Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.
Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.
Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.
"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.
Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Xin Yi tidak menolak pemberian itu. Ia mengambil kunci tersebut dan menyimpannya ke dalam saku celananya.
"Terima kasih, Ayah," ucapnya singkat dan sopan.
Sebenarnya, ia menyadari bahwa ia tidak bisa tinggal di rumah ini selamanya. Suasana di sana kadang terasa terlalu kaku dan canggung, penuh dengan tatapan dan perasaan yang rumit. Memiliki tempat sendiri di masa depan terdengar seperti ide yang cukup baik.
Setelah percakapan singkat itu, Xin Yi kembali naik ke kamarnya, sementara ayahnya masuk ke ruang kerja untuk kembali sibuk dengan urusan bisnisnya. Xin Yuning pun entah ke mana, tidak terlihat di ruang makan.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian bersih, Xin Yi turun untuk sarapan. Ia baru saja menghabiskan segelas susunya, ketika terdengar langkah kaki tegas dari arah tangga.
Xin Yuning muncul dengan penampilan yang sangat rapi dan modis, berbeda dengan saat ia baru bangun tidur tadi.
"Ayo, bersiaplah. Aku akan mengajakmu keluar," ucapnya langsung.
"Mau ke mana?" tanya Xin Yi sambil mengelap mulutnya.
"Membelikanmu sepatu baru. Ukuran kakimu kecil, tapi sepatu yang kau pakai itu terlihat seperti sepatu yang digunakan untuk aktivitas berat, tidak pantas untuk acara pesta nanti," jelas Yuning singkat.
Xin Yi mengernyitkan dahi. "Sepatuku masih bagus dan kuat."
Xin Yuning menghela napas panjang menahan rasa gemas. Adiknya ini benar-benar tidak tahu cara menerima perhatian dengan wajar atau menikmati hal-hal yang nyaman.
"Sudahlah, ikut saja. Jangan banyak bertanya," potongnya tegas namun tidak marah.
Xin Yi akhirnya mengangguk patuh. Ia kembali naik ke atas untuk berganti pakaian agar lebih nyaman.
Beberapa saat kemudian, ia turun kembali. Kali ini ia mengenakan jaket tebal berukuran agak besar yang menutupi bahunya, celana pendek hitam, dan di tangannya ia membawa sepasang sepatu bot kulit hitam yang tampak kokoh.
Di momen yang sama, Huo Feilin baru saja keluar dari kamarnya. Ia mendengar suara mesin mobil dinyalakan dan melaju meninggalkan halaman rumah.
"Bibi Ming, kemana anak-anak pergi?" tanyanya sambil merapikan syal di lehernya.
Bibi Ming tersenyum ramah sambil menjawab:
"Tuan Muda Yuning mengajak Nona Xin Yi pergi keluar, Nyonya. Katanya... beliau ingin membelikan sepatu baru untuk Nona."
Mata Huo Feilin sedikit berbinar mendengarnya. Ia tersenyum tipis.
Ternyata, putranya benar-benar sudah mulai menerima keberadaan gadis itu.
Setengah jam kemudian, di ruang VIP sebuah butik sepatu mewah langganan keluarga.
Xin Yuning duduk bersandar di sofa dengan wajah yang terlihat sangat gelap dan lelah. Ia merasa energinya terkuras habis hanya untuk berurusan dengan satu orang: adiknya.
Di lantai ruangan itu, berantakan dengan puluhan kotak sepatu yang sudah dibuka. Pasangan sepatu cantik, elegan, dan mahal telah dicoba satu per satu oleh Xin Yi, namun semuanya ditolak mentah-mentah.
"Kenapa tidak mau yang ini? Ini model terbaru dan sangat cocok dengan gaunmu," tanya Yuning lagi tak sabar.
Xin Yi menggeleng dengan tegas, menatap sepatu bersol tinggi itu dengan tatapan jijik.
"Tidak mau. Mereka terlihat terlalu rapuh dan tidak kokoh," jawabnya jujur. "Lagipula, jika aku memakainya, aku takut kakiku akan mengalami keseleo atau cedera saat berjalan. Solnya terlalu tinggi dan sempit."
Dasar gadis keras kepala! Ia sama sekali tidak memikirkan estetika, yang ada di pikirannya hanyalah fungsi dan kekuatan!
Xin Yuning memijat pelan pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Dengar baik-baik, Xin Yi. Kita ini akan pergi ke pesta gala, bukan pergi mendaki gunung! Di acara seperti itu, wanita harus memakai sepatu hak tinggi agar penampilannya terlihat sempurna dan anggun!" tegasnya.
"......"
Xin Yi menatap deretan sepatu hak tinggi itu satu per satu. Di dalam imajinasinya, ia ingin sekali melempar semua benda aneh dan tidak nyaman itu ke dalam perapian agar hangus terbakar.
Mengapa manusia, terutama wanita, harus menyiksa diri memakai benda seperti ini hanya demi terlihat 'cantik'? Baginya, itu sama saja dengan membiarkan diri dibatasi oleh pakaian.
Para staf dan pelayan toko yang berdiri di sudut ruangan hanya bisa saling bertatapan sambil menahan senyum.Mereka merasa situasi ini cukup lucu namun juga sedikit kasihan pada Tuan Muda Xin.
Lucu karena sang adik memiliki selera yang sangat praktis dan berorientasi pada fungsi, berbeda jauh dengan remaja putri seusianya yang biasanya suka hal-hal yang berkilau.
Dan kasihan karena terlihat jelas bahwa kakaknya sangat berusaha keras agar adiknya bisa tampil cantik dan pantas, namun menemui perlawanan yang sengit.
Melihat suasana yang mulai memanas, salah satu petugas wanita yang berpengalaman segera maju pelan memberikan saran.
"Maaf mengganggu, Tuan Muda, Nona Muda..."ucapnya sopan.
"Bagaimana jika Nona mencoba model sepatu dengan hak pendek saja? Tingginya tidak terlalu ekstrem, hanya sekitar tiga sampai empat sentimeter. Lebih aman, keseimbangannya terjaga, namun tetap bisa membuat penampilan terlihat lebih rapi dan anggun."
Mendengar saran itu, Xin Yuning menghela napas panjang dan mengangguk cepat.
"Ide bagus! Cepat ambilkan model seperti itu!"
Tidak butuh waktu lama, petugas lain datang berjalan tergesa-gesa sambil membawa sebuah kotak sepatu berwarna emas.
Di dalamnya terdapat sepasang sepatu bot kulit hitam yang elegan namun tetap terlihat kokoh. Haknya tidak tinggi, hanya sedikit menonjol, desainnya tertutup dan sangat nyaman, cocok dengan selera Xin Yi yang menyukai hal-hal yang praktis dan aman.
"Bagaimana, Nona? Apakah model seperti ini bisa diterima?" tanya petugas itu penuh harap.
Xin Yuning mengerutkan keningnya dalam-dalam, menatap sepatu bot kulit hitam yang kokoh itu dengan wajah tidak setuju.
"Bagaimana mungkin..." gumamnya pelan."Desainer sudah menyiapkan gaun berwarna hijau lembut dengan potongan yang sangat anggun dan feminin. Jika kau memakai sepatu sekeras dan segarang ini..."
Ia membayangkan kombinasinya di dalam kepala dan merasa gemetar.
"...benar-benar tidak bisa dibayangkan! Itu akan terlihat aneh! Seperti peri cantik yang memakai sepatu untuk mendaki gunung!" serunya kesal.
"....."
Xin Yi yang sedang memegang sepatu itu hanya mendengus pelan.
"Sepatu ini nyaman dan kuat. Kalau harus memakai yang tipis dan runcing itu, aku tidak menjamin bisa berdiri tegak sampai acara selesai," jawabnya santai namun tegas.
Petugas toko kembali tersenyum canggung, lalu segera menawarkan alternatif lain.
"Ehm... bagaimana jika yang ini, Nona? Sepatu dengan hak rendah namun terlihat elegan, warnanya emas dan dihiasi manik-manik kecil. Pasti akan sangat cocok dengan gaun warna hijau," ucapnya sambil membuka kotak baru.
Xin Yi menatap sepatu berwarna mengkilap itu dengan tatapan menilai. Masih terlihat... terlalu rapuh baginya. Tapi melihat wajah kakaknya yang semakin gelap, akhirnya ia menghela napas panjang.
"Baiklah... yang ini saja," ucapnya pasrah."Tapi ingat, kalau kakiku sakit, akulah yang akan menderita, bukan kalian."
Xin Yuning langsung tersenyum puas."Sudah itu saja! Bungkus! Dan ambil juga sepatu bot tadi untuk dipakai sehari-hari!"
Akhirnya, perang belanja hari ini dimenangkan oleh pihak kakak, meski adiknya terlihat sangat terpaksa.
Setelah urusan sepatu selesai, Xin Yuning kembali mengajak adiknya berpindah tempat. Kali ini mereka menuju butik perhiasan terkenal di pusat perbelanjaan mewah tersebut.
Xin Yuning memilihkan dengan teliti sebuah set perhiasan yang sederhana namun berkelas. Sebuah kalung dengan liontin kecil dan sepasang anting yang tidak terlalu mencolok, namun cukup untuk menambah kesan anggun pada penampilan Xin Yi nanti malam.
Anehnya, kali ini Xin Yi tidak banyak protes atau menolak. Ia hanya berdiri diam membiarkan kakaknya memakaikan aksesori itu dan menilai hasilnya. Mungkin ia sadar bahwa untuk urusan estetika, kakaknya jauh lebih mengerti daripada dirinya.
Siang harinya, mereka memutuskan untuk makan siang di salah satu restoran favorit di mal tersebut.
"Apa yang ingin kau makan? Pesanlah sesukamu," tawar Xin Yuning dengan senyum lebar.
Xin Yi memandang daftar menu sebentar, lalu menunjuk salah satu gambar dengan tegas.
"Aku ingin ayam goreng."
Mendengar permintaan itu, hati Xin Yuning terasa sangat hangat dan senang.
Akhirnya, adiknya ini mau bersikap wajar dan berani meminta sesuatu yang ia suka! Bukan lagi selalu menjawab 'tidak apa-apa' atau 'terserah'.
"Baik! Pesanlah sebanyak yang kau mau! Hari ini Kakak yang traktir, makanlah sampai puas!" serunya antusias, siap memanjakan adiknya sepuas hati.
Namun, kenyataan sedikit berbeda dengan ekspektasinya.
Meskipun memesan ayam goreng, Xin Yi memakannya dengan sangat terukur. Ia hanya mengambil beberapa potong kecil, menyantapnya bersama salad sayuran yang banyak, dan minum air putih.
Ia tidak melahapnya dengan rakus atau memesan berbagai jenis makanan berminyak lainnya seperti anak-anak pada umumnya. Gaya hidup sehat yang ia terapkan selama bertahun-tahun tidak bisa berubah hanya karena sekarang ia punya uang atau sedang dimanja.
Xin Yuning yang melihat piring adiknya yang masih tersisa banyak hanya bisa menggeleng kepala sambil tersenyum kecut.
"Dasar anak aneh... disuruh makan enak justru banyak makan sayuran," gumamnya pelan, namun tetap merasa bangga dengan kedisiplinan adiknya itu.
Keduanya tiba kembali di rumah tepat pukul dua siang. Begitu mobil berhenti di halaman, Xin Yi langsung turun dan berjalan cepat menuju tangga. Tubuhnya terasa lelah setelah seharian beraktivitas dan berjalan-jalan.
"Aku akan naik ke kamar untuk tidur sebentar," ucapnya singkat pada kakaknya.
"Pergilah, istirahatlah yang cukup supaya malam nanti wajahmu tidak terlihat kusut," balas Xin Yuning santai.
Sementara Xin Yi tidur siang, Xin Yuning memerintahkan para pelayan untuk mengeluarkan semua kantong belanjaan dari bagasi mobil dan membawanya satu per satu ke kamar Xin Yi.
Sepatu, perhiasan, serta beberapa pakaian santai yang dibelikan tadi disusun rapi di sana.
Malam harinya, tepat pukul sembilan malam, acara pesta gala yang bergengsi akan dimulai.
Lokasinya berada di kediaman megah keluarga Qin, salah satu keluarga terpandang di kota tersebut. Semua persiapan menuju malam penting itu pun mulai berjalan.