NovelToon NovelToon
Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:744
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

Demi melunasi utang almarhum ayahnya dan membiayai sekolah adiknya, Andra (23 tahun), seorang pemuda desa yang tampan dan bersahaja, nekat merantau ke Jakarta. Berbekal kejujuran dan ijazah SMK, ia diterima sebagai asisten administrasi di Apex Media, sebuah agensi periklanan papan atas yang gemerlap di kawasan Sudirman.
​Di sana, Andra berhadapan langsung dengan sang bos besar, Nadia (32 tahun), seorang wanita karier sukses yang perfeksionis. Di balik kemewahan hidupnya, Nadia menyimpan kesepian mendalam karena pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah lama mendingin dan hambar.
​Di tengah belantara Jakarta yang penuh kepalsuan, ketulusan dan kepolosan Andra perlahan mencuri perhatian Nadia. Intensitas kerja hingga larut malam membuat batas profesional di antara atasan dan bawahan ini perlahan mengabur. Andra kini dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya: bertahan pada ketulusan prinsipnya demi keluarga di desa, atau menyerah pada godaan sang bos yang menawarkan keh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Meja Depan dan Dunia Baru

Pukul tujuh lewat empat puluh lima menit pagi, Andra sudah berdiri di koridor lantai 17 gedung Apex Media. Hari ini, ia tidak lagi mengenakan kemeja putih lungsuran yang tipis. Kemarin sore, setelah menerima kabar bahwa ia diterima bekerja, Mas Joko langsung mengantarnya ke pasar malam di dekat kontrakan untuk membeli dua lembar kemeja baru dan sebuah celana bahan hitam yang pas di tubuhnya. Meskipun bukan pakaian bermerek mahal, potongan kemeja biru muda yang melekat erat di tubuh tegapnya justru membuat proporsi badannya yang atletis tampak semakin menonjol.

Andra melangkah menuju sebuah meja kayu minimalis yang terletak tepat di sebelah pintu kaca ruang kerja Nadia. Di atas meja itu sudah tertata rapi sebuah komputer monitor tipis, telepon kabel dengan banyak tombol, seikat dokumen di dalam keranjang surat, dan sebuah papan nama kecil berbahan akrilik bertuliskan: Andra - Staf Administrasi Proyek.

"Pagi, Andra! Sudah siap tempur?"

Suara ceria itu berasal dari Citra, sekretaris tim kreatif yang mejanya berada tak jauh dari sana. Citra berjalan mendekat sambil membawa segelas es kopi susu, matanya sedikit tertahan menatap Andra. Harus diakui, penampilan Andra pagi ini sangat menyegarkan mata para karyawan wanita di lantai itu. Ketampanan alaminya yang bersih tanpa riasan tebal membuat beberapa orang yang lewat di koridor curi-curi pandang.

"Pagi, Mbak Citra. Nggih, siap," jawab Andra ramah, lengkap dengan senyum tulus dan sedikit anggukan sopan khas orang desa.

Citra tertawa kecil mendengar logat Andra. "Santai saja, Ndra. Di sini panggilnya 'Kak' atau langsung nama juga tidak apa-apa kalau sesama staf. Oh iya, Ibu Nadia biasanya datang jam delapan tepat. Sebelum dia datang, tugas pertamamu adalah memastikan berkas laporan mingguan dari tim kreatif sudah ada di mejanya, dan jangan lupa buatkan kopi hitam tanpa gula, letakkan di kubikal kecil sebelah sana."

"Kopi hitam tanpa gula, Kak? Baik, laksanakan," Andra mencatat instruksi itu baik-baik di kepala dan buku catatan kecilnya.

Tepat pukul delapan kurang dua menit, denting lift eksekutif berbunyi. Andra langsung berdiri tegak di samping mejanya. Dari kejauhan, sosok Nadia berjalan dengan langkah ritmis yang tegas. Sepatu hak tingginya berketuk konstan di atas lantai semen ekspos. Pagi ini ia mengenakan setelan celana dan blazer berwarna abu-abu arang, dipadukan dengan kemeja sutra putih di dalamnya. Wajahnya tampak segar dengan riasan *flawless*, seolah ketegangan dan kerapuhan yang terjadi bersama suaminya kemarin tidak pernah ada.

"Selamat pagi, Bu Nadia," sapa Andra membungkuk hormat saat wanita itu melintas di depan mejanya.

Nadia menghentikan langkahnya sejenak. Ia menatap Andra dari bawah ke atas, memperhatikan kemeja baru pemuda itu yang rapi. Aroma sabun batangan yang bersih dan segar tercium samar dari tubuh Andra, menggantikan aroma parfum pria kota yang biasanya terlalu menyengat di hidung Nadia.

"Selamat pagi, Andra. Laporan dari tim kreatif sudah siap?" tanya Nadia, suaranya terdengar dingin namun profesional.

"Sudah saya letakkan di meja Ibu, bersama kopi hitam hangatnya," jawab Andra sigap.

Nadia menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan kecepatan kerja asisten barunya. "Bagus. Lima belas menit lagi, masuk ke ruangan saya membawa agenda mingguan. Kita perlu menyinkronkan jadwal pertemuan dengan beberapa klien besar."

"Baik, Bu."

Pintu kaca ruangan Nadia tertutup kembali. Andra menarik napas panjang, merasa lega karena tugas pertamanya berjalan lancar. Ia segera duduk di kursinya, membuka komputer, dan mulai mempelajari sistem penjadwalan digital Apex Media dengan tekun. Baginya, setiap tombol dan aplikasi di layar ini adalah ilmu baru yang harus ia kuasai secepat mungkin agar tidak mengecewakan wanita di dalam sana.

Lima belas menit berlalu dengan cepat. Andra mengetuk pintu kayu ruangan Nadia dua kali, lalu melangkah masuk setelah mendengar suara izinan dari dalam.

Nadia sedang duduk di kursi kebesarannya, menyesap kopi hitam buatan Andra. Begitu Andra duduk di hadapannya, Nadia meletakkan cangkir porselennya.

"Kopi buatanmu pas. Tidak terlalu encer," puji Nadia tipis, hampir tak kentara. Namun bagi Andra, itu adalah suntikan semangat yang luar biasa.

"Terima kasih, Bu. Ibu saya di rumah sering membuatkan jamu dan kopi untuk almarhum bapak, jadi saya sedikit banyak belajar cara menakar air panasnya," jawab Andra jujur, tanpa maksud mencari perhatian.

Nadia terdiam sejenak mendengar jawaban itu. Kehidupan domestik yang hangat seperti yang diceritakan Andra terasa sangat asing baginya. Di rumahnya sendiri, dapur adalah tempat yang mati. Tidak ada aroma kopi buatan istri, tidak ada teh hangat di sore hari; yang ada hanyalah pelayan yang menyiapkan makanan instan atau katering sehat yang dipesan secara daring.

"Baik, mari kita mulai," Nadia berdehem, membuka sebuah map besar. "Minggu ini Apex Media sedang berkompetisi memperebutkan proyek kampanye iklan terbesar dari sebuah perusahaan kosmetik multinasional. Nilai proyeknya sangat besar, dan tim saya yang memimpin pitching ini. Jadwal saya akan sangat padat. Sore ini jam empat, saya ada janji temu dengan direktur pemasaran mereka di restoran hotel Grand Hyatt."

Nadia menatap Andra dengan tatapan menyelidik. "Asisten saya yang sebelumnya biasanya ikut untuk mencatat poin-poin penting dan menyiapkan materi presentasi di tablet. Apa kamu sudah paham cara mengoperasikan aplikasi presentasi yang saya kirim tadi pagi?"

Andra mengangguk mantap. "Sudah, Bu. Tadi Kak Citra juga sempat membantu saya mengulas poin-poinnya. Saya sudah mengunduh materi dokumennya dan siap mencatat semua arahan Ibu nanti sore."

Nadia tersenyum tipis, kali ini senyumannya terlihat sedikit lebih rileks. "Bagus. Kamu ternyata cepat belajar, Andra."

Namun, ketenangan di ruangan itu kembali terusik ketika ponsel di atas meja Nadia bergetar lama. Di layarnya muncul nama suaminya. Senyum tipis di wajah Nadia seketika lenyap, digantikan oleh kerutan dalam di dahi dan tatapan yang kembali mendingin.

Nadia menggeser tombol hijau, lalu mendekatkan ponsel ke telinganya. "Ya, Mas?"

Suara dari seberang telepon terdengar cukup keras di ruangan yang hening itu, bahkan Andra bisa mendengar samar-samar nada bicara pria itu yang ketus. "Nadia, sekretarisku bilang kamu belum mengirimkan dokumen persetujuan aset rumah yang di Pondok Indah. Tolong segera diurus, investor mau melihat kejelasan statusnya besok siang."

Nadia memijat pelipisnya yang mulai terasa berdenyut nyeri. "Mas, aset itu atas nama bersama. Bisakah kita bicarakan dulu akhir pekan ini saat kamu pulang dari Bali? Aku sedang sibuk mempersiapkan *pitching* besar untuk Apex."

Aku tidak punya waktu untuk berdebat, Nadia. Bisnis tidak bisa menunggu akhir pekanmu. Kirimkan saja dokumennya lewat kurir hari ini. Sudah ya, aku harus masuk ke ruang rapat, klik. Sambungan diputus secara sepihak.

Nadia perlahan menurunkan ponselnya. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, menatap langit-langit ruangan dengan tatapan mata yang kosong dan terluka. Di puncak kariernya yang gemilang sebagai pemimpin di Apex Media, di mana semua bawahannya menghormati dan tunduk pada perintahnya, di dalam hubungan pernikahannya sendiri ia tak lebih dari sekadar rekanan logistik yang bisa diperintah kapan saja. Kesepian dan rasa lelah yang ia sembunyikan rapat-rapat di balik riasan wajahnya seolah menguar ke seluruh penjuru ruangan.

Andra diam membisu. Seperti hari kemarin, ia langsung menundukkan kepalanya, menatap jemarinya sendiri yang bertumpu di lutut. Ia merasa iba, sekaligus menyadari betapa malangnya wanita cantik di hadapannya ini. Di desa, seorang suami akan pulang ke rumah dengan senyuman, menyantap masakan istri dengan lahap walau hanya dengan lauk tahu dan tempe. Namun di sini, di atas lantai 17 gedung mewah ini, uang yang berlimpah ternyata tidak mampu membeli secuil rasa hormat dan kasih sayang yang tulus.

"Andra," panggil Nadia pelan, suaranya terdengar sedikit bergetar, kehilangan ketegasan formalnya untuk beberapa detik.

Andra mengangkat kepalanya perlahan, menatap mata Nadia dengan pandangan yang sangat teduh dan penuh empati. "Nggih, Bu?"

Nadia menatap sepasang mata hitam itu. Di sana, ia tidak menemukan kilat penghakiman, tidak ada rasa penasaran yang usil, yang ada hanyalah sebuah ketulusan dan ketenangan yang entah bagaimana, membuat dadanya yang sesak perlahan-lahan terasa sedikit lebih ringan.

"Tolong... carikan dokumen aset Pondok Indah di lemari arsip belakang. Setelah itu, siapkan berkasnya untuk dikirim," ujar Nadia lirih, mengalihkan pandangannya ke jendela luar yang mulai diguyur mendung kota Jakarta.

"Baik, Bu Nadia. Segera saya siapkan. Ibu tidak perlu khawatir," jawab Andra dengan nada suara yang sangat lembut, seolah ingin meyakinkan wanita itu bahwa di tengah kerasnya dunia tempatnya berpijak, setidaknya ada satu orang di ruangan ini yang bisa ia percayai dengan aman.

1
Master Haki
terbaik dan bikin penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!