"Jika besok pria tua itu datang lagi untuk menagih jawabanmu, katakan padanya kau lebih memilih membusuk di sel ini," suaranya rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.
Aku tersentak, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa? Kau... kau menyuruhku tetap di penjara ini?"
"Ya," sahutnya pendek. "Aku tidak ingin menikah. Terlebih lagi, aku tidak ingin menikah denganmu. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi jika melangkah masuk ke mansion utama sebagai istri seorang Grisham. Di sana, kau tidak akan hanya melihat darah, tapi kau akan mandi di dalamnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Sunyi yang mematikan menyelimuti kabin mobil. Darrel mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih, sementara rahangnya mengeras seperti baja. Ia memacu limusin itu membelah jalanan setapak menuju mansion dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Aku hanya bisa meringkuk di sudut kursi, memegangi dadaku yang berdegup kencang, takut jika mobil ini akan terbalik atau jika amarah Darrel akan meledak saat itu juga.
Begitu sampai di lobi mansion, Darrel tidak menunggu Leo membukakan pintu. Ia keluar, memutar, dan menyambar lenganku dengan kasar.
"Darrel, sakit... pelan-pelan!" rintihku, namun ia mengabaikanku.
Para maid yang berdiri di lorong langsung menunduk ketakutan, beberapa dari mereka gemetar melihat raut wajah Tuan Muda mereka yang tampak seperti iblis yang haus darah. Darrel menyeretku menaiki tangga, melewati lorong sayap barat, dan membanting pintu kamarku dengan suara yang menggelegar.
Ia tidak langsung bicara. Dalam diam yang mencekam, ia melepas jas tuksedonya dan melemparkannya ke lantai begitu saja. Matanya yang merah menatapku dengan kebencian yang mendalam.
"Darrel, dengarkan aku... Marthin yang memaksaku, aku tidak—"
"Diam!" bentaknya. Suaranya menggelegar hingga membuatku tersentak mundur ke arah ranjang.
Darrel bergerak cepat, mendorong tubuhku hingga aku terjatuh di atas kasur, dan dalam sekejap ia sudah menindihku. Berat tubuhnya yang kokoh membuatku sesak. Ia mencengkeram kedua pergelangan tanganku di atas kepala dengan satu tangan, sementara tangan lainnya bergerak liar.
"Apa dia menyentuhmu di sini?" tanyanya dengan nada rendah yang sangat berbahaya. Ia meremas gundukan kembarku dengan sangat kasar di balik kain gaun satin, membuatku meringis kesakitan. "Jawab, Lily!"
"Tidak... tidak, Darrel! Aku bersumpah!" isakku, air mata mulai mengalir deras.
"Jangan berbohong padaku!" desisnya tepat di depan wajahku. "Aku mendengar suaramu dari luar pintu itu. Kau mendesah, Lily. Kau menikmati setiap sentuhan bajingan Winston itu, bukan? Apa kau merindukan sentuhannya sejak di kampus?"
"Bukan begitu... aku takut, aku hanya..."
Darrel tidak mau mendengar penjelasan lagi. Dengan satu sentakan kasar, ia merobek bagian depan gaunku hingga kancing-kancingnya terlepas dan kain berharga itu hancur berantakan. Tubuhku kini terekspos di bawah cahaya lampu kamar yang terang. Ia mulai menjelajahi kulitku dengan jari-jarinya yang kasar, setiap sentuhannya terasa seperti klaim paksa.
"Di sini? Apa dia menciummu di sini?" Ia menekan leherku dengan kuat. "Atau di sini?" Tangannya turun ke perutku, mencengkeram pinggangku hingga membiru.
Aku hanya bisa menggeleng dan terisak, memohon agar dia berhenti. Namun, kemarahan Darrel telah membutakannya. Ia kemudian memposisikan dirinya di antara kedua kakiku, memaksa pahaku terbuka lebar.
"Mari kita lihat seberapa jauh dia sudah mengobrak-abrik milikku," ucapnya dengan seringai licik yang mengerikan.
Ia menggerakkan jarinya di atas liang intiku yang masih lembap karena kejadian di pesta tadi. Ia memutar-mutar jarinya di sana, bermain dengan sangat presisi di titik paling sensitifku. Tubuhku membeku, sebuah sensasi panas yang tidak diinginkan mulai merayapi sarafku.
"Berhenti, Darrel... kumohon, jangan seperti ini," rintihku, mencoba menutup kakiku, namun ia menahan lututku dengan kuat agar tetap terbuka lebar.
"Kenapa? Bukankah ini yang kau inginkan? Martin pasti tahu betul titik ini," katanya sambil semakin liar bermain. "Lihat betapa basahnya kau. Kau sudah siap untuknya, atau untukku?"
Tanpa peringatan, ia menerobos masuk dengan satu jarinya ke dalam liang intiku. Aku tersentak, punggungku melengkung karena terkejut. Ia menggerakkan jarinya perlahan, seolah sedang mencari jejak pria lain di dalam sana. Kemudian, ia menambah satu jari lagi. Kini dua jarinya tertanam dalam di dalam intiku.
Awalnya gerakannya lambat dan penuh selidik, namun dalam sekejap berubah menjadi ambisius dan liar. Ia memompa jarinya dengan ritme yang cepat dan menekan, membuatku tidak bisa menahan lenguhan yang keluar dari bibirku.
"Aaaah.." Suara itu justru seperti bensin yang menyiram api amarahnya.
"Kau mendesah lagi, Lily," bisiknya parau, napasnya memburu di telingaku. "Sama seperti yang kau lakukan untuk Martin."
"Tidak... ahhh... Darrel, hentikan!"
Darrel semakin tak terkendali. Ia memainkan bagian terdalamku dengan kekuatan yang luar biasa, menekan titik-titik yang membuat seluruh tubuhku gemetar hebat. Rasa penuh dan desakan di perut bagian bawahku menjadi tak tertahankan. Rasanya seperti ingin buang air kecil, namun jauh lebih intens dan menyakitkan sekaligus nikmat.
"Darrel, aku... aku tidak tahan... ah!"
Aku tidak bisa menahannya lagi. Otot-otot tubuhku menegang maksimal, dan tiba-tiba cairan bening menyembur keluar dari intiku dalam jumlah yang banyak. Aku mengalami squirting tepat di tangan Darrel. Napasku terputus-putus, seluruh tenagaku habis seketika.
Darrel menarik tangannya yang basah kuyup, lalu menatapku dengan tatapan yang sangat menghina. Ia menyunggingkan senyuman licik yang paling menyakitkan yang pernah kulihat.
"Wanita liar," desisnya sambil mengusapkan cairan itu ke seprai di samping kepalaku. "Kau bahkan lebih mudah terangsang daripada yang kubayangkan. Apa Martin juga membuatmu sekacau ini tadi?"
Ia bangkit dari tubuhku, merapikan pakaiannya dengan sangat tenang seolah tidak baru saja melakukan kekerasan padaku. Ia menatapku yang masih terkapar lemas dengan baju yang robek dan air mata yang mengering.
"Jangan pernah berpikir untuk keluar dari sini," ucapnya dingin.
Darrel melangkah keluar, menutup pintu dengan bantingan keras, dan aku mendengar suara kunci yang diputar dari luar. Ia mengunciku di dalam kegelapan. Aku meringkuk, memeluk diriku sendiri di tengah aroma sisa pergulatan yang memuakkan ini, menyadari bahwa di mata Darrel, aku bukan lagi seorang manusia, melainkan hanya benda yang telah tercemar. Dan penjara emas ini kini terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.
***
Bersambung...
...****************...
Terima kasih untuk pembaca setia Sentuhan Sang Mafia. Jangan lupa like, komen, dan giftnya ya. Agar author lebih semangat lagi memberikan bab-bab terbaik. 🙏
makin seruu dan bikin penasaran🥰
double up dong biar makin puas 😂
apakah Lily juga anak dari klan mafia juga? jadi penasaran 🤨🤨🤨
Lily ikuti kata Darren, cukup kamu tersiksa 30 hari + 9 bulan. setelahnya kamu bisa bebas ( mungkin 🤔)
seru banget ceritanya