NovelToon NovelToon
Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Status: tamat
Genre:Trauma masa lalu / Angst / Single Mom / Tamat
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

"Dia udah di sini beberapa waktu. Konselor yang lama cuti, baru balik tahun depan. Tapi jujur deh, aku harap dia gak usah balik. Yang baru ini jauh lebih enak dipandang," celetuknya.

Vandini sebenarnya tak peduli soal ketampanan pria itu. Tapi mungkin ini saat yang tepat untuk mengenal orang yang sering bicara dengan putranya. Sudah lama ia ingin menanyakan perkembangan Connan. Anak itu terlihat baik-baik saja, tapi ia sadar dirinya terlalu lama menutup mata, jadi pendapat profesional pasti lebih meyakinkan.

"Di mana kantornya?"

"Buat apa?" tanya ibu Nadia sinis, matanya menatap Vandini dari atas ke bawah dengan tatapan tak suka.

"Oh, cuma pengen kenalan aja sih," bohong Vandini.

Bibir wanita yang berlipstik merah itu mengerut, lalu tangannya yang terawat menunjuk ke arah koridor. "Pintu ketiga sebelah kanan."

"Oke, makasih."

Vandini segera berdiri dan berjalan cepat. Langkah kakinya terdengar berisik di ruang makan yang sudah hampir kosong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konsultasi

Satura mencondongkan tubuh ke depan di sofa, menyatukan kedua tangannya. Ia mulai bercerita dengan nada serius.

"Bapakku... dia sosok yang bener-bener berwibawa. Dia nggak pernah ragu, nggak pernah nunjukin kelemahan sedikit pun, paham kan? Dia bikin orang segan dan hormat. Semua orang kagum sama dia. Aku pun begitu."

Terapis itu mengangguk pelan, tatapannya memberi semangat agar Satura melanjutkan.

"Maksud kamu 'nggak pernah nunjukin kelemahan' itu gimana? Biasanya dia ngadepin masalah berat dengan cara apa?"

Satura menghela napas panjang lalu menunduk.

"Dia nanggung semuanya sendirian. Dia cuma... mengunci rapat apa pun yang bisa bikin dia kelihatan lemah. Seolah-olah dia punya aturan main sendiri, aturan yang dijalanin tanpa pernah diucapin. Tapi aku tahu. Aku bisa rasain. Jadi cowok itu harus kuat. Dan kuat artinya harus bisa cari duit, menjaga segalanya tetap lancar, dan nggak boleh... nggak boleh kelihatan stres atau kesulitan."

"Jadi, dengan caranya sendiri, dia ngajarin kamu buat bertahan dengan nutup diri dan misahin masalah dari kehidupan sehari-hari?" tanya terapis itu.

"Betul." Satura mengacak rambutnya, suaranya terdengar pelan.

"Jadi laki-laki itu harus nyatuin keluarga, jadi sosok kokoh yang nggak boleh goyah."

"Dia sering bilang, 'Selesaikan masalah kamu di luar, Satura. Jangan bawa-bawa ke rumah.' Aku pikir... aku pikir aku harus tiru dia."

Terapis itu sedikit mencondongkan badan.

"Terus gimana rasanya buat kamu, Satura? Apa arti kalimat 'selesaikan di luar' itu buat kamu?"

Satura terdiam sejenak, rasa malu mulai menjalar di dada.

"Aku pikir... aku harus sembunyiin semua tekanan ini dari Vandini, dari anak-anak. Aku nggak boleh kelihatan lemah. Nggak boleh biarin mereka tahu kalau aku lagi menderita. Rasanya kalau aku ngelakuin itu, aku jadi... kurang jantan gitu lah. Makanya aku..."

Ia berhenti bicara, menelan ludah dengan susah payah karena tenggorokannya terasa tercekat.

"Aku sering pergi keluar. Bareng cewek lain. Aku misahin semuanya dari mereka. Aku maksa diri buat percaya kalau itu cuma... pelampiasan. Cara buat buang stres, biar pas pulang ke rumah, aku bisa bersikap seolah-olah nggak ada apa-apa."

Terapis itu tetap bicara dengan nada lembut.

"Terus kenapa kamu merasa harus begitu? Kenapa cari orang lain terasa lebih baik daripada jujur sama Vandini?"

Tangan Satura terkepal erat, suaranya mulai bergetar menahan tangis.

"Karena aku ngerasa nggak mungkin bawa masalah itu pulang. Aku pikir... kalau aku curhat sama dia, kalau aku ngaku kalau aku stres atau bahkan... takut, aku bakal ngecewain dia. Dia butuh aku yang kuat. Anak-anak butuh Papa yang kuat." Suaranya makin pelan, hampir berbisik. "Aku pikir aku ngelakuin ini semua demi kebaikan mereka."

Terapis itu mengangguk perlahan, membiarkan kata-kata itu meresap.

"Jadi, kamu anggap itu sebagai cara buat lindungi mereka."

"Iya." Suara Satura terdengar putus.

"Tapi sekarang aku sadar, itu bukan melindungi. Itu cuma... nyembunyiin kenyataan. Dan ujungnya, mereka tetap sakit. Vandini... dia sebenernya nggak beneran ngerti aku. Dia cuma ada di situ, lihat aku bersikap sok kuat seolah nggak ada yang bisa hancurin aku, dan aku malah merasa itu tugas suami. Aku pikir itu yang harus dilakuin."

Terapis itu menatapnya penuh empati.

"Satura, kayaknya kamu selama ini cuma niru definisi 'kuat' versi ayah kamu. Padahal kekuatan sebenernya itu bukan soal nyembunyiin sesuatu, kan?"

Satura mengangkat wajahnya, sorot matanya penuh penyesalan.

"Enggak. Sekarang aku ngerti. Kuat yang sebenernya itu... berani jujur. Biarin orang lain lihat siapa aku yang asli, bukan cuma sosok palsu yang kubuat. Andai aku sadar hal ini dari dulu. Dia udah percaya sama aku, kasih aku cinta, tapi aku malah sia-siain semua itu. Ini semua salahku."

"Itu kesadaran yang luar biasa, Satura," sahut terapis itu lembut. "Mencintai seseorang dengan tulus itu artinya mau berbagi isi diri kamu yang nggak sempurna, bahkan yang mungkin terasa hancur sekalipun. Biarin dia masuk ke hidup kamu, percaya kalau dia bakal tetap lihat kamu sebagai pria yang utuh dan tangguh. Apa kamu bisa bayangin kalau kerentanan itu malah bisa bikin hubungan kamu sama Vandini makin deket, bukan makin jauh?"

Satura mengangguk pelan, suaranya nyaris tak terdengar.

"Kayaknya bisa... dan itu yang aku mau. Tapi dulu aku terlalu keras kepala, anggap kalau nunjukin rasa lelah atau takut itu sama aja dengan ngecewain dia. Aku pikir aku harus jadi orang yang... sekuat batu, kayak yang bapakku coba tunjukin."

Terapis itu menatap Satura lekat-lekat dengan tatapan tegas namun hangat.

"Kamu nggak harus jadi kayak dia, Satura. Kamu bisa pilih jalan lain, jalan di mana kalian hadapin masalah bareng-bareng, bukan sendirian."

Tenggorokan Satura kembali tercekat, kalimat itu bagaikan tamparan keras yang menyadarkannya.

"Aku mau begitu," gumamnya pelan, lebih seperti bicara dengan diri sendiri. "Aku mau dia lihat aku... apa adanya. Dan aku mau jadi tipe cowok yang bisa berbagi beban tanpa harus... lari dari kenyataan."

Terapis itu tersenyum tipis, tulus. "Berarti kamu udah ada di jalan yang bener. Belajar buat jujur dan membuka diri itu bagian tersulit. Dan kamu udah mulai bisa lakuin itu sekarang."

"Susah banget buat ingat lagi sosok aku yang dulu... sebelum semua ini terjadi. Dan rasanya makin susah buat percaya kalau dulu aku pernah pantas dapatin cinta dia."

1
Eva Rosita
bagus
Ivy: makasi,kak 🥰
total 1 replies
Uthie
bertahan wanita hebat 👍👍😡
Uthie
bangkit lah wanita-wanita hebat yg tersakiti oleh pasangan gak tau diri kalian 👍😡😡
Uthie
mungkin kondisi di jaman sekarang yaa... yg sewajarkan apa yg terlihat saja, namun main di belakang ☹️
Uthie
sakit banget itu pasti... sesak 😢
Uthie
Mampir 👍👍👍👍
Ivy: makasih kak, udah berkenan mampir🙏😍
total 1 replies
Yuni Ngsih
Authoooot ceritramu bgs bangeeeet ,tp bikin ku sediiiih kasian yg punya ceritra Vandini disakiti sm susmi yg dzolim ....smg suaminya cepat cepat karmanya kasihan Vandini smg setelah badai akan muncul pelangi buat Vandini ....semangat .....lanjut Thor
Ivy: yampun, ada yg baca rupanya, makasi kak🙏
total 1 replies
Anonim
wanjay
Anonim
betul itu ...BUNUH DIA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!