"Jika besok pria tua itu datang lagi untuk menagih jawabanmu, katakan padanya kau lebih memilih membusuk di sel ini," suaranya rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.
Aku tersentak, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa? Kau... kau menyuruhku tetap di penjara ini?"
"Ya," sahutnya pendek. "Aku tidak ingin menikah. Terlebih lagi, aku tidak ingin menikah denganmu. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi jika melangkah masuk ke mansion utama sebagai istri seorang Grisham. Di sana, kau tidak akan hanya melihat darah, tapi kau akan mandi di dalamnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16.
Pagi itu, sinar matahari masuk menembus jendela dapur yang luas dan modern. Aku sudah bangun sejak fajar, rasa gelisah tentang pesta besok membuatku tidak bisa memejamkan mata lebih lama. Aku memutuskan untuk turun ke dapur, mengabaikan rasa nyeri yang masih tersisa di tubuhku.
"Nyonya! Apa yang Anda lakukan? Tolong, letakkan pisaunya," seru Marta panik saat melihatku mulai memotong sayuran.
Dua maid lainnya langsung berlari mendekat, mencoba mengambil alih talenan dari tanganku. "Ini tugas kami, Nyonya. Jika Tuan Muda tahu Anda berada di dapur, kami bisa dalam masalah besar."
Aku menggeleng tegas, tetap memegang pisau itu dengan mantap. "Biarkan aku melakukannya hari ini, Marta. Aku hanya ingin merasa berguna. Menunggu di kamar hanya membuatku gila. Aku ingin memasak sarapan."
Setelah perdebatan kecil yang cukup alot, akhirnya mereka mengalah meski tetap mengawasiku dengan wajah cemas. Aku memasak menu sederhana namun penuh rasa—nasi goreng bumbu rempah dengan telur mata sapi yang pinggirannya garing, persis seperti yang sering kubuat untuk Nenek. Aroma gurih mulai memenuhi ruangan, memberikan sedikit rasa hangat di mansion yang dingin ini.
Saat aku sedang menata piring di meja makan, aku baru menyadari kehadiran seseorang. Darrel berdiri di seberang meja, bersandar pada pilar marmer dengan tangan terlipat di depan dada. Kemeja putihnya digulung hingga siku, memperlihatkan perban bersih yang melilit lengannya. Dia memperhatikanku dengan tatapan datar yang sulit dibaca.
"Sudah selesai bermain?" tanyanya dingin sambil melangkah menuju kursi kebesarannya.
Aku tersentak, lalu perlahan meletakkan piring di hadapannya. "Aku memasak sarapan untukmu. Cobalah."
Darrel menatap piring itu, lalu beralih menatapku dengan sorot mata yang tajam. "Jangan lakukan ini lagi."
Aku tertegun, tanganku tertahan di udara. "Apa? Kenapa? Aku hanya ingin—"
"Aku melarangmu memasak atau menyentuh pekerjaan pelayan lagi di rumah ini," potongnya tanpa nada emosi.
"Aku bingung, Darrel," balasku dengan nada sedikit protes. "Kenapa aku dilarang melakukan hal sekecil ini? Aku bosan jika hanya diam."
Darrel menarik kursi, lalu duduk dengan tegak. "Tugasmu adalah bersikap seperti seorang Nyonya Grisham. Dan Nyonya Grisham tidak memegang spatula di dapur."
"Jadi, menjadi Nyonya Grisham artinya aku hanya boleh duduk manis, diam seperti patung, dan bergantung sepenuhnya pada para maid? Begitu?" tanyaku retoris.
Darrel hanya mengangguk tipis, sangat tipis hingga hampir tak terlihat. "Tepat sekali. Di dunia ini, tanganmu tidak boleh ternoda oleh minyak dapur atau debu. Tanganmu hanya boleh digunakan untuk memegang kekuasaan dan menjaga martabat. Biarkan orang lain yang melayanimu."
Aku menghela napas panjang, merasa sedikit kecewa. Namun, perdebatan itu terhenti saat Darrel mulai menyuapkan nasi goreng buatanku ke dalam mulutnya. Aku memperhatikannya dengan cemas. Dia mengunyah perlahan, wajahnya tetap datar seolah sedang memakan makanan hambar dari kantin rumah sakit.
Namun, saat piringnya hampir kosong, dia memberi isyarat pada Marta tanpa mengeluarkan suara. Marta segera mendekat dan menambahkan porsi kedua ke piring Darrel.
Aku tersenyum tipis, ada rasa hangat yang menjalar di dadaku. Dia tidak memujiku, bahkan tetap terlihat dingin, tapi fakta bahwa dia menambah porsinya adalah pujian tertinggi yang bisa kudapatkan darinya saat ini. Setidaknya, masakan si "penjual bunga" ini tidak mengecewakan lidah sang mafia.
Selesai makan, Darrel bangkit dan merapikan jam tangannya. "Aku berangkat kerja. Pengawal akan berjaga di setiap sudut. Jangan mencoba hal aneh."
"Tunggu, Darrel," panggilku saat dia hendak melangkah pergi. "Soal alat lukis di kamarku... aku melihatnya kemarin. Apakah kau suka melukis?"
Langkah Darrel terhenti. Bahunya tampak menegang sesaat. "Tidak. Aku tidak punya waktu untuk hal-hal tidak berguna seperti itu."
"Lalu milik siapa itu? Semuanya sangat lengkap dan berkualitas tinggi."
Darrel berbalik perlahan, matanya meredup, ada kilat kesedihan yang lewat begitu cepat sebelum kembali tertutup es. "Itu milik kakak laki-lakiku. Dia yang suka melukis sebelum... sebelum semuanya hancur."
Aku terdiam. Jadi itu milik kakaknya yang meninggal. Pria yang seharusnya memimpin klan ini.
"Bolehkah... bolehkah aku menggunakannya?" tanyaku ragu. "Aku sangat bosan, Darrel. Dan melukis adalah satu-satunya cara agar aku tidak kehilangan kewarasanku di sini."
Darrel terdiam cukup lama, menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia tampak sedang mempertimbangkan risiko membiarkan orang asing menyentuh peninggalan berharga kakaknya.
"Kumohon," bisikku lagi. "Aku akan menjaganya dengan sangat hati-hati."
Darrel menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. "Gunakan saja. Daripada kau terus-menerus mengacau di dapur. Tapi ingat, jangan pernah membawa alat-alat itu keluar dari kamar."
"Terima kasih, Darrel," ucapku tulus.
Dia tidak membalas. Dia hanya berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau obat yang samar.
**
Aku kembali duduk di depan kanvas yang masih memajang sketsa hutan fajar yang kemarin sempat tertunda. Jemariku gemetar pelan saat membuka kotak kayu jati yang berisi deretan kuas profesional itu. Namun, kali ini perhatianku tidak tertuju pada bulu kuasnya, melainkan pada gagang kayunya.
Di setiap pangkal kuas, terdapat ukiran halus berbentuk inisial: D.M.N.
Aku mengusap ukiran itu dengan ibu jariku. "D.M.N," bisikku pelan. "Siapa nama kakak Darrel?"
Nama itu terasa tidak asing di lidahku, seolah aku pernah mendengarnya di suatu tempat yang jauh, mungkin di masa lalu sebelum hidupku terjebak dalam pusaran klan Grisham. Apakah dia pria yang baik? Ataukah dia sama dinginnya dengan Darrel?
Rasa penasaran mulai menggerogoti pikiranku. Aku meletakkan kuas itu dan mulai mencari ke sekeliling kamar, berharap ada foto atau dokumen kecil yang terselip di antara perlengkapan lukis ini. Aku memeriksa laci-laci meja rias, di balik bingkai cermin, hingga ke sela-sela buku di rak kecil. Namun, hasilnya nihil. Tidak ada satu pun potret pria lain di ruangan ini selain kehadiran Darrel yang menghantui. Sepertinya keluarga Grisham benar-benar ahli dalam menghapus jejak orang yang sudah tiada.
"Mungkin lebih baik aku tidak tahu," gumamku sambil menghela napas panjang. "Mengetahui terlalu banyak di rumah ini hanya akan mendatangkan bahaya."
Aku mencoba menjernihkan pikiranku dan kembali fokus pada kanvas. Aku mengambil kuas dengan inisial D.M.N. itu, mencelupkannya ke dalam warna hijau gelap, dan mulai memoles bagian bayangan pepohonan.
Pikiranku sesaat melayang pada kejadian malam setelah pernikahan. Bekas-bekas kebrutalan dan gairah yang dipaksakan oleh obat itu masih terasa di tubuhku. Setiap kali aku menggerakkan bahuku, ada rasa kaku yang mengingatkanku bagaimana Darrel mencengkeramku. Namun, anehnya, ada rasa haru yang juga terselip saat mengingat bagaimana aku menjahit lukanya dan bagaimana dia diam-diam menjenguk Nenek setiap pagi.
"Kau pria yang rumit, Darrel Alaric Grisham," ucapku pada kanvas kosong itu.
Aku menuangkan seluruh emosi yang campur aduk itu ke dalam lukisan. Warna-warna yang tadinya lembut kini mulai kucampur dengan warna yang lebih berani dan gelap. Hutan itu kini tidak lagi sekadar tentang fajar; ia mulai terlihat seperti hutan yang menyimpan rahasia besar di bawah kabutnya.
**
Bersambung...
makin seruu dan bikin penasaran🥰
double up dong biar makin puas 😂
apakah Lily juga anak dari klan mafia juga? jadi penasaran 🤨🤨🤨
Lily ikuti kata Darren, cukup kamu tersiksa 30 hari + 9 bulan. setelahnya kamu bisa bebas ( mungkin 🤔)
seru banget ceritanya