CEWEK BADUNG VS COWOK KAKU
AYUNDA
Cantik, manis, dan bergaya kece abis... tapi kelakuannya liar!
Mulutnya tajam, berani, dan paling benci diatur-atur.
"Badung? Yeah, that's me."
Dia cewek yang hidup sesuka hati, nggak peduli omongan orang, dan siap melabrak siapa saja yang berani cari gara-gara.
GIOVANI
Ganteng, kaya, dan selalu tampil sempurna... tapi kaku setengah mati!
Hidupnya penuh aturan, rapi, dan terjadwal kayak robot.
"Terlalu diatur, terlalu sulit dimengerti."
Dia tipe cowok yang alergi sama kekacauan, apalagi sama cewek rusuh kayak Ayunda.
Dua kepribadian. Satu konflik yang tak terhindarkan.
Lo badung, gue kaku.
Kita emang mustahil.
Satu mau bebas, satu mau aturan.
Satu bawa kekacauan, satu bawa masalah.
Tapi entah kenapa... dua kutub yang saling tolak ini, selalu saja ketemu di titik yang sama.
Apakah si Badung bisa meluluhkan si Kaku?
Atau malah si Kaku yang bakal ikut rusuh karena si Badung?
A hate-love romance that you can't miss! ❤️🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon exozi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMBALI KE RUMAH KITA
Waktu terus bergulir. Awan mendung yang selama ini menyelimuti hati mereka perlahan mulai bergeser, digantikan oleh cahaya harapan yang mulai menyinsing kembali.
Setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan dan mengurus perusahaan di luar negeri, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Giovanni resmi pulang.
Bukan sebagai Gio yang dulu lari membawa luka dan kepedihan, tapi dia kembali sebagai sosok yang jauh lebih matang, jauh lebih tenang, dan jauh lebih kuat. Wajahnya tampak lebih dewasa, rahangnya terlihat lebih tegas, dan aura yang dipancarkannya sekarang adalah aura seorang pemimpin yang bijaksana.
Tapi satu hal yang tidak berubah... rasa sayang di hatinya pada Ayunda tetap sama. Bahkan mungkin lebih besar dari sebelumnya.
Mobil melaju pelan memasuki kawasan yang sangat dikenalnya. Jalanan ini, pemandangan ini, semuanya masih sama. Seolah waktu tidak berubah banyak di sini. Hanya saja, hati penghuninya yang kini sudah berbeda rasanya.
Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah yang tidak terlalu besar tapi sangat asri dan hangat. Rumah Ayunda. Rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tujuan rindu dan doanya setiap malam.
Gio mematikan mesin. Dia duduk diam sejenak di dalam kabin mobil, menenangkan detak jantungnya yang berpacu kencang bukan main. Rasanya campur aduk sekali. Antara senang, grogi, takut, dan haru bercampur menjadi satu.
"Yun... aku pulang..." gumamnya pelan, menatap pintu rumah itu dengan mata berkaca-kaca. "Aku akhirnya balik lagi ke tempat aku seharusnya berada."
Dia turun dari mobil, lalu berjalan mendekati pintu itu dengan langkah yang mantap tapi penuh rasa haru. Sebelum sempat dia mengetuk pintu, pintu itu ternyata sudah terbuka terlebih dahulu.
Muncullah sosok yang selama ini dia rindukan setengah mati.
Ayunda.
Cewek itu berdiri di ambang pintu. Wajahnya masih sama cantiknya, matanya masih sama tajam dan cerahnya, tapi ada aura ketenangan yang memancar dari dirinya. Dia tidak lagi terlihat seperti cewek badung yang mudah meledak emosinya. Dia terlihat lebih anggun, lebih tenang, dan... sangat cantik.
Mereka saling tatap.
Waktu seakan berhenti berputar. Dunia seakan menghilang. Di mata mereka berdua, saat itu hanya ada mereka berdua yang saling memandang setelah sekian lama terpisah oleh jarak dan waktu.
Air mata Ayunda langsung menggenang di pelupuk mata. Bibirnya bergetar hebat, tangannya mencengkeram ujung baju yang dipakainya kuat-kuat menahan diri agar tidak langsung lari menerjang masuk ke pelukan cowok itu.
"Kak Gio..." panggilnya pelan, suaranya terdengar bergetar parau. Panggilan "Kak" itu kini terdengar wajar, terdengar penuh rasa hormat, tapi juga penuh rasa sayang yang tak terhingga.
Gio tidak bisa berkata apa-apa. Matanya menatap Ayunda dari atas sampai bawah, memastikan bahwa cewek itu baik-baik saja, memastikan bahwa ini bukan mimpi.
"Iya Yun... aku pulang..." jawab Gio dengan suara berat dan penuh emosi. "Aku akhirnya balik lagi ke sini. Balik ke rumah kita."
Itu saja. Kalimat pendek itu langsung memecahkan bendungan air mata Ayunda. Tanpa bisa ditahan lagi, cewek itu langsung berlari kecil menerjang masuk ke dalam pelukan hangat yang sudah sangat dia rindukan.
"Giooo!!" teriaknya di tengah isak tangis bahagia.
Gio langsung menyambutnya dengan tangan terbuka lebar. Dia memeluk tubuh mungil itu seerat-eratnya, sekuat tenaga, seolah ingin menebus semua waktu yang hilang selama bertahun-tahun itu. Dia mengangkat sedikit tubuh Ayunda dari tanah, memutar mereka pelan di halaman rumah itu.
"Ya Allah... kamu makin cantik ya... kamu makin baik ya..." gumam Gio di telinga Ayunda, suaranya pecah menahan haru. "Maaf ya aku lama banget pergi. Maaf aku ninggalin kamu sendirian selama ini."
"Iya... lama banget! Hampir bikin gue gila nunggunya!" jawab Ayunda di antara isak tangisnya, dia memukul pelan punggung Gio berkali-kali melepaskan rasa kesal dan rindu yang terpendam. "Tapi syukur... syukur lo akhirnya balik juga. Lo beneran balik kan? Gak pergi-pergi lagi kan?"
Gio perlahan melepaskan pelukannya sedikit, cukup untuk bisa menatap wajah Ayunda yang basah oleh air mata. Dengan ibu jarinya, dia mengusap air mata itu pelan-pelan penuh sayang.
"Gak pergi lagi. Kali ini aku beneran pulang buat selamanya. Aku bakal tetep di sini, di samping kamu, jagain kamu, nemenin kamu."
Gio tersenyum lebar, senyum yang sangat hangat dan sangat menenangkan.
"Dunia itu luas Yun, banyak tempat indah di luar sana. Tapi gak ada satu pun tempat di dunia ini yang rasanya senyaman dan sehangat saat aku ada di samping kamu. Kamu adalah rumah aku, Yun. Rumah tempat aku pulang."
Kata-kata itu begitu indah, begitu menenangkan, dan begitu tulus. Ayunda merasa hatinya penuh lagi. Kekosongan yang selama ini ada di dadanya kini terisi kembali oleh kehadiran Gio.
"Rumah lo..." gumam Ayunda tersenyum manis, pipinya merona merah muda. "Iya... rumah lo ada di sini. Selalu ada."
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Suasana langsung berubah menjadi sangat hangat dan penuh tawa. Keluarga Ayunda menyambut Gio dengan tangan terbuka, seolah menyambut anak kandung sendiri yang baru pulang dari merantau jauh.
Makan malam itu berjalan dengan sangat menyenangkan. Gio bercerita banyak tentang pengalamannya di luar negeri, tentang kesulitan yang dia hadapi, dan tentang bagaimana dia selalu berdoa dan berharap agar Ayunda baik-baik saja di sana.
Ayunda mendengarkan dengan tatapan memuja-muja. Dia bangga sekali melihat pacarnya... eh, maksudnya melihat kakaknya ini tumbuh menjadi sosok yang begitu hebat dan bertanggung jawab.
Malam semakin larin, saat suasana mulai sepi dan mereka berdua duduk berdua di teras rumah menikmati angin malam, Gio menatap Ayunda dengan tatapan yang sangat serius dan lembut.
"Yun..." panggilnya pelan.
"Hm?"
"Selama ini... kita udah jalanin ujian yang berat banget kan? Kita diuji jarak, kita diuji waktu, dan kita diuji sama kenyataan pahit soal hubungan darah kita," kata Gio pelan, tangannya terulur menggenggam tangan Ayunda hangat.
"Tapi liat kita sekarang... kita masih berdiri tegak. Kita masih sayang sama satu sama lain. Cuma... sekarang rasa sayang itu beda bentuknya. Lebih tenang, lebih halal, dan lebih abadi."
Ayunda mengangguk pelan, membalas genggaman tangan itu.
"Iya... kita berhasil lewatin semuanya kan?"
"Iya. Kita berhasil. Dan sekarang... aku gak mau kita cuma jadi sepupu yang jarang ketemu. Aku mau kita tetep jadi partner terbaik. Aku mau tetep jadi orang yang paling kamu percaya, orang yang paling kamu andelin."
Gio tersenyum menggoda, matanya berbinar nakal.
"Si Kaku yang dulu, sekarang udah jadi Kakak yang siap melindungi adik kesayangannya selamanya. Gimana? Terima gak?"
Ayunda langsung tertawa lepas, suara tawanya renyah memecah kesunyian malam.
"Terima dong! Dengan sangat senang hati!" jawab Ayunda ceria, lalu dia menyandarkan kepalanya di bahu Gio dengan nyaman. "Selamat datang kembali di rumah, Giovanni. Selamat pulang."
"Terima kasih, Ayunda..."
Mereka sadar, takdir mungkin tidak mengizinkan mereka menjadi sepasang kekasih yang romantis atau suami istri. Tapi takdir memberikan mereka sesuatu yang jauh lebih berharga dan jauh lebih abadi.
Keluarga.
Mereka adalah saudara. Mereka adalah rumah bagi satu sama lain. Dan ikatan itu tidak akan pernah bisa putus dimakan waktu.