Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK MASA LALU DAN BENTENG PERLINDUNGAN
Kehidupan Mentari di Pesantren Al-Hidayah mulai terasa seperti rumah yang sesungguhnya. Ia mulai terbiasa dengan jadwal salat tepat waktu, bau kitab kuning yang khas, dan percakapan santai dengan Bondan, Fahma, dan Hafizah di bawah pohon mangga. Namun, dunia luar tidak membiarkan Mentari tenang begitu saja.
Pagi itu, saat Mentari sedang membantu memetik sayur di kebun asrama, Bondan berlari menghampirinya dengan wajah pucat. Tangannya gemetar memegang sebuah ponsel.
"Tari... lo harus liat ini. Gawat banget," bisik Bondan dengan suara parau.
Mentari mengerutkan kening. Di layar ponsel itu, sebuah akun gosip besar Jakarta mengunggah kompilasi foto dan video lama Mentari saat masih menjadi "Ratunya Jakarta". Video Mentari yang sedang tertawa sambil memegang gelas di kelab malam disandingkan dengan foto Mentari yang memakai kerudung besar di gerbang pesantren.
Judulnya sangat kejam: "EKSKLUSIF: Si Gadis Bar-Bar 'Tobat' di Pesantren Demi Menjebak Sang Gus? Ini Bukti Skandalnya!"
Kolom komentar meledak. Ribuan netizen menghujat Mentari dengan kata-kata kasar. Ada yang menyebutnya wanita murahan yang sedang bersandiwara, ada yang menuduhnya merusak nama baik agama demi mendapatkan suami tampan.
Hanya dalam hitungan jam, kabar itu sampai ke telinga para wali santri. Gerbang pesantren mulai didatangi orang-orang yang merasa keberatan jika anak-anak mereka dididik di tempat yang "menampung wanita pendosa".
Mentari duduk di sudut kamar, memeluk lututnya. Air matanya terus mengalir. Segala perjuangannya untuk belajar mengaji, segala usahanya untuk bertaubat, seolah-olah hancur dalam sekejap karena jejak digital yang kejam.
"Mereka bener, Bon," isak Mentari. "Gue emang kotor. Gue nggak pantes di sini. Gue cuma bikin malu Gus Zikri."
Fahma masuk dengan membawakan air minum. "Tari... kok orang-orang di HP itu jahat banget ya? Padahal mereka nggak tahu kalau sekarang kamu udah bisa bedain *Alif* sama *Ya*."
"Dunia nggak butuh tahu prosesnya, Fahma," sahut Hafizah yang baru kembali dari kantor pengurus. Wajahnya tampak lelah. "Mereka lebih suka melihat kesalahan seseorang daripada pertobatannya."
Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar. Gus Zikri berdiri di sana. Wajahnya terlihat sangat dingin, namun matanya memancarkan ketegasan yang luar biasa.
"Mentari, ikut saya," ucap Zikri singkat.
Zikri menarik tangan Mentari menuju gerbang depan pesantren yang sudah dikerumuni beberapa wartawan lokal dan orang-orang yang menuntut penjelasan. Mentari sangat ketakutan, ia mencoba melepaskan pegangan Zikri.
"Gus... jangan. Aku malu. Biar aku pergi aja dari sini," mohon Mentari.
"Diam dan berdiri di samping saya," perintah Zikri. Suaranya tidak bisa dibantah.
Di depan massa yang mulai berisik, Gus Zikri berdiri layaknya sebuah benteng. Ia sama sekali tidak menundukkan pandangan kali ini. Ia menatap lurus ke arah kamera dan orang-orang yang menghujat istrinya.
"Dengarkan saya baik-baik," suara Zikri menggelegar meski tanpa mikrofon. "Wanita yang kalian hujat ini adalah istri sah saya. Masa lalunya adalah urusan dia dengan Tuhannya, namun masa depannya adalah tanggung jawab saya."
Zikri merangkul pundak Mentari, sebuah tindakan yang sangat berani bagi seorang Gus di depan publik.
"Islam datang untuk merangkul mereka yang ingin kembali, bukan untuk menginjak mereka yang sedang berusaha berdiri. Jika kalian merasa lebih suci daripada dia, silakan tunjukkan satu saja manusia di sini yang tidak punya dosa. Jika tidak ada, maka bubarlah. Jangan biarkan lisan kalian menjadi jembatan menuju neraka."
Suasana mendadak hening. Ketegasan Zikri membuat para wartawan dan massa terdiam. Zikri tidak memberikan ruang untuk debat. Ia memutar tubuhnya dan membawa Mentari masuk kembali ke dalam pesantren.
Sampai di dalam rumah, Mentari langsung jatuh bersimpuh di kaki Zikri. Ia menangis sejadi-jadinya.
"Kenapa Gus lakuin itu? Karir Gus sebagai ulama bisa hancur karena bela aku," tangis Mentari.
Zikri berjongkok, mengangkat wajah Mentari agar menatapnya. Ia menghapus air mata di pipi istrinya dengan jempolnya.
"Gelar Gus tidak ada artinya jika saya tidak bisa melindungi istri saya sendiri," bisik Zikri lembut. "Dunia mungkin melihat videomu yang lama, tapi Allah melihat sujudmu yang baru. Dan bagi saya, sujudmu lebih berharga daripada semua hujatan mereka."
Mentari tertegun. Di tengah badai fitnah yang menerjang, ia menyadari bahwa ia telah menemukan pelabuhan yang sesungguhnya. Gus Zikri bukan lagi sekadar "kulkas" yang dingin, melainkan api unggun yang memberinya kehangatan saat seluruh dunia mencoba membekukannya.
Malam itu, di sela-sela tangisnya, Mentari bersumpah untuk benar-benar menjadi wanita yang layak bagi Zikri. Bukan karena ingin dipuji dunia, tapi karena ia tahu, ada satu hati mulia yang mempertaruhkan segalanya demi dirinya.
Di pojok ruangan, Bondan, Fahma, dan Hafizah mengintip sambil menangis haru.
"Gue mau satu yang kayak Gus Zikri... tapi yang versi bisa diajak makan seblak pedas level 10," gumam Bondan sambil mengelap air matanya.
Fahma menyahut, "Gus Zikri keren ya... dia kayak pahlawan di film-film yang aku tonton di mimpi semalam."
Badai belum benar-benar berlalu, namun Mentari tahu, selama tangan Zikri masih menggenggamnya, ia tidak akan pernah tenggelam lagi.