NovelToon NovelToon
MEMBURU ATAU DIBURU

MEMBURU ATAU DIBURU

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Zombie
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Di tengah panas Kalimantan yang tak kunjung reda, Budi Santoso-seorang sales biasa di Palangkaraya menemukan kehidupan yang berubah drastis setelah sebuah “sistem” misterius muncul di kepalanya. Awalnya hanya alat untuk naik level dan bertahan hidup, sistem itu kini menjadi satu-satunya harapannya saat alam mulai bermutasi dengan kejam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Malam itu Budi mutusin nggak jadi karaoke bareng Mbak Wulan. Ibu Mbak Wulan nelpon mendadak, suaranya panik, jadi Mbak Wulan buru-buru pulang meski keliatan males. Rina juga nggak pulang pasti lagi urus pemakaman Mas Joko sama keluarga atau urusan duka lainnya. Budi sendirian di kontrakan, nyalain PC buat main game, tapi jarinya nggak gerak. Pikirannya berantakan. Dada sesak, kayak ada yang nyangkut di tenggorokan. Dia pengen teriak, tapi nggak tahu kenapa.

Akhirnya dia matiin PC, jalan ke ruang tamu, mulai bayangan tinju. Skill Silat-nya cuma level 4, tapi pas digabung sama Ketangkasan 12 poin sekarang, pukulannya jadi gila. Gerakan tangan cepet banget, udara berdesir. Tiap pukulan ke udara kayak ngebayangin musuh bisa bikin orang luka parah, bahkan mati kalau kena titik vital.

Awalnya cuma buat lepas stres, tapi lama-lama ketagihan. Setiap gerakan penuh tenaga, badan panas, darah mengalir kenceng. Dia ngerasa hidup lagi.

Bip.

“Setelah latihan cukup, keterampilan Silat Anda telah naik. +1 poin Silat.”

Budi baru sadar udah latihan hampir satu jam. Lantai basah keringat, bajunya lepek. Napasnya ngos-ngosan, tapi senyum tipis muncul di bibir. Badan terasa lebih ringan, lebih kuat. Dia suka perasaan ini.

Ini pertama kalinya dia latihan lama banget. Dulu latihan cuma buat naikin atribut, sekarang kayak obat bikin pikiran tenang. Dia mandi air dingin, badan segar lagi. Dia sadar: masa depan nggak bisa diprediksi, yang bisa dikontrol cuma dirinya sendiri. Harus terus berkembang, biar siap hadapi apa pun yang dateng.

Besok paginya, pas lagi sarapan mie instan, HP berdering. Kapten Andi.

“Budi, sarapan dulu ya? Langsung ke Muara Teweh. Kulit ular udah jadi. Ambil sekarang.”

Budi buru-buru pesen ojek online, langsung ke Muara Teweh. Sampai di warung makan biasa, Kapten Andi sama Bang Zain lagi minum teh.

“Hai, Pak. Hai, Bang Zain. Udah lama?” sapa Budi sambil duduk.

Kedua polisi itu cuma nengok tanpa ngomong. Budi langsung ngerasa aneh. “Ada apa sih? Kok liatnya gitu?”

Kapten Andi batuk kecil, mukanya serius. “Nggak ada apa-apa kok. Cuma ada beberapa pertanyaan. Lebih baik jawab jujur ya.”

Budi langsung panik dalam hati. Apa dia kena kasus kriminal? Pukulan ke Mas Aji kemarin? Tapi kalau gitu, harusnya di kantor polisi, bukan warung makan.

“Ada apa, Pak?” tanya Budi hati-hati.

Kapten Andi ketuk meja pelan. “Hubungan kamu sama Mas Joko sebenarnya apa? Cerita kemarin nggak cocok sama laporan. Kami udah tanya Rina. Kamu bukan adik ipar. Mau jujur atau terus bohong?”

Budi nyengir kecut. “Ya… aku liat Rina kayak kakak sendiri, jadi Mas Joko aku anggap kakak ipar. Lagian itu cuma alasan spontan pas tegang. Jelek banget ya kalau bantu orang pake alasan gitu?”

Bang Zain ketawa. “Nggak jelek sih! Tapi keliatan terlalu semangat. Kayak ada apa-apa.”

Budi jawab hati-hati, “Ini penyakit kerja kali ya, Pak. Polisi kan sering ketemu orang jahat, jadi curiga ke semua orang. Nggak adil dong sama orang baik.”

Bang Zain nyengir. “Oh ya? Kamu naksir Rina ya? Kayaknya iya, makanya semangat banget. Katanya kalian tinggal bareng. Bener?”

Budi nggak bisa bales. Dia emang suka Rina, tapi nggak bakal ngelakuin apa-apa ke Mas Joko.

“Udah cukup,” potong Kapten Andi. “Pokoknya begini, Budi. Mau gabung polisi nggak? Jabatan resmi, beda sama honorer atau Satpol PP.”

Budi kaget. “Petugas polisi? Bukannya butuh kualifikasi khusus?”

“Dulu iya. Tapi setelah laporan ular kemarin, Gubernur langsung perhatiin. Ada instruksi rekrut polisi tambahan. Makanya aku cek sama kamu.”

Kapten Andi terkesan sama Budi nyelamatin nyawanya, rela bantu temen. Karakter bagus.

“Kenapa mendadak? Situasinya tambah parah ya?” tanya Budi.

Kapten Andi angguk berat. “Nggak bisa bohong. Hampir semua tingkat kekurangan personel. Desa-desa udah chaos banyak penjahat, orang hilang terus. Katanya pemerintah bakal bakar hutan kalau personel cukup.”

Budi diem. Dia nggak pernah pengen jadi polisi. Risikonya tinggi banget sekarang bisa mati kapan aja. Tapi dia sadar: nggak ada tempat aman lagi. Desa udah gitu, kota pasti ikut.

“Aku pikir dulu ya, Pak,” jawab Budi.

“Wajar. Santai aja,” Kapten Andi setuju. “Oh iya, ini buat kamu.”

Kapten Andi kasih bungkusan. “Matamu tajam kemarin. Aku balik kantor, nemuin ini. Kulit ular udah jadi rompi anti peluru. Total delapan, Kepala Pos ambil semua. Aku minta satu, dia kasih. Ini buat kamu empat lapis kulit ular, lebih ringan dan kuat dari rompi biasa.”

Budi ambil bungkusan, buka pelan. Rompi hitam mengkilap, sisik ular nempel rapi pake lem super. Ringan banget cuma sekitar 250 gram.

Dia sentuh halus, licin, tapi keras. Kayak karya seni.

Budi diam-diam aktifin Identifikasi.

[Rompi Anti peluru Kulit Ular]

[Bahan: Kulit Ular Tikus Raja]

[Kelangkaan: Biru Muda]

[Berat: 0,25 kg]

[Perlindungan: 14–18]

[Fungsi Sekunder]

Perlindungan terhadap hewan tertentu (Lemah)

[Persyaratan]

Tidak ada

[Keterangan]

Rompi antipeluru berkualitas baik yang mampu menahan peluru dan serangan pisau.

Terbuat dari kulit ular tikus raja, memberikan efek perlindungan lemah terhadap hewan kecil seperti tikus, katak, dan burung kecil. Namun, efek ini juga dapat membuat hewan-hewan tersebut menjadi lebih agresif.

Budi senyum lebar. “Biru muda! Mantap!”

“Gimana? Bagus kan?” tanya Kapten Andi nyengir.

“Bagus banget, Pak. Makasih banyak. Meski aku masih mikir tawaran tadi, kalau butuh bantuan, hubungi aja aku,” jawab Budi tulus.

“Wah, makasih! Tapi aku nggak mau lagi petualangan kayak kemarin,” kata Bang Zain sambil geleng-geleng kepala.

Mereka ngobrol bentar, lalu Budi pamit pulang.

Di jalan, Budi liat banyak warga tebang rumput liar di pinggir jalan. Dia baru ngerti pas inget kata Kapten Andi Pemerintah daerah mulai bakar lahan buat cegah bencana. Agresif banget langkahnya. Dunia emang lagi menuju akhir.

Malam itu Budi duduk di depan TV kecil di ruang tamu, volume rendah biar nggak ganggu Rina yang lagi tidur di kamar sebelah. Berita lokal lagi tayang, presenter perempuan mukanya tegang.

“Selamat malam, pemirsa. Presiden hari ini meminta masyarakat tetap tenang setelah inspeksi Pangkalan Militer Balikpapan. Beliau menyatakan harapan agar warga bersatu membantu stabilkan situasi, dan yakin pemerintah serta TNI bisa atasi masalah ini… Dalam pertemuan dengan delegasi luar negeri di Jakarta Selatan, Presiden bilang penguatan militer dan teknologi perdagangan antara Indonesia dan negara mitra sangat menguntungkan kedua belah pihak…”

Budi kaget. Dia liat Mbak Wulan beberapa detik, lalu jawab, “Makasih. Kalau aku butuh tempat sembunyi, aku cari kamu.”

Mereka diem sepanjang jalan, masing-masing mikir sendiri.

1
Jack Strom
Lanjut... 😁
Jack Strom
Mantap... Lanjut lagi!!! 😁
Jack Strom
Mantap... Lanjuuut!!! 😁
Jack Strom
Waktunya berburu... 😁
Jack Strom
Asah terus skillnya sambil bertahan hidup... 😁
Jack Strom
Asem... Kirain tadi yang namanya Jali itu manusia, eh ternyata seekor anjing... hahaha 😁
Jack Strom
Cih... Pura² jual mahal... 😁
Jack Strom
Eh... Blong??? 😁
Jack Strom
Hah??? 😁
Jack Strom
Bertahan... 😁
Jack Strom
Wow... Seram 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Chaos!!! 😁
Jack Strom
Lanjuuut... 😁
Jack Strom
Masih hmmm 🤔
Jack Strom
Hmmm??? 🤔
Jack Strom
Tekan dong... 😁
Jack Strom
Hmmm??? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Era gede²... 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!