JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘
Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Pagi itu, Mansion Widjaja sudah diselimuti aroma kopi yang baru diseduh dan roti panggang hangat. Haura Widjaja keluar dari kamarnya dengan setelan blazer berwarna navy yang sangat formal, rambutnya tersanggul sempurna tanpa satu helai pun yang berani melenceng. Ia tidak punya waktu untuk sarapan dengan tenang; baginya, waktu adalah komoditas yang harus dikelola dengan presisi.
Di meja makan, ia menyomot satu potong roti yang sudah diolesi selai stroberi oleh sang Mama. "Pa, Ma, aku berangkat ya. Kerjaan banyak banget hari ini, ada batch barang dari London yang harus masuk gudang sebelum jam sepuluh," pamitnya sambil mengunyah roti dengan cepat.
"Iya, hati-hati ya, Nak. Jangan lupa makan siang," sahut Mama Haura lembut, menatap putrinya yang sudah kembali tenggelam dalam dunia pekerjaannya.
Haura melangkah keluar menuju teras dengan ponsel di tangan kirinya, sibuk mengecek update terbaru dari ekspedisi. Ia berjalan dengan ritme cepat, matanya terpaku pada layar, hingga ia tidak menyadari ada sosok yang berdiri tepat di depan pintu utama, baru saja hendak mengetuk.
BRUK!
"Aduh!"
Haura merasakan bahunya menghantam sesuatu yang keras—bukan pintu, melainkan dada bidang seseorang. Ponselnya nyaris terlepas dari genggaman, namun ia segera menangkapnya dengan refleks cepat. Ia mendongak dengan wajah yang sudah siap mengeluarkan omelan paling pedas.
Namun, saat matanya bertemu dengan sepasang mata cokelat gelap di depannya, Haura terdiam. Sosok ini... ia merasa sangat familiar. Tatapan yang sombong, rahang yang tegas, dan aura yang terlalu santai untuk seseorang yang berdiri di depan rumah orang lain di pagi hari.
"Siapa?" tanya Haura, alisnya bertaut. Ia mencoba memutar otak. "Oh, kamu cowok yang kemarin, kan? Siapa... Mar... Marimar?"
Marco yang tadinya berdiri tegak dengan tangan di saku celana, langsung mendecih keras. Wajahnya yang tampan berubah menjadi ekspresi konyol karena tidak percaya dengan nama yang baru saja disebut wanita di depannya.
"Marimar? Tante serius? Nama gue Marco, bukan tokoh telenovela!" seru Marco tidak terima.
"Marco!! Itu suara Arlo yang memekakkan telinga terdengar dari arah gerbang mansion. Arlo berlari kecil mendekat, tampak heran melihat Haura dan Marco yang sedang beradu pandang dengan intensitas tinggi.
Haura langsung beralih menatap keponakannya itu dengan sinis. "Arlo, kamu kenal nih cowok yang kemarin minta sumbangan di jalanan?"
Marco merasakan urat di pelipisnya menegang. "Minta sumbangan? Tante, saya ini cuma bantuin Tante ganti ban! Dan Tante sendiri yang waktu itu bilang saya minta sumbangan, padahal saya nggak minta apa-apa!"
Arlo menatap keduanya dengan bingung. "Minta sumbangan? Tante, ini temen gue. Namanya Marco Permana. Mahasiswa DKV yang jago desain."
"Ohhh, pantesan," sahut Haura dengan nada panjang yang menyebalkan.
"Pantesan kenapa, Tan?" tanya Arlo.
Haura melipat tangan di depan dada, menatap Marco dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan yang merendahkan. "Pantesan sama-sama nggak jelas makanya bisa temenan. Ya, kalau Arlo temenan sama anak muda yang hobinya cuma jalan kaki minta sumbangan, berarti levelnya juga nggak jauh beda."
"Tante!" Arlo mulai merasa tidak enak, sementara Marco justru tersenyum miring—sebuah senyuman yang jauh lebih berbahaya daripada saat mereka bertemu di jalanan.
"Udah ah, minggir!" Haura mendorong bahu Marco dengan bahunya saat ia lewat, meski ia harus sedikit berjinjit karena perbedaan tinggi badan mereka. "Saya sibuk. Nggak bisa ngeladenin remaja baru netes kayak kalian berdua ini. Arlo, kalau mau ajak teman, ajak yang berbobot dikit. Jangan yang cuma bisa nungguin ban mobil orang buat dapet duit receh!"
Haura terus melangkah menuju mobilnya tanpa menoleh lagi.
"Baru netes katanya?" Marco bergumam, suaranya rendah namun cukup terdengar oleh Haura. "Kalau baru netes bisa bikin Tante mikirin kejadian semalam sampai nggak bisa tidur, berarti saya hebat dong, Tan?"
Langkah Haura terhenti tepat di pintu mobil. Ia berbalik, matanya menyala. "Apa kamu bilang?"
Marco berjalan mendekat, kini jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Ia sengaja mencondongkan tubuh, membuat Haura mau tidak mau harus mendongak untuk melihat wajahnya. "Saya bilang, Tante kelihatan cantik kalau lagi marah. Tapi sayang, judesnya itu... bikin orang makin penasaran."
Haura merasa napasnya tercekat. Ia tidak menyangka pemuda ini akan seberani itu di depan Arlo. "Kamu benar-benar tidak punya sopan santun. Arlo, urus temanmu ini!"
"Tan, dia cuma bercanda..." Arlo mencoba menengahi.
"Bercanda?" Haura menatap Marco tajam. "Kalau sekali lagi saya dengar kata-kata nggak sopan dari mulut dia, saya pastikan dia nggak bakal bisa injak kaki di mansion ini lagi. Camkan itu, Marco siapa tadi?"
"Marco Permana," jawab Marco dengan nada tenang yang sangat menyebalkan. "Ingat nama itu baik-baik, karena mulai hari ini, saya yang bakal bantu Tante di ruko. Arlo udah bilang ke saya kalau Tante lagi butuh tangan tambahan yang 'berbobot'. Saya rasa, saya adalah kandidat yang paling sempurna."
Haura membelalak. "Siapa yang butuh bantuan kamu? Saya nggak pernah minta!"
"Tapi Tante butuh saya," Marco menatap tajam ke dalam mata Haura. "Dan saya nggak bakal nerima penolakan. Sampai ketemu di ruko, Tante Sayang."
Haura membanting pintu mobilnya dengan keras. "Gila! Bocah itu bener-bener gila!" teriaknya dari dalam mobil sebelum mesin menderu kencang, meninggalkan Marco dan Arlo di teras.
Arlo menatap Marco dengan mulut terbuka lebar. "Co, lo gila ya? Tante gue itu bos paling galak di Jakarta. Lo kalau macem-macem, bisa beneran dibuang lo dari daftar temen gue."
Marco hanya menatap mobil Haura yang menjauh dengan senyum kemenangan yang terpahat jelas di wajahnya. "Galak itu tantangan, Lo. Dan gue selalu suka tantangan yang bikin jantung gue deg-degan kayak gini."
Ia membenarkan posisi tasnya, merasa bahwa hari ini baru saja dimulai. Dia tidak peduli Haura menganggapnya apa; baginya, setiap kata ketus yang keluar dari bibir Haura adalah tanda bahwa ia mulai berhasil masuk ke dalam pikiran wanita itu. Dan itu, adalah kemenangan pertama baginya.
***
Ruko tiga lantai milik Haura sudah dipenuhi dengan aroma kardus baru dan lakban panas. Pagi itu, Haura langsung menyambar daftar inventaris di mejanya, matanya memindai setiap baris angka dengan kecepatan yang menakutkan. Emilia, sahabatnya yang selalu ceria, sedang sibuk melipat kardus di pojok ruangan ketika suara mobil Arlo terparkir di depan ruko memecah konsentrasi mereka.
Tak lama kemudian, pintu ruko terbuka lebar. Arlo masuk lebih dulu dengan wajah ditekuk, diikuti oleh Kevin yang tampak grogi, dan Marco yang melangkah masuk dengan senyum miring paling menyebalkan yang pernah Haura lihat dalam hidupnya.
Emilia langsung meletakkan kardusnya, matanya berbinar melihat tiga pemuda itu. "Itu siapa, Ra? Arlo bawa siapa? Kok ganteng-ganteng banget?" bisiknya heboh.
Haura bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop. "Itu teman-temannya Arlo. Mereka lagi butuh uang, jadi aku kasih kerjaan di sini buat bantu packing."
"Wah! Rezeki nomplok! Bisa dapet cuci mata sambil kerja dong aku!" Emilia sudah bersiap merapikan rambutnya.
Haura mendongak, menatap tajam sahabatnya. "Emilia, kerja! Nggak usah centil kamu! Ingat, sudah punya tunangan juga! Jangan bikin malu."
Ketiga pemuda itu sudah berada di depan meja Haura. Arlo menyapa dengan malas, sementara Marco—masih dengan gaya santainya—menatap Haura dari ujung kepala sampai ujung kaki, seolah sedang menilai kualitas barang yang akan ia "kerjakan".
"Pagi, Boss Lady," sapa Marco dengan nada rendah.
Haura berdiri, wajahnya dingin seperti es yang baru keluar dari freezer. "Langsung ke inti. Tugas kalian pertama: packing semua barang yang ada di meja besar itu. Semuanya harus rapi, bubble wrap tiga lapis, dan segel dengan benar. Awas saja kalau berantakan sedikit pun, saya potong gaji kalian tanpa sisa."
Haura menunjuk tumpukan tas branded yang harganya bisa untuk membeli sebuah mobil bekas. "Arlo! Itu tas limited edition. Awas kalau sampai tergores atau kamu rusakin! Kalau satu benang saja lepas, kamu saya suruh ganti pakai uang tabungan kamu seumur hidup!"
Arlo memutar bola matanya. "Iya, iya, Tante. Galak banget, pantesan aja jadi perawan tua."
Suara gumaman Arlo yang pelan itu justru terdengar sangat jelas di ruko yang hening. Haura tertegun sejenak, lalu tanpa peringatan, ia melepas heels stiletto-nya dan melemparkannya dengan akurasi tinggi ke arah Arlo.
PLAK! Sepatu itu mendarat tepat di punggung Arlo.
"ADUH! Gila ya, Tan! Mau membunuh keponakan sendiri?" Arlo melompat kesakitan.
"Sekali lagi kamu ngomong gitu, nggak cuma sepatu yang mendarat di kepala kamu, tapi kamu saya usir dari sini sekarang juga!" Haura kembali memakai sepatu mahalnya dengan gaya anggun seolah tidak terjadi apa-apa, lalu berjalan menuju kursi kerjanya.
Ia duduk di sana, menyilangkan kakinya dengan angkuh, dan mulai mengawasi kinerja ketiga mahasiswa itu dari atas.
"Ayo, cepat kerjakan!" perintah Haura.
Marco mendekati meja tas, tangannya dengan lincah mengambil bubble wrap. "Tan, ini plastiknya kurang, mau saya ambilkan yang di gudang bawah?"
"Cari sendiri, Marco! Masa gitu aja harus nanya saya?" sahut Haura ketus tanpa menoleh.
"Bisa nggak, sekali aja, Tante nggak usah ketus? Nanti kerutan di dahi Tante makin banyak, loh," goda Marco sambil sengaja berlama-lama di dekat meja Haura sebelum ia pergi ke gudang.
Haura menggertakkan gigi. "Kevin! Jangan bengong! Kamu itu kerja, bukan lagi nonton dokumenter! Kerjakan bagian kamu!"
Kevin, yang dari tadi terpaku melihat Haura yang begitu berwibawa namun sangat menakutkan, langsung tersentak. "I-iya, Tante! Maaf!"
Suasana ruko menjadi tegang. Haura memperhatikan bagaimana Marco bekerja. Meski mulutnya menyebalkan, pemuda itu ternyata sangat teliti. Ia melipat bubble wrap dengan rapi, membungkus tas-tas itu dengan presisi yang bahkan melebihi standar Haura.
"Arlo, jangan asal lipat kardus itu!" seru Haura lagi. "Sudutnya harus sejajar!"
"Tan, ini udah pas banget!" Arlo membela diri.
"Masih miring dua derajat, Arlo! Kamu itu mahasiswa DKV atau apa? Masa garis lurus aja nggak bisa lihat?"
Marco yang mendengar itu tertawa kecil dari kejauhan. Ia berjalan mendekati Arlo, mengambil alih kardus itu, dan merapikannya dalam satu gerakan cepat. "Biar gue yang rapihin, Lo. Tante ini emang perfeksionis, kita harus sabar ngadepinnya. Tante, kayak gini udah cukup rapi buat standar Tante yang tinggi?"
Marco menunjukkan kardus itu tepat di depan wajah Haura. Haura memicingkan mata, mencari kesalahan, namun kardus itu memang benar-benar sempurna.
"Hm. Lumayan," jawab Haura dingin.
"Lumayan doang?" Marco mendekat lagi, membuat Haura refleks bersandar ke kursinya. "Tante nggak mau kasih apresiasi sedikitpun? Padahal saya kerja dari hati, loh."
"Kerja pakai tangan, bukan pakai hati. Kalau kamu bisa selesaikan semua ini sampai jam dua siang tanpa ada satu pun cacat, baru saya kasih apresiasi," tantang Haura.
"Apresiasi apa? Makan siang berdua lagi?" Marco menaikkan alisnya.
"Jangan mimpi! Apresiasi kalau kalian boleh pulang tepat waktu tanpa saya potong gaji!" Haura memutar kursinya, kembali membelakangi Marco.
"Yah, pelit banget," gumam Marco, tapi ia kembali bekerja dengan senyum tipis.
Haura memperhatikan punggung Marco yang kini basah oleh keringat. Ia bisa mencium aroma parfum maskulin yang samar-samar terbawa udara, beradu dengan bau kardus. Haura mendesah pelan. Kenapa dia merasa sangat terganggu dengan kehadiran bocah ini? Setiap gerak-gerik Marco seolah menantang otoritasnya, dan yang paling menyebalkan, Haura mulai terbiasa dengan "gangguan" itu.
Di kursi kerjanya, Haura mencoba fokus pada spreadsheet di depannya, namun pikirannya terus melayang ke arah pria di depannya. Tahan, Haura. Dia cuma bocah tengil yang butuh duit. Jangan sampai dia berhasil membuat kamu kehilangan kontrol. Namun, melihat Marco yang sesekali mencuri pandang ke arahnya sambil tersenyum miring, Haura tahu bahwa hari ini akan menjadi hari yang sangat, sangat panjang.
***
Tengil banget dedek Marco🤣😝
semangattt