Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Jarum jam menunjukkan pukul tiga pagi, suasana kediaman Kyai Umar masih diselimuti kesunyian yang magis. Namun, bagi Humairah, ini adalah waktu yang suci untuk mengadu pada Sang Pemilik Hati.
Dengan gerakan perlahan agar tidak menimbulkan suara, ia beranjak dari tempat tidur.
Seperti biasa, Humairah bangun untuk melakukan shalat malam.
Ia baru saja hendak membentangkan sajadah saat melihat siluet di sofa bergerak.
Fathan rupanya sudah terbangun lebih dulu. Pria itu sudah rapi dengan sarung samarinda dan koko putih yang kontras dengan kulitnya.
"Siapkan dirimu," ucap Fathan tanpa menoleh, suaranya serak khas orang bangun tidur namun tetap terdengar tegas.
"Kita ke pondok. Shalat berjamaah di masjid pesantren."
Humairah sempat tertegun. Ini adalah ajakan pertama suaminya, meski nadanya lebih mirip instruksi daripada ajakan.
Ia segera bersiap, mengenakan mukena putih bersih yang senada dengan suasana hatinya yang mencoba untuk ikhlas.
Mereka berjalan menuju masjid pesantren dalam keheningan.
Fathan berjalan beberapa langkah di depan, sementara Humairah mengekor di belakangnya, menjaga jarak yang seolah menjadi batas tak kasat mata di antara mereka.
Sesampainya di area masjid, suasana mulai ramai.
Para santriwati yang sedang mengantre wudu atau sudah duduk di serambi masjid seketika menoleh.
Kehadiran mereka menjadi magnet perhatian. Kabar tentang pernikahan mendadak kemarin rupanya sudah menyebar ke seluruh penjuru pesantren bak api yang melalap jerami kering.
Lirikan santriwati terasa begitu tajam menusuk kulit Humairah.
Bisik-bisik mulai merayap di antara barisan mukena.
"Itu kan wanita yang harusnya nikah sama Kang Abraham?" bisik salah satu santriwati dengan nada sinis.
"Iya, kok bisa ya langsung ganti ke Ustadz Fathan? Hebat banget," sahut yang lain sambil menutup mulut dengan punggung tangan.
"Mungkin dia pakai pelet untuk memikat Abraham dan Fathan sekaligus. Mana ada laki-laki waras yang mau jadi ban serep kalau bukan karena dipengaruhi sesuatu?"
Mendengar kata "pelet" disebut, dada Humairah terasa sesak.
Ia merasa seolah semua pasang mata di masjid itu sedang menelanjangi aibnya yang sebenarnya tidak ia buat.
Tuduhan itu begitu keji, menyamakan dirinya dengan wanita yang menggunakan ilmu hitam demi ambisi.
Humairah menghela napas panjang, mencoba menekan rasa sakit yang kembali berdenyut di jantungnya.
Ia menunduk, menatap motif lantai masjid agar tidak perlu melihat tatapan-tatapan menghakimi itu.
"Tidak usah didengarkan, Mbak," ucap sebuah suara lembut dari sampingnya.
Humairah menoleh. Seorang santriwati dengan wajah teduh tersenyum tulus ke arahnya.
Ia adalah Aisyah, santriwati senior yang duduk di samping Humairah.
"Mulut orang memang tidak bisa dikunci, tapi hati Mbak Humairah bisa dikuatkan. Allah tahu apa yang sebenarnya terjadi," lanjut Aisyah sambil mengelus lembut punggung tangan Humairah.
Dukungan kecil itu membuat pertahanan Humairah hampir runtuh.
Di tempat yang paling suci ini, ia justru merasa paling terasing.
Ia melirik ke arah shaf laki-laki di depan, di mana Fathan berdiri dengan tegak dan berwibawa sebagai imam, seolah tidak mendengar sama sekali badai fitnah yang sedang menghantam istrinya di shaf belakang.
Suasana masjid pesantren di sepertiga malam terakhir itu begitu syahdu.
Udara dingin khas pedesaan merasuk hingga ke tulang, namun kehangatan iman mulai terpancar dari wajah-wajah para pencari ilmu.
Di shaf terdepan jamaah wanita, Humairah bersimpuh.
Mereka mulai melakukan shalat malam. Dalam kesunyian yang dalam, Humairah tenggelam dalam sujudnya.
Di setiap rakaat, ia menumpahkan segala sesak yang ia bawa dari rumah.
Ia merasa hanya di atas sajadah inilah ia punya hak untuk menjadi lemah.
Saat duduk tasyahud akhir hingga salam, Humairah berdoa sampai air matanya mengalir.
Ia tidak meminta agar Fathan segera mencintainya, ia hanya memohon agar hatinya dikuatkan seluas samudera untuk menerima setiap takdir yang menyapa.
Air mata itu membasahi kain mukenanya, menjadi saksi bisu atas luka yang tak bisa ia ceritakan pada manusia.
Sambil menunggu shalat subuh berjamaah, Humairah tidak ingin larut dalam kesedihan.
Ia merogoh saku mukenanya, mengambil Al-Qur'an kecil yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi.
Kitab suci itu sudah tampak sedikit usang di pinggirannya, tanda betapa seringnya ia membukanya untuk mencari ketenangan.
Awalnya, suaranya hanya terdengar lirih, namun perlahan, seiring dengan hatinya yang mulai tenang, lantunan ayat-ayat suci itu mengalun lebih jernih.
Humairah membaca Surah Ar-Rahman dengan tajwid yang sempurna dan nagham yang begitu menyentuh jiwa.
Suaranya yang merdu, bening, dan penuh penghayatan itu perlahan merayap di sela-sela tiang masjid.
Satu per satu, bisik-bisik miring dari para santriwati yang tadi menghujatnya mendadak lenyap.
Mereka terdiam, seolah tersihir oleh keindahan kalam ilahi yang keluar dari lisan wanita yang mereka fitnah.
Bahkan di shaf laki-laki, para santri menghentikan zikir mereka hanya untuk mendengarkan.
"Masya Allah..." ucap Kyai Umar pelan dari arah mimbar.
Beliau memejamkan mata, meresapi setiap
makhraj huruf yang dibacakan menantunya.
Beliau tahu, suara yang seindah itu hanya bisa lahir dari hati yang tulus dan tumpukan rasa sabar.
Di sisi lain, Fathan yang duduk membelakangi shaf wanita, sempat tertegun.
Ia mengenali irama itu—irama orang yang mengaji dengan seluruh jiwanya.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ada rasa getir yang muncul di hati Fathan.
Ia bertanya-tanya, bagaimana mungkin wanita yang dianggap ibunya sebagai penggoda, bisa memiliki suara yang begitu mendamaikan seperti ini?
Namun, Fathan segera menepis perasaan itu. Ia mengeraskan hatinya kembali tepat saat muazin berdiri untuk mengumandangkan iqamah.
Lantunan mengaji itu berhenti, digantikan oleh barisan yang mulai rapat.
Mereka kemudian melanjutkan shalat subuh berjamaah.
Di bawah pimpinan imam, suasana masjid itu kembali khusyuk, meskipun kini pandangan banyak orang terhadap Humairah mulai berubah—dari penuh curiga, menjadi penuh tanya akan kemuliaan hati wanita itu.
Gema selawat setelah shalat subuh masih terngiang di telinga saat Humairah melangkah keluar dari masjid.
Langit fajar yang membiru menyambutnya dengan udara dingin yang menusuk.
Shalat subuh telah selesai, ia pun kembali ke rumah besar Kyai Umar, berjalan beberapa langkah di belakang Fathan yang tetap membisu sepanjang jalan.
Baru saja Humairah menginjakkan kaki di ambang pintu dapur, suara tajam sudah menyambutnya.
"Humairah!" panggil Nyai Latifah. Beliau berdiri di dekat meja makan dengan tangan bersedekap, menatap menantunya dengan tatapan menyelidik.
"Jangan pikir karena kamu sudah mengaji dengan suara merdu di masjid, tugasmu selesai. Masuk ke dapur dan siapkan sarapan untuk kami semua."
Humairah menganggukkan kepalanya dengan sopan.
"Baik, Umi. Humairah siapkan sekarang."
Tanpa membuang waktu, Humairah segera menyingsingkan lengan bajunya.
Ia mulai sibuk di dapur, meracik bumbu-bumbu segar.
Tangannya dengan cekatan mengiris bawang dan cabai, lalu lekas membuat sarapan nasi goreng spesial dengan aroma terasi yang gurih dan menggugah selera.
Tak lupa, ia juga teringat akan kebiasaan sehat keluarga pesantren.
Ia membuat susu kedelai organik, menyaringnya dengan telaten hingga menghasilkan minuman yang kental dan hangat untuk suaminya dan mertuanya.
Setelah semua selesai memasak, ia menghidangkan makanannya di atas meja makan dengan rapi.
Fathan, Kyai Umar, dan Nyai Latifah pun duduk mengelilingi meja.
"Aku cicipin dulu," ucap Nyai Latifah dengan nada ketus.
Beliau mengambil sesendok besar nasi goreng itu dan memasukkannya ke mulut.
Baru sedetik mengunyah, wajah Nyai Latifah berubah drastis.
"Huekkk!" Beliau menyemburkan nasi itu kembali ke piringnya, wajahnya memerah seperti orang yang sangat jijik.
"Makanan apa ini?! Seperti sampah!! Kamu mau meracuni kami, hah?"
Kyai Umar yang mendengarnya langsung menghampiri dan duduk di kursi makan dengan rapi.
Beliau terkejut melihat reaksi istrinya yang berlebihan.
"Ada apa ini, Nyai? Kenapa berteriak-teriak?"
"Ini Abah! Dia masak sampah! Rasanya hambar, aneh, sama sekali tidak layak dimakan!" adu Nyai Latifah sambil menunjuk-nunjuk piring nasi goreng itu.
"Astaghfirullah, Nyai. Kalau bicara itu yang sopan," tegur Kyai Umar dengan nada tenang namun tegas.
Kyai Umar kemudian mengambil sendok, menyuap sedikit nasi goreng buatan Humairah ke mulutnya.
Beliau terdiam sejenak, meresapi rasa bumbu yang pas dan tekstur nasi yang sempurna.
"Masya Allah, ini enak sekali, Humairah. Bumbunya pas, aromanya segar. Ini nasi goreng terenak yang pernah Abah makan," puji Kyai Umar tulus, lalu beliau meminum susu kedelai organik itu.
"Susu kedelainya juga gurih. Terima kasih, Nak."
Humairah hanya bisa menunduk, matanya berkaca-kaca mendengar pujian sang ayah mertua di tengah hinaan ibu mertuanya.
Sementara itu, Fathan hanya melihat kejadian itu dalam diam.
Ia menyuap nasinya dengan perlahan, mengakui dalam hati bahwa masakan itu memang lezat, namun bibirnya tetap terkunci rapat.
Ia sama sekali tidak membela istrinya yang sedang difitnah di depan matanya sendiri.
Bagi Fathan, memihak Humairah berarti membuka celah di dinding yang telah ia bangun dengan susah payah.
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
dari pada dari pada..
lanjut thor🙏
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭