NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Sang Komandan

Istri Pengganti Sang Komandan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Berbaikan / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Dokter / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: Ayu Lestari

"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.

Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 03 - Perintah Penugasan

Dua tahun berlalu tanpa banyak kabar dari Damar.

Itu bukan hal yang mengejutkan.

Sejak pagi setelah akad, pria itu benar-benar berangkat. Selama dua tahun, Alya hanya bertemu dengannya lima kali. Dua kali saat Lebaran di rumah keluarga Wiratama. Sekali saat Eyang masuk rumah sakit. Sekali saat acara keluarga besar. Sekali lagi ketika Damar pulang mengambil berkas dan pergi sebelum subuh.

Mereka tidur di rumah yang sama hanya di hadapan keluarga.

Di balik pintu, Damar selalu menjaga jarak.

Alya juga begitu.

Dia kembali bekerja di RSUD Jakarta Selatan, mengambil shift panjang, masuk IGD, ikut operasi, dan menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Papa menjalani operasi dengan bantuan keluarga Wiratama dan perlahan membaik. Laras akhirnya menikah dengan Farel di kota lain, setelah drama panjang yang membuat Mama kelelahan.

Tidak ada yang benar-benar selesai.

Hanya luka yang belajar diam.

Pagi itu, Alya baru selesai memeriksa pasien pascaoperasi ketika Kepala Instalasi Bedah memanggilnya.

"Dokter Alya, duduk dulu."

Alya melihat amplop dinas di meja.

Perutnya langsung terasa tidak enak.

"Ada apa, Dok?"

"Ada program penugasan medis gabungan. Dinkes, RSUD, dan TNI. Wilayah perbatasan NTT. Mereka butuh dokter dengan pengalaman bedah emergensi dan triase bencana."

Alya diam.

Kepala instalasi mendorong amplop itu ke arahnya.

"Namamu masuk daftar."

Alya membuka amplop.

Atambua.

Pos kesehatan perbatasan.

Koordinasi dengan Satgas Pamtas.

Nama satuan yang tercetak di lembar kedua membuat jantungnya berhenti sesaat.

Komandan Satgas: Mayor Damar Arkan Wiratama.

Alya menatap tulisan itu lama.

Terlalu lama.

Kepala instalasi berdeham. "Kamu keberatan?"

"Ini penugasan wajib?"

"Programnya resmi. Tapi masih bisa ditolak dengan alasan kuat."

Alya tertawa kecil dalam hati.

Alasan kuat?

Suami saya komandan di sana dan dia membenci saya.

Itu alasan kuat atau justru alasan kenapa semua orang merasa dia cocok dikirim ke sana?

"Berapa lama?"

"Minimal enam bulan. Bisa diperpanjang."

Alya melipat surat itu kembali.

"Saya ambil."

Kepala instalasi tampak terkejut. "Yakin? Wilayahnya tidak mudah. Fasilitas terbatas. Rujukan ke RS besar butuh waktu. Jalan rusak kalau hujan."

"Justru karena itu mereka butuh dokter."

"Kamu tidak perlu menjawab sekarang."

"Saya sudah menjawab."

Dokter senior itu menatapnya, lalu menghela napas.

"Baik. Berangkat tiga hari lagi. Siapkan mental. Di sana tidak seperti Jakarta."

Alya mengangguk.

Jakarta pun tidak selalu ramah, Dok.

Dia tidak mengatakannya.

Malamnya, Alya memberi tahu Mama. Mama langsung panik.

"NTT? Perbatasan? Kenapa harus kamu?"

"Ini program rumah sakit, Ma."

"Apa Damar tahu?"

Alya memasukkan beberapa baju kerja ke koper.

"Belum."

"Kamu harus bilang."

"Nanti juga dia tahu."

Mama duduk di tepi ranjang. "Alya, Mama tahu kalian tidak seperti pasangan lain. Tapi dia tetap suamimu."

Alya berhenti melipat pakaian.

"Di buku nikah, iya."

"Nak..."

"Ma, saya pergi sebagai dokter. Bukan sebagai istri Mayor Damar."

Mama tidak menjawab.

Alya menatap koper yang belum penuh.

Sebenarnya dia takut.

Takut bertemu Damar.

Takut semua hinaan lama kembali.

Tapi lebih dari itu, dia takut jika menolak hanya karena pria itu. Selama dua tahun ini dia berusaha membuktikan hidupnya tidak berputar pada pernikahan kosong. Kalau sekarang dia mundur dari tugas medis karena Damar ada di sana, berarti pria itu tetap memegang pintu hidupnya.

Tidak.

Dia tidak mau.

Tiga hari kemudian, Alya naik pesawat ke Kupang, lalu melanjutkan perjalanan darat bersama tim kecil menuju Atambua. Dari sana mereka memakai kendaraan TNI ke pos kesehatan perbatasan.

Jalan berkelok. Bukit-bukit kering terbentang. Rumah-rumah penduduk berdiri berjauhan. Anak-anak berseragam sekolah berjalan kaki di tepi jalan sambil melambai ke truk yang lewat.

Alya duduk di belakang bersama dua perawat dan satu bidan. Angin panas masuk dari jendela.

"Dokter Alya pertama kali ke sini?" tanya Bidan Rina.

"Iya."

"Nanti jangan kaget kalau sinyal hilang."

Alya tersenyum tipis. "Saya lebih khawatir obat habis."

Perawat Joko tertawa. "Nah, itu lebih realistis."

Mereka belum sampai pos ketika suara tembakan terdengar dari radio kendaraan.

Sopir langsung menegang.

"Ada operasi di jalan depan," katanya. "Kita diminta berhenti di titik aman."

Alya menoleh.

Dari kejauhan terlihat beberapa kendaraan militer berhenti di pinggir jalan. Prajurit bergerak cepat. Seorang pria berbaju sipil diborgol di dekat mobil pikap. Beberapa karung putih berserakan.

"Penyelundupan obat terlarang?" tanya Joko pelan.

Sopir tidak menjawab.

Kendaraan mereka berhenti. Seorang prajurit mendekat dan memberi instruksi agar tim medis menunggu.

Alya baru saja mengangguk ketika terdengar teriakan.

"Pak! Dia kejang!"

Semua orang menoleh.

Pria yang diborgol itu tiba-tiba jatuh, tubuhnya mengejang hebat. Mulutnya berbusa. Prajurit yang memegangnya panik.

Alya tidak berpikir dua kali.

Dia membuka pintu kendaraan.

"Dokter!" Bidan Rina memanggil.

"Bawa tas emergensi!"

Dia berlari ke arah kerumunan.

Seorang prajurit menghadang. "Bu, jangan mendekat. Ini area operasi."

"Saya dokter."

"Perintahnya—"

"Kalau dia aspirasi, dia bisa mati sebelum perintah berikutnya turun."

Prajurit itu ragu.

Alya sudah berlutut di samping pria yang kejang.

"Miringkan tubuhnya. Jangan masukkan apa pun ke mulutnya. Lepaskan tekanan di leher."

Prajurit di sekitar saling pandang.

"Cepat!" suara Alya naik.

Mereka bergerak.

Alya memeriksa pupil, nadi, dan napas. Bau kimia samar tercium dari pakaian pria itu. Dia mengambil sarung tangan dari tas Rina, memasangnya cepat.

"Kemungkinan keracunan atau overdosis. Siapkan oksigen. Joko, cek tekanan darah. Rina, ambil diazepam injeksi kalau ada."

"Bu dokter, kita belum buka segel tas—"

"Buka sekarang."

Semua berjalan cepat.

Alya mendengar langkah berat mendekat.

Sebelum dia sempat menoleh, suara dingin yang pernah menghantui malam pertama pernikahannya jatuh di atas kepalanya.

"Siapa yang mengizinkan warga sipil masuk area operasi?"

Tangan Alya berhenti setengah detik.

Lalu dia kembali menahan kepala pasien agar jalan napas tetap terbuka.

"Saya bukan warga sipil yang sedang menonton, Mayor. Saya dokter yang ditugaskan ke pos kesehatan."

Hening sesaat.

Damar berdiri di hadapannya dengan rompi taktis, wajah tertutup debu jalan, mata setajam yang dia ingat.

Dia menatap Alya seolah melihat masalah lama yang datang membawa koper.

"Alya."

"Mayor Damar."

Nada mereka terlalu formal untuk pasangan suami istri.

Prajurit di sekitar langsung saling melirik.

Damar melihat pasien di tanah, lalu menatap tas medis.

"Bawa dia ke kendaraan medis."

"Jangan diangkat dulu. Kejangnya belum terkendali."

"Area ini belum steril."

"Dan pasien ini belum stabil."

Mata Damar mengeras.

Alya mengangkat wajah. "Kalau Anda ingin dia hidup untuk diperiksa, beri saya dua menit."

Prajurit di sekitar menahan napas.

Damar tidak suka dibantah. Itu jelas terlihat.

Tapi dia juga tahu situasi.

"Dua menit," katanya.

Alya kembali bekerja. Obat masuk. Kejang mulai berkurang. Napas pasien masih kasar, tapi jalan napasnya aman. Setelah itu, barulah dia memberi instruksi pemindahan.

Ketika pasien diangkat, salah satu prajurit berbisik, "Dokter ini berani juga."

Alya pura-pura tidak mendengar.

Damar mendengar.

Dia mendekat, suaranya rendah.

"Kamu belum berubah."

Alya melepas sarung tangan kotor.

"Anda juga."

"Masih suka masuk ke masalah tanpa izin."

"Masih suka menyebut pekerjaan saya masalah."

Mata Damar menyipit.

Alya memasukkan sarung tangan ke kantong limbah medis, lalu berdiri.

Debu menempel di lutut celananya. Keringat mengalir di pelipis.

"Saya datang berdasarkan surat tugas. Kalau Anda keberatan, silakan ajukan ke Dinkes dan rumah sakit. Tapi selama saya berada di sini sebagai dokter, saya akan menangani pasien yang membutuhkan. Termasuk tersangka Anda."

Damar menatapnya lama.

Lalu sudut bibirnya bergerak sedikit.

"Selamat datang di perbatasan, Dokter Alya."

Tidak ada sambutan.

Tidak ada pertanyaan kenapa dia datang.

Hanya nada dingin yang sama.

Alya mengangkat dagu.

"Terima kasih, Komandan."

Di belakang mereka, radio berbunyi lagi. Ada laporan kendaraan lain bergerak dari arah bukit.

Damar langsung berbalik memberi perintah.

Alya melihat punggungnya menjauh.

Dua tahun dia berhasil hidup tanpa pria itu.

Tapi mulai hari ini, medan tugasnya, medan lukanya, dan medan pernikahan kosongnya berada di tempat yang sama.

1
Sanjaria Abubakar
jual mahal Alya jangan langsung Nerima semangat Alya 💪
Sanjaria Abubakar
jadi gemes
Mun awaroh
penasaran kanjutanyya
Si Memeh
cerita nya bagus thor 👍👍👍 konflik berat, keren, mantap, tp sy ngga sanggup mikirin nya thor 🤭
Bundanyafatiyah
ceritanya bagus cuma terlalu berbelit2 banyak. pengulangan cerita...
Leni Maulani
ia ngambang
Janah Husna Ugy
q baca nya teliti bgt,meresapi,,
Nonce Yusnita
mestinya di jelaskan ..bab yang kemarin arka SDH tidur dgn ayah dan mamanya
Nonce Yusnita
bingung menyelamatkan arka nah arka bersama ayah dan ibunya
yuqana
aku maraton bacanya kak, aku syuka bgt bgt bgt novel ini, 😍😍😍😍😍
Lovely Fictions
Nadia jadi Marlina... Wiranata apa Wiratama jadi Pradipta.... Lara's dulu kakak sdh menikah skrg jd Adik
sry batlolona
lanjut ceritanya
santi robby
cie JD seru ini..
Dewi Asih
lanjut kak
Inne Ermalia Inot
membingungkan mkn k sini ceritanya
sdit bis
lucu
sdit bis
next
Faried Zhie
uwuuu
bunda fafa
tidak usah di balas .jd kakak kok egois banget si laras itu
Desifa Juni Raya
ini dh selesai pa blom
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!