Jia Li adalah seorang dokter genius dari modern. Meski begitu, keluarganya sendiri tidak pernah menghargainya dan lebih menyayangi kakak laki-laki nya yang menjadi pengangguran.
Tepat setelah Jia Li selesai melakukan operasi. Sebuah tamparan menantinya di pintu keluar. Awal dari segalanya.
Jiwa Jia Li terseret ke zaman kuno, lebih tepat nya memasuki raga Lin Jia. Lin Jia adalah putri dari Kaisar Lin Dong dan selir kedua. Diam - diam di belakang Kaisar. Lin Jia di remehkan karena tidak memiliki Elemen apapun dalam tubuhnya.
Namun semua berubah saat jiwa Jia Li menempati raga Lin Jia. Berkat bantuan sistem dan ruang ajaib. Jia Li akan mengubah takdir Lin Jia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Berhasil
Paviliun Bulan Sabit.
Tiga hari telah berlalu sejak Lin Jia mempertaruhkan segalanya untuk memberikan penawar racun—racun mematikan yang selama ini disusupkan secara diam-diam oleh Permaisuri demi melenyapkan Selir Kedua, Pangeran Lin Tian dan juga dirinya. Kini, udara pengap berbau kematian telah sirna, digantikan oleh aroma herbal yang menenangkan.
Lin Jia duduk di tepi ranjang, jemari lentiknya mendarat lembut di pergelangan tangan sang ibu, lalu beralih perlahan memeriksa denyut nadi kakak lak-lakinya. Ketukan nadi yang awalnya lemah dan tersendat, kini berdenyut kuat dan normal.
"Kondisi Ibu dan Kakak sudah jauh lebih baik. Racun yang mengendap di organ dalam kalian akhirnya benar-benar bisa dinetralisir," kata Lin Jia dengan seulas senyum tipis yang sarat akan rasa lega.
Selir Kedua dan Pangeran Lin Tian saling tatap, mata mereka berkaca-kaca antara tidak percaya dan rasa syukur yang teramat besar. Selir Kedua mengulurkan tangannya yang masih sedikit pucat, mengusap lembut kepala sang putri dengan kasih sayang yang mendalam.
"Ibu benar-benar tidak tahu jika kau memiliki bakat luar biasa ini, Jia'er. Bahkan tabib istana paling senior sekalipun sudah menyerah dan mengatakan umur kami tidak lama lagi. Bagaimana bisa kau melakukan apa yang gagal mereka lakukan?" kata Selir Kedua jujur, suaranya sedikit bergetar menahan haru.
Pangeran Lin Tian mengangguk setuju, menatap adiknya dengan tatapan penuh selidik namun hangat. "Ibu benar, Jia'er. Kenapa selama ini kami tidak pernah tahu jika kamu memiliki kemampuan medis yang begitu hebat? Di mana kamu mempelajari semua ini?" sambung Lin Tian.
Lin Jia sedikit tersentak, namun dengan cepat menguasai ekspresi wajahnya agar tidak menimbulkan kecurigaan. "Aku hanya membaca beberapa buku kuno yang kutemukan di perpustakaan belakang dan belajar secara otodidak untuk mengisi kebosanan selama disini," Lin Jia berkilah, memberikan alasan yang terdengar masuk akal bagi orang zaman kuno.
Namun, tepat setelah kalimat itu keluar dari bibirnya, tubuh Lin Jia tiba-tiba menegak kaku. Sebuah suara mekanis yang dingin namun familiar menggema langsung di dalam kepalanya.
Ting!
[Selamat Nona! Anda telah berhasil menyelesaikan misi pertama: Racun berbahaya yang diberikan oleh Permaisuri selama bertahun-tahun kepada target telah hilang sepenuhnya dari tubuh Selir Kedua, Pangeran Lin Tian dan juga Anda.]
Kata Sistem di kepala Lin Jia.
[Hadiah berupa 50 koin emas dan 'Kecantikan Sempurna Tanpa Cela' telah berhasil Anda dapatkan,] lanjut Sistem.
Lin Jia menarik napas dalam-dalam, berusaha menyembunyikan ekspresi wajahnya di depan keluarganya. "Kakak, Ibu... aku akan keluar sebentar. Kalian berdua istirahatlah terlebih dahulu agar proses pemulihannya sempurna," kata Lin Jia sembari berdiri dan membungkuk hormat.
Selir Kedua dan Lin Tian mengangguk perlahan, membiarkannya pergi. Sementara itu, Lin Jia bergegas melangkah lebar menuju ke ruang pribadinya yang lebih sepi dan tertutup.
Tepat saat pintu kamar itu tertutup rapat, Lin Jia mendongak. Tiba-tiba, dia merasakan kehangatan yang luar biasa menyentuh permukaan kulit wajahnya. Seberkas cahaya keemasan murni yang amat menyilaukan berputar mengelilingi tubuhnya.
Bersamaan dengan itu, dia bisa merasakan aliran energi spiritual yang awalnya beku di dalam inti mana-nya kini mencair dan kembali bergerak aktif, mengalir deras ke seluruh pembuluh darahnya. Rasa hangat dan nyaman itu menjalar ke setiap inci tubuhnya.
Setelah cahaya keemasan itu memudar, Lin Jia yang penasaran segera mengambil sebuah cermin perunggu di atas meja rias untuk melihat apa yang terjadi pada wajahnya. Begitu bayangan di cermin terlihat jelas, dia dibuat tertegun dan membeku di tempat.
Cermin itu memantulkan wajah asli dari Putri Mahkota Lin Jia yang sebenarnya. Kulitnya seputih pualam, matanya seindah bintang malam, dan setiap pahatan wajahnya tampak begitu sempurna tanpa cela sedikit pun akibat efek magis sistem.
"Apa ini... apa ini benar-benar wajah aslinya setelah racun nya hilang? Harus aku akui, struktur wajah Putri Mahkota ini jauh lebih cantik dan menawan daripada wajah asliku yang ada di zaman modern," gumam Lin Jia takjub sembari meraba pipinya sendiri.
Dia tersenyum getir, berpikir dalam hati bahwa jika dia adalah seorang pria di dunia ini, sudah bisa dipastikan dia akan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Putri Mahkota Lin Jia.
Lin Jia kembali mengambil kain cadar sutra hitamnya. Dengan gerakan anggun, Lin Jia kembali memakai cadarnya, menyembunyikan pesona mematikan itu.
Ia baru saja hendak membalikkan badan untuk pergi dari tempat itu, namun indra pendengarannya yang kini menajam menangkap sebuah suara. Langkah kaki yang terdengar sangat tegas, berat, dan berwibawa menggema dari arah lorong utama.
Lin Jia menolehkan kepalanya perlahan. Di ujung lorong, sosok Kaisar Lin Dong tampak berjalan dengan gagah, didampingi oleh Permaisuri Li yang memasang wajah anggun namun dingin.
Di belakang mereka, barisan prajurit berbaju besi berbaris rapi dengan tombak yang berkilau.
Namun, pandangan tajam Lin Jia justru teralihkan dan langsung terkunci pada sesosok pria muda yang berjalan di sisi kaisar, mengenakan jubah khas seorang tabib istana berpangkat tinggi.
Rombongan agung itu akhirnya berhenti tepat beberapa langkah di depan Lin Jia. Kaisar Lin Dong menatap putri mahkota tersebut, lalu tampak menghela nafas panjang, menyiratkan beban pikiran yang berat di pundaknya.
"Kali ini, jangan meminta Ayah untuk menunggu lebih lama lagi, Putri Lin Jia. Sebagai seorang kepala kekaisaran dan juga seorang kepala keluarga, Ayah harus memastikan sendiri bagaimana kondisi Ibu serta Kakak lak-laki mu dengan mata kepala Ayah sendiri. Biarkan tabib istana yang sengaja Ayah bawa ini memeriksa keadaan mereka sekarang juga," kata Kaisar Lin Dong. Nada suaranya terdengar pelan, namun getaran otoritas yang tegas dan tidak menerima bantahan begitu pekat terasa.
Permaisuri Li yang berdiri di samping kaisar mengangguk kecil. Ia menyunggingkan senyuman yang tampak begitu manis dan penuh kepedulian di wajahnya, tetapi di dalam lubuk hatinya yang terdalam, wanita itu menyembunyikan maksud terkesumat yang sangat busuk.
"Benar apa yang dikatakan oleh Yang Mulia Kaisar, Putri Lin Jia. Lagipula, kita semua tahu bahwa kamu sama sekali tidak memiliki dasar kemampuan medis atau keahlian apa pun. Kaisar sudah cukup bermurah hati memberikanmu waktu dan ruang untuk mengurus mereka sebelumnya. Tapi bagaimanapun juga, kami tetap ingin memberikan perawatan yang terbaik untuk Selir Xu dan Pangeran Lin Tian," kata Permaisuri Li dengan nada bicara yang halus namun sarat akan sindiran tajam yang menyudutkan.
Mendengar kata-kata provokatif itu, Lin Jia hanya terdiam seribu bahasa. Di balik cadarnya, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi panik ataupun marah; matanya tetap sedingin es, sedalam telaga tanpa dasar. Suasana sempat mencekam selama beberapa detik sebelum akhirnya Lin Jia menurunkan sedikit kepalanya, memberi anggukan hormat yang formal.
"Kalo begitu... Ayah dan Permaisuri bisa melihat sendiri bagaimana kondisi Ibu dan Kakak di dalam," kata Lin Jia dengan suara tenang seraya menggeser tubuhnya ke samping, memberi jalan yang lapang bagi rombongan tersebut.
Melihat reaksi Lin Jia yang mendadak patuh, Permaisuri Li menyunggingkan senyum penuh kemenangan yang samar.
Lin Jia kemudian memimpin jalan dan mengantar mereka menuju pintu kamar. Begitu jemari ramping Lin Jia mendorong daun pintu kayu yang tebal hingga terbuka lebar, mereka semua melangkah masuk.
Seketika itu juga, pandangan tajam Kaisar Lin Dong langsung tertuju lurus pada dua ranjang mewah yang terletak di tengah ruangan yang harum oleh wewangian terapi.
Di atas ranjang-ranjang tersebut, tampak Selir Kedua Xu dan Pangeran Lin Tian sedang berbaring dengan posisi yang sangat rileks. Wajah mereka yang sebelumnya pucat pasi kini telah memiliki rona merah sehat, dan keduanya tampak sedang tertidur dengan nafas yang teratur dan sangat damai.
Lin Jia kemudian berbalik menghadapi sang kaisar dengan sikap yang sangat tenang. "Mereka berdua baru saja beristirahat... Apa perlu aku bangunkan mereka sekarang juga demi menyambut kehadiran Anda, Yang Mulia?" tanya Lin Jia, menyisipkan nada sarkasme yang sangat halus di akhir kalimatnya.