Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 AUDIT DARI PUSAT
Bzzzt...
Bzzzt...
Suara getaran ponsel membangunkan Abdul tepat ketika langit di luar jendela masih berwarna biru gelap menjelang subuh.
Ia mengucek matanya perlahan.
Ingatan tentang perpustakaan raksasa dalam mimpinya semalam masih terasa sangat jelas.
Rak-rak buku yang tak berujung.
Buku tua berlapis kulit cokelat.
Dan angka tiga ratus juta rupiah yang bersinar terang di tengah halaman.
Dengan napas pelan, Abdul meraih ponselnya.
Sebuah SMS baru dari Bank Suka telah menunggu.
[Bank Suka: Transaksi Uang Masuk Otomatis Rp300.000.000,00.]
[Saldo Akhir Anda: Rp3.647.550.000,00.]
Abdul hanya tersenyum tipis.
Dulu angka tiga ratus juta mungkin cukup membuatnya pingsan.
Sekarang, setelah berkali-kali menerima keajaiban yang sama, reaksinya jauh lebih tenang.
Bukan karena uang itu menjadi tidak berharga.
Melainkan karena pikirannya kini lebih banyak dipenuhi hal lain.
Bapaknya.
Panti asuhan.
Konveksi.
Dan puluhan orang yang kehidupannya mulai bergantung pada usaha yang ia bangun.
"Alhamdulillah..."
gumamnya pelan.
Ia meletakkan ponsel lalu beranjak mengambil wudu.
Pagi itu suasana rumah terasa damai.
Ibu Abdul sedang menyiapkan sarapan di dapur.
Aroma nasi goreng sederhana memenuhi ruangan.
Sementara Bapak Abdul sudah duduk di kursi rodanya dekat jendela ruang keluarga.
Pria tua itu terlihat jauh lebih segar dibanding beberapa bulan lalu.
Ketika melihat Abdul turun dari tangga, Bapak Abdul mengangkat tangan kirinya.
"Dul..."
"Iya, Pak?"
"S-sarapan."
Abdul tersenyum lebar.
Meski masih terbata-bata, kemampuan bicara bapaknya memang semakin membaik.
"Siap, Pak."
Beberapa jam kemudian Abdul kembali mengantar bapaknya menjalani sesi fisioterapi.
Hari itu suasana ruang rehabilitasi cukup ramai.
Beberapa pasien lain sedang berlatih berjalan dengan alat bantu.
Di bawah bimbingan Terapis Nita, Bapak Abdul kembali menjalani latihan berdiri.
Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.
"Kita coba tanpa pegangan selama lima detik ya, Pak."
kata Nita.
Abdul dan ibunya langsung saling berpandangan.
Biasanya latihan selalu menggunakan pegangan.
Hari ini berbeda.
Dengan bantuan alat penyangga pinggang, Bapak Abdul perlahan berdiri.
Tubuhnya sedikit gemetar.
Wajahnya menegang menahan konsentrasi.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Empat detik.
Lima detik.
Berhasil.
"Bagus sekali!"
seru Nita.
Ibu Abdul langsung menitikkan air mata.
"Alhamdulillah..."
Bapak Abdul sendiri terlihat kelelahan.
Namun di wajahnya muncul senyum kecil yang penuh kemenangan.
Abdul merasakan dadanya menghangat.
Tak ada uang miliaran yang mampu menandingi perasaan melihat kemajuan kecil seperti ini.
Sementara itu...
Jauh di pusat kota.
Di lantai dua belas gedung kantor pusat Bank Suka.
Suasana sebuah ruang rapat tampak cukup serius.
Beberapa orang berpakaian formal sedang menatap layar proyektor.
Di layar tersebut terpampang sebuah grafik transaksi.
Naik.
Naik.
Dan terus naik.
Di bagian bawah terdapat satu nama yang diberi tanda merah.
ABDUL.
Seorang pria berkacamata yang menjabat sebagai Kepala Audit Internal membuka map laporan di hadapannya.
"Ini rekening yang saya laporkan minggu lalu."
katanya.
"Seluruh dana masuk tidak memiliki sumber pengirim yang dapat ditelusuri."
Seorang wanita di ujung meja mengangkat alis.
"Maksud Anda transaksi ilegal?"
"Tidak."
jawab pria itu.
"Itulah masalahnya."
"Uang masuk."
"Tapi tidak ada sistem yang mencatat asalnya."
Ruangan menjadi hening.
"Itu tidak mungkin."
ucap seseorang.
"Kami juga berpikir begitu."
jawab sang auditor.
"Tapi tim IT sudah memeriksa tiga kali."
"Hasilnya tetap sama."
Beberapa orang mulai saling bertukar pandang.
Kasus seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya.
Salah satu direktur akhirnya bersandar di kursinya.
"Lanjutkan pengawasan."
"Tapi jangan mengganggu nasabah."
"Kalau memang ada kesalahan sistem, kita cari penyebabnya diam-diam."
Semua orang mengangguk.
Namun tak satu pun dari mereka menyadari bahwa masalah yang sedang mereka hadapi berada jauh di luar logika teknologi perbankan.
Siang hari.
Abdul mampir ke lokasi pembangunan panti.
Suasana di sana jauh lebih ramai dibanding minggu lalu.
Bangunan lama sebagian besar sudah dibongkar.
Puluhan pekerja sibuk mengangkat material.
Suara mesin molen terdengar bergemuruh.
Di tengah proyek, Cak Imron berdiri sambil berteriak memberi instruksi.
"Tiang sebelah sana lurusin lagi!"
"Adukan semennya jangan terlalu encer!"
Begitu melihat Abdul datang, pria itu langsung melambaikan tangan.
"Dul!"
"Gimana progresnya, Cak?"
Abdul bertanya.
Cak Imron tersenyum lebar.
"Kalau cuaca bagus terus, tiga bulan selesai."
Abdul mengangguk puas.
Mereka berjalan menyusuri area proyek.
Tak jauh dari sana, Doni dan beberapa anak panti sedang memperhatikan pembangunan dari balik pagar pengaman.
"Kakak baik!"
teriak Doni ketika melihat Abdul.
Abdul tertawa.
"Kamu lagi."
"Hehehe..."
Doni menggaruk kepalanya.
"Lihat rumah baru kami."
"Bagus kan?"
Abdul menoleh ke arah kerangka bangunan yang mulai berdiri.
"Bagus."
"Banget."
Mata Doni berbinar.
Lalu tiba-tiba bocah itu bertanya.
"Kak..."
"Hm?"
"Kalau nanti aku jadi dokter..."
"Aku bisa ngobatin orang gratis gak?"
Pertanyaan polos itu membuat Abdul tersenyum.
"Bisa."
"Kalau kamu jadi dokter yang baik."
Doni mengangguk mantap.
"Kalau begitu aku harus belajar lebih rajin."
Melihat semangat bocah itu, hati Abdul terasa hangat.
Menjelang sore Abdul kembali ke workshop konveksi.
Begitu masuk ke dalam gedung, suara belasan mesin jahit langsung menyambutnya.
Rian sedang memeriksa hasil produksi.
Jaka sibuk mengawasi para pekerja baru.
Suasana terlihat hidup.
"Dul!"
teriak Jaka.
"Kita dapat pesanan baru!"
Abdul mengangkat alis.
"Berapa?"
"Lima ratus seragam sekolah."
Abdul langsung terkejut.
"Lima ratus?"
Rian mengangguk.
"Sekolah swasta di kecamatan sebelah."
"Mereka lihat hasil kerja kita."
Abdul tersenyum puas.
Usaha yang awalnya hanya berisi dua mesin jahit di teras rumah kini mulai berkembang menjadi bisnis sungguhan.
Dan yang paling penting...
Banyak pemuda Gang Seng kini memiliki pekerjaan tetap.
Malam hari.
Setelah semua aktivitas selesai, Abdul kembali ke rumah.
Ia makan malam bersama kedua orang tuanya.
Lalu membantu bapaknya berjalan beberapa langkah menggunakan alat bantu.
Setelah semuanya beristirahat, Abdul masuk ke kamarnya.
Tubuhnya terasa lelah.
Namun hatinya sangat tenang.
Hari demi hari kehidupan mereka terus membaik.
Panti berkembang.
Konveksi berkembang.
Bapaknya perlahan sembuh.
Dan entah kenapa...
Malam itu Abdul merasa sangat damai.
Tak lama kemudian ia tertidur.
Pukul 04.50 Subuh.
Seperti biasa.
Ponsel di samping tempat tidurnya menyala sendiri.
Cahaya keemasan muncul.
Tulisan sistem mulai bermunculan satu per satu.
[Sistem Keberuntungan Kaum Rebahan Berhasil Memindai Gelombang Otak Subjek.]
[Sinkronisasi Jalur Takdir Berhasil.]
Tulisan itu membuat cahaya layar berdenyut aneh.
Berbeda dari biasanya.
Lalu muncul baris baru.
[Perubahan Nasib Terdeteksi: 21%]
[Evaluasi Perkembangan Subjek...]
[Hasil: Memenuhi Sebagian Persyaratan.]
Beberapa detik hening.
Kemudian muncul tulisan yang belum pernah terlihat sebelumnya.
[Fitur Evolusi Sistem Terkunci.]
[Syarat Belum Terpenuhi.]
[Teruskan Perubahan Nasib Positif.]
Cahaya emas berkedip sekali.
Lalu seluruh tulisan menghilang begitu saja.
Kamar kembali gelap.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Dan di atas kasurnya...
Abdul masih tertidur lelap.
Sama sekali tidak menyadari bahwa untuk pertama kalinya sejak sistem itu hadir dalam hidupnya...
Sesuatu mulai berubah.