NovelToon NovelToon
Istri Sempurna Pilihan Oma

Istri Sempurna Pilihan Oma

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

Oma frustasi memikirkan di dunia yang sudah berusia 33 tahun, mapan dalam pekerjaan tetapi tidak kunjung menikah. Melihat sekretaris Emir yang memiliki kepribadian yang baik membuat Oma kepikiran untuk menjodohkan mereka.
Sudah pasti Emir menolak, Oma melakukan berbagai hal sampai akhirnya Emir dengan Ayana pilihan Oma bersatu dalam jeratan pernikahan.

Bagaimana keduanya menjalani pernikahan dan hubungan pekerjaan yang cukup dekat?
Apakah pada akhirnya keduanya sama-sama memiliki perasaan atau justru pernikahan mereka tidak ada bedanya dan hanya sebatas pekerjaan saja.

Mari untuk membaca Novel Saya dari bab 1 sampai akhir, dan terus ikuti jawabannya di setiap bab.

Terimakasih....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34 Niat Jahat.

Situasi seketika berubah dan Andhika merasa tidak enak dengan apa yang baru saja dilaporkan kliennya atas tindakan sekretarisnya yang mungkin membuat Emir tersinggung

"Saya minta maaf untuk hal ini dan mungkin ada kesalahpahaman yang terjadi, saya akan berbicara empat mata dengan sekretaris saya untuk membahas masalah ini, saya mohon untuk kedepannya tidak terjadi hal seperti ini lagi," ucap Andhika.

"Saya juga mengharapkan hal yang sama Karena bagaimanapun kita adalah rekan kerja dan kita sama-sama berada dalam dunia bisnis yang kita tahu ada hal yang perlu dan tidak perlu untuk diberitahu," sahut Emir.

"Baik, tuan Emir .... Hmmmm.... untuk menebus kesalahan saya, dokumen tersebut akan dikerjakan oleh sekretaris saya agar Tuan Emir tidak terkendala," ucap Andhika menawarkan karena merasa tidak enak.

"Tidak perlu, Pak. Saya akan mengerjakan sendiri, masih ada waktu beberapa menit lagi," sahut Ayana menolak.

"Sungguh Ayana, kamu tidak masalah sama sekali?" tanya Andhika merasa tidak enak.

"Tidak! Pak," jawabannya.

"Mungkin apa yang dikatakan sekretaris saya sudah jelas, besar harapan saya untuk kedepannya hal ini tidak akan terjadi lagi," ucap Emir.

"Ayo!" ajak Emir berjalan terlebih dahulu disusul Ayana dan sebelum itu menundukkan kepalanya kepada Emir.

"Lastri, apa yang kamu lakukan sungguh sangat mengecewakan saya, tidak seharusnya kamu mengambil tindakan seperti itu dan ini sama saja memalukan!" tegas Andhika menegur Lastri.

"Maaf, pak. Tetapi apa yang dikatakan Ayana tidak sepenuhnya benar dan saya juga tidak mencari pembelaan karena takut masalah akan semakin besar," sahut Lastri.

"Kamu masih tidak mengakui kesalahan kamu?" tanya Andhika

"Bukan itu maksud saya. Pak, tetapi......"

"Sudah cukup!" Andhika mengangkat tangan untuk tidak mendengarkan pembicaraan harus sekretarisnya itu lagi.

"Saya tidak ingin kejadian ini terulang lagi dan kamu ambil sebagai pelajaran," ucap Andhika berlalu dari hada Lastri.

"Sial! Apa-apaan dia, kenapa sekarang aku yang jadi di pojokan, Ayana dibilang semua orang dan termasuk Emir. Kita lihat saja nanti pria sombong seperti dia apakah bisa bertahan dan aku akan membuatnya berlutut padaku," gumam Lastri penuh rencana.

Entah apa saat ini yang dia rencanakan dan sepertinya memang ada sesuatu yang ingin dia lakukan.

****

Ayana saat ini bersama dengan pimpinannya berada di ruang rapat besar. Meja panjang yang disusun dengan rapi kursi saling berhadapan.

Banyak orang-orang asing dalam pertemuan forum kerjasama bisnis itu. Mereka juga didampingi sekretaris dan juru bicara sebagai penerjemah karena tidak semuanya bisa menggunakan bahasa Inggris.

Tetapi untung Emir tidak perlu menggunakan penerjemah karena dia sendiri bisa menggunakan bahasa Inggris dan terlebih lagi sekretarisnya juga menguasai banyak bahasa yang terkadang meringankannya untuk mengerjakan segala keperluan bisnis dan berkomunikasi dengan rekan bisnis asing.

Seperti biasa suasana rapat terlihat begitu tenang, berbicara dengan formal, tanpa ada perdebatan, benar benar komunikasi berjalan dengan lancar dengan menyampaikan pendapat masing-masing.

Ditengah rapat itu tiba-tiba saja Emir tertuju pada Andhika yang duduk di hadapannya, ternyata tatapan Andhika fokus pada sekretarisnya, seperti biasa Emir tidak suka dengan hal itu, tetapi tidak mungkin menegur.

Untung saja sekretarisnya itu sibuk mencatat dan tidak memperhatikan pandangan Andhika terhadap dia.

Rapat dilaksanakan selama 3 jam dan akhirnya rapat itu selesai dengan keputusan yang baik dan semua para pimpinan itu saling berjabat tangan dengan sangat akrab yang akhirnya satu persatu meninggalkan ruang rapat tersebut.

Emir dan Ayana juga menyusul keluar dari ruang rapat tersebut.

"Kamu sudah menyimpan semua file yang telah diberikan tadi?" tanya Emir.

"Hmmm, sudah. Pak," jawabnya.

"Baguslah," sahut Emir.

"Hmmmm, apa kita melanjutkan untuk makan siang atau kembali ke hotel dulu, masih ada waktu 1 jam lagi," ucap Ayana.

"Kita langsung lanjutkan makan siang saja, yang lain juga sepertinya langsung ke tempat lokasi," jawab Emir.

"Baik. Pak," sahut Ayana menganggukan kepala menurut apa yang dikatakan Emir.

****

Rapat berakhir dilanjutkan dengan makan siang. Semua para penghuni rapat kembali dijamu dengan baik oleh pelayan yang menyiapkan banyak makanan di atas meja.

Suasana makan siang juga terlihat tenang, hanya terdengar suara dentingan sendok dan berbicara secara pelan-pelan, meja bulat yang disusun dengan rapi dengan 4, 5 kursi, diberikan lapis berwarna putih dengan beberapa meja yang tersusun seperti di restoran mewah.

Banyak makanan yang disiapkan, para tamu yang menghadiri acara makan siang itu cukup meminta kepada pelayan dan akan diantarkan ke meja mereka. Tetapi ada juga yang memilih untuk mengambil sendiri. Seperti ala-ala prasmanan.

Emir harus satu meja kembali dengan Andhika dan sudah pasti sekretarisnya. Ayana belum duduk di tempat itu karena masih mengambil makanan Emir. Tidak lama akhirnya Ayana kembali.

"Ini. Pak," ucap Ayana meletakkan piring berwarna putih itu tepat dihadapan Emir yang diisi makanan sudah pasti makanan yang di Emir tanpa mengatakan apapun kepada Ayana.

Hal itu ternyata mencuri perhatian Lastri dan juga Andhika, dalam pandangan mereka pimpinan dan sekretaris itu seperti pasangan suami istri.

"Hmmm, saya mengambil makanan dulu," ucap Ayana yang memang belum mengambil makanan untuk dirinya sendiri.

"Ayana biar saya saja yang ambil. Kamu duduklah!" Andhika berdiri dari tempat duduknya.

"Tidak! Pak," Ayana menjawab dengan cepat.

"Tidak apa-apa, saya juga ingin menambah makanan saya dan saya juga tahu apa yang kamu mau. Jadi tunggu saja di sini!" Andhika tetap pergi untuk mengambil makanan tersebut Ayana tidak bisa mencegah dan merasa tidak enak

Emir sampai menghela nafas, Andhika benar-benar effort pada Ayana sampai-sampai ingin mengambil makanan untuk Ayana.

Emir hanya berusaha untuk menyembunyikan kekesalannya, walau lagi dan lagi menurut Emir suasana makan siang itu terasa tidak enak.

Andhika sudah kembali bergabung bersama mereka, Andhika mengambil makanan yang ternyata Ayana dan mungkin benar apa yang Andhika jika makanan itu sudah pasti ke Ayana.

Emir lebih banyak diam dan justru yang banyak bicara Andhika, yang beberapa kali mempertanyakan Ayana dan Ayana tidak terlalu merespon dan terkadang hanya menjawab dengan satu kata dan bahkan hanya menganggukkan kepala. Tetapi Andhika tetap saja mengajak Ayana untuk berbicara.

Setelah acara makan siang selesai. Ayana dan Emir kembali ke hotel tanpa berbincang-bincang lagi dengan Andhika. Emir merasa tidak perlu membangun keakraban kliennya itu. Hanya saja Andhika yang terus memulai komunikasi, sok akrab dan terlebih lagi sering membicarakan masa-masanya saat satu kampus bersama dengan Ayana.

Tidak lupa dengan banyak pujian yang Andhika, mungkin memiliki perasaan spesial untuk gadis yang sudah bersuami itu.

"Pak...." tegur Ayana berdiri di belakang Emir yang saat ini melepas sejenisnya dan menetapkan sofa.

"Ada apa?" tanya Emir.

"Saya boleh tidak untuk tidak ikut acara perayaan nanti malam?" tanyanya dengan gugup.

"Kenapa?" tanya Emir.

"Saya kurang enak badan, lagi pula itu hanya acara perayaan saja dan tidak ada urusan pekerjaan, menurut saya tidak masalah untuk tidak hadir di acara perayaan perpisahan itu," jawab Ayana.

Emir memperhatikan dengan detail sekretarisnya itu, memang terlihat Ayana kurang fresh.

"Ya sudah, kamu istirahat saja, saya akan pergi sendiri, saya juga sebenarnya malas untuk pergi, tetapi untuk menghargai rekan-rekan saya dan tidak ada salahnya untuk pergi," jawab Emir.

"Baik. Pak," jawab Ayana dengan menganggukkan kepala.

Bersambung....

1
Oma Gavin
wah emir jadi sasaran empuk lastri nanti pakai jurus pamungkas obat lucknut biar emir kepanasan dan majuk jebakan lastri
shinta liliand
emir gk gentle bgt jd cowok.. tp jg kaasae ngomong sama omanya hmmm susaaah
Enz99
bagus
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Dew666
💜💜💜💜
Dew666
🍎🍎🍎
nurlizan lizan
thor lbh teliti lg, bnyak typo🙏
Dew666
💝💝💝
Ridwani
👍👍👍👍👍👍
Dew666
👄👄👄
Ridwani
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!