Aneska (25 tahun) berada dalam situasi darurat: menikah dalam seminggu atau dijodohkan dengan "om-om" pilihan Papanya yang bernama Argani Sebasta. Demi kebebasan, Aneska nekat mencari pacar sewaan lewat bantuan sahabatnya.
Namun, kecerobohan berbuah petaka—atau mungkin keberuntungan. Di sebuah kafe, Aneska salah mendatangi meja. Bukannya bertemu pria dari aplikasi kencan, ia justru mengajak kencan seorang pria asing yang tampak dewasa dan sangat tampan.
Aneska tidak tahu bahwa pria itu adalah Argani Sebasta, calon tunangan yang sangat ia hindari. Arga yang menyadari kesalahan Aneska justru merasa tertarik dan memilih menyamar menjadi "Gani" si pria biasa.
Permainan menjadi serius saat Arga tiba-tiba mengajukan syarat gila: "Jangan cuma pacaran, ayo langsung menikah saja."
Terdesak waktu dan terpesona pada ketampanan "Gani", Aneska setuju. Akankah Aneska tetap bahagia saat tahu bahwa suami yang ia pilih sendiri sebenarnya adalah pria yang paling ingin ia tolak sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Rumor Panas dan Labrakan Nyonya Besar
Pintu ruang rapat terbuka dengan bunyi klik yang tajam. Aneska keluar lebih dulu dengan wajah yang berusaha dibuat sedatar mungkin, meskipun pipinya masih menyisakan rona merah yang kentara. Ia sibuk merapikan kerah kemejanya yang sedikit mencuat, sementara Arga menyusul di belakangnya dengan langkah santai, mengancingkan kembali jas navy-nya sambil sesekali membenarkan letak kacamatanya.
Begitu mereka melewati area kubikel, suasana mendadak senyap. Namun, Aneska bisa merasakan puluhan pasang mata sedang mengintainya. Begitu Arga dan rombongannya menghilang di balik lift eksekutif, ledakan bisik-bisik langsung memenuhi ruangan seperti sarang lebah yang diganggu.
"Gila ya, hampir dua jam di dalem. Rapat apa 'rapat' tuh?"
"Liat tuh si Aneska, rambutnya agak berantakan. Terus kerahnya... itu tanda apa di lehernya? Merah banget!"
"Wah, pantesan aja dia berani banget tadi pagi. Ternyata udah punya 'jalur khusus' sama Bos Sebasta. Murah banget ya cara dapet jabatannya."
Aneska yang baru saja duduk di kursinya, menghentikan gerakan tangannya yang hendak meraih mouse. Telinganya panas. Sisi bar-barnya yang sudah tertahan sejak tadi pagi kini benar-benar mencapai titik didih.
Miska mendekat dengan wajah khawatir. "Nes... lo denger kan mereka ngomong apa? Si Sarah sama gengnya di pojok itu beneran keterlaluan mulutnya."
Aneska tidak menjawab. Ia berdiri perlahan, lalu menoleh ke arah pojok ruangan di mana Sarah—rekan kerjanya yang memang selalu kompetitif—sedang tertawa sinis sambil menatap ke arahnya.
"Kenapa, Sar? Ada yang lucu?" tanya Aneska dengan nada yang sangat tenang, namun matanya berkilat tajam.
Sarah mendongak, melipat tangan di dada dengan angkuh. "Nggak ada, Nes. Kita cuma kagum aja sama strategi presentasi lo. Hebat banget ya, bisa bikin Bos Arga betah lama-lama di dalem. Pake parfum apa sih? Atau pake... teknik lain?"
BRAKK!
Aneska menggebrak meja Sarah hingga gelas kopi di atasnya bergoyang. Seluruh kantor mendadak hening total.
"Denger ya, Sarah. Kalau lo nggak punya skill buat bikin konsep iklan yang bagus, mending lo belajar, bukan malah sibuk ngurusin selangkangan orang!" teriak Aneska, jiwa bar-barnya keluar tanpa sensor.
"Heh, Aneska! Jaga ya mulut lo! Emang bener kan? Semua orang liat lo keluar dari sana dengan baju berantakan! Lo pikir kita bego?!" balas Sarah tak mau kalah.
Aneska tertawa sinis, ia melangkah maju hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Sarah. "Lo mau tahu kebenarannya? Oke, gue kasih tahu. Gue nggak perlu 'ngegoda' Bos kalian buat dapet jabatan. Karena sebelum dia beli kantor ini pun, dia udah tiap malam berlutut di depan gue!"
"Maksud lo apa?!"
Aneska menarik kalung dari balik kemejanya, memperlihatkan cincin berlian yang tergantung di sana—cincin yang sengaja ia sembunyikan agar tidak terlalu mencolok. "Nama gue sekarang Aneska Claryz Sebasta. Argani itu suami gue, bukan cuma bos gue! Jadi kalau gue mau 'rapat' sampe besok pagi pun di dalem sana, itu hak gue karena dia punya gue luar dalem! Ngerti?!"
Sekujur kantor membeku. Sarah melongo dengan wajah pucat pasi. "L-lo... istrinya?"
"Iya! Dan asal lo tahu, suami gue itu posesifnya minta ampun. Kalau dia denger lo ngomong sampah kayak tadi tentang istrinya, gue nggak jamin besok lo masih punya meja di sini!" Aneska menyambar tasnya, ia sudah terlalu muak. "Miska! Gue balik! Kasih tau si Om Mesum itu kalau gue pulang naik taksi, gue nggak mau liat muka dia dulu!"
Malam Harinya: Dominasi Sang Suami
Aneska duduk di atas tempat tidur dengan wajah cemberut, mengabaikan ketukan pintu yang terus menerus. Arga masuk dengan wajah yang tampak lelah namun tetap penuh energi obsesifnya.
"Nes... Sayang, buka pintunya kenapa sih? Linda bilang tadi lo ngelabrak orang di kantor?" Arga duduk di tepi ranjang, mencoba meraih pinggang Aneska.
"JANGAN SENTUH!" Aneska menyalak. "Gue bilang apa! Gue mau kerja tenang, Arga! Sekarang satu kantor tahu kalau gue bini lo. Gue nggak bakal bisa kerja profesional lagi kalau semua orang takut sama gue!"
Arga justru menarik Aneska masuk ke pelukannya, mengabaikan rontaan istrinya. "Bagus kalau mereka takut. Biar nggak ada yang berani nyakitin lo, dan nggak ada cowok yang berani tebar pesona di depan lo."
"Tapi mereka mikir gue cewek simpanan lo tadi! Gara-gara lo nggak bisa tahan diri di ruang rapat!" Aneska memukul dada Arga.
Arga menangkap kedua tangan Aneska, menguncinya di atas kepala dan menindih tubuh istrinya itu dengan berat badannya. Tatapannya berubah menjadi sangat dominan dan hyper.
"Gue nggak bisa tahan diri karena lo terlalu cantik hari ini, Nes," bisik Arga serak di telinga Aneska. "Dan soal gosip itu... gue udah minta HRD buat keluarin surat peringatan buat Sarah. Besok, nggak akan ada lagi yang berani sebut nama lo sembarangan."
"Arga, lo terlalu otoriter!"
"Emang. Gue otoriter buat semua hal yang menyangkut hak milik gue," Arga mulai menciumi leher Aneska dengan posesif, meninggalkan tanda yang lebih merah dari sebelumnya. "Tadi di kantor lo galak banget ya? 'Berlutut di depan gue'? Hmm? Lo mau gue buktiin sekarang gimana cara gue berlutut dan 'muja' lo sampe lo nggak bisa teriak lagi?"
Aneska menelan ludah. Aura Arga malam ini jauh lebih mengintimidasi. "Mas... gue capek..."
"Nggak ada kata capek buat hukuman karena lo pulang naik taksi tanpa izin gue," ucap Arga dengan nada yang mutlak. "Malam ini, gue nggak bakal pake pengaman bergerigi itu. Gue mau lo ngerasain gue seutuhnya, biar lo inget kalau lo itu punya Argani Sebasta, bukan punya agensi itu."
"Mas Arga... ahh..." Aneska mendesah saat Arga mulai melakukan serangan fajar lebih awal.
Meskipun Aneska mengomel dan ngedumel tentang betapa menyebalkannya memiliki suami posesif seperti Arga, namun jauh di lubuk hatinya, ia menikmati setiap inci perlindungan dan kegilaan yang diberikan pria itu. Arga adalah iblisnya, pelindungnya, dan tentu saja... beban hidup yang paling ia cintai.