Elisa pikir hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena laki-laki yang dia idamkan akan menikahinya. setelah mereka melakukan ta'aruf sebelumnya. Tapi bak disambar petir adiknya datang dan mengatakan jika calon suaminya mengatakan pernikahannya dibatalkan dulu. Tanpa alasan yang pasti.
Elisa merasa malu dan dikhianati, sampai seorang dokter datang dan mengatakan siap menikah dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Sepulang mengajar, suasana sekolah sudah mulai lengang. Saat Lilis baru saja selesai membereskan buku-bukunya di meja guru, Hana, rekan sesama guru sekaligus teman dekatnya, menghampiri dengan wajah ceria.
"Lis, nanti sore ikut aku nongkrong bentar yuk di kafe depan? Udah lama banget kita nggak ngopi bareng, ngobrol santai gitu," ajak Hana sambil merangkul lengan Lilis.
Tawaran Hana untuk sekadar melepas penat terdengar sangat menggoda. Ia merasa butuh waktu sejenak untuk menenangkan pikiran sebelum pulang ke rumah.
"Boleh, Han. Tapi tunggu sebentar ya, aku izin dulu sama Mas Arka," jawab Lilis sembari mengeluarkan ponselnya dari tas.
Ia segera mengetik pesan singkat untuk Arka, memberitahu bahwa mungkin akan pulang agak telat karena ingin mampir sebentar dengan Hana. Jempolnya sedikit ragu saat menekan tombol kirim, ia merasa perlu membiasakan diri untuk selalu transparan agar tidak memicu kesalahpahaman lagi seperti yang sudah-sudah.
"Aku tanya dulu ya, kalau diizinin, aku pasti ikut," tambah Lilis dengan senyum tipis.
Setelah mendapat balasan izin dari Arka yang kali ini mengizinkannya dengan catatan untuk tidak pulang terlalu malam Lilis dan Hana segera meluncur ke kafe langganan mereka. Kafe yang menyimpan banyak kenangan di masa awal mereka menjadi guru.
Setelah memesan dua kopi susu gula aren dan camilan ringan, suasana yang tadinya ceria perlahan berubah menjadi agak canggung. Lilis memperhatikan raut wajah Hana yang tampak tidak bersemangat sejak tadi.
"Tumben banget kamu ngajak nongkrong," Lilis membuka percakapan sambil mengaduk minumannya.
"Biasanya kamu langsung pulang kalau sudah jam segini. Pasti ada sesuatu, nih. Cerita, ada apa?"
Hana yang tadinya menatap keluar jendela, perlahan menundukkan kepala. Bahunya tampak turun, lesu. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya menatap Lilis dengan mata yang berkaca-kaca.
"Lis, aku... aku kayaknya sudah nggak kuat lagi," lirih Hana. "Aku kepikiran mau merantau aja ke luar kota, cari kerjaan lain."
Lilis mengerutkan dahi, terkejut mendengar keputusan drastis itu. "Merantau? Kenapa mendadak sekali? Apa yang bikin kamu sampai mikir begitu?"
Hana tersenyum pahit. "Gaji jadi guru itu nggak seberapa, Lilis. Kamu tahu sendiri kan, di sekolah kita gajinya berapa. Kadang aku merasa apa yang aku dapat tiap bulan itu kayak cuma lewat doang."
Ia meremas jemarinya di atas meja. "Ibu butuh pengobatan rutin, adikku juga baru masuk kuliah. Gaji guru honorer yang aku terima sekarang itu nggak akan bisa menutupi kebutuhan keluargaku, Lis. Aku merasa gagal kalau terus-terusan di sini dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan terus."
Lilis terdiam, hatinya mencelos mendengar pengakuan itu. Ia menatap Hana dengan simpati, menyadari bahwa di balik seragam rapi yang mereka kenakan setiap hari, ada perjuangan berat yang sering kali tidak terlihat oleh orang lain.
Lilis terdiam cukup lama, matanya menatap sendu ke arah Hana. Ia merasa sesak karena sebagai teman, ia pun sebenarnya tidak memiliki solusi finansial untuk membantu masalah Hana. Lilis sendiri pun tak bisa memberikan apa-apa untuk meringankan beban sahabatnya itu.
"Aku... aku nggak bisa larang kamu, Han," ujar Lilis dengan suara pelan dan berat.
"Aku tahu kamu pasti sudah memikirkan ini matang-matang. Tapi, apa keputusan kamu itu sudah benar-benar bulat?"
Lilis meraih tangan Hana, menggenggamnya erat untuk memberikan kekuatan. "Kamu tahu kan, adikmu kuliahnya di luar kota dan ibu kamu sendirian di rumah? Kalau kamu pergi merantau jauh untuk cari kerja, siapa yang akan jaga ibu kamu di sini? Aku takut nanti kamu malah kepikiran terus kalau ada apa-apa sama Ibu."
Hana menghela napas panjang, menatap cangkir kopinya yang kini tinggal separuh. "Itulah alasan kenapa aku masih bertahan sampai saat ini, Lis. Nggak lain karena Ibu. Aku nggak tega ninggalin ibu sendirian," ucapnya dengan nada suara yang bergetar.
"Tapi makin ke sini, makin sulit semuanya. Aku juga pengen merubah hidupku, pengen punya tabungan, bukan cuma cukup buat makan hari ini saja."
Lilis mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu mencoba menenangkan sahabatnya dengan memberikan sedikit nasihat. "Aku paham beratnya bebanmu, Han. Tapi buktinya, sampai sekarang kamu masih bisa kan? Kamu hebat bisa bertahan sejauh ini," ujar Lilis lembut.
"Adikmu juga pasti tahu kondisimu, dia anak yang pengertian. Nanti dia juga bakal cari kerja part-time sama seperti yang kita lakuin waktu kuliah dulu, kan? Jangan terlalu keras pada diri sendiri, Han. Kadang, kita cuma butuh sedikit waktu lagi sampai semuanya membaik."
Hana terdiam cukup lama, mencoba meresapi ucapan Lilis. Obrolan mereka terus mengalir hingga tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Sekitar dua jam berlalu, suasana kafe pun sudah mulai sepi, membuat keduanya akhirnya memutuskan untuk pulang.
Motor Hana berhenti tepat di depan pagar rumah Lilis. Lilis segera turun dari boncengan, namun pandangannya tertuju pada sebuah mobil yang terparkir rapi di halaman rumahnya.
Hana mengikuti arah pandang Lilis dan tersenyum tipis. "Kayaknya suami kamu sudah pulang, deh,"
Lilis menyipitkan mata, memperhatikan mobil yang sangat ia kenali itu.
"Eh, iya deh, kayaknya Mas Arka sudah sampai duluan," jawab Lilis.
"Kalau gitu, aku duluan ya, Lis," pamit Hana sembari menarik tuas gas motornya.
Lilis mengangguk, lalu melambaikan tangan. "Iya, hati-hati di jalan ya, Han. Sama makasih banyak buat hari ini. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan kabari aku, ya."
"Okee!" seru Hana sebelum akhirnya melaju meninggalkan pekarangan rumah Lilis.
Lilis membuka pintu rumah dengan perlahan. Begitu melangkah masuk, pemandangan yang menyambutnya cukup mengejutkan. Di halaman samping yang terhubung dengan ruang tengah, Arka terlihat sedang sibuk mengangkat jemuran. Ia sudah mengganti pakaian dengan kaus rumahan yang santai.
"Assalamualaikum, Mas," ucap Lilis sambil menutup pintu.
Arka menoleh ke arah sumber suara dengan senyum tipis. "Waalaikumsalam,"
"Mas cepat ya tadi pulangnya?"
Arka meletakkan tumpukan jemuran kering di kursi, lalu menatap Lilis. "Iya, tadi cuma visit sebentar saja," jawabnya.
"Tadi rencananya Mas mau jemput kamu, tapi pas Mas hubungi, kamu bilang lagi mau pergi dulu sama Hana."
"Iya, Mas. Hana tadi ngajak karena dia lagi banyak pikiran," jelas Lilis.
"Kamu juga, ya. Kalau ada sesuatu yang dipikirkan atau mengganjal di hati, langsung bilang sama Mas. Jangan dipendam sendiri," ucap Arka dengan nada penuh perhatian.
Lilis tersenyum tipis, merasa hatinya lebih tenang mendengar perhatian suaminya. "Iya, Mas. Aku ke kamar dulu ya, mau bersih-bersih," sahutnya sebelum beranjak meninggalkan Arka yang masih merapikan sisa jemuran.
suka aja sama ceritanya.