🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)
•••
Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.
Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.
Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Quality time bersama keluarga
Pagi itu berjalan lebih ringan dari biasanya. Tidak ada terburu-buru, tidak ada tekanan. Semuanya mengalir begitu saja.
Di dalam kamar mandi, suara air kembali terdengar. Anindia sedang bersiap, sementara Keanu sibuk dengan perannya sebagai ayah.
"Eh... Nak, jangan turun dulu," ujar Keanu pelan, saat Shaka mulai meronta kecil dari gendongannya.
Shaka hanya terdiam, tubuh kecilnya bergerak aktif. Tangannya meraih tangan Keanu, lalu menepuk-nepuk nya perlahan.
Keanu tertawa, merasa gemas melihat perkembangan anaknya. "Aktif banget sih anak ayah," ujarnya.
Shaka menjawab dengan ocehan yang tidak jelas. Dengan satu tangan, Keanu mencoba mengambil baju Shaka di dalam lemari, lalu ia letakkan di atas tempat tidur.
"Kita mandi dulu, ya," ujar Keanu yang menirukan suara anak kecil.
Setelahnya, Keanu membawa Shaka ke kamar sebelah. Ia berjalan menuju ke arah kamar mandi, lalu memandikan Shaka dalam tempat mandinya dengan air hangat. Shaka yang begitu aktif menendang-nendang kakinya di dalam air, hingga percikan air membasahi wajah Keanu.
Keanu refleks memejamkan matanya saat percikan air itu mengenai wajahnya. Beberapa tetes bahkan mengenai rambut dan bajunya. Ia terdiam sejenak, lalu menghela nafas panjang.
"Ya ampun," ujarnya lirih.
Shaka justru tertawa kecil, seolah itu adalah permainan yang menyenangkan. Keanu membuka matanya perlahan, menatap anaknya dengan ekspresi pasrah dan juga gemas. Tangannya mengusap wajahnya yang basah, lalu menggeleng pelan.
"Seneng banget main air, ya?" Ujar Keanu dengan kekehan kecil.
Shaka kembali menendang air, sesekali menepuk-nepuk permukaan air itu dengan tangannya. Cipratan air kembali membasahi diri Keanu.
Keanu langsung mengangkat sedikit tubuh Shaka, menjauhkannya dari air sebentar.
"Ayah jadi basah lagi, nak," ujar Keanu sembari menahan tawa.
Keanu kemudian mengusap kepala Shaka, membersihkan dengan hati-hati. Sesekali masih terkena cipratan air karena tingkah aktif anaknya itu.
Setelah selesai memandikan Shaka, Keanu membalut tubuh mungil itu dengan handuk. Lalu, ia kembali membawa Shaka ke dalam kamarnya.
Keanu meletakkan Shaka di atas tempat tidur dengan hati-hati. Ia mulai mengeringkan rambut tipis Shaka dan juga badannya yang basah.
Setelahnya, Keanu mengusapkan minyak telon ke perut dan punggung putranya, diikuti dengan mengusapkan bedak bayi. Pakaian Shaka juga ia pakaikan dengan begitu hati-hati.
Sesekali Shaka bergerak, membuat Keanu harus menahan tubuh kecil itu agar tetap di tempat. Tak lupa, ia merapikan rambut tipis Shaka dengan sisir. Setelahnya, Keanu memandang Shaka sejenak.
"Udah ganteng nih jagoan ayah," ujarnya.
Saat itu, pintu kamar mandi terbuka. Anindia keluar dengan langkah pelan, dengan handuk yang membalut rambutnya. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat pemandangan di depannya.
Keanu duduk di tepi tempat tidur, sedikit membungkuk dengan Shaka yang sudah rapi di hadapannya. Anindia terdiam, ada sesuatu yang memenuhi dadanya, terasa hangat. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya berdiri di sana memperhatikan.
Pemandangan itu begitu berarti bagi Anindia. Seorang laki-laki yang dulu ia kenal dengan sifatnya yang seenaknya, kini duduk dengan sabar, mengurus anak mereka dengan penuh perhatian.
Keanu yang menyadari kehadiran Anindia langsung menoleh, membuat manik mata mereka bertemu.
"Udah selesai?" Tanya Keanu santai.
"Udah Mas, tinggal dandan aja," jawab Anindia kemudian.
Keanu mengangguk pelan, tapi matanya belum berpaling dari Anindia. Keanu memperhatikan Anindia untuk beberapa saat. Anindia masih belum memakai riasan apapun di wajahnya, tapi justru itu yang membuatnya terlihat berbeda di mata Keanu.
Keanu menyandarkan sedikit tubuhnya ke belakang, satu tangannya masih menjaga Shaka agar tidak bergerak terlalu jauh.
"Ekhem," Keanu berdehem keras, mencoba untuk membasahi tenggorokannya.
Anindia yang merasa diperhatikan, langsung mengernyitkan dahi. "Kenapa, Mas?"
Keanu menggeleng singkat, sudut bibirnya terangkat sedikit. "Enggak apa-apa," ujarnya.
Beberapa detik kemudian, Keanu kembali berujar, kali ini dengan nada yang sedikit lebih usil. "Kayaknya aku harus buru-buru buat siap-siap nih."
Anindia semakin bingung. "Lho, kenapa Mas?"
Keanu melirik Shaka sekilas, lalu kembali menatap Anindia. "Kamu tanpa make-up aja udah cantik," ujar Keanu kemudian. "Ntar kalo kamu kelamaan dandan, aku jadi lupa tujuan awal keluar." Lanjutnya sembari menatap Anindia dalam.
"Maksudnya?" Tanya Anindia dengan polosnya.
Keanu tersenyum lebih lebar, "Fokusnya pindah."
Anindia mencoba mencerna perkataan Keanu beberapa detik. Setelah sadar arah pembicaraan itu, wajah Anindia langsung bersemu merah.
"Mas," ujar Anindia sedikit malu.
Keanu hanya terkekeh kecil, jelas menikmati reaksi istrinya. Ia kemudian berdiri, menggendong Shaka dengan satu tangan. Sementara tangan satunya refleks mengusap pucuk kepala Anindia sekilas saat melewatinya.
"Buruan gih," ujar Keanu santai. "Biar makin cantik. Sekalian bikin ayahnya Shaka jadi susah fokus."
Anindia hanya bisa diam di tempat, menatap punggung Keanu yang berjalan menjauh sambil menggendong Shaka. Ia kemudian menghela nafas pelan, lalu tersenyum sendiri.
"Kebiasaannya gak pernah berubah," gumam Anindia lirih pada dirinya sendiri.
Setelahnya, Anindia duduk di depan meja riasnya. Perlahan, ia mengaplikasikan make-up itu di wajahnya. Seperti biasa, ia hanya berdandan tipis-tipis saja. Pagi itu hatinya dipenuhi dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata, meski ia tidak tahu kemana Keanu akan membawa mereka hari ini.
...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...
Mobil yang dikemudikan Keanu akhirnya berhenti di depan sebuah tempat makan yang cukup ramai di pagi hari.
Keanu mematikan mesin, lalu menoleh ke samping. Anindia terlihat sudah siap, sementara Shaka di pangkuannya sibuk memainkan ujung baju ibunya.
"Kita sampai," ujar Keanu.
Tanpa menunggu jawaban, Keanu langsung berjalan keluar lebih dulu. Lalu berjalan untuk membukakan pintu di sisi Anindia. Tangannya terulur, membantu Anindia turun dengan hati-hati.
Setelahnya, Keanu mengalihkan pandangannya pada Shaka. "Sini, jagoan ayah," ujarnya sambil menggendong Shaka.
Shaka langsung meraih kerah baju Keanu, menggenggamnya erat sambil melihat sekeliling dengan rasa penasaran.
Anindia menatap sekeliling sejenak, lalu kembali menatap Keanu. "Mas, kita makan di sini?"
"Iya, kita sarapan di sini," jawab Keanu kemudian.
Anindia langsung tersenyum. Hal kecil seperti ini saja sudah cukup untuk membuatnya merasa bahagia.
Keanu melangkah lebih dulu, satu tangannya menggendong Shaka. Refleks, tangan satunya meraih tangan Anindia, seolah sudah menjadi kebiasaan.
Anindia sedikit terkejut, tapi ia tidak menolak. Ia mengikuti langkah suaminya.
Di depan pintu, Keanu membuka pintu dan mempersilahkan Anindia untuk masuk.
"Silahkan tuan putri," ujar Keanu yang lagi-lagi membuat drama ala kerajaan. "Eh, tuan ratu," lanjutnya membuat Anindia terkekeh.
"Mas, malu ih diliatin orang," protes Anindia dengan suara pelan.
Keanu menatap sekeliling, lalu kembali melirik Anindia dengan seutas senyum. "Biarin aja, biar satu dunia tau kalau kamu milik aku."
Anindia langsung terdiam. Langkahnya yang ingin masuk ke dalam, tertahan di ambang pintu. Matanya membulat sedikit, jelas tidak menyangka penuturan suaminya.
Wajah Anindia kembali merona. Bukan hanya karena malu, tapi juga karena cara Keanu mengatakannya terlihat begitu santai, seolah itu hal biasa. Padahal bagi Anindia, itu tidak biasa sama sekali.
"Apaan sih, Mas?" Gumamnya pelan, nyaris seperti bisikan.
Anindia menundukkan kepalanya, berusaha menghindari tatapan orang-orang di sekitar mereka. Tangannya refleks memainkan ujung tas kecilnya, mencoba menenangkan diri.
Keanu hanya tersenyum puas melihatnya, terlihat menggemaskan. Shaka sendiri terlihat anteng dalam pelukan ayahnya.
Sementara Anindia, masih belum berani menatap langsung. Ia langsung melangkah masuk lebih dulu, dengan langkah yang cepat. Seolah ingin kabur dari situasi yang membuat jantungnya tidak karuan.
Baru beberapa langkah, Anindia berhenti. Ia refleks menoleh ke belakang. Keanu masih berdiri di sana, dengan ekspresi tanpa dosa.
Keanu akhirnya mengikuti dari belakang. Begitu masuk, matanya langsung mencari sosok Anindia. Ia menemukan Anindia yang sudah berdiri di salah satu meja kosong, masih terlihat sedikit canggung, mungkin masih merasa malu dengan kejadian barusan.
"Kok diam aja, sayang?" Ujar Keanu saat menghampiri Anindia.
Anindia menoleh, lalu menghela nafas kecil. "Malu tau, Mas. Diliatin orang," ujarnya.
Keanu terkekeh kecil, lalu tangannya menarik sebuah kursi untuk Anindia. Setelahnya ia duduk di sebelahnya, tetap menggendong Shaka yang kini aktif mengoceh.
Keanu lalu duduk santai sembari bersandar di kursi. Shaka tampak sibuk dalam dunianya sendiri, mengamati sekeliling, sesekali mengoceh pelan seolah ikut berbincang.
Anindia yang duduk di sampingnya mulai sedikit tenang. Rasa malu tadi digantikan dengan perasaan hangat yang selalu muncul ketika ia sedang bersama Keanu seperti ini.
"Mas, aku ambil makanan Shaka dulu, ya," ujar Anindia pelan.
Keanu mengangguk, sementara Anindia langsung membuka tas kecil itu dan mengambil wadah bubur bayi lengkap dengan sendok kecilnya.
"Anak bunda mau mamam, ya?" Ujar Anindia lembut saat berbicara dengan Shaka.
Shaka kembali mengoceh, seolah mengerti perkataan ibunya. Anindia kemudian menyuapkan bubur itu perlahan ke mulut Shaka.
"Hati-hati, nak," ujar Keanu pelan, refleks menahan dagu kecil Shaka agar tetap menghadap ke depan.
Sesekali Shaka bergerak aktif, membuat Anindia harus menyesuaikan gerakannya. Di tengah-tengah itu, Keanu mengambil menu di atas meja. Lalu, ia memesankan untuk mereka berdua tanpa kata, seolah sudah paham betul apa yang biasanya Anindia suka.
Setelahnya, Keanu kembali menoleh ke arah keduanya. Tatapannya tidak bisa bohong, ia merasa bahagia melihat anak dan istrinya yang begitu ceria.
Tak berapa lama, pesanan pun tiba. Seorang pramusaji meletakkan pesanan itu di atas meja, lalu kembali pada tugasnya.
Tanpa banyak kata, Keanu langsung mengambil sendok dan sedikit mendekat. "Bunda juga makan, dong," ujarnya.
Belum sempat Anindia bereaksi, Keanu sudah menyuapkan satu sendok makanan ke mulut Anindia. Anindia refleks membuka mulutnya, namun ia tidak bisa protes.
Keanu terus menyuapi Anindia, sesekali ia menyuap makanan itu untuk dirinya sendiri. Di sela-sela itu, tiba-tiba saja Keanu mengambil tisu di atas meja.
Dengan gerakan yang sangat alami, ia menyeka sudut bibir Anindia yang sedikit kotor karena makanan. Gerakannya pelan, penuh kehati-hatian.
"Berantakan," ujar Keanu lembut.
"Makasih, Mas," ujar Anindia dengan seutas senyum.
Keanu mengangguk, lalu ia mengusap kepala Shaka sejenak. Anak itu sudah mulai kenyang dan terlihat lebih tenang.
Di meja kecil itu, tidak ada hal besar yang terjadi. Hanya sarapan sederhana dan suapan kecil. Serta perhatian-perhatian yang mungkin terlihat biasa. Tapi, bagi mereka istimewa.
Karena di situlah, tanpa mereka sadari, mereka sedang membangun sesuatu yang utuh sebagai keluarga. Pagi itu terjadi begitu saja, alami, tenang, namun penuh makna.
Tak terasa, waktu berlalu begitu cepatnya. Meja kecil itu menjadi saksi bagaimana kebahagiaan sederhana mampu menciptakan kehangatan yang sulit dijelaskan.
Tidak perlu tempat mewah, tidak perlu momen besar. Cukup dengan kebersamaan dan saling ada. Di tengah hiruk-pikuk tempat makan yang dipenuhi banyak orang, mereka seperti memiliki ruang tersendiri. Ruang kecil yang hanya diisi oleh mereka bertiga.
Ting!
Di sela-sela kebersamaan itu, ponsel Anindia bergetar pelan di atas meja. Getaran singkat, namun cukup untuk mengalihkan perhatian.
Anindia melirik sekilas ke arah ponselnya. Tangannya sedikit tertahan, seolah ragu untuk mengambilnya di tengah momen yang terasa begitu hangat ini.
Keanu yang menyadari, ikut menoleh. "Itu ada pesan, sayang. Gak diliat dulu?"
"Iya Mas," ujar Anindia dengan anggukan kecil.
Anindia kemudian meraih ponselnya, lalu layar di hadapannya menyala. Ia langsung mengernyitkan dahinya.
"Nomor tidak dikenal, Mas," ujar Anindia setelah membaca pesan itu.
Keanu mengangguk, seolah memberi isyarat pada Anindia untuk membuka pesan itu.
Anindia menarik nafas pelan, lalu membuka pesan tersebut. Matanya bergerak cepat. Lalu, ekspresinya berubah.
Keanu memperhatikan dengan serius, penuh rasa ingin tahu. "Dia bilang apa?"
^^^Bersambung...^^^
Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁