NovelToon NovelToon
MISTERI DESA GETIH

MISTERI DESA GETIH

Status: tamat
Genre:Horor / Balas Dendam / Misteri / Tamat
Popularitas:232.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: Siti H

Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.

Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.

Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?

Ikuti kisah selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sikap Misterius

Kreeek

Pintu terbuka, dan hawa panas langsung menyapa wajahnya.

wuuuussh

Astaghfirullah ...." pekik Alawiyah, tubuhnya terguncang, sembari memegangi dadanya yang bergemuruh.

Tatapannya tertuju pada pohon mangga di depan rumah ibu mertuanya.

Dalam samar, diantara penerangan lampu depan milik rumah Ratna, ia seperti melihat sosok hitam tinggi, berbulu lebat, dan dua mata merah menyala yang menatapnya dengan senyum seringai.

"—Apa itu? Seperti yang ku lihat sore semalam, diatas rumah mereka?" Alawiyah balas menatapnya, seolah mereka seperti saling merasa penasaran.

Saat bersamaan, perutnya kembali keram, calon bayinya memberikan tendangan kecil, seolah memberi isyarat.

Alawiyah meringis kesakitan. Lalu mengusap perutnya.

"Sialan, bukannya takut, malah nantangin," omel sang Genderuwo, saat melihat reaksi Alawiyah yang diluar ekspektasi, lalu celingukan seolah sedang memastikan tentang wujudnya.

Alawiyah mengerutkan keningnya. Ia sedang berfikir. "Apakah warga sini memang memiliki hobby memelihara makhluk seperti itu? Untuk apa—sebenarnya?"

"Astaghfirullah, mungkin warga desa ini sedang bersekutu pada iblis." Alawiyah menggelengkan kepalanya, dan berniat hendak menutup pintu.

"Kamu?! Kenapa membuka pintu di tengah malam?!" suara Ratih mengejutkan Alawiyah. Termasuk Genderuwo yang sedang memantau, ikut tersentak kaget dengan teriakan Ratih barusan.

"Busyet! Kenceng banget suaranya," Genderuwo itu kembali mengomel.

Alawiyah menoleh ke arah ibu mertuanya. Tatapan tajam langsung menyambutnya.

"Tutup!!" suara itu kembali menggelegar, dan menggema diruang rumah yang cukup sempit.

Dengan wajah ketakutan, Alawiyah langsung menutup pintu dengan cepat.

Suara teriakan Ratih, lebih menakutkan dari wujud Genderuwo yang baru saja menampakkan dirinya.

Meskipun begitu, Bayu tak juga terbangun, seolah mengabaikan segalanya, dimana calon janinnya saja sampai terdiam kembali.

Alwiyah berdiri membelakangi pintu, ia menundukkan kepalanya—saat Ratih berjalan menghampirinya.

"Lancang! Apa kamu gak diajari orangtuamu, tentang pamali kalau buka pintu tengah malam saat sedang mengandung?!" ucapan Ratih sangat tajam, menusuk hati.

Mendadak Alawiyah merasakan perih dihatinya. "Maafin Alawiyah, Mbok. Saya sudah tidak memiliki orangtua sejak kecil. Hanya bibi yang merawat saya,"

Kalimat yang keluar dari mulutnya, seolah seperti duri yang melewati tenggorokan.

Ratih diam sejenak, tetapi tak merubah tatapan wajahnya yang masih saja tidak berbelas kasih.

Alawiyah menarik nafasnya dengan berat. Dadanya terasa sesak, karena semua sikap ibu mertuanya. "Apa yang terjadi dirumah ini? Mengapa semuanya terasa begitu asing." ia bergumam dalam hatinya.

"Kau hanya mencari petaka! Mereka sedang mengincar—"

Klontaaaang

Sebuah hantaman diatas seng rumah terdengar begitu kuat, tetapi tidak ada benda yang bergelinding jatuh.

Suara dentuman itu membuat keduanya kembali berhenti bertengkar.

"Astaghfirullah," seru Alawiyah dengan wajah kaget. Ia memegang dadanya yang bergemuruh kuat.

"Ada apa lagi ini?" Alawiyah menatap sekelilingnya dengan sikap waspada, sebab ia merasakan sesuatu yang tak biasa, sebuah energi yang cukup kuat dan sepertinya sedang mengincarnya.

Klontaaaang

Kembali lagi suara dentingan diatas seng yang berdentum keras, dan lagi-lagi Alawiyah tersentak kaget.

"Mengapa kau membuka pintu?!" Ratih mencecar Alawiyah. Bahkan mereka belum sempat berkenalan.

"Masuk kamarmu! Besok kau pulang ke kampungmu! Jangan pernah injakkan desa ini lagi!" Ratih yang baru saja dari dapur, langsung mengomel.

Bahkan ia tak sempat merapikan rambutnya yang awut-awutan.

Alawiyah tercengang, dan menatap ibu mertuanya dengan bingung.

"Maaf, Bu. Saya hanya ingin ketemu dengan Mas Bayu. Saya sudah lama mencarinya, dan saat saya menemukannya, mengapa saya harus pulang?" ia protes akan ucapan ibu mertuanya.

"Kamu gak lihat, kalau Bayu dalam kondisi seperti ini?! Yang ada nantinya kamu dan bayimu itu tambah nyusahin saya." Ratih semakin bengis, membuat Alawiyah tampak mencelos hatinya.

"Kalaupun saya pulang, saya akan bawa Mas Bayu sekalian! Saya yang obati, jika semua ini hanya dianggap beban!" Alawiyah mulai berontak. Ia tak ingin ditindas, dan menganggap jika ibu mertuanya adalah ancaman.

Gelagat yang ditunjukkan Ratih padanya, adalah sebuah kebencian, dan Alawiyah tak ingin menyerah, untuk membawa Bayu bersamanya.

"Kau fikir kau siapa? Ini anak saya! Dan saya punya hak penuh atasnya!" Ratih terlibat adu argumen dengan sang menantu, bahkan belum sehari mereka bersama.

Tampaknya, tidak ada keharmonisan yang terjalin, bahkan komunikasi saja sudah sangat begitu rumit.

Alawiyah membolakan kedua matanya, ia merasa jika sang ibu mertua adalah orang yang sangat egois, dan tidak berhati nurani.

Bahkan janin dalam kandungannya yang merupakan calon cucu kandungnya—dianggap beban, bahkan saat belum lahir kedunia.

"Aku istrinya! Aku juga punya hak penuh, Mbok!" ia tak ingin kalah.

"Kau—"

Klontaaaang

Buuuuum

Ucapan Ratih terpotong saat suara dentingan dan disertai dengan dentuman yang cukup kuat kembali terdengar diatas atap seng.

Amarahnya yang tadi meledak, sejenak terdiam, lalu menatap ke arah jendela yang masih tertutup.

Dengan perlahan, Ratih terlihat berkomat-kamit, entah apa yang dibacanya, hanya saja, tiba-tiba dinding dan dan lantai rumah bergetar hebat.

Alawiyah yang ikut merasakan kejanggalan tersebut merasakan perutnya terguncang. "Ada gempa." ia memegangi daun pintu.

Lalu merosot turun, dan memegangi lantai rumah, lalu memilih untuk berbaring, sebab nafasnya terasa berat dengan perutnya yang terus saja berguncang hebat.

Ratih sejenak menjeda pertengkarannya dengan sang menantu.

Ia terus saja merapalkan doa, begitu juga dengan Alawiyah, sebab merasa membutuhkan pertolongan dari Yang Maha Kuasa.

"Ya, Rabb .... Selamatkan—lah kami." pinta Alawiyah dalam hati.

Saat bersamaan, ada suara-suara yang terdengar riuh, entah berasal darimana, tetapi seperti sebuah kegaduhan, dan jumlahnya cukup sangat banyak.

Alawiyah menutup kedua telinganya, dan suara-suara itu membuat kepalanya terasa pusing.

Perlahan, dinding dan lantai rumah mendadak diam, sama seperti semula, dalam keheningan yang bisu, hanya suara jangkrik yang terdengar cukup nyaring.

Ratih menghela nafasnya yang berat, lalu beranjak ke dapur.

Alawiyah menatap wanita berusia lima puluh tahun itu dengan tatapan penasaran.

"Apa yang akan dibuat si Mbok?"

Tak tak kleeetak

Terdengar suara benda dipotong, lalu perlahan hening, dan tiba-tiba saja, bulu kuduk Alawiyah meremang, dan perutnya seperti berdenyut.

"Aduuh, kok aku seperti kontraksi, ya?" keluhnya, sembari memegangi perutnya.

Sedangkan untuk perkiraan kelahiran, ia masih ada waktu sebulan lagi, dan ini belum saatnya, bayi bisa lahir prematur, dan sangat membahayakan nyawa.

Alawiyah mencoba berfikir postif, semoga saja ibu mertuanya tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya.

Tak berselang lama, Ratih kembali dari dapur. Ditangannya terdapat sebuah gelang yang bertali panjang dan terbuat dari kain berwarna hitam.

Sedangkan dibagian tengahnya berbentuk persegi panjang, yang mana sudah diisi jeriangau dan kunyit bangle, bawang putih tunggal, serta gunting besi berukuran sangat mini.

Sementara itu, diluar sana, Genderuwo masih berdiri menatap rumah Ratih. Ia sudah berusaha masuk, dan berhasil ke dalam, tetapi entah apa yang membuatnya seperti merasa panas, sehingga memaksanya untuk keluar.

"Hiiiihihihihihihi ...." suara cekikikan kuntilanak yang sedang bergantung terbalik di dahan pohon mangga mengagetkannya.

"Mbak Kun! Ngagetin saja!" omelnya.

Sang Kuntilanak kembali cekikikan, lalu melimpat, dan berdiri sejajar menatap rumah Ratih dengan tatapan sinis.

"Janinnya sangat manis. Rumah ini sangat manis, penghuninya." ucap Kuntilanak dengan tatapan yang sinis.

1
Shyfa Andira Rahmi
kasian bnget sih lempar sana lempar sini...🤣🤣🤣
Shyfa Andira Rahmi
Bagasss ini superhero bnget yaaa🫶🫶🫶
Shyfa Andira Rahmi
si mba Sun udah trauma eehhh malah dikasih liat beginian lagi....auto makin stresss Mba Sun nya🤣🤣🤣🤣
Shyfa Andira Rahmi
🤣🤣🤣
Shyfa Andira Rahmi
🤣🤣🤣🤣
Shyfa Andira Rahmi
dihhh jijayyyy bekas Mang Wowo lho ituu🤮🤮🤮
Shyfa Andira Rahmi
GELO
Shyfa Andira Rahmi
malah pinteran theMyth yaaa...
Shyfa Andira Rahmi
lahhhh..ngga usah niru itu motonya kang Aldi🤣🤣
Shyfa Andira Rahmi
dasar laki BEGOOO🤣🤣
Shyfa Andira Rahmi
akhirnya merasakan juga apa yg dirasakan si Novita selama ini...🤣
Shyfa Andira Rahmi
baru x ini calon tumbal bisa cekcok sama setan🤣
Shyfa Andira Rahmi
jual mbok, kan lumayan tuh 90 lhooo...🫣🫣
Rika Yudesni
gawat...
mba Kunti tahu MBG 😄😄
Rika Yudesni
di cerita ini setannya gaul semua 🤣🤣🤣
Rika Yudesni
bener banget 😄
Rika Yudesni
gaul juga genderuwo nya🤣
Hamidah Midah
bukan nya takut baca nya ini mah aku ketawa trus🤣🤣
Hariyanti Katu
🤣🤣
Hariyanti Katu
aduh thoor,knp su sm nawang wulang bikin aktraksi rrus🤣🤣perutq sakit thoorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!