Putri Azura dari kerajaan Utara, menikah dengan pangeran Xavier, putra Mahkota kerajaan Selatan. Xavier membenci Azura saat mengetahui wanita itu hanya memanfaatkannya demi pernikahan politik. Semua orang yang pernah dekat dengan Azura pun berpaling darinya dan menganggapnya wanita jahat yang haus akan kekuasaan.
Namun, apakah sang putri benar-benar jahat? Atau dia hanya menjadi boneka politik yang berusaha bertahan hidup?
Nanti akan terungkap bahwa di balik keanggunan dan kepintarannya, Princess Azura diam-diam melindungi Xavier dan orang-orang yang dia sayangi dari bahaya yang jauh lebih besar. Kebencian perlahan berubah jadi keraguan, hingga akhirnya kebenaran mengejutkan terkuak, kebenaran tentang betapa pahitnya kisah hidup Azura dan cintanya yang tulus terhadap Xavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun
Begitu sampai di kamar, tubuh Azura langsung jatuh ke lantai. Dua dayang yang selalu bersamanya menunggu di luar kamar tenda tersebut. Sementara di dalam sana, Azura langsung terisak dalam diam.
Ia membuka kotak baju miliknya yang di bawa masuk oleh para dayang tadi. Di sana berisi barang-barang miliknya dari utara. Dan dalam tumpukan pakaian itu, di tempat yang paling tersembunyi, dia mengeluarkan sesuatu.
Foto seorang anak laki-laki berusia 7 tahun, anak kandungnya. Anak yang dia kandung, lahirkan, dan besarkan penuh dengan air mata. Dan satu-satunya alasan mengapa dia mau menikah dengan Xavier, dan menjadi mata-mata di Kerajaan ini.
Dia di ancam. Kalau tidak mengikuti perintah itu, anaknya akan di bunuh. Sebagai seorang ibu yang melahirkan, membesarkan dan amat mencintai tanpa tahu siapa sebenarnya ayah dari anak yang dia kandung, dia tentu tidak bisa tinggal diam. Nyawa putranya, jauh lebih berharga darinya. Dia bahkan rela diracuni, demi anaknya.
"Hiksss..."
Airmata Azura terus berjatuhan mengingat putranya.
"Maafkan mama sayang, mama tidak bisa melakukan apa-apa sekarang. Kamu anak pintar, kamu janji akan bertahan buat mama kan? Bertahanlah sayang."
Gumam Azura pelan. Pelan sekali. Tangannya mengusap-usap gambar putranya yang dia bawah diam-diam. Setelah beberapa menit, ia sudah bisa mengendalikan diri.
Kesedihan itu berubah menjadi kebencian yang mendalam terhadap semua anggota keluarga kerajaan.
Selama bertahun-tahun, mereka menyanjungnya di depan semua rakyat dan pejabat istana. Karena dia adalah putri kandung dari mantan ratu terdahulu. Ayah kandungnya sudah meninggal dunia, ibunya harus menikah lagi dengan laki-laki lain untuk menjadi seorang ratu.
Sayangnya, ibunya meninggal karena sakit. Setidaknya itu kata tabib istana. Ayah tirinya, raja utara yang sekarang di tetapkan menjadi raja. Namun wataknya tidak baik. Di depan rakyat dan pejabatnya dia tampak meratukan Azura, namun sebenarnya, sepanjang Azura hidup di istana setelah ibu kandungnya meninggal, ia bahkan lebih kesulitan dari pelayan istana.
Tak banyak yang tahu tentang kisahnya yang begitu menyedihkan. Dia akan di panggil kalau mereka butuh. Mereka tidak bisa membunuh, menurunkan takhtanya, atau pun mengusir dia dari istana ini, karena ibunya memberikan stempel kerajaan padanya yang menyatakan kalau dirinya berkuasa atas kerajaan itu. Dan stempel kerajaan tersebut di pegang oleh perdana menteri. Selama perdana menteri masih hidup, tidak boleh terjadi apapun pada dirinya.
Sayangnya, tidak ada satu pun yang tahu kalau dirinya sudah memiliki anak. Ayah tirinya, istri baru sang ayah, dan semua keluarga kerajaan kompak menyembunyikan itu. Karena itu adalah aib kerajaan. Huh! Padahal mereka ingin memanfaatkan itu untuk mengancamnya.
Azura berdiri. Wajahnya berubah dingin. Ia keluar dari kamar. Kedua dayang yang siap mengikutinya ia perintahkan diam di tempat mereka. Azura terus berjalan sampai langkahnya berhenti begitu melihat sepupunya, pangeran Wessel berpamitan pada Xavier.
Matanya lalu jatuh ke arah kiri, lubang anjing. Tanpa ragu, Azura nekat melewati lubang itu untuk keluar. Ia masuk ke dalam kereta Wessel diam-diam, tak ada yang melihatnya. Begitu Wessel masuk, pria itu kaget dan tersenyum sinis melihat perempuan itu. Azura menarik kerahnya dan mengungkit masa lalu.
"8 tahun lalu, kau menculikku, dan membuatku di perkosa oleh laki-laki yang bahkan aku tidak pernah tahu seperti apa wajahnya. Sekarang, kau bersekongkol dengan ayah tiriku, mengancamku. Dengar baik-baik, kalau sampai terjadi sesuatu pada putraku, aku bersumpah, kerajaan itu akan kuhancurkan dengan tanganku sendiri."
Wessel mendengus.
"Kau mengancamku? Kau lupa posisimu seka,"
suara Wessel terhenti karena tiba-tiba sesuatu dari tangan Azura masuk ke dalam mulutnya dan tidak sengaja dia telan. Ia menatap Azura dengan mata menyala.
"Itu adalah racun langka yang dibuat olehku. Kuberitahu padamu, waktu kecil, ibuku mengajariku ilmu pengobatan, termasuk membuat racun mematikan. Kau akan mati kalau kalau tidak minum penawarnya setiap bulan. Penawarnya hanya ada padaku. Karena aku yang membuat racun itu. Aku akan mengirim perawatnya setiap bulan padamu, kalau kau bisa memastikan anakku baik-baik saja dan tidak di siksa."
Wessel menatapnya penuh emosi tapi tidak bisa membalas kata-katanya.
"Ingat, kau akan melindungi putraku. Kalau tidak, kau pasti mati."
Setelah mengatakan itu, Azura turun dari dalam kereta. Kereta kuda itu mulai bergerak perlahan meninggalkan halaman istana, membawa Pangeran Wessel yang masih terpaku di tempat duduknya.
Di luar sana, langit mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan, namun hati Azura terasa lebih gelap dari malam terkelam sekalipun. Ia melangkah mundur perlahan, menjauhi kereta itu hingga bayangan kendaraan itu hilang di tikungan jalan setapak, lalu ia bersandar pada sebatang pohon besar di pinggir jalan. Napasnya terengah-engah, campuran antara rasa takut, marah, dan sedikit rasa puas.
Tangan kanannya masih terasa dingin, seolah masih merasakan tekstur leher Wessel saat ia menekannya tadi. Ingatan buruk delapan tahun lalu kembali menyeruak masuk ke kepalanya, seolah baru saja terjadi kemarin sore.
Malam itu, malam yang mengubah seluruh hidupnya, malam di mana ia kehilangan segalanya, kehormatan, kebebasan, dan masa depannya sendiri, semua karena ulah sepupu kandungnya itu. Wessel yang selalu terlihat sopan dan ramah di depan umum, ternyata memiliki hati yang penuh racun dan jahat.
"Kau pikir kau bisa terus bermain-main denganku?" gumam Azura pelan, matanya menatap tajam ke arah kepergian kereta itu.
"Kau salah besar. Aku bukan lagi perempuan bodoh yang bisa kau permainkan sesuka hati."
Ia mengusap dadanya yang terasa sesak. Racun yang ia berikan tadi memang buatan tangannya sendiri, bukan belajar dari ibunya. Tapi belajar diam-diam dari tabib-tabib kerajaan dan semua buku medis yang dia beli lewat seseorang yang diam-diam bekerja untuknya, pelindung bayangan yang saat ini melindungi putranya.
Azura belajar bukan untuk menyakiti orang lain, melainkan untuk melindungi diri sendiri dan satu-satunya harta berharga yang ia miliki, putranya. Ia tahu betul cara kerja racun itu, dan hanya ia yang memegang kunci penawarnya. Itu adalah satu-satunya cara untuk mengikat Wessel, membuatnya menjadi tameng tak kasat mata bagi putra kecilnya yang tertahan di sana. Semakin banyak orang yang melindungi putranya, semakin baik.
Dengan langkah tegap, Azura kembali berjalan menuju lubang anjing yang dia lewati tadi. Wajahnya yang tadi penuh air mata kini berubah kembali menjadi dingin dan tak berperasaan, persis seperti topeng yang biasa ia pakai setiap hari di hadapan Xavier dan seluruh keluarga kerajaan.
Tanpa dia sadar, ada yang sedang memperhatikannya dari tempat tersembunyi. Xavier dan pengawal yang selalu berada di sisinya. Xavier mendengus, mereka pasti sedang membicarakan kejahatan yang akan mereka lakukan terhadap dirinya dan kerajaan ini.
hanya aku yg boleh menghina istriku,KLW orang lain yg berani,siap² kupenggal,dlm hati pangeran Xavier, hanya aq yg dengar 😂😂😂😂😂
dasar elish sok sok cantik dan caper didepan pangeran xavier, kegatelan elish pengen mendekati pangeran xavier..
yg ada pangeran xavier sangat jijik dan muak sama elish...
putri perdana menteri tutur katanya tidak bisa dijaga, berani menjelek2kan dan menghina putri azura...
putri azura tidak seburuk itu, putri azura pasti ada alasannya tiba-tiba menghilang.. lagi mencari kesempatan membebaskan putranya/melihat anaknya lagi sakit...
pangeran xavier sangat curiga gerak-gerik putri azura, dikira xavier merencanakan sesuatu mencelakainya...
kasian juga nasibnya putri azura anaknya disandera, diancam jadi mata-mata, dan pangeran xavier salahpaham pangeran memperlakukan putri sangat kasar dan kata-katanya bikin sakit hati....
ga jeules ya vier
cuman cemburu 🤣🤣🤣🫣
putri azura sangat ketakutan dan khawatir takut terjadi sesuatu sama anaknya, klo kasih tahu pangeran xavier azura serba salah... raja utara sangat jahat dan licik, bisa melakukan apa aja demi ambisinya sampai tega sandera anaknya putri azura....
tapi putri azura gak mau jujur makin salahpaham pangeran xavier, yg ada kebencian dan merasa dikhianati pangeram xavier...
pangeran xavier tidak akan membiarkan putri azura menghilang dari hidupnya, masih jadi misterius anaknya azura apakah anaknya pangeran xavier....
walau sebel sama Azura tapi depan orang lain kamu harus tetap bela istri ....👍👍👍