NovelToon NovelToon
TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Iblis / Tumbal / Misteri
Popularitas:428
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjanjian Verbal

Endang menjatuhkan ponsel Agus. Ponsel itu mendarat di atas tumpukan surat peringatan bank, layarnya yang retak masih menampilkan foto Sari, wanita yang sayu dan lelah, dan pesan terakhir Agus yang dingin.

Jantung Endang berdetak tak karuan, bukan karena takut, melainkan karena jijik yang mendalam. Agus baru saja pergi, dan dalam waktu kurang dari satu jam, ia telah menemukan korbannya. Ia telah menemukan wanita yang memiliki wajahnya, tetapi yang nasibnya kini akan ia rampas demi ambisi gila suaminya.

Endang menutupi mulutnya, menahan isakan. Ia berjalan mundur, menjauhi ponsel itu seolah-olah benda itu adalah ular berbisa. Di matanya, Sari bukan lagi sekadar foto buram; ia adalah cermin dari keputusasaan yang sama, cermin dari jiwa yang akan mereka pertaruhkan.

Beberapa jam berlalu dengan lambat, dipenuhi oleh keheningan yang menyesakkan dan bau kopi basi yang kental. Endang duduk di ruang tamu yang gelap, menunggu, setiap bayangan yang bergerak di luar jendela terasa seperti kedatangan Raden Titi Kusumo yang menuntut janji.

Tepat sebelum subuh, suara mobil butut Agus menderu pelan di luar. Endang tidak bergerak. Ia hanya menunggu di kursi, membiarkan suaminya masuk.

Agus membuka pintu, wajahnya diterangi oleh cahaya rembulan sisa. Ia tidak terlihat lelah; ia terlihat bersemangat, hampir gembira. Ia membawa aura kemenangan, seolah-olah ia baru saja menutup kesepakatan bisnis terbaik dalam hidupnya.

“Dia sempurna, Endang,” bisik Agus, menutup pintu dengan pelan. Matanya bersinar. “Aku sudah melihatnya, persis di bawah lampu neon yang redup. Wajahnya, bentuk rahangnya, bahkan cara dia menatap... dia bisa menjadi adik kembarmu.”

Agus berjalan mendekati Endang, tetapi Endang menarik diri.

“Kau berbicara tentang dia seolah-olah dia adalah barang dagangan, Gus,” kata Endang, suaranya kering.

Agus menghela napas, gestur ketidaknyamanan yang cepat ia hilangkan. “Dia adalah solusi kita, Endang. Namanya Sari. Dia punya keluarga di desa yang sangat sakit. Dia tidak punya pilihan, sama seperti kita tidak punya pilihan.”

Agus mencengkeram bahu Endang. “Aku sudah berbicara dengannya. Belum detail, hanya pendekatan awal. Aku bilang aku punya pekerjaan aneh yang membayar sangat, sangat mahal. Dia tertarik. Dia akan melakukan apa saja untuk uang itu.”

“Dan kau akan mengatakan padanya bahwa dia harus menjual jiwanya kepada siluman khodam yang haus akan ikatan spiritual?” tantang Endang.

“Aku akan memberitahunya bahwa dia harus menjadi aktris yang sangat meyakinkan,” balas Agus dingin. “Mbah Jari yang akan mengurus sisanya. Sekarang, di mana ponselku?”

Agus mengambil ponselnya, melihat pesan-pesan dari Kuskandar yang terlewatkan. Matanya menyipit saat ia membaca detail alamat Mbah Jari.

“Kuskandar sudah mengirimkan detailnya,” kata Agus, menjauh dari Endang dan duduk di meja. Ia segera menelepon Kuskandar.

Endang mendengarkan percakapan itu dari jarak yang aman, setiap kata yang diucapkan Agus terasa seperti paku yang menancap di peti mati moral mereka.

“Kuskandar, aku butuh kepastian. Dukun ini, Mbah Jari. Apakah dia benar-benar bisa membuat entitas sekuat Raden Titi Kusumo tertipu?” tanya Agus, suaranya mendesak.

Suara Kuskandar di seberang telepon terdengar berdesis, penuh kehati-hatian.

“Dengar, Agus. Ini bukan pelet pengasihan biasa. Ini ‘Pelet Punggung’ yang spesialisasi dalam Penyamaran Sukma. Mbah Jari adalah yang terbaik di Jawa Timur untuk hal-hal kotor semacam ini. Tapi, kau harus tahu risikonya,” balas Kuskandar, jedanya terasa panjang.

“Risiko apa? Aku sudah tahu risikonya jika gagal,” potong Agus tidak sabar.

“Bukan risiko kegagalan, tapi risiko keberhasilan,” koreksi Kuskandar tajam. “Untuk mengelabui entitas yang memiliki Mata Jati, Mbah Jari harus menanamkan aura spiritual istrimu yang asli ke tubuh wanita lain itu. Itu membutuhkan energi yang besar, dan transfer aura harus sempurna. Jika Titi Kusumo menyentuh sedikit saja keretakan spiritual pada tumbal itu, dia akan tahu. Dan jika dia tahu, dia akan mengira itu adalah penghinaan yang disengaja.”

Agus menggigit bibirnya, mengingat ancaman seribu jiwa.

“Jadi, bisakah Mbah Jari melakukannya?”

“Tentu saja bisa. Tapi harganya, Agus. Harganya sangat gila. Mbah Jari tahu siapa yang kau coba tipu. Dia tidak mau mati sia-sia. Dia menuntut kompensasi untuk dirinya dan proteksi gaib untuk pondoknya,” kata Kuskandar. “Aku sudah mendapatkan angkanya. Ini akan menguras hampir semua sisa uang yang kau punya sebelum Lanang Sewu mengaktifkan kekayaan pertamanya.”

Agus terdiam. Ia baru saja menemukan Sari, dan kini ia harus menghabiskan hampir semua sisa uang yang ia jaga mati-matian.

“Berapa?” desis Agus.

“Lima puluh juta tunai. Dan kau harus menyiapkan sesaji langka yang harus kau beli dari pasar gelap. Totalnya, mungkin mendekati tujuh puluh juta,” jawab Kuskandar. “Kau harus membayar dia di depan, Agus. Mbah Jari tidak mau dibayar janji. Ini transaksi spiritual, bukan utang piutang bank.”

Endang menatap Agus, matanya memohon agar suaminya menolak. Uang itu adalah sisa terakhir yang mereka miliki untuk bertahan hidup selama beberapa bulan tanpa pekerjaan. Jika uang itu hilang, dan rencana ini gagal, mereka akan benar-benar hancur.

Agus menutup mata. Rasa sakit karena harus melepaskan uang tunai itu menusuknya lebih dalam daripada rasa bersalah karena mengorbankan jiwa seseorang.

“Aku harus melakukannya,” gumam Agus, lebih kepada dirinya sendiri. “Aku sudah terlalu jauh.”

Ia membuka mata dan kembali berbicara pada Kuskandar, nadanya kini penuh tekad yang dingin.

“Katakan pada Mbah Jari, aku akan datang besok malam. Aku akan membawa uang tunai itu,” kata Agus. “Dan aku akan membawa wanita itu. Berikan aku alamat yang spesifik. Kita harus memastikan Titi Kusumo tidak tahu pergerakan kita.”

“Kau membuat pilihan yang benar, Agus. Kekayaan abadi menanti. Hanya saja, pastikan tumbalmu itu meyakinkan,” Kuskandar memperingatkan. “Mbah Jari akan membutuhkan tumbal itu untuk sesi transfer aura. Kau harus menyiapkan Sari besok pagi, membawanya jauh dari lingkungannya. Aku akan mengirimkan detail alamatnya sekarang.”

Panggilan terputus. Agus menjatuhkan ponselnya di meja, kelelahan mental, tetapi matanya bersinar karena keberhasilan yang terancam.

“Tujuh puluh juta,” bisik Agus, tertawa getir. “Semua untuk membuat topeng yang sempurna.”

Endang bangkit dan berjalan mendekati Agus. “Gus, kita tidak bisa. Jika kita mengeluarkan tujuh puluh juta, kita tidak punya apa-apa lagi. Jika Titi Kusumo tahu, kita akan mati dan uang itu hilang sia-sia!”

Agus menarik Endang ke pelukannya, cengkeramannya yang kuat terasa menakutkan. “Justru karena kita menghabiskan semuanya, rencana ini harus berhasil. Tidak ada jalan mundur lagi, Endang. Kita sudah mengikat diri dengan darah dan kini kita telah membayar harga untuk topeng itu.”

Ia melepaskan Endang, mengambil kunci mobilnya lagi. “Aku harus kembali sekarang. Aku harus mengambil uang tunai di bank dan segera menemukan Sari. Aku harus membawanya ke tempat yang aman sebelum kita membawanya ke Mbah Jari besok malam.”

“Kau tidak tidur?” tanya Endang, suaranya serak.

“Aku tidak bisa tidur sampai aku memastikan tumbal itu ada di tanganku,” jawab Agus. Ia menatap Endang, senyumnya kini terasa menakutkan, penuh janji dan pengkhianatan. “Kita akan kaya, Endang. Besok malam, kau akan melihat transfer spiritual itu. Dan malam setelahnya, kita akan mendapatkan uang pertama kita dari Lanang Sewu.”

Agus berbalik, berjalan menuju pintu. Ia meraih pegangan pintu.

“Kau akan melihat betapa jeniusnya ide ini,” katanya, membuka pintu. “Aku akan segera kembali. Kau jaga rumah, dan jangan sampai kau…”

Tiba-tiba, suara deru keras terdengar dari luar. Bukan suara mobil, melainkan suara auman yang sangat rendah dan dalam, seperti bumi yang mengeluh. Lampu jalan di depan rumah mereka berkedip-kedip, mati.

Agus dan Endang membeku.

Suara itu datang lagi, lebih dekat, lebih dingin. Diikuti oleh bau melati yang kuat, menusuk, bukan aroma harum, tetapi bau kematian yang dingin.

“Dia tahu,” bisik Endang, matanya melebar. “Dia tahu kita sedang merencanakan sesuatu.”

Agus cepat menutup pintu, menguncinya dan menggeser lemari tua di depan pintu. Kepanikan menggantikan kegembiraan.

“Tidak mungkin dia tahu!” desis Agus. “Kita belum melakukan apa-apa!”

Di luar jendela, Endang melihat bayangan bergerak. Bukan bayangan manusia. Bayangan itu tinggi, kurus, dan mengenakan sesuatu yang berkilauan seperti zirah kuno perak di bawah cahaya bulan yang samar.

Bayangan itu berhenti tepat di depan jendela kamar mereka.

Dan kemudian, ketukan terdengar di kaca jendela. Bukan ketukan biasa. Ketukan itu berat, dingin, dan sangat perlahan.

Tok. Tok. Tok.

Raden Titi Kusumo sedang mengetuk, menunggu pengantin spiritualnya.

“Dia datang, Gus,” Endang terisak. “Dia datang menagih ikatan suci yang kita khianati."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!