Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah Yang Tidak Bisa Dibohongi
Ruangan itu kembali sunyi setelah ucapan terakhir Viktor.
Kanaya berdiri mematung di dekat sofa, sementara Viktor masih menatapnya lekat, menunggu sesuatu yang sejak tadi berusaha disembunyikan wanita itu.
Bayi kecil di sofa tertidur tenang, sama sekali tidak menyadari betapa berat percakapan yang sedang terjadi di sekitarnya.
Kanaya menghela napas panjang.
Tangannya mengepal pelan.
“Aku tidak mungkin semudah itu melupakannya…” ucapnya lirih.
Viktor mengernyit.
Tatapannya semakin dalam.
Kanaya menutup matanya sesaat sebelum akhirnya berkata
“Masalahnya… dia ayah kandung Nayara.”
Kalimat itu jatuh pelan.
Namun terasa begitu menghantam.
Viktor langsung membeku.
Untuk beberapa detik, pria itu tidak bergerak sama sekali.
Tatapannya perlahan berpindah ke bayi kecil yang tertidur di sofa.
Nayara
Lalu kembali kepada Kanaya.
“Aku tahu,…?” suaranya nyaris tidak terdengar.
Kanaya menunduk.
Air matanya mulai jatuh perlahan.
Ia membenci harus mengatakan ini lagi.
Membenci kenyataan yang selalu ia coba tekan sendirian selama ini.
“Nayara anak Fatan,” lanjutnya pelan dengan suara bergetar.
Sunyi.
Viktor mengusap wajahnya perlahan, seolah mencoba mencerna semuanya.
Padahal ia tahu.
Sejak awal ia memang sudah tahu.
Namun mendengar Kanaya mengatakannya langsung… tetap terasa berbeda.dan itu rasanya sakit
“Kenapa kamu tidak pernah memberitahunya,kalau hidupmu masih terhubung dengannya karena ada Nayara?” tanya Viktor akhirnya.
Kanaya tertawa kecil, pahit.
“Memberitahu apa?” balasnya lirih.
“Bahwa saat aku kehilangan segalanya… aku ternyata mengandung anaknya?”
Air mata kembali jatuh.
Viktor menatapnya diam.
“Aku bahkan tidak tahu harus membenci takdir atau diriku sendiri,” lanjut Kanaya. “Karena di saat aku mencoba melupakan dia… justru ada Nayara”
Tangannya gemetar pelan saat mengusap air mata.
“Aku sudah berusaha menjauh,” katanya lirih. “Aku mencoba membangun hidupku lagi. Aku mencoba menjadi kuat.”
Ia menatap Nayara lama.
“Tapi setiap melihat Nayara…”
Suaranya mulai pecah.
“Aku melihat Fatan.”
Sunyi kembali memenuhi ruangan.
Viktor menelan napas berat.
Ia tahu seberapa besar luka yang disimpan Kanaya selama ini.
Dan sekarang ia semakin memahami
kenapa wanita itu tidak pernah benar-benar bisa membuang masa lalunya.
Karena masa lalu itu hidup.
Bernapas.
Dan tertidur manis di sofa itu.
Viktor menghela napas panjang sebelum akhirnya berkata tegas,
“Masalahnya dia tidak bertanggung jawab.”
Kanaya memejamkan mata.
“Viktor…”
“Dia tidak pantas diakui sebagai seorang ayah,” lanjut Viktor lebih keras.
“Dia meninggalkanmu saat kamu hancur.”
“Dia tidak tahu tentang kehamilan ku”
“Dan apa semua itu mengubah segalanya?”potong viktor
Kanaya terdiam.
Viktor melangkah mendekat.
“Kanaya, dengarkan aku,” katanya lebih pelan sekarang. “Pria yang pantas disebut ayah bukan hanya karena darah.”
Tatapannya beralih pada Nayara
“Tapi karena tanggung jawab.”
Kanaya menggigit bibirnya kuat-kuat.
“Aku tahu…”
“Lalu kenapa kamu masih takut?”
Pertanyaan itu membuat Kanaya langsung menatap Viktor.
Air matanya kembali jatuh.
“Karena darah tidak bisa dibohongi, Viktor…”
Suaranya begitu lirih.
Begitu rapuh.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Viktor melihat ketakutan terbesar dalam diri wanita itu.
“Aku takut…” lanjut Kanaya sambil menangis pelan. “Aku takut Nayara suatu hari akan mencari ayahnya.”
Dadanya naik turun menahan sesak.
“Aku takut dia bertanya kenapa aku menyembunyikan semuanya.”
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Aku takut… dia membenci aku.”
Viktor langsung mendekat dan memegang bahu Kanaya perlahan.
“Hey…”
Kanaya menangis dalam diam.
“Aku tidak pernah berniat menjauhkan Nayara dari ayahnya,” ucapnya terbata. “Tapi aku juga tidak sanggup kembali mengingat semua rasa sakit itu.”
Viktor menatapnya dengan sorot mata sendu.
“Dan sekarang… dia kembali muncul,” lanjut Kanaya lirih. “Di depan mata Nayara”
Ia menggeleng pelan.
“Aku benar-benar takut.”
Viktor terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan,
“Apakah kamu masih mencintainya?”
Pertanyaan itu membuat Kanaya membeku.
Air matanya terus jatuh.
Namun kali ini…
ia tidak langsung menjawab.
Karena bahkan dirinya sendiri tidak tahu.
Yang ia rasakan sekarang terlalu rumit.
Ada luka.
Ada marah.
Ada kecewa.
Dan entah kenapa… masih ada rasa peduli yang belum benar-benar mati.
Kanaya menunduk semakin dalam.
“Aku tidak tahu,” jawabnya jujur.
Viktor mengangguk kecil.
Meski jawaban itu menusuknya.
Namun pria itu tetap tersenyum tipis.
Pahit.
“Aku sudah menduga,” katanya pelan.
Kanaya langsung mengangkat wajah.
“Viktor…”
“Aku bukan pria bodoh,” lanjutnya. “Aku tahu tidak mudah melupakan cinta pertama. Terlebih jika kamu memiliki anak darinya.”
Sunyi.
Viktor melirik Nayara lagi.
Tatapannya perlahan melembut.
“Namun satu hal yang harus kamu tahu,” katanya pelan.
Kanaya menatapnya.
“Aku tidak peduli Nayara anak siapa.”
Kanaya sedikit tertegun.
Viktor tersenyum kecil.
“Aku menyayanginya,” lanjutnya jujur. “Dan semua kenyataan ini tidak mengubah perasaanku padamu… ataupun pada Nayara.”
Air mata Kanaya kembali jatuh.
“Kenapa kamu selalu baik seperti ini…” bisiknya lirih.
Viktor tertawa kecil.
“Mungkin karena aku terlalu lama mencintaimu.”
Kalimat itu membuat hati Kanaya semakin sesak.
Viktor mengusap pelan air mata di pipi Kanaya.
“Aku hanya ingin kamu bahagia,” katanya lembut.
Kanaya memejamkan mata sesaat.
“Bagaimana kalau suatu hari Fatan tahu semuanya?” tanyanya pelan.
Viktor terdiam.
Pertanyaan itu memang tidak bisa dihindari selamanya.
Nayara semakin besar.
Dan wajah bayi itu…
semakin mirip Fatan.
Viktor menarik napas panjang.
“Kalau suatu hari dia tahu,” katanya perlahan, “maka keputusan tetap ada di tanganmu.”
Kanaya menatapnya lemah.
“Aku tidak siap menghadapi semua itu.”
“Aku tahu.”
Viktor menggenggam tangan Kanaya perlahan.
“Namun apa pun yang terjadi nanti…”
Tatapannya begitu serius.
“Aku tidak akan meninggalkan kalian.”
Kanaya langsung menunduk sambil menangis pelan.
Dan malam itu
di tengah semua luka, ketakutan, dan masa lalu yang kembali hidup
Kanaya akhirnya sadar satu hal.
Bahwa hidupnya tidak akan pernah sesederhana memilih melupakan.
Karena sebagian dari Fatan…
hidup dalam diri Nayara
Malam semakin larut.
Suasana rumah mulai tenang setelah tangis Kanaya perlahan mereda. Viktor masih duduk di sampingnya, sementara Nayara tertidur pulas di sofa kecil dekat mereka.
Lampu ruang keluarga yang temaram membuat suasana terasa hangat… namun juga penuh beban.
Kanaya menatap putrinya lama.
Wajah kecil itu begitu damai.
Tidak tahu apa-apa.
Tidak tahu bahwa keberadaannya kini menjadi pusat dari begitu banyak ketakutan.
Kanaya menghela napas pelan.
“Viktor…” panggilnya lirih.
“Hmm?”
Kanaya tampak ragu beberapa detik sebelum akhirnya berkata,
“Aku ingin meminta sesuatu.boleh???”
Viktor langsung menatapnya penuh perhatian.
“Apa pun.”
Kanaya menggenggam jemarinya sendiri pelan.
“Kalau suatu hari nanti Fatan mulai curiga…”
Suaranya mengecil.
“Aku ingin kamu tetap berada di sisi Nayara.”
Viktor mengernyit samar.
“Maksudmu?”
Kanaya menatapnya perlahan.
“Jadilah ayah Nayara di depan Fatan.”
Sunyi,,,,,
hati memang penuh misteri
aku berharap akan seru seterusnya
. tapi kenapa sepi ya?