NovelToon NovelToon
Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.

Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 11

***

Pagi itu, suasana di kediaman Sayap Timur terasa lebih sibuk dari biasanya. Sebelas peti kayu ek yang diperkuat dengan besi tempa berjajar di aula depan kamar utama. Aroma pinus Utara dan rempah-rempah yang tajam menyeruak, seolah membawa udara dingin Eisenhardt ke dalam jantung Valerieth yang menyesakkan.

Arthur berdiri di tengah ruangan, masih mengenakan jubah hitamnya. Wajahnya tampak tegang. Di tangannya, ia memegang sebilah belati kecil yang ia gunakan untuk menusuk tumpukan kain sutra di dalam peti, memastikan tidak ada senjata atau surat gelap yang diselundupkan di sana.

"Ayahmu sangat gigih, Lili," ujar Arthur tanpa menoleh. Suaranya dingin, bergema di antara pilar-pilar marmer. "Dia mengirimkan ini semua seolah-olah aku tidak mampu membelikanmu sutra terbaik di kekaisaran."

Lilianne, yang duduk di kursi malas sambil menyesap teh jahe hangatnya, tersenyum tipis. Wajahnya tampak sedikit pucat, efek dari morning sickness yang masih sering menyerangnya di usia kandungan empat bulan ini.

"Itu adalah tradisi Utara, Yang Mulia," sahut Lilianne lembut. "Seorang ayah akan mengirimkan kain tenun terbaik untuk cucu pertamanya. Ini bukan tentang kekayaan, tapi tentang doa-doa yang disematkan dalam setiap serat kainnya."

Arthur mendengus, namun ia berhenti menusuk kain-kain itu. Ia mendekati Lilianne, berlutut di depannya dan meletakkan tangan kasarnya di atas perut Lilianne yang membuncit. "Apapun yang masuk ke ruangan ini harus melalui aku. Termasuk doa-doa ayahnya."

Setelah Arthur yakin tidak ada ancaman fisik, ia mengizinkan Lisa dan para pelayan untuk memindahkan peti-peti itu ke ruang ganti Lilianne. Sebelum pergi memimpin latihan kavaleri, Arthur mengecup kening Lilianne dengan posesif. "Jangan terlalu lelah. Aku akan kembali sebelum makan malam."

Begitu pintu ganda terkunci dan derap sepatu bot Arthur menjauh, Lilianne memberikan isyarat mata kepada Lisa. Lisa segera menutup tirai balkon dan berjaga di dekat pintu.

Lilianne melangkah menuju tumpukan kain sutra berwarna biru safir warna khas Eisenhardt. Ia meraba sulaman di pinggiran kain tersebut. Matanya yang perak berkilat saat ia menemukan motif mawar es yang tidak simetris. Bagi mata awam, itu hanyalah kesalahan sulam, namun bagi Lilianne, itu adalah sandi keluarga.

Ia menghitung helai kelopak mawar tersebut: Tiga kanan, lima kiri, dua bawah.

"Lisa, ambilkan aku peta istana yang kusembunyikan di balik sampul buku sejarah," bisik Lilianne.

Dengan tangan gemetar karena adrenalin, Lilianne mencocokkan kode itu dengan koordinat peta. Jantungnya berdegup kencang saat garis-garis itu merujuk pada satu titik: Sayap Barat, Perpustakaan Terlarang.

Di bawah motif mawar itu, terdapat sulaman benang perak halus yang hanya terlihat jika terkena cahaya lilin dari sudut tertentu. Tulisan itu berbunyi: Cari Dokumen Suksesi 142. Takhta adalah Pinjaman.

"Ayahku ingin aku bergerak sekarang," gumam Lilianne. Ia meremas kain sutra itu. "Dokumen Suksesi... jika kabar itu benar, maka Arthur bukan hanya penguasa yang kejam, tapi dia adalah penguasa yang ilegal."

"Tapi Yang Mulia," Lisa berbisik cemas, "Anda tidak pernah diizinkan keluar dari sayap ini. Bagaimana mungkin Anda bisa mencapai Sayap Barat? Penjagaan di sana dua kali lipat lebih ketat."

Lilianne kembali duduk, pura-pura lemas saat ia mendengar langkah penjaga di luar koridor. "Arthur mencintaiku dengan cara yang sakit, Lisa. Dia sangat takut kehilanganku, tapi dia juga sangat takut aku jatuh sakit. Ketakutannya adalah celahku."

Sore harinya, saat matahari mulai terbenam, Arthur kembali. Namun, kali ini ia tidak disambut dengan senyuman tenang. Ia menemukan Lilianne terbaring di sofa dengan wajah pucat dan napas yang pendek.

"Lili? Apa yang terjadi?" Arthur langsung menghampirinya, wajahnya tampak panik.

"Pusing ini... tidak mau hilang, yang mulia," rintih Lilianne, ia memegang kepalanya dengan tangan gemetar. "Kamar ini... aromanya mulai mencekikku. saya butuh udara yang berbeda. Lisa bilang taman di Sayap Barat memiliki bunga lili putih yang mekar sore ini. Wanginya... mungkin bisa menenangkan mualku."

Arthur mengerutkan kening. "Sayap Barat terlalu jauh dari jangkauan pengawal pribadiku."

Lilianne meneteskan air mata sebuah tangisan yang ia pancing dengan memikirkan nasibnya yang terkurung. "Apakah Anda begitu takut pada ayanda kaisar sampai-sampai istrinya yang sedang mengandung tidak boleh mencium aroma bunga di kebunnya sendiri? Jika saya terus terkurung di sini, anak kita akan lahir sebagai burung dalam sangkar yang layu, yang mulia."

Hati Arthur yang keras seolah tersayat melihat istrinya menangis. Ia membenci air mata Lilianne lebih dari apapun. Obsesinya ingin memiliki Lilianne yang bahagia, bukan Lilianne yang menderita.

"Baiklah," geram Arthur akhirnya. "Tapi kau tidak akan berjalan. Aku yang akan membawamu. Dan kita tidak akan ke taman utama. Kita hanya akan melewati koridor penghubung Sayap Barat."

"Terima kasih, Yang Mulia," bisik Lilianne manis, menyembunyikan kilat kemenangan di matanya.

Arthur mengangkat tubuh Lilianne yang terbungkus jubah bulu tebal. Di sepanjang jalan, puluhan prajurit elit mengikuti mereka, menciptakan suasana yang mencekam. Lilianne menyandarkan kepalanya di dada Arthur, pura-pura memejamkan mata karena pusing, padahal ia sedang menghitung setiap langkah dan setiap pos penjagaan yang mereka lalui.

Saat mereka melewati pintu kayu besar berukir naga pintu menuju Perpustakaan Terlarang Lilianne sengaja melepaskan sapu tangan sutranya. Sapu tangan itu jatuh tepat di depan celah pintu.

"Oh, sapu tanganku... itu pemberian ibuku," ucap Lilianne pelan.

Arthur mendesah gusar, namun ia menurunkan Lilianne di kursi kayu dekat koridor tersebut. "Tunggu di sini. Jangan bergerak satu inci pun."

Saat Arthur membungkuk untuk mengambil sapu tangan, Lilianne memperhatikan mekanisme kunci pintu perpustakaan tersebut. Kunci itu memiliki lubang ganda. Ia meraba kunci emas yang ia sembunyikan di balik korsetnya. Satu lubang cocok dengan kunciku, tapi lubang lainnya... itu pasti kunci yang selalu dibawa Arthur di pinggangnya.

Arthur kembali dan menyerahkan sapu tangan itu. "Sudah cukup. Udaranya terlalu dingin di sini. Kita kembali sekarang."

"Tunggu, yang mulia" Lilianne menahan lengan suaminya. Ia mendongak, menatap mata biru gelap pria itu dengan tatapan paling rapuh yang bisa ia buat. "Buku-buku yang kau bawakan tempo hari... tidak ada yang menceritakan tentang permaisuri pertama Valerieth. Bisakah suatu saat yang mulia mengambilkan saya catatan dari dalam sana?" Ia menunjuk pintu perpustakaan.

Arthur terdiam sejenak. "Tempat itu berisi rahasia yang bisa menghancurkan kewarasanmu, Lili. Kau tidak butuh itu."

"Saya butuh mengenal keluarga suami saya, agar anak ini tahu siapa leluhurnya," balas Lilianne dengan tegas namun lembut.

Malam itu, di dalam kamar yang sunyi, Arthur tertidur lelap setelah kelelahan memantau perbatasan. Lilianne berdiri di balkon, menatap rembulan. Di tangannya, ia memegang robekkan kain sutra mawar es tadi.

Ia telah berhasil memetakan rute. Ia telah tahu bahwa Arthur memiliki kunci kedua. Sekarang, misinya adalah membuat Arthur merasa begitu aman sehingga pria itu akan membawanya masuk ke dalam perpustakaan itu dengan tangannya sendiri.

"Kau pikir kau melindungiku dengan mengurungku, Arthur," bisik Lilianne pada kegelapan. "Tapi kau justru memberiku panggung untuk menghancurkanmu dari dalam."

Lilianne menyentuh perutnya. Anak yang ia kandung adalah darah Valerieth, tapi jiwanya akan menjadi milik Eisenhardt. Jika Dokumen Suksesi 142 itu benar-benar berisi bukti bahwa garis keturunan Arthur adalah ilegal, maka Lilianne tidak perlu lagi menjadi tawanan. Ia akan menjadi satu-satunya orang yang memegang nyawa sang Putra Mahkota di tangannya.

"Sedikit lagi," gumamnya. "Sedikit lagi, dan singa kejam ini akan berlutut memohon ampun pada mawar yang ia kurung."

Perang strategi telah mencapai puncaknya. Lilianne bukan lagi sekadar gadis lima belas tahun yang ketakutan; ia telah bertransformasi menjadi villainess yang lahir dari rasa sakit, siap menukar cinta obsesif suaminya dengan kekuasaan mutlak atas kekaisaran Valerieth.

****

Bersambung...

1
MARWAH HASAN
bagus loh ceritanya
entah kenapa
komen ini hilang
MARWAH HASAN
aku tinggalkan komen🤣
Intan Aprilia Rahmawati
up dong kk
Reni Anggraeni
up tor
Erni Wati
cerita nya keren tp kok sepi ya?
Lilia_safira: kurang update author nya
total 2 replies
Erni Wati
semangat thor,,,💪💪💪
Heresnanaa_: maaciw kaka🥹🫂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!