Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3
Setelah beberapa jam bergelut dengan angka-angka di depan layar komputer, Clara akhirnya menghela napas panjang sambil meregangkan tubuhnya. Matanya terasa lelah melihat laporan keuangan yang seolah tidak ada habisnya. Tumpukan dokumen di meja bahkan mulai terlihat seperti benteng pertahanan kecil yang siap runtuh kapan saja. Kertas berserakan di mana-mana, beberapa map terbuka begitu saja, dan gelas kopi yang sudah dingin masih tergeletak di dekat keyboard.
Namun begitu jam istirahat tiba, seluruh rasa penat itu langsung menghilang.
Clara segera berdiri dan mengambil tasnya tanpa sedikit pun berniat merapikan meja kerja. Bagi Clara, pekerjaan bisa menunggu. Tony tidak.
Beberapa pegawai finance yang melihatnya hanya saling melirik sambil menahan senyum kecil. Putri pemilik perusahaan itu selalu berubah sangat bersemangat setiap kali mendengar nama Tony Bagaskara.
Baru saja Clara selesai memakai tasnya, sosok pria tinggi dengan setelan jas rapi muncul di depan divisi finance.
Tony berdiri dengan tenang sambil tersenyum tipis.
“Sudah selesai?” tanyanya lembut.
Wajah Clara langsung berbinar.
“Sudah dari tadi sebenarnya,” jawab Clara cepat sambil menghampiri Tony.
Salah satu pegawai finance sampai berbisik pelan kepada temannya.
“Itu sudah seperti pasangan sungguhan.”
“Bukan seperti lagi,” sahut yang lain pelan. “Semua orang juga tahu Pak Tony kandidat terkuat calon menantu Pak Agung.”
Beberapa orang langsung mengangguk setuju.
Sulit membayangkan pria lain yang lebih cocok dibanding Tony. Direktur operasional muda, berwibawa, cerdas, berasal dari keluarga pebisnis, dan memiliki sikap yang nyaris sempurna. Kombinasi langka di dunia manusia modern yang biasanya diisi orang-orang aneh dengan ego sebesar gedung parkir.
Clara sendiri sama sekali tidak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitar. Dia justru tampak semakin bangga berjalan berdampingan dengan Tony.
Keduanya lalu berjalan menuju lift bersama.
“Finance benar-benar melelahkan,” keluh Clara sambil memijat pelan lehernya.
Tony meliriknya sekilas.
“Baru sehari sudah mengeluh?”
“Karena memang membosankan. Angka semua. Kalau salah sedikit bisa dimarahi.”
Tony terkekeh kecil.
“Itu gunanya belajar teliti.”
Clara mendengus pelan.
“Aku lebih cocok jadi pengawas daripada mengerjakan laporan seperti itu.”
“Pengawas?”
“Iya. Duduk, lihat orang kerja, lalu memberi arahan.”
Tony tertawa kecil mendengar jawaban itu.
“Kedengarannya seperti bos pemalas.”
“Bukan pemalas,” bantah Clara cepat. “Visioner.”
Lift terbuka dan keduanya turun ke lobby perusahaan.
Saat mereka berjalan menuju area parkir, beberapa pegawai dari divisi pemasaran terlihat mulai keluar untuk makan siang. Suasana mereka sangat berbeda dibanding divisi lain. Tidak ada jas formal atau pakaian kantor kaku. Sebagian memakai jaket santai, kemeja longgar, bahkan ada yang menggunakan sneakers mencolok.
Clara langsung mengernyit kesal.
“Aku tetap tidak suka melihat mereka berpakaian seperti itu.”
Tony mengikuti arah pandangan Clara.
“Itu lagi?”
“Memang menyebalkan.” Clara melipat tangan di dada. “Semua divisi berpakaian formal. Hanya mereka yang seenaknya sendiri.”
“Karena bidang mereka berbeda.”
“Tetap saja perusahaan punya aturan.”
Tony membuka pintu mobil untuk Clara sebelum ikut masuk ke kursi pengemudi.
Begitu mesin mobil menyala, Clara masih belum berhenti mengomel.
“Coba lihat tadi. Seperti mau nongkrong, bukan kerja.”
Tony hanya tersenyum tipis sambil fokus menyetir.
“Itu sudah disetujui Pak Agung.”
“Ayah terlalu baik pada Doni.”
Nama itu langsung membuat ekspresi Clara berubah.
Doni Permana.
Direktur pemasaran yang paling sering membuat Clara kesal.
Menurut Clara, pria itu terlalu santai, terlalu percaya diri, dan terlalu berani mengubah sistem perusahaan. Namun anehnya, ayahnya selalu membela Doni karena hasil kerja pria itu memang luar biasa.
Tony akhirnya berbicara pelan.
“Doni memang punya cara kerja berbeda.”
“Berbeda atau memberontak?”
Tony terkekeh kecil.
“Clara, divisi pemasaran memang membutuhkan kreativitas.”
“Bukan berarti bebas melanggar aturan.”
“Mungkin baginya pakaian formal membuat orang sulit berpikir santai.”
Clara mendengus.
“Itu alasan yang dibuat-buat.”
Mobil melaju meninggalkan area perusahaan.
Di luar, jalanan siang itu cukup ramai. Beberapa kendaraan bergerak lambat di tengah panas kota yang menyengat. Clara lalu kembali bicara dengan nada kesal.
“Aku heran kenapa Ayah selalu menuruti Doni.”
“Karena dia kompeten.”
“Aku tahu dia pintar,” jawab Clara cepat. “Tapi tetap saja tidak adil.”
Tony melirik Clara sekilas sebelum kembali fokus ke jalan.
“Kadang perusahaan memang membutuhkan orang seperti Doni.”
“Maksudnya?”
“Orang yang berani berbeda.”
Clara langsung memalingkan wajah ke jendela.
“Kalau terlalu berbeda nanti malah merusak sistem.”
Tony tersenyum tipis.
“Atau justru memperbaikinya.”
Clara tidak langsung menjawab.
Entah kenapa dia selalu merasa kesal setiap mendengar Tony membela Doni. Walaupun Tony tidak pernah benar-benar berpihak, Clara tetap tidak suka.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di sebuah restoran mewah langganan Tony. Tempat itu tidak terlalu ramai dan memiliki suasana tenang. Aroma makanan langsung menyambut begitu mereka masuk.
Seorang pelayan segera membungkuk hormat.
“Selamat siang, Pak Tony.”
Tony mengangguk pelan.
“Tempat biasa.”
Pelayan itu langsung mengantar mereka menuju meja paling ujung dekat jendela besar. Tempat itu cukup tertutup sehingga nyaman untuk berbicara tanpa gangguan.
Clara duduk sambil tersenyum puas.
“Aku suka tempat ini.”
“Karena tenang?”
“Karena bisa makan berdua denganmu.”
Tony hanya tersenyum kecil mendengar jawaban itu.
Clara diam-diam memperhatikan wajah pria di depannya dengan kagum. Semakin lama mengenal Tony, semakin dia merasa pria itu hampir tidak punya kekurangan. Cara berbicara tenang, sikap dewasa, dan pembawaan yang selalu terlihat elegan membuat Clara makin terpesona.
Setelah memesan makanan, Clara mulai membuka percakapan.
“Akhir pekan nanti sibuk?”
Tony tampak berpikir sejenak.
“Lumayan.”
“Kerja lagi?”
“Sebagian urusan keluarga.”
Clara langsung terlihat penasaran.
“Urusan keluarga seperti apa?”
Tony menyandarkan tubuhnya pelan di kursi.
“Ada beberapa bisnis keluarga yang perlu dibantu.”
Clara menatap Tony kagum.
“Kamu benar-benar hebat.”
Tony mengernyit kecil.
“Hanya membantu.”
“Tetap saja.” Clara tersenyum lembut. “Kamu sibuk di perusahaan, tapi masih mengurus keluarga.”
Tony tertawa pelan.
“Itu kewajiban.”
Jawaban sederhana itu justru membuat Clara semakin kagum.
Menurutnya, pria seperti Tony sangat langka. Berasal dari keluarga berada namun tetap pekerja keras dan bertanggung jawab. Tidak seperti sebagian orang kaya yang hanya mengandalkan nama keluarga tanpa kemampuan nyata. Fenomena yang cukup sering terjadi. Manusia memang punya bakat alami mewarisi kekayaan sekaligus kemalasan secara bersamaan. Evolusi benar-benar bekerja dengan cara misterius.
“Mungkin karena kamu berasal dari keluarga pebisnis,” kata Clara.
“Mungkin.”
“Jadi kamu lebih paham soal tanggung jawab.”
Tony tersenyum tipis.
“Semua orang sebenarnya bisa belajar tanggung jawab.”
Clara lalu tanpa sadar kembali membawa nama Doni.
“Berbeda dengan Doni.”
Tony menatap Clara sebentar.
“Kamu masih memikirkan dia?”
“Aku hanya tidak suka caranya.”
“Maksudmu?”
“Dia terlalu bebas.” Clara menghela napas pelan. “Kadang aku merasa dia tidak benar-benar menghargai posisinya sebagai direktur.”
Tony terdiam sesaat sebelum menjawab.
“Doni hanya punya cara berbeda dalam bekerja.”
“Tapi dia sering bertindak sesukanya.”
“Karena dia percaya diri dengan hasilnya.”
Clara terlihat tidak puas.
“Menurutku orang seperti dia mudah jatuh.”
Tony tersenyum kecil sambil mengambil gelas minumnya.
“Mungkin.”
“Nah, kan.”
“Tapi orang seperti Doni juga biasanya sulit dihentikan.”
Clara mengernyit.
“Kamu memujinya lagi.”
“Aku hanya objektif.”
Clara memajukan bibirnya sedikit kesal.
Tony lalu tertawa kecil melihat ekspresi Clara.
“Kamu benar-benar tidak suka padanya.”
“Karena dia selalu terlihat menyebalkan.”
“Padahal kalian jarang bicara.”
“Tidak perlu bicara lama untuk tahu seseorang menyebalkan.”
Tony kembali tersenyum kecil.
Makanan mereka akhirnya datang satu per satu. Aroma steak hangat langsung memenuhi meja.
Clara yang tadi kesal perlahan kembali ceria.
“Setidaknya makanannya tidak menyebalkan seperti Doni.”
Tony sampai tertawa lebih keras kali ini.
“Kasihan sekali dia.”
“Tidak kasihan.”
“Kamu keras sekali.”
Clara memotong dagingnya pelan lalu berkata dengan santai.
“Aku hanya tidak suka orang yang terlalu bebas.”
Tony memperhatikan Clara beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan,
“Kadang orang yang terlalu terikat aturan juga bisa membuat perusahaan berhenti berkembang.”
Clara terdiam.
Dia sebenarnya mengerti maksud Tony. Namun tetap saja, dalam pikirannya Doni terlalu sulit diterima.
Bagi Clara, perusahaan besar harus punya keteraturan, wibawa, dan sistem jelas. Sedangkan Doni justru terlihat seperti badai kecil yang datang membawa perubahan seenaknya sendiri.
Namun anehnya, semakin Clara membenci Doni, semakin sering pria itu muncul dalam pembicaraan.
Dan Tony selalu menanggapinya dengan tenang.
Hal itu membuat Clara semakin yakin kalau Tony memang jauh lebih dewasa dibanding siapa pun di perusahaan itu.