NovelToon NovelToon
Surat Dari Cafe Senja

Surat Dari Cafe Senja

Status: tamat
Genre:Fantasi / Misteri / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Febriana Hanifah

*Sinopsis Singkat:*

Kafe Senja terkenal di Jogja karena satu hal aneh: setiap minggu, di meja nomor 7 selalu ada surat tanpa pengirim. Isinya selalu puisi, cerita pendek, atau nasihat yang seolah ditulis khusus untuk orang yang membacanya minggu itu.

Alya, barista baru di kafe itu, iseng buka salah satu surat yang ketinggalan. Sejak saat itu, hidupnya mulai berubah. Surat-surat itu seperti tahu masa lalunya, ketakutannya, bahkan orang yang diam-diam ia sukai.

Masalahnya… siapa yang menulisnya?
Dan kenapa surat terakhir yang datang, menyebut namanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9; Komentar Pedas

Mereka balik ke Jogja lebih cepat dari jadwal.

Pesawat jam 7 pagi, tapi Alya udah nggak bisa tidur sejak jam 3 dinihari. Ntah apa yang ada dipikirannya.

Begitu landing, notifikasi HP-nya meledak.

DM, mention, tag di Twitter X, komentar di TikTok.

Semua masuk barengan, kayak ombak yang nggak kasih jeda buat napas.

Revan yang nyetir langsung ngeliat muka Alya pucat.

“Jangan buka dulu,” katanya pelan.

Tapi udah telat. Alya udah buka.

_“Plagiat perasaan. Memanfaatkan kematian kakak sendiri buat branding. Ngeselin.”_

_“Novelnya overrated. Yang bagus cuma ceritanya Dara.”_

_“Alya Maharani? Oh, yang kabur waktu skandal dulu itu?”_

_“Penulis kayak gini masih dikasih panggung? Gila.”_

Satu per satu, luka lama dibuka lagi.

Bukan cuma soal novel.

Orang-orang ngungkit artikel lama 3 tahun lalu: _Penulis Muda Menghilang Setelah Tuduhan Plagiat_.

Ada yang edit foto lama Alya waktu masih di Jakarta, dikasih caption: _“Muka tebel balik lagi.”_

Mas Bayu udah nunggu di kafe pas mereka datang.

Dia lihat Alya langsung taruh dua gelas wedang jahe di meja 7.

“Jangan dibaca semua,” katanya. “Yang jelek emang paling kenceng suaranya. Yang diam dukung kamu, nggak bikin rame.”

Tapi Alya udah keburu baca semuanya.

Tangannya dingin. Napasnya pendek. Matanya panas, tapi nggak ada air mata yang keluar.

“Kenapa mereka nggak capek?” gumamnya.

“Dara udah meninggal, Mas. Kenapa aku masih dihukum?”

Revan duduk di sebelahnya, nggak nyentuh. Cuma ada di sana.

“Karena orang lebih gampang marah ke yang hidup, daripada yang udah nggak bisa jawab.”

 

Sore harinya, review bintang 1 muncul di Goodreads.

Panjang. Detail. Nyerang struktur cerita, gaya bahasa, dan ‘etik’ Alya sebagai penulis.

Judulnya: _Mengais Keuntungan dari Duka_.

Di bawahnya, puluhan komentar ikut nimbrung.

Sebagian belain. Sebagian ngebully lebih parah.

Ada satu akun yang nulis:

 _“Kalau Dara hidup, pasti malu punya adik kayak kamu.”_

Alya baca itu sambil berdiri di belakang bar, pura-pura ngelap meja.

Cangkir di tangannya hampir pecah karena digenggam terlalu kencang.

Mas Bayu mau Alya matiin HP.

Tapi Alya geleng.

“Aku harus biasa. Kalau aku kabur lagi, mereka menang. Dan aku udah capek kalah.”

Malam itu, kafe tutup lebih awal.

Alya nggak nulis.

Ia buka buku catatan Rani. Halaman kosong terakhir.

Ia nulis satu paragraf panjang, tanpa berhenti, tulisan tangannya berantakan karena marah dan sedih:

> _Untuk semua orang yang bilang aku memanfaatkan Dara,

> Kalian benar. Aku memanfaatkan.

> Aku memanfaatkan ingatannya buat tetap hidup.

> Aku memanfaatkan cintanya buat berani pulang.

> Kalau itu salah, maka aku salah selamanya.

> Dan aku nggak menyesal.

> Karena tanpa dia, aku udah mati duluan 3 tahun lalu.

> —Alya_

Ia foto tulisan itu. Post di Instagram story. Nggak ada caption. Nggak ada filter.

Cuma kertas lusuh, tinta hitam, dan tulisan yang gemetar.

 

Sepuluh menit setelah di-post, HP Alya diam.

Nggak ada notifikasi baru.

Aneh. Biasanya, setiap kali dia posting, komentar masuk dalam hitungan detik.

Revan yang duduk di seberang ngeliat itu.

“Kayaknya mereka kaget,” katanya pelan.

“Nggak ada bahan buat nyerang kalau kamu udah ngaku duluan.”

Alya ketawa pahit. “Aku nggak ngaku. Aku cuma jujur.”

 

Besok paginya, sesuatu berubah.

Komentar-komentar baru mulai muncul, pelan-pelan.

_“Gue baca story-nya. Nangis.”_

_“Akhirnya ada penulis yang ngaku, bukan ngeles.”_

_“Kalau gini, gue jadi mau baca bukunya. Biar tahu rasanya kehilangan.”_

DM masuk. Bukan dari akun besar.

Tapi dari akun kecil, akun pribadi, yang isinya cerita serupa.

_“Kak Alya, aku juga kehilangan kakak 2 tahun lalu. Aku belum bisa nulis. Makasih udah nulis buat kami.”_

_“Aku beli bukunya hari ini. Mau coba ngerti perasaan kakakku yang udah nggak ada.”_

Penjualan _Senja yang Tertunda_ naik 40% dalam 2 hari.

Bukan karena kontroversi.

Tapi karena orang mulai ngerti: ini bukan cerita sempurna. Ini cerita jujur.

 

Siang harinya, ada paket datang ke kafe.

Nggak ada nama pengirim.

Cuma tulisan: _Untuk Alya, meja 7_.

Di dalamnya ada buku _Senja yang Tertunda_ edisi pertama, penuh sticky notes kuning.

Di halaman pertama, tulisan tangan yang Alya kenal banget:

> _Alya kecil,

> Kalau suatu hari orang bilang kamu memanfaatkan aku,

> ingat ini: aku yang minta kamu lanjut.

> Jadi lanjut. Jangan berhenti di halaman 40.

> —Dara_

Alya diem lama. Buku itu jatuh ke meja.

Revan yang lihat langsung paham. Itu tulisan Dara.

“Dari siapa?” tanya Revan pelan.

Alya geleng. “Nggak tahu. Tapi… rasanya kayak Dara.”

Mas Bayu dari pojok cuma ngangguk.

“Kadang, orang yang udah pergi ngirim suratnya lewat orang lain.”

 

Malam itu, Alya tidur pertama kalinya tanpa mimpi buruk.

Di Instagram, tagar #SenjaYangTertunda jadi trending lokal.

Bukan karena hujatan.

Tapi karena pembaca mulai bagi-bagi kutipan yang bikin mereka nangis.

Alya lihat semua itu dari belakang bar, sambil bantu Revan bikin kopi.

Tangan masih gemetar, tapi nggak kayak kemarin.

Revan nyodorin secangkir kopi panas.

“Lihat? Kamu nggak kabur.”

Alya nerima, seruput pelan.

“Belum,” katanya.

“Tapi kalau mau kabur, aku bakal bilang dulu ke kamu.”

Revan ketawa kecil. “Deal.”

Mas Bayu dari pojok cuma menggeleng.

“Anak-anak jaman sekarang yaa , marahan aja romantis.”

"ga kayak jaman ku dulu, haaiihhhsss"

"Semoga segera berlalu fase ini dan Alya bisa lanjut menulis lagi "

Jam menunjukkan hampir jam 1 malam.

Kafe udah tutup dari tadi, lampu utama dimatiin, tinggal lampu gantung kecil di atas meja 7 yang masih nyala redup.

Alya duduk sendiri sambil baca ulang komentar-komentar yang tadi siang sempat bikin dadanya sesak.

Ada ribuan komentar baru sekarang.

Sebagian hangat.

Sebagian masih jahat.

Tapi anehnya…

yang paling nyangkut justru komentar pendek tanpa foto profil.

“Aku harap kamu sembuh juga, Kak.”

Sesimpel itu.

Alya natap layar lama.

Lalu HP diambil pelan sama seseorang dari belakang.

“Udah cukup.”

Revan.

Alya langsung manyun kecil.

“Balikin.”

“Enggak.”

“Itu HP aku.”

“Itu sumber stres kamu.”

Alya mau protes lagi, tapi Revan udah masukin HP itu ke hoodie-nya sendiri.

“Besok aja dibaca lagi.”

“Aku penasaran…”

“Penasaran sama orang random yang bahkan nggak kenal kamu?”

Alya diem.

Karena… iya juga.

Revan duduk di kursi depan meja 7 sambil nyender santai.

“Alya.”

“Hm?”

“Kamu tahu nggak kenapa tulisan kamu disukai?”

Alya ngangkat bahu kecil.

“Karena sedih?”

“Karena jujur.”

Sunyi sebentar.

Revan ngelihat buku catatan Dara yang masih terbuka di meja.

“Orang capek sama cerita sempurna.”

“Mereka lebih percaya sama orang yang kelihatan pernah hancur.”

Alya ketawa pelan.

“Kalau gitu aku laris karena mental breakdown.”

“Lumayan.”

“Branding baru.”

Alya langsung lempar tisu.

Revan ngakak kecil sambil nangkep tisu itu pakai satu tangan.

Dan untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir…

Alya ketawa beneran.

Hujan turun kecil di luar.

Revan bangun buat nutup jendela kafe yang sedikit kebuka.

Angin malam masuk dingin banget sampai Alya refleks merapatkan cardigan-nya.

Tanpa banyak ngomong…

Revan nyopot hoodie hitamnya lalu naruh di kepala Alya.

“Aku nggak dingin.”

“Kamu menggigil.”

“Aku emang suka gemeter aesthetic.”

“Bohong.”

Alya akhirnya pakai hoodie itu sambil nyium samar aroma kopi dan parfum Revan yang nempel.

Dan entah kenapa…

rasanya tenang.

“Rev.”

“Hm?”

“Kalau nanti orang benci aku lagi gimana?”

Revan yang lagi nyuci gelas berhenti sebentar.

Lalu jawab tanpa nengok:

“Yaudah.”

“Yaudah gimana?”

“Kita bikin kopi lagi besok.”

Alya melongo.

“Itu jawaban apaan…”

Revan akhirnya nengok sambil senyum kecil.

“Kamu selalu mikir hidup harus langsung membaik total.”

“Padahal kadang cukup dilewatin satu hari dulu.”

Kalimat itu bikin Alya diam.

Karena benar.

Selama ini dia terlalu sibuk takut sama masa depan,

sampai lupa kalau bertahan sehari aja udah hebat.

Sebelum pulang…

Alya berdiri di depan meja 7 agak lama.

Jari-jarinya nyentuh permukaan kayu yang mulai usang.

“Meja ini aneh ya,” gumamnya.

“Kenapa?”

“Semua orang di sini nangis terus.”

Revan nyengir kecil.

“Termasuk kamu.”

Alya micing.

“Mas Bayu sengaja bikin aura sedih kayaknya.”

Tiba-tiba dari dapur terdengar suara Mas Bayu:

“Kalau kalian flirting lagi di meja 7, saya tambah charge listrik.”

Alya langsung salah tingkah.

“AKU NGGAK FLIRTING.”

Revan santai ngambil kunci motor.

“Katanya.”

“REVAN!”

Mas Bayu cuma ketawa kecil dari dapur.

Dan malam itu…

untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun,

Alya merasa hidupnya nggak sepenuhnya gelap lagi.

Bersambung. .

1
Nobitaku
baca dari awal sampai akhir mewek mulu, gimana ini thor
Murti Ningsih
sampai disini ceritanya lumayan bagus
Febriana Hanifah: halo kak, Terimakasih sudah membaca Karya saya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!