NovelToon NovelToon
Dinikahi Pak Dokter Tampan

Dinikahi Pak Dokter Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyelamat / Romansa Fantasi
Popularitas:148.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Elisa pikir hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena laki-laki yang dia idamkan akan menikahinya. setelah mereka melakukan ta'aruf sebelumnya. Tapi bak disambar petir adiknya datang dan mengatakan jika calon suaminya mengatakan pernikahannya dibatalkan dulu. Tanpa alasan yang pasti.

Elisa merasa malu dan dikhianati, sampai seorang dokter datang dan mengatakan siap menikah dengannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Sepulang mengajar, suasana sekolah sudah mulai lengang. Saat Lilis baru saja selesai membereskan buku-bukunya di meja guru, Hana, rekan sesama guru sekaligus teman dekatnya, menghampiri dengan wajah ceria.

"Lis, nanti sore ikut aku nongkrong bentar yuk di kafe depan? Udah lama banget kita nggak ngopi bareng, ngobrol santai gitu," ajak Hana sambil merangkul lengan Lilis.

Tawaran Hana untuk sekadar melepas penat terdengar sangat menggoda. Ia merasa butuh waktu sejenak untuk menenangkan pikiran sebelum pulang ke rumah.

"Boleh, Han. Tapi tunggu sebentar ya, aku izin dulu sama Mas Arka," jawab Lilis sembari mengeluarkan ponselnya dari tas.

Ia segera mengetik pesan singkat untuk Arka, memberitahu bahwa mungkin akan pulang agak telat karena ingin mampir sebentar dengan Hana. Jempolnya sedikit ragu saat menekan tombol kirim, ia merasa perlu membiasakan diri untuk selalu transparan agar tidak memicu kesalahpahaman lagi seperti yang sudah-sudah.

"Aku tanya dulu ya, kalau diizinin, aku pasti ikut," tambah Lilis dengan senyum tipis.

Setelah mendapat balasan izin dari Arka yang kali ini mengizinkannya dengan catatan untuk tidak pulang terlalu malam Lilis dan Hana segera meluncur ke kafe langganan mereka. Kafe yang menyimpan banyak kenangan di masa awal mereka menjadi guru.

Setelah memesan dua kopi susu gula aren dan camilan ringan, suasana yang tadinya ceria perlahan berubah menjadi agak canggung. Lilis memperhatikan raut wajah Hana yang tampak tidak bersemangat sejak tadi.

"Tumben banget kamu ngajak nongkrong," Lilis membuka percakapan sambil mengaduk minumannya.

"Biasanya kamu langsung pulang kalau sudah jam segini. Pasti ada sesuatu, nih. Cerita, ada apa?"

Hana yang tadinya menatap keluar jendela, perlahan menundukkan kepala. Bahunya tampak turun, lesu. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya menatap Lilis dengan mata yang berkaca-kaca.

"Lis, aku... aku kayaknya sudah nggak kuat lagi," lirih Hana. "Aku kepikiran mau merantau aja ke luar kota, cari kerjaan lain."

Lilis mengerutkan dahi, terkejut mendengar keputusan drastis itu. "Merantau? Kenapa mendadak sekali? Apa yang bikin kamu sampai mikir begitu?"

Hana tersenyum pahit. "Gaji jadi guru itu nggak seberapa, Lilis. Kamu tahu sendiri kan, di sekolah kita gajinya berapa. Kadang aku merasa apa yang aku dapat tiap bulan itu kayak cuma lewat doang."

Ia meremas jemarinya di atas meja. "Ibu butuh pengobatan rutin, adikku juga baru masuk kuliah. Gaji guru honorer yang aku terima sekarang itu nggak akan bisa menutupi kebutuhan keluargaku, Lis. Aku merasa gagal kalau terus-terusan di sini dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan terus."

Lilis terdiam, hatinya mencelos mendengar pengakuan itu. Ia menatap Hana dengan simpati, menyadari bahwa di balik seragam rapi yang mereka kenakan setiap hari, ada perjuangan berat yang sering kali tidak terlihat oleh orang lain.

Lilis terdiam cukup lama, matanya menatap sendu ke arah Hana. Ia merasa sesak karena sebagai teman, ia pun sebenarnya tidak memiliki solusi finansial untuk membantu masalah Hana. Lilis sendiri pun tak bisa memberikan apa-apa untuk meringankan beban sahabatnya itu.

"Aku... aku nggak bisa larang kamu, Han," ujar Lilis dengan suara pelan dan berat.

"Aku tahu kamu pasti sudah memikirkan ini matang-matang. Tapi, apa keputusan kamu itu sudah benar-benar bulat?"

Lilis meraih tangan Hana, menggenggamnya erat untuk memberikan kekuatan. "Kamu tahu kan, adikmu kuliahnya di luar kota dan ibu kamu sendirian di rumah? Kalau kamu pergi merantau jauh untuk cari kerja, siapa yang akan jaga ibu kamu di sini? Aku takut nanti kamu malah kepikiran terus kalau ada apa-apa sama Ibu."

Hana menghela napas panjang, menatap cangkir kopinya yang kini tinggal separuh. "Itulah alasan kenapa aku masih bertahan sampai saat ini, Lis. Nggak lain karena Ibu. Aku nggak tega ninggalin ibu sendirian," ucapnya dengan nada suara yang bergetar.

"Tapi makin ke sini, makin sulit semuanya. Aku juga pengen merubah hidupku, pengen punya tabungan, bukan cuma cukup buat makan hari ini saja."

Lilis mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu mencoba menenangkan sahabatnya dengan memberikan sedikit nasihat. "Aku paham beratnya bebanmu, Han. Tapi buktinya, sampai sekarang kamu masih bisa kan? Kamu hebat bisa bertahan sejauh ini," ujar Lilis lembut.

"Adikmu juga pasti tahu kondisimu, dia anak yang pengertian. Nanti dia juga bakal cari kerja part-time sama seperti yang kita lakuin waktu kuliah dulu, kan? Jangan terlalu keras pada diri sendiri, Han. Kadang, kita cuma butuh sedikit waktu lagi sampai semuanya membaik."

Hana terdiam cukup lama, mencoba meresapi ucapan Lilis. Obrolan mereka terus mengalir hingga tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Sekitar dua jam berlalu, suasana kafe pun sudah mulai sepi, membuat keduanya akhirnya memutuskan untuk pulang.

Motor Hana berhenti tepat di depan pagar rumah Lilis. Lilis segera turun dari boncengan, namun pandangannya tertuju pada sebuah mobil yang terparkir rapi di halaman rumahnya.

Hana mengikuti arah pandang Lilis dan tersenyum tipis. "Kayaknya suami kamu sudah pulang, deh,"

Lilis menyipitkan mata, memperhatikan mobil yang sangat ia kenali itu.

"Eh, iya deh, kayaknya Mas Arka sudah sampai duluan," jawab Lilis.

"Kalau gitu, aku duluan ya, Lis," pamit Hana sembari menarik tuas gas motornya.

Lilis mengangguk, lalu melambaikan tangan. "Iya, hati-hati di jalan ya, Han. Sama makasih banyak buat hari ini. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan kabari aku, ya."

"Okee!" seru Hana sebelum akhirnya melaju meninggalkan pekarangan rumah Lilis.

Lilis membuka pintu rumah dengan perlahan. Begitu melangkah masuk, pemandangan yang menyambutnya cukup mengejutkan. Di halaman samping yang terhubung dengan ruang tengah, Arka terlihat sedang sibuk mengangkat jemuran. Ia sudah mengganti pakaian dengan kaus rumahan yang santai.

"Assalamualaikum, Mas," ucap Lilis sambil menutup pintu.

Arka menoleh ke arah sumber suara dengan senyum tipis. "Waalaikumsalam,"

"Mas cepat ya tadi pulangnya?"

Arka meletakkan tumpukan jemuran kering di kursi, lalu menatap Lilis. "Iya, tadi cuma visit sebentar saja," jawabnya.

"Tadi rencananya Mas mau jemput kamu, tapi pas Mas hubungi, kamu bilang lagi mau pergi dulu sama Hana."

"Iya, Mas. Hana tadi ngajak karena dia lagi banyak pikiran," jelas Lilis.

"Kamu juga, ya. Kalau ada sesuatu yang dipikirkan atau mengganjal di hati, langsung bilang sama Mas. Jangan dipendam sendiri," ucap Arka dengan nada penuh perhatian.

Lilis tersenyum tipis, merasa hatinya lebih tenang mendengar perhatian suaminya. "Iya, Mas. Aku ke kamar dulu ya, mau bersih-bersih," sahutnya sebelum beranjak meninggalkan Arka yang masih merapikan sisa jemuran.

1
Sri Supriatin
seneng ada kemajuan buat Hana 😍😍🙏🙏
Sri Supriatin
kayanya hamidun tapi g ngidam...janinnya sembunyi🤭🤭🤭
Sri Rahayu
Lilis gundah gulana siapa pr bernama Alia yg chat Arka....kok Arka ga jelasin ke Lilis siapa itu Alia 😇😇😇...lanjut Thorr 😘😘😘
Karmina Karmina
alhamdulilah
akhirnya Hana bisa memaafkan da menerima Ilham
bahagia selalu Hana dan Ilham
Sri Supriatin
Semoga cepat tumbuh janinnya lilis n arka 🙏🙏😍😍
Sri Rahayu
kok Arka jd MANJA bgt...jgn2 Lilis bener hamidun sprt kata Hana 🙃🙃🙃😇😇😇 lanjut Thorr😘😘😘
Sri Rahayu
bagus Elham...kamu gentleman memilih pergi meninggalkan semua demi mempertahanksn kel kecil mu
Yati Susilawati
arka nggak ngasih tau tempat kerjanya?
Yati Susilawati
murid tk ada ujiannya?
Nice1808
jangan ada bibit pelakor ya thor, awas aja🤣🤣🤣
Nice1808
apa bibit pelakor thor🤣🤣
Sarinah Quinn
Hana gak usah keras kepala deh biar bagaimanapun elham Sd mau bertanggungjawab. gemas deh sama Hana jadi gak respect 😤
Aghitsna Agis
tjor jgn ada yg ganggu rumahtangga arka lah
Shabrina Darsih
good job elham benr2 tamggung jawab ke Hana berani melepaskan semua fasikitas dr ayah nua
Sri Supriatin
slmt Arka n Lilis semoga lancar menjalani ngidam😍😍
Aghitsna Agis
selamst srka lilis udah dapet titipan dari allah semiga dapat menjaga amanahnya
Sri Rahayu
aku jg bahagia mas Arka 🤩🤩🤩 atas kehamilan Lilis...semoga sehst trs sampe lahiran nanti...selamat ya Arka dan Lilis... lanjut Thort😘😘😘
Sri Rahayu
wah jgn badai lagi yg hrs dilalui Hana...dia uda bnyk melewati badai bekerja keras utk ibu dan adiknya...semoga dia akan bahagia bersama Elham...lanjut Thorr😘😘😘
Sri Rahayu
sebaiknya saling memaafkan...kan Elham uda menyadari kesalahan nya, meminta maaf dan mau bertanggung jaeab...damai ajalah...lanjut Thorr😘😘😘
Dar Pin
semoga bsdainya cepat berlalu beri kesempatan untuk Ilham menebus dosa nya 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!