NovelToon NovelToon
Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: GABRIELA POSENTIA NAHAK

Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
​Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
​Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
​'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
​Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 : Pria di Sampingnya

Malam setelah pertemuan singkat namun menyesakkan di trotoar itu, Arlan sama sekali tidak bisa memejamkan mata.

Setiap kali ia mencoba merebahkan tubuhnya di ranjang king size yang kini terasa seluas lapangan bola, bayangan wajah dingin Kinara terus menghantuinya.

Tatapan asing istrinya.....mantan istrinya, menurut kertas sialan itu—terasa lebih menyakitkan daripada tamparan fisik manapun yang pernah ia terima.

​Keheningan mansion yang biasanya ia puja sebagai ketenangan, kini berubah menjadi suara bising yang meneriakkan kesalahannya.

Arlan merasa seolah dinding-dinding rumah itu sedang menertawakannya. Sang penguasa bisnis yang tak terkalahkan, kini justru tampak seperti pecundang yang ditinggalkan di rumahnya sendiri.

​Arlan tidak bisa diam saja. Rasa gengsi yang selama ini menjadi tamengnya kini perlahan berubah menjadi obsesi yang membakar.

Pagi-pagi sekali, ia sudah duduk di dalam mobil mewahnya, terparkir tidak jauh dari lokasi taksi Kirana menghilang kemarin sore.

Ia telah menggunakan koneksinya untuk melacak area tersebut, dan hasilnya didapat dengan cepat.

Kirana tinggal di sebuah rumah kos sederhana di dalam gang sempit yang bahkan tidak bisa dimasuki oleh ban mobil sport mahalnya.

​"Dia benar-benar memilih tinggal di tempat seperti ini daripada di rumahku?" gumam Arlan dengan nada tidak percaya.

Matanya menatap gang sempit yang dipenuhi jemuran warga dan suara anak-anak kecil yang berlarian.

Tempat ini sangat jauh dari standar hidup seorang Arlan, namun Kinara tampak betah di sana.

​Arlan memutuskan untuk menunggu.

Setelah hampir dua jam duduk dalam keheningan yang menyesakkan, sosok yang ia cari akhirnya muncul. Kinara keluar dari gang itu.

Ia mengenakan pakaian yang belum pernah Arlan lihat sebelumnya—sebuah blazer kasual dengan celana bahan yang membuatnya tampak sangat profesional dan segar.

Rambutnya dikuncir rapi, dan ia membawa sebuah tas laptop di bahunya. Kinara tampak begitu berbeda; ia tampak seperti wanita karier yang penuh percaya diri, bukan lagi wanita rumah tangga yang selalu menunduk ketakutan.

​Namun, yang membuat rahang Arlan mengeras seketika bukanlah perubahan gaya pakaian Kinara, melainkan sosok pria yang berjalan di sampingnya.

Pria itu bertubuh tegap, mengenakan kemeja flanel dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan lengan yang kokoh.

Mereka tampak berbincang dengan sangat akrab. Bahkan, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arlan melihat Kinara tertawa lepas—tawa renyah yang dulu selalu ia bungkam dengan kata-kata kasarnya.

​"Siapa pria itu?" desis Arlan.

Tangannya mencengkeram kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar. Cemburu adalah perasaan yang asing bagi Arlan, namun pagi ini, perasaan itu menghantamnya seperti palu godam.

​Ia mulai membuntuti mereka dari kejauhan, menjaga jarak agar mobilnya yang mencolok tidak segera dikenali.

Mereka berhenti di sebuah kedai kopi kecil di sudut jalan yang bernuansa vintage.

Dari balik kaca mobilnya yang gelap, Arlan memperhatikan dengan mata yang menyala penuh amarah saat pria itu dengan sopan memesankan minuman untuk Kinara dan menarikkan kursi agar Kinara bisa duduk dengan nyaman.

Sebuah perhatian sederhana, sebuah etika dasar yang tidak pernah Arlan lakukan selama tiga tahun pernikahan mereka. Selama ini, Arlan selalu merasa bahwa Kinara-lah yang harus melayaninya, bukan sebaliknya.

​Ego Arlan terbakar hebat.

Ia merasa miliknya sedang disentuh oleh orang lain.

Tanpa pikir panjang, ia mematikan mesin mobilnya dan melangkah keluar. Ia berjalan masuk ke dalam kedai kopi itu dengan langkah yang berwibawa namun menyimpan ancaman yang nyata.

Bunyi lonceng di pintu membuat Kinara menoleh, dan seketika itu juga, senyum di wajah cantik wanita itu lenyap, digantikan oleh ekspresi datar yang sangat dingin.

​"Kinara, kita perlu bicara. Sekarang," ucap Arlan dengan nada memerintah, sama sekali tidak menganggap keberadaan pria yang duduk di depan Kinara.

​Pria itu, yang belakangan diketahui bernama Devan, mengerutkan kening.

Ia berdiri dengan tenang namun tampak melindungi Kinara.

"Maaf, Anda siapa ya? Sepertinya Anda sedang mengganggu pembicaraan kami yang cukup penting."

​Arlan menatap Devan dengan tatapan merendahkan dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Bukan urusanmu, anak muda. Aku suaminya. Sebaiknya kau pergi sebelum aku kehilangan kesabaran."

​Kinara berdiri, suaranya terdengar sangat tegas dan tidak bergetar sedikit pun.

Ia menatap Arlan tepat di manik matanya, sesuatu yang dulu tak pernah ia berani lakukan.

"Mantan suami, Arlan. Jangan lupakan status itu. Dan Devan adalah temanku, dia yang membantuku mendapatkan pekerjaan di agensinya. Dia atasanku sekarang."

​"Pekerjaan?" Arlan tertawa sinis, suara tawanya terdengar meremehkan di tengah keheningan kedai kopi itu.

"Kinara, kalau kamu hanya butuh uang untuk biaya hidup, kembalilah ke rumah. Berhenti bersandiwara seolah-olah kamu bisa mandiri di tempat sekecil ini bersama pria seperti dia. Berapa dia membayarmu? Aku bisa memberikan sepuluh kali lipat asalkan kamu pulang dan berhenti mempermalukan namaku."

​"Aku tidak bersandiwara, Arlan. Aku sedang belajar menjadi manusia lagi," balas Kinara tenang, namun setiap katanya terasa seperti belati yang menusuk ego Arlan.

"Devan menghargaiku karena kemampuanku, karena otakku, bukan menjadikanku pajangan rumah yang bisa kamu hina atau abaikan kapan saja kamu mau. Di sini, suaraku didengar. Di sini, aku dianggap ada. Sekarang, tolong pergi. Jangan buat aku harus memanggil keamanan dan membuat keributan yang memalukan posisimu sebagai CEO."

​Arlan terpaku.

Ia menatap Devan yang kini berdiri selangkah di depan Kinara, seolah menjadi perisai bagi wanita itu.

Arlan merasa seperti pecundang di tengah kedai kopi kecil ini.

Ia yang selalu memiliki segalanya—uang yang tak berseri, kekuasaan yang absolut, dan nama besar yang disegani—kini merasa tidak memiliki apa-apa dibandingkan dengan perhatian sederhana dan rasa hormat yang diberikan Devan pada Kinara.

​"Kamu akan menyesal, Kinara," ancam Arlan dengan suara rendah yang sedikit bergetar karena emosi yang meluap.

"Pria seperti dia tidak akan bisa memberikanmu kehidupan layak yang biasa kamu dapatkan dariku. Dia tidak punya apa-apa dibandingkan denganku."

​"Kehidupan layak bagiku adalah kehidupan yang tidak ada kamunya di dalamnya, Arlan," jawab Kinara telak, membuat Arlan terbungkam seribu bahasa.

​Arlan berbalik dan melangkah keluar dengan perasaan hancur yang berkecamuk.

Di dalam mobil, ia memukul setir berkali-kali untuk meluapkan kemarahannya yang membuncah.

Ia menyadari satu hal yang sangat menyakitkan: musuhnya sekarang bukan lagi sekadar kemandirian Kinara, tapi ada pria lain yang mulai mengisi ruang hampa yang dulu ia ciptakan sendiri dengan rasa sakit dan pengabaian.

​Malam itu, Arlan tidak pulang ke mansion.

Ia menghabiskan waktu di bar eksklusif miliknya, mencoba menenggelamkan rasa cemburu yang membakar hatinya dengan alkohol yang mahal.

Namun, setiap tegukan justru membuatnya semakin jelas mengingat tawa Kinara bersama Devan.

Tawa yang tidak pernah ia dapatkan meski ia memberikan segalanya dalam bentuk materi.

​Arlan mulai menyadari bahwa penyesalannya baru saja dimulai, dan kali ini, ia harus berjuang melawan bayang-bayang kesalahannya sendiri jika tidak ingin kehilangan Kinara selamanya untuk pria yang jauh lebih baik darinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!