NovelToon NovelToon
Istri Kepala Desa

Istri Kepala Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.

​Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 8

***

Gema gamelan dari balai desa perlahan memudar, digantikan oleh suara jangkrik yang mulai bersahutan di sela-sela rumpun bambu belakang rumah. Acara Bersih Desa telah usai dengan sukses besar. Namun, bagi Laras, selesainya acara publik hanyalah tanda dimulainya tugas domestik yang tak kalah menguras tenaga.

Rumah pribadi milik Bagas itu terasa sunyi namun berantakan. Gilang dan Arka pulang dengan kondisi yang memprihatinkan kaos mereka penuh noda tanah cokelat, lutut menghitam, dan keringat yang mengering meninggalkan bau matahari yang tajam. Mereka terlalu asyik bermain bola plastik dengan anak-anak warga di lapangan balai desa tadi.

"Ayo, Gilang, Arka... masuk kamar mandi dulu. Lihat itu, badannya sudah kayak kerupuk jatuh ke tanah," ucap Laras sambil berusaha mengatur napas.

Tulang punggungnya terasa seperti berderak setiap kali ia melangkah. Perut tujuh bulannya kini terasa sangat keras dan turun, memberikan tekanan yang luar biasa pada panggulnya. Laras menggiring kedua anaknya ke kamar mandi belakang yang lantainya masih sedikit licin.

"Nggak mau mandi, Mah! Dingin!" rengek Arka sambil mencoba kabur ke arah ruang tengah.

"Nggak dingin, Sayang. Mamah pakai air hangat sedikit ya? Ayo, kalau nggak mandi nanti gatal-gatal, lho," bujuk Laras. Dengan sapaan lembut namun tegas, ia menangkap tangan kecil Arka.

Laras pun harus berjongkok posisi yang sangat menyiksa bagi wanita dengan perut sebesar itu. Ia duduk di kursi kecil plastik, memegang gayung dengan tangan yang gemetar karena kelelahan. Ia menyabuni punggung Gilang, lalu beralih ke Arka yang terus bergerak lincah, memercikkan air ke daster Laras.

"Gilang, diam dulu, Nak. Mamah susah gosoknya," Laras meringis saat ia harus membungkuk lebih dalam untuk membilas kaki mereka.

Setiap gerakan menyiram air terasa seperti beban berton-ton yang menekan pinggang bawahnya. Uap air hangat di kamar mandi yang sempit membuat napasnya kian sesak. Peluh dingin bercampur air sabun mengalir di wajahnya. Setelah hampir tiga puluh menit berjibaku dengan dua balita yang licin dan berisik, akhirnya urusan mandi selesai.

**

Pukul sembilan malam, suasana rumah mulai tenang. Gilang dan Arka, yang energinya habis tak tersisa, sudah tertidur pulas di kamar mereka. Wajah mereka tampak begitu damai, kontras dengan gejolak yang dirasakan Laras.

Laras duduk di pinggir tempat tidur kamarnya sendiri. Ia baru saja mengganti dasternya dengan yang bersih, namun rasa lengket karena lelah seolah tak kunjung hilang. Ia menuangkan minyak urut ke telapak tangannya, lalu perlahan mengoleskannya ke pergelangan kaki yang membengkak parah. Kulit di sekitar mata kakinya tampak kencang dan kemerahan akibat edema.

"Aakh..." Laras mendesis pelan saat jemarinya menekan urat di betisnya yang kaku.

Pintu kamar terbuka. Bagas masuk dengan wajah yang berseri-seri, melonggarkan kancing seragamnya dengan gerakan penuh kemenangan.

"Ras! Kamu tahu nggak apa kata Pak Camat tadi?" tanya Bagas tanpa basa-basi, suaranya terdengar sangat puas. "Beliau bilang, sepanjang karirnya, baru kali ini melihat dapur umum desa yang begitu tertata dan bersih. Beliau puji kamu habis-habisan di depan pejabat kabupaten!"

Laras memaksakan senyum, tangannya terus memijat kaki. "Alhamdulillah kalau beliau senang, Mas."

Bagas duduk di samping Laras, memperhatikan istrinya yang sedang mengurut kaki. "Kamu memang hebat, Ras. Nggak salah aku pilih kamu. Kamu benar-benar menjaga mukaku di depan atasan."

Bagas mengambil botol minyak urut dari tangan Laras. "Sini, biar Mas yang teruskan. Istriku yang hebat ini harus dimanja."

Laras terdiam saat tangan kekar Bagas mulai memijat betisnya. Ada rasa hangat yang menjalar, namun pikirannya justru melayang pada nasihat Mbah Darmi siang tadi di dapur balai desa. Jangan pernah menolak kalau Pak Lurah 'minta'... Laki-laki kalau nggak kenyang di rumah, nyari 'jajan' di luar.

Laras menatap punggung Bagas. Jujur saja, ia sendiri tidak tahu apakah perasaan yang ia miliki saat ini adalah cinta. Mereka menikah karena perjodohan kilat tepat setelah ia lulus SMA. Ia tidak pernah diberi waktu untuk mengenal pria ini lebih dalam sebelum akhirnya rahimnya diisi oleh anak-anak Bagas. Baginya, Bagas adalah suami yang baik namun dominan, yang menganggap pengabdian Laras sebagai hal yang memang sudah semestinya.

"Mas..." lirih Laras.

"Kenapa, Sayang?" Bagas mendongak, matanya berkilat penuh gairah yang tidak bisa disembunyikan. Pijatan di kaki Laras perlahan bergerak naik ke arah paha.

"Laras capek sekali malam ini, Mas. Badannya rasanya kayak mau remuk," ucap Laras, mencoba memberikan sinyal penolakan halus.

Bagas menghentikan pijatannya, ia mendekat dan memeluk pinggang Laras dari samping, menyandarkan dagunya di bahu Laras yang lemas. "Mas tahu kamu capek. Tapi Mas lagi senang banget, Ras. Mas mau merayakan suksesnya acara hari ini sama kamu. Lagipula, Mas kangen. Seharian tadi kita cuma sibuk sama warga terus."

"Tapi anak-anak..."

"Anak-anak sudah tidur pulas. Nggak akan ada yang ganggu," potong Bagas lembut namun tegas. Ia mulai menciumi leher Laras, memberikan sentuhan-sentuhan yang menuntut jawaban.

Laras memejamkan mata. Bayang-bayang ketakutan akan suaminya yang berpaling jika tidak dilayani mulai menghantui benaknya. Rasa bersalah sebagai istri seolah mencekik keinginannya untuk sekadar berbaring diam. Dengan napas berat, Laras akhirnya berbalik, menyambut pelukan Bagas.

Bagas merebahkan Laras dengan sangat berhati-hati di atas ranjang kayu mereka. Ia menyangga punggung istrinya dengan bantal tambahan, sangat paham bagaimana posisi yang paling aman untuk perut sebesar itu.

"Pelan-pelan ya, Mas... Adiknya lagi aktif nendang," bisik Laras saat ia merasakan janin di perutnya bergejolak hebat, seolah sang anak di dalam sana juga merasakan kegelisahan ibunya.

"Iya, Sayang. Mas akan pelan banget," janji Bagas serak.

Cahaya lampu kamar yang temaram menyelimuti suasana yang kian panas. Bagas memulai dengan sentuhan-sentuhan penuh pengalaman, mencoba membangkitkan gairah Laras yang sebenarnya terkubur oleh rasa lelah. Laras hanya bisa merespons dengan rintihan halus, mencoba mengabaikan rasa nyeri di pinggangnya yang seolah ditarik-tarik.

Sentuhan Bagas kian dalam, merambah ke area-area sensitif yang membuat napas Laras mulai memburu. Di tengah kelelahan fisiknya, insting alaminya sebagai wanita mulai mengambil alih. Rintihan-rintihan tertahan mulai lolos dari bibir Laras saat Bagas memberikan perhatian lebih pada tubuhnya yang kian sensitif di masa kehamilan tua ini.

"Ahhh... Mas Bagas... nngghh..." rintih Laras, jemarinya meremas bahu suaminya, mencari pegangan di tengah gelombang nikmat yang dipaksakan.

Bagas bergerak dengan ritme yang sangat terjaga, erangan kepuasan terdengar rendah dari tenggorokannya. Ia menatap wajah Laras yang kemerahan dengan penuh kebanggaan kebanggaan seorang pria yang merasa memiliki segalanya: kekuasaan di desa dan ketaatan di tempat tidur.

"Kamu... ahh... luar biasa, Ras... Mas sayang kamu," gumam Bagas di sela-sela napasnya yang tersengal.

Siang yang melelahkan di balai desa berganti menjadi malam yang intens di kamar ini. Desahan Laras yang panjang bersahutan dengan erangan puas Bagas, menciptakan simfoni yang ironis antara pengabdian total dan keletihan raga. Laras memberikan segala yang ia miliki—jiwa dan raganya—demi menjaga keharmonisan yang selalu dipuja warga desa.

Setelah mencapai puncaknya, Bagas terkulai lemas di samping Laras, memeluk istrinya dengan erat. "Terima kasih, Sayang. Kamu memang istri terbaik."

Laras terengah-engah, matanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Rasa perih di pinggangnya kembali menyerang dengan lebih hebat. Di tengah pelukan suaminya, Laras hanya ingin segera memejamkan mata, membiarkan jiwanya istirahat sejenak dari dunia yang menuntutnya menjadi sempurna di setiap detik hidupnya.

****

Bersambung....

1
Paradina
😍
Heresnanaa_: Stay tune terus ya kak🙏😍
total 1 replies
arniya
mampir kak, bab pertama udh gereget sm Bagas
Heresnanaa_: Hai Kaka, terimakasih sudah mampir

happy reading yaa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!