Aruna Prameswari tidak pernah tahu bagaimana hidupnya berubah menjadi runyam. Semenjak Kedatangan sosok Liam Noah Rajasa, Atlet bola sekaligus Pengusaha ibukota. Hidupnya dibuat kacau balau sejak laki-laki itu selalu merecoki harinya yang gitu-gitu aja. Kerja, lembur, nongkrong, dan pulang.
Laki-laki itu semakin gencar mendekati dirinya ketika tahu kalau dirinya baru saja putus dari pacarnya, padahal Aruna masih belum begitu move on. Namun Liam dengan segala usahanya hingga membuat dirinya menyerah dan cinta itu datang tiba-tiba.
akankah Cinta Aruna yang datang tiba-tiba berakhir dengan indah atau malah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nisa_prafour, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
Angin berhembus kencang. Menerbangkan dedaunan kering yang berjatuhan. Ranting renta juga ikut terjun menyakiti tanah yang selalu setia dibawahnya. Pertengahan Oktober ini memang banyak perubahan. Panas yang mulai jarang dan digantikan dengan hujan.
Dan tentunya, bulan-bulan penuh perubahan ini juga berpengaruh pada hubungan Aruna dengan Noah Pattingga. Terhitung sejak 4 bulan lalu mereka menjalin hubungan dan semuanya berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Mereka dalam keadaan baik tentu saja. Bahkan keduanya baru kembali dari Belanda satu bulan yang lalu. Lebih tepatnya Aruna yang menemani Noah karena ada match pada klub utamanya.
Noah
morning Run. Sorry aku baru bangun
sepertinya hari ini aku nggak bisa jemput kamu,
ada latihan untuk Minggu depan
^^^Me^^^
^^^Nggak papa Noah. Kita bisa ketemu di stadion nanti^^^
Noah
Aku sangat merindukan mu. Beri aku semangat
^^^Me^^^
^^^me too. Nanti kalau ada waktu aku kesana^^^
Denting pesan itu mengalihkan dirinya dari beberapa kertas diatas mejanya. Ia tersenyum saat notif yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Bibirnya tersenyum sambil sesekali mengetik balasan untuk seseorang diseberang sana.
Setelahnya Aruna kembali pada pekerjaannya. Matanya kemudian fokus pada sosok laki-laki tinggi yang duduk tepat didepannya. Sudah sejak setengah jam yang lalu jika diperhatikan, laki-laki itu menghembuskan nafasnya kasar.
Aruna yang ikut jengah pun sengaja menendang kursi didepannya itu dari bawah. Dan sontak saja sang pemilik bangku menoleh kesal padanya.
"Kenapa sih Run? Jangan ganggu aku!"
"Kenapa? Muka udah seperti sampah daur ulang"
"Farah tuh aneh-aneh aja minta ngidamnya. Pusing banget gue!"
"Minta apa emang?"
"Papeda"
"Tinggal beli dong. Kamu nggak punya duit?"
"Sialan mulut mu Run. Uangku bisa buat maksa kami jadi istru ke dua ku"
"Jijik!! Heh bajak laut, denger ya mau kamu laki-laki satu-satunya di dunia, aku rela jadi perawan tua!"
"Halah gaya wanita tuh gini ya emang. Sok jual mahal. Dikipasin sama uang recehan ya mau-mau aja yang penting jumlahnya genap. Iya kan?"
"Perlu aku kasih tahu sama kamu ya cangkang kerang, wanita itu nggak punya kelemahan. Mereka cuma lemah kalo nggak ada uang. Jadi kalau sampe wanita jual mahal, itu artinya kamu nggak ada uang!"
"Nggak usah sok tahu. Kamu tahu aku siapa ya Run!"
"Ya ya ya ... Adiknya Axcel. Pewaris hhhmmppp"
Mata Aruna membola ketika telapak tangan besar itu dengan cepat membekap mulutnya. Dengan kasar dan cepat, Aruna menyingkirkan telapak tangan itu.
"Jangan keras-keras Aruna. Kalau seisi kantor tau gimana? Habis aku dimutilasi Axcel"
"Lebay banget! Lagian kenapa sih mesti harus di rahasiakan segala statusnya"
"Tanya sana sama kakak ku, kamu pikir aku mau apa seperti ini. Aku kan juga pengen rasanya jadi sombong. Pamer ke semua orang-orang kalau aku juga atasan kalian sebenarnya "
Aruna menahan tawanya kuat-kuat. Takut kelepasan ia bahkan menahan mulutnya menggunakan tangannya, "Berarti kamu nggak diakui sama keluarga mu"
"Sialan!"
"Kalian kalau mau gosip jangan disini! Ini kantor bukan tempat gosip!"
Aruna dan Vano sontak menegangkan punggungnya. Keduanya seketika kembali ke depan komputer masing-masing dengan jantung yang berdegup kencang. Dan baru saja mereka berdua hendak menghembuskan nafasnya lega, suara bariton itu kembali menyentak telinganya. Bersamaan dengan kasak-kusuk yang mulai menyebar.
"Setelah ini kita adakan meeting! Evaluasi dari masing-masing devisi! Saya tunggu di ruang meeting 20 menit lagi"
Sialan! Bajingaaan!! Dasar bos nggak tahu diri!
"Gara-gara kamu nih Run jadi kena semua kan"
"Kakak mu tuh yang bangsat, yang sempit otaknya. Makanya Asal ngomong aja mulutnya!"
.
.
.
.
.
Langkah kaki Aruna semakin melebar, dadanya bergemuruh hebat. Detak jantungnya semakin memacu ketika tubuhnya semakin mendekati area luas itu. Dan tepat setelah dirinya sampai didalam stadion, lebih tepatnya dirinya sudah berdiri dengan dua laki-laki yang kini terlihat bersitegang.
Rehan dan Noah.
Nafasnya tersengal dan kedua matanya menatap sang kakak dengan kekasihnya bergantian. Belum selesai kekhawatirannya sejak tadi, kini Aruna harus dihadapkan dengan sudut bibir Noah yang terlihat lebam.
Jadi benar pesan yang dikirimkan oleh Arina beberapa saat lalu?
'Kak, mas Rehan sama bang Noah berantem. Mereka tonjok-tonjokan dilapangan. Untung cuma mereka berdua. Cepetan kesini ya kak'
"KALIAN APA-APAAN SIH?!!" Aruna berteriak sambil dengan sekuat tenaga melepaskan cengkraman masing-masing laki-laki didepannya ini.
Setelah berhasil terlepas, kini Rehan beralih menatap adiknya ini. Rambut yang acak-acakan dan nafasnya yang tersengal-sengal, "Ngapain kamu kesini?!"
"Kakak sendiri ngapain kayak gini?!"
"Kamu! Udah berapa kali mas bilang berhenti berhubungan dengan teman mas! Urusanmu dengan Marinos belum selesai dan kini kamu menjalin hubungan dengan Noah?! Aruna kakak nggak perduli dengan urusan asmara mu. Masalahnya kamu berhubungan dengan teman-teman kakak Run gimana pandangan mereka nanti terhadap kakak?! Kakak nggak mau sampai ada yang menggunjing mu piala bergilir"
Noah yang sedikit paham dengan obrolan mereka hendak menyela namun Aruna sudah lebih dulu mencegahnya. Kekasihnya itu maju satu langkah untuk lebih dekat dengan sang kakak, "Nggak ada yang menggunjing ku seperti apa yang kakak katakan. Itu hanya asumsi kakak sendiri! Dan lagi, kalau kakak malu punya adik seperti Aruna mas tinggal bilang kalau ada yang menggunjing Aruna. kakak tinggal bilang kalau kita putus hubungan! Bukan lagi adik kakak. Begitu lebih baik kan?"
"Run, kakak cuma mau yang terbaik buat kamu"
"Terbaik? Buat aku?" Aruna tertawa sumbang sebelum ia melanjutkan kembali kalimatnya, "kakak nggak pernah mau yang terbaik untuk aku. kakak cuma mau yang terbaik buat kehidupan kakak yang sempurna! kakak cuma perduli dengan reputasi dan kesempurnaan!"
"Kenapa kamu nggak pernah melihat perjuangan kakak sampai di titik ini. kakak lakuin ini semua demi kita. Kamu, Arin ibu dan bapak Run"
"Buat aku?! Kalau buat aku, gimana dengan semua usaha dan cita-cita ku yang kakak renggut gitu aja?! kakak bisa mengembalikan semua waktu-waktu ku yang mas sita begitu aja?!!"
"Run itu udah berlalu. Kalau kamu masih memaksa dengan cita-cita mu itu kita semua nggak akan seperti sekarang Run!"
"Jadi, maksud kakak cita-cita ku nggak begitu berarti?! Dan cita-cita kakak adalah suatu keharusan?!! BEGITU KAN kak?!! JAWAB!!!"
"....." Rehan terdiam. Laki-laki itu menunduk sambil memejamkan matanya.
"Aku kakak! Aku yang lebih dulu mendapatkan kesempatan untuk merubah takdir keluarga kita. Tapi kakak dengan seenaknya menendang ku jauh seolah-olah aku anak yang nggak berguna. Dan cuma kakak satu-satunya yang berhak!! kakak egois!!"
"kakak egois untuk kebaikan kita semua. Kalau kamu waktu itu masih kekuh dengan cita-cita mu kamu pikir ibu dan bapak bisa seperti sekarang?!! Nggak Run. Akan butuh waktu lebih lama kita akan sampai di titik ini!! Apa kamu pernah berfikir kalau ibu dan bapak begitu pula dengan Arin mereka butuh kehidupan yang layak. Dan sudah semestinya kakak sebagai anak laki-laki pertama berkewajiban untuk membahagiakan keluarga!!"
"Bullshit! kakak pikir aku nggak bisa?! Aku bukan wanita lemah seperti yang mas pikirkan! Kalau kakak punya pemikiran seperti itu, berarti benar kalau kakak emang Egois!! kakak pikir aku bahagia sekarang?!! Aku bahkan nggak tahu gimana caranya nikmati hidup!! Untuk apa aku hidup kalau Rana dan tujuanku saja semuanya kakak renggut!!"
"....."
"Sampai kapanpun, aku nggak akan pernah lupa dengan apa yang terjadi pada 10 tahun yang lalu!!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...