaeeeel... 😍😍😍
Aksara_Lintangjati
Semangat Menulisnya kak,

Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe
Aksara_Lintangjati
Bagus, gak nelan mentah mentah gosip👍
Aksara_Lintangjati
Rachael kek beo yee
Aksara_Lintangjati
Leon kek saya wkwkwk
Aksara_Lintangjati
Mungkin karena dia baru kenal lo, Leon....
Aksara_Lintangjati
ini dibacanya Rahel, atau Racael, atau Racel?
zehn hart: Iya kak, dibacanya Racael
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!