Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: KEDAULATAN BAYANGAN
Gedung pusat yang kini berganti nama menjadi Linden-Prawira Tower di Raffles Place tampak megah di bawah sinar matahari pagi Singapura. Namun, di dalam dinding kacanya, suasana terasa seperti medan perang yang dingin. Nata Prawira berdiri di kantor lantai paling atas, menatap meja kayu mahoni besar yang dulu merupakan takhta Arthur Chen.
Di atas meja itu, tumpukan dokumen audit setebal tiga ratus halaman telah menunggu. MAS (Monetary Authority of Singapore) tidak membiarkan Nata bernapas lega bahkan untuk satu hari pun setelah dana satu miliar dolar itu masuk.
"Bos, tim audit dari MAS sudah tiba di lobi. Mereka dipimpin langsung oleh asisten senior Tuan Lim," Elena masuk tanpa mengetuk, wajahnya tampak kaku. "Mereka tidak hanya meminta laporan keuangan; mereka menuntut akses ke log transaksi real-time dari server Aquatic Nexus."
Nata memutar kursi, menatap Elena dengan ketenangan yang mematikan. "Mereka sedang melakukan operasi pembedahan, Elena. Mereka ingin melihat apakah jantung dari sistem kita adalah mesin pencuci uang atau sesuatu yang jauh lebih berbahaya."
"Apa yang harus kita lakukan? Jika mereka melihat algoritma prediksi kita, mereka akan tahu bahwa kita memanipulasi efisiensi pasar," tanya Elena.
"Aktifkan 'Protokol Cermin'. Berikan mereka akses ke server bayangan yang berisi data asli tapi dengan algoritma yang sudah kita degradasi. Biarkan mereka melihat sebuah sistem yang sangat efisien, tapi tampak 'normal' secara hukum. Sementara itu, pindahkan proses enkripsi utama kita ke pusat data bawah tanah di Jakarta," perintah Nata.
Nata turun ke ruang dewan direksi untuk menemui tim audit. Di sana, Marcus Chen duduk di pojok ruangan, tampak seperti pajangan yang tak berdaya. Di tengah ruangan, sekelompok pria bersetelan jas gelap dengan wajah tanpa ekspresi sudah menyiapkan laptop mereka.
"Tuan Prawira," sapa salah satu auditor senior bernama Tan. "Kami di sini untuk memastikan bahwa satu miliar dolar yang Anda setorkan bukan berasal dari sumber yang bisa mengganggu integritas finansial Singapura."
"Silakan, Tuan Tan. Transparansi adalah prioritas Linden-Prawira," jawab Nata sambil duduk di kepala meja. "Namun, saya harap Anda mengerti bahwa privasi nasabah kami juga dilindungi oleh undang-undang kerahasiaan bank. Segala sesuatu yang Anda lihat di ruangan ini tidak boleh keluar tanpa izin pengadilan."
Pembersihan dimulai. Namun, Nata tidak hanya menghadapi auditor luar. Ia harus menghadapi pengkhianatan dari dalam.
Selama proses audit berlangsung, Nata memperhatikan gerak-gerik para staf lama bank. Ia tahu bahwa Arthur Chen masih memiliki pengikut setia di sini. Melalui kacamata pintar yang terhubung ke sistem pemantauan emosi yang dibuat Elena, Nata melihat lonjakan kecemasan pada Robert, Kepala Operasional IT bank tersebut.
Nata memberi kode pada Elena melalui ketukan jari di atas meja—sebuah kode Morse sederhana yang mereka kembangkan. Amati Robert.
Dua jam kemudian, saat istirahat makan siang, Elena mengirimkan pesan ke lensa kontak Nata: "Robert baru saja mengirimkan paket data terenkripsi ke alamat IP privat di Australia. Dia mencoba mengirimkan kunci akses server utama kepada Vincent Chen."
Nata tidak marah. Ia justru merasa ini adalah kesempatan yang sempurna untuk menunjukkan siapa pemegang kekuasaan yang baru.
Nata meminta Robert untuk menemuinya di ruang server bawah tanah, tempat yang paling sunyi dan terisolasi di gedung itu. Saat Robert masuk, ia menemukan Nata sedang berdiri sendirian di depan deretan rak server yang berkedip biru.
"Robert, kamu sudah bekerja di sini selama lima belas tahun, bukan?" tanya Nata tanpa menoleh.
"Benar, Tuan Prawira. Sejak zaman Tuan Arthur," jawab Robert dengan suara yang sedikit bergetar.
"Kesetiaan adalah hal yang langka, Robert. Aku menghargainya. Tapi ada garis tipis antara kesetiaan dan kebodohan," Nata berbalik, memegang sebuah tablet yang menampilkan log pengiriman data ke Australia beberapa menit lalu. "Kamu pikir Vincent Chen bisa menyelamatkanmu dari sini? Dia sendiri sekarang sedang kesulitan membayar biaya sewa apartemennya di pedalaman Australia karena seluruh asetnya sudah kubekukan."
Wajah Robert memucat. Ia mencoba mundur, tapi pintu ruang server sudah terkunci secara otomatis.
"Tolong, Tuan... saya hanya mengikuti perintah lama," isak Robert.
"Aku tidak butuh permintaan maaf, Robert. Aku butuh contoh," ucap Nata dingin. "Elena, putuskan semua akses digital Robert. Hapus seluruh identitas karyawannya, bekukan rekening gajinya, dan kirimkan rekaman sabotase ini langsung ke meja Tuan Lim. Biarkan otoritas yang menangani 'pengkhianat' sepertimu."
Ini adalah taktik "Meminjam Pisau Otoritas". Nata tidak perlu mengotori tangannya. Dengan menyerahkan Robert kepada Tuan Lim, Nata menunjukkan bahwa ia bekerja sama dengan pemerintah untuk "membersihkan" bank, padahal sebenarnya ia sedang menyingkirkan sisa-sisa loyalis musuhnya menggunakan tangan polisi.
Tuan Lim datang ke gedung satu jam kemudian untuk menjemput Robert. Ia bertemu Nata di lobi.
"Kamu menyerahkan orangmu sendiri padaku, Nata? Sangat kooperatif," ucap Lim dengan nada sinis yang kental.
"Saya hanya ingin bank ini bersih dari anasir yang tidak patuh hukum, Tuan Lim," balas Nata dengan senyum sopan. "Robert mencoba membocorkan data nasabah ke luar negeri. Saya rasa itu adalah ancaman keamanan nasional yang sangat Anda benci."
Lim menatap Nata dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia tahu Nata sedang memanfaatkannya untuk melakukan pembersihan internal, tapi ia tidak punya alasan untuk menolak karena bukti yang diberikan Nata sangat kuat.
"Tim auditku melaporkan bahwa sistemmu sangat bersih. Terlalu bersih, Nata. Hampir tidak masuk akal bagaimana sebuah sistem baru bisa berjalan tanpa celah," Lim mendekat, membisikkan sesuatu. "Aku akan terus menggali. Suatu hari, cermin yang kamu pasang itu akan retak, dan aku akan ada di sana untuk melihat apa yang ada di baliknya."
"Saya akan menyiapkan kopi untuk Anda saat hari itu tiba, Tuan Lim," jawab Nata tenang.
Malam itu, setelah gedung sepi, Nata duduk di kantornya bersama Elena. Pembersihan tahap pertama selesai. Tiga puluh persen staf senior yang dicurigai tidak loyal telah "mengundurkan diri" setelah melihat apa yang terjadi pada Robert.
"Bos, Marcus Chen baru saja menandatangani penyerahan sisa hak suaranya. Dia ingin pergi ke Swiss dan memulai hidup baru. Dia menyerah sepenuhnya," Elena memberikan dokumen fisik terakhir.
Nata menandatanganinya. Dengan ini, keluarga Chen secara resmi terhapus dari struktur kepemilikan.
"Langkah selanjutnya, Elena," Nata berdiri, menatap peta digital Selat Malaka yang menyala di dinding. "Kita sudah punya banknya. Kita sudah punya teknologinya. Sekarang, kita butuh tanahnya."
"Maksud Anda proyek dermaga di Johor dan Batam?"
"Bukan hanya dermaga. Aku ingin kita membangun Jalur Sutra Digital. Setiap kapal yang melewati selat ini harus menggunakan sistem logistik kita untuk kliring asuransi dan pembayaran bahan bakar. Kita akan menarik pajak dari setiap tetes minyak dan setiap peti kemas yang lewat."
Nata menyadari bahwa meskipun ia memenangkan pertempuran di Singapura, ia telah menciptakan musuh-musuh baru yang lebih besar. Otoritas Singapura kini mengawasinya seperti elang, dan para pemain besar di Wall Street mulai bertanya-tanya tentang entitas misterius bernama Linden-Prawira yang tiba-tiba menguasai pasar logistik Asia Tenggara.
Namun, Nata tidak lagi takut. Ia telah membangun sebuah kedaulatan bayangan. Sebuah kekaisaran yang tidak memiliki bendera, tapi memiliki kekuatan untuk menggerakkan dunia.
"Panggil Yuda di Jakarta," ucap Nata sambil menatap bintang-bintang di langit Singapura. "Katakan padanya untuk mulai melakukan pembebasan lahan di pesisir Sumatera. Garis takdir ini tidak akan berhenti di sebuah gedung perkantoran. Kita akan membangun masa depan yang tidak bisa mereka bayangkan."
Nata Prawira, sang remaja yang dulu hanya ingin menyelamatkan adiknya, kini telah menjelma menjadi arsitek global. Dan di balik senyum tenangnya, ia tahu bahwa perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Bersambung.....