Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.
Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.
Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.
Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
"Aku nggak punya tempat pulang lagi, Bara. Semuanya sudah habis. Namaku, mimpiku... bahkan orang tuaku sendiri yang membuangku ke tempat sampah."
Suaraku nyaris hilang ditelan semilir angin malam di pinggir danau ini. Airnya tenang, memantulkan cahaya bulan yang perak, sangat kontras dengan badai yang baru saja menghancurkan hidupku di gedung gala tadi. Aku masih terisak, wajahku terkubur di dada bidang Bara yang hanya mengenakan kemeja putih tipis karena jasnya masih mendekap bahuku.
Bara tidak bicara. Ia hanya mempererat pelukannya, membiarkan dagunya bersandar di puncak kepalaku. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang stabil dan kuat—sebuah ritme yang entah bagaimana menjadi satu-satunya peganganku agar tidak gila malam ini.
"Loe punya gue," bisik Bara, suaranya rendah namun bergetar oleh keyakinan yang absolut. "Dan gue bukan tempat sampah. Gue adalah rumah, kalau loe izinin."
Aku mendongak, menatap matanya yang liar namun kini dipenuhi kelembutan yang menyakitkan. "Tapi mereka akan mencariku, Bara. Papa akan melakukan apa saja untuk menyeretku kembali dan mengurungku lagi."
Bara menyeka air mataku dengan ibu jarinya yang kasar. Seringai tipis muncul di bibirnya yang tampan. "Biarkan mereka mencoba. Gue punya tempat buat loe. Tempat di mana loe nggak perlu jadi bayangan Airin lagi. Tempat di mana nggak ada satu pun tangan kotor Maheswari yang bisa nyentuh ujung rambut loe."
Aku menatap danau itu lama, lalu mengangguk pelan. Malam ini, aku secara resmi melepaskan nama Maheswari. Aku melepaskan semua luka, semua pengabdian buta, dan semua harapan pada orang tua yang lebih mencintai citra daripada darah dagingnya sendiri.
"Bawa aku pergi, Bara. Ke mana saja. Asalkan bukan ke sana lagi."
*
Rumah persembunyian Bara ternyata hanyalah sebuah apartemen kecil di pinggiran kota yang cukup tersembunyi. Sederhana, sedikit berantakan dengan tumpukan buku dan beberapa peralatan motor, tapi sangat bersih. Aroma maskulin yang khas—campuran kayu dan kopi—memenuhi ruangan itu.
"Loe tidur di kamar. Gue di sofa," ucap Bara singkat sambil melempar kunci motornya ke meja kayu.
Aku duduk di tepi ranjangnya yang rapi, masih mengenakan jas mahalnya. Rasa lelah yang luar biasa menghantamku. Kejadian di gala tadi terasa seperti mimpi buruk yang sangat jauh. Baru saja aku hendak memejamkan mata, suara dentuman keras menghantam pintu depan.
BRAKK! BRAKK! BRAKK!
Aku tersentak berdiri, jantungku berpacu gila-gilaan. "Papa?" bisikku ketakutan.
Bara seketika waspada. Ia menatap pintu dengan tatapan predator. Ia memberi isyarat padaku untuk tetap diam di dalam kamar dan tidak keluar. Bara melangkah menuju pintu, tangannya mengepal kuat.
Cklek.
Pintu terbuka. Namun, yang berdiri di sana bukan Prasetya Maheswari.
Seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu gelap yang harganya mungkin bisa membeli sepuluh motor Bara berdiri di sana. Rambutnya disisir rapi dengan beberapa uban yang justru menambah kesan otoritas yang sangat kuat. Di belakangnya, berdiri empat pria berbadan tegap dengan earphone di telinga—pengawal pribadi.
"Bagus sekali kandang kamu, Bara. Bau kemiskinan dan oli," ucap pria itu dengan suara yang sangat dingin. Ia melangkah masuk tanpa diundang, mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan dengan jijik.
Bara mematung, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol. "Ngapain Ayah ke sini?"
"Ayah?" Pria itu tertawa hambar, sebuah tawa yang sarat akan kekuasaan. Ia melangkah masuk lebih jauh, mengabaikan tatapan membunuh dari putranya sendiri. "Sudah cukup bermain gembelnya, Bara. Kamu sudah lulus SMA. Main-mainnya selesai. Kamu harus pulang dan ambil posisi kamu sebagai pewaris tunggal Galaksi Fintech."
Aku mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Galaksi Fintech? Perusahaan peminjaman modal terbesar yang bahkan kabarnya menjadi penyokong utama perusahaan konstruksi Papa?
"Bara nggak butuh uang Ayah. Bara bukan pewaris siapa pun," desis Bara, suaranya sarat akan dendam yang lama terpendam.
"Oh ya?" Darmawan melirik ke arah pintu kamar tempatku bersembunyi. Ia menyeringai tipis, seolah ia sudah tahu segalanya. "Kamu pikir cukup melindungi seorang gadis hanya dengan keadaan seperti ini? Pakai apa? Pakai motor rongsokan kamu yang sudah robek-robek itu?"
Darmawan melangkah mendekati Bara, menepuk bahu putranya dengan gerakan yang meremehkan. "Ayah lihat apa yang terjadi di gala tadi. Kamu keren, Bara. Heroik. Tapi pahlawan tanpa kuasa itu cuma target empuk. Kamu bawa dia ke sini, lalu apa? Besok Maheswari bakal pakai koneksi hukumnya buat laporin kamu atas penculikan. Kamu bakal masuk penjara, dan cewek di dalam sana bakal dikurung di RSJ beneran kali ini."
"Ayah pasti nggak akan berani biarkan itu terjadi," ancam Bara, namun suaranya sedikit goyah.
"Kenapa nggak?" Darmawan menaikkan alisnya. "Ayah malah kasihan dengan gadis di dalam rumahmu itu. Dia punya bakat, dia punya kecantikan, tapi dia dilindungi oleh pecundang yang bahkan nggak punya biaya buat makan besok pagi."
Bara terdiam. Aku bisa melihat bahunya bergetar. Ucapan ayahnya menghantam tepat di titik terlemahnya: ketidaksanggupannya untuk menjamin keselamatanku secara mutlak jika ia tetap menjadi "Bara sang berandal".
"Saran Ayah, terima tawaran ini," ucap Darmawan dengan nada suara yang kini lebih persuasif namun mematikan. "Kembali ke rumah utama. Jalani pelatihan pewaris. Ambil kuasa yang seharusnya milik kamu. Jika kamu berkuasa, Bara... kamu nggak cuma bisa jagain dia. Kamu bisa melucuti semua musuhmu. Kamu bisa bikin Prasetya Maheswari sujud memohon ampun di depan kaki gadis itu hanya dengan satu jentikan jari."
Bara menatap ayahnya dengan kebencian murni. "Bara bukan orang yang seperti Ayah! Bara bukan orang yang menggunakan kekuasaan untuk menginjak orang lain!"
Darmawan tertawa terbahak-bahak, suara tawanya menggema di ruangan sempit itu. "Kamu itu mirip banget sama Ayah waktu muda, Bara! Idealis, pemberontak, dan bodoh! Tapi kamu bakal sadar, cinta itu butuh biaya. Kamu mau dia terus-terusan menangis karena difitnah gila? Atau kamu mau dia berdiri di puncak dunia sebagai desainer yang nggak bisa disentuh siapa pun?"
Ayah Bara berbalik, hendak keluar, namun ia berhenti di ambang pintu. "Mungkin saat ini kamu merasa belum butuh. Tapi pikirkan lagi... siapa yang akan menafkahi kekasihmu itu saat seluruh akses pekerjaannya ditutup oleh keluarga Maheswari? Pikirkan, Bara."
Darmawan pergi, meninggalkan keheningan yang menyesakkan.
*
(POV Darmawan - Ayah Bara)
Aku masuk ke dalam mobil Mercedes-Maybach-ku, membiarkan asistenku menutup pintu dengan suara blup yang kedap. Aku menatap jendela apartemen kumuh itu dari kejauhan.
Bara... anak itu benar-benar cerminanku. Terutama saat dia menatap gadis itu. Caranya melindungi wanita itu mengingatkanku pada penyesalan terbesarku.
"Apakah akhirnya Tuan Muda berubah pikiran, Tuan?" tanya asistenku sambil mulai mengemudikan mobil.
Aku menyandarkan kepalaku, memejamkan mata. Ingatanku terbang ke dua puluh lima tahun yang lalu. Tentang seorang wanita lembut yang kuhancurkan hidupnya karena aku tidak cukup kuat melawan keluargaku sendiri. Sekarang, wanita itu—ibu Bara—masih terbaring koma di rumah sakit terbaik yang bisa dibeli oleh uangku, akibat kecelakaan yang disengaja oleh musuh-musuh bisnisku.
"Setidaknya dia tahu tempatnya pulang," gumamku parau. "Setiap aku melihat gadis di dalam sana tadi... aku teringat ibunya Bara. Tatapan yang sama. Tatapan orang yang dikhianati oleh dunianya sendiri. Sungguh sangat menyakitkan."
Aku tidak akan membiarkan Bara mengulangi kesalahanku. Jika dia harus menjadi monster untuk melindungi gadis itu, maka aku akan menjadi orang yang memberinya taring.
*
Mansion Galaksi. Sebuah tempat yang dikelilingi taman labirin dan penjagaan ketat. Bara akhirnya membawa Aira ke rumah aslinya.
Begitu pintu besar terbuka, puluhan pelayan berbaris rapi, membungkuk serentak. "Selamat datang kembali, Tuan Muda Bara."
Aku terpaku di samping Bara. Mansion ini jauh lebih megah dari rumah Maheswari. Lantainya terbuat dari marmer impor, dan dindingnya dihiasi lukisan-lukisan klasik yang sangat mahal. Bara tidak menghiraukan sambutan itu. Ia menarik tanganku, melangkah langsung menuju ruang kerja ayahnya di lantai dua.
Brak!
Bara membanting pintu ruang kerja Darmawan. Ayahnya sedang menyesap wine sambil menatap monitor saham.
"Bara bersedia," ucapnya tanpa basa-basi. Suaranya dingin, seolah ia baru saja menjual jiwanya pada iblis. "Bara bakal jalanin pelatihan pewaris itu. Bara bakal ambil tanggung jawab di Galaksi Fintech."
Darmawan tersenyum tipis, menyesap wine-nya dengan tenang. "Pilihan yang cerdas."
"Tapi ada syaratnya," potong Bara tajam. "Beri sponsor penuh kepada Aira Maheswari. Masukkan dia ke sekolah desain internasional terbaik. Pastikan dia nggak kekurangan sepeser pun. Bara akan bayar semua biaya pendidikan dan makan Aira saat Bara sudah bekerja di perusahaan Ayah nanti. Anggap saja ini hutang Bara ke Ayah."
Darmawan terkekeh, ia menatap kami berdua secara bergantian dengan tatapan menilai. "Kalian berdua sudah seperti suami istri saja, padahal baru lulus SMA. Apa perlu Ayah nikahkan sekalian?"
Wajah Bara memerah sesaat, ia menunduk malu namun tetap menjaga genggaman tangannya padaku dengan protektif. "Itu tergantung Aira. Dan bukan untuk saat ini. Bara mau membuktikan keberhasilan Bara dulu sebelum memintanya jadi milik Bara secara sah."
Aku menatap Bara dengan mata berkaca-kaca. Dia mengorbankan kebebasannya, mengorbankan idealismenya yang sangat ia benci, hanya agar aku bisa meraih mimpiku kembali.
"Kesepakatan tercapai," ucap Darmawan puas. Ia menekan tombol interkom. "Bi Inah, antar Nona Aira ke kamar mewah di samping kamar Tuan Muda. Siapkan segala kebutuhannya."
Aku diantar menuju sebuah kamar yang luasnya mungkin tiga kali lipat dari seluruh gudang Maheswari. Kasur King Size dengan sprei sutra, balkon pribadi yang menghadap taman, dan lemari pakaian yang sudah terisi dengan baju-baju bermerek.
Sangat berbanding terbalik dengan hidupku sebelumnya. Aku terduduk di tepi ranjang yang empuk, meraba kain sutranya yang halus. Di sebelah, aku bisa mendengar suara pintu kamar Bara tertutup.
Malam ini, Sang Serigala benar-benar telah membawaku keluar dari kegelapan. Namun, aku tahu harga yang harus ia bayar sangatlah mahal. Mulai hari ini, tidak akan ada lagi Bara si berandalan motor. Yang ada hanyalah Bara Galaksi, sang calon penguasa keuangan yang akan menghancurkan siapa pun yang pernah membuatku terluka.
si cewe ending nya sama yg lama yg baru hempas