NovelToon NovelToon
Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Auzora Maleeka

"Di saat napas terakhir Pak Tua Arman dianggap sebagai akhir dari kejayaan keluarga Chandra, seorang asing berpakaian putih muncul tanpa suara. Tak ada obat, tak ada mantra rumit. Ia hanya membungkuk, membisikkan satu kalimat di telinga kakek yang sekarat itu, lalu berbalik pergi. Detik berikutnya, jantung kembali berdetak kuat, membuat para anak tercengang. Siapakah dia? Dan apa yang diucapkannya untuk menantang kematian?"

"Sebuah kalimat yang mengubah takdir. Saat dunia medis menyatakan Kakek sekarat, seorang asing bernama Yun Miao muncul dan menyembuhkannya hanya dengan satu kalimat perintah. Siapakah Yun Miao, dan bagaimana kalimat sederhana bisa melawan maut?"

Mohon maaf ya teman-teman kalau novel pertamaku belum bisa membuat kalian puas bacanya. InsyaAllah aku akan terus berusaha agar novelku selanjutnya bisa memenuhi keinginan dan kriteria kalian semua.... Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auzora Maleeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

"Aku mohon padamu. Kembalikan Yuna padaku. Aku nggak bisa kalau nggak ada Yuna. Aku mohon padamu." Kata Nyonya Desi sambil menggelengkan pelan kepalanya, pertanda dia tak ingin dipisahkan dari sang anak, meskipun dia tahu dia telah salah karena telah menyembunyikan jenazah sang anak.

"Aku nggak bawa Yuna." Kata Nyonya Rania.

"Kau masih nggak mau mengaku ?" Teriak Nyonya Desi histeris.

"Kau jangan kira aku nggak tahu, apa yang sudah kamu lakukan." Sambung Nyonya Desi, sehingga membuat Nyonya Rania begitu ketakutan.

"Desi, Desi, Desi. Tenang dulu."Kata Heri sambil menenangkan sang istri tapi masih saja kalah tenaga juga.

"Sekarang kau cuma ada Heri, satu putra. Aku tanya padamu. Bagaimana dengan lima anakmu sebelumnya ? Bagaimana dengan lima anak perempuanmu ? Ke mana semuanya ?" Kata Nyonya Desi, sehingga membuat Nyonya Rania menjadi pucat dan ketakutan serta badannya menjadi gemetar.

Sedangkan Heri, menatap sang istri tidak percaya, dan juga ia ingin tahu apa maksud dari perkataannya, bahwa sang ibu masih memiliki 5 anak perempuan.

"Kau. Apa yang kau tahu ?" Tanya Nyonya Rania sambil menunjuk ke arah Nyonya Desi.

"Aku tahu semuanya. Putri pertamamu, dibesarkan sampai tujuh tahun. Karena mencuri telur, kau menendangnya hingga kepalanya terbentur meja dan mati." Ucap Nyonya Desi sehingga membuat orang disana kaget dan menutup mulutnya.

"Putri keduamu, dia baru lahir, sudah kau.... Karena kau memasukkannya ke dalam pispot dan menenggelamkannya sampai mati. Karena kau merasa melahirkan anak laki-laki harus menakut-nakuti anak perempuan, melarang mereka untuk bereinkarnasi di keluargamu."Teriak Nyonya Desi.

Pada saat Nyonya Desi berbicara, tangan Adrian gemetar, entah karena takut atau apa, aku juga nggak tahu gaes😂, sementara Pendeta Axel, memfokuskan pikirannya untuk mengetahui, apakah yang dikatakan oleh Nyonya Desi ini benar atau nggak.

"Omong kosong." Bantah Nyonya Rania.

"Hahahaha..... Aku omong kosong ? Bagaimana caramu membuat Heri lahir dan tumbuh besar setelah lima anak perempuanmu meninggal dunia berturut-turut sebelumnya ?" Tanya Nyonya Desi kepada Nyonya Rania yang terus saja mengelak itu.

"Jangan bicara lagi." Kata Nyonya Rania sambil terisak sambil menutup telinganya.

"Kau nggak takut ? Ah ! Apakah sekarang kau nggak takut ? Apa kau mau mendengar suara tangisan bayi ? Coba dengar. Mereka sepertinya bilang, ibu, sakit sekali. Apa kau dengar ?" Kata Nyonya Desi.

Pada saat berbicara seperti itu, Adrian badannya jadi merinding dan gemetar, dia mengusap wajahnya berulang kali karena merasakan merinding yang amat sangat.

Nyonya Desi, berbicara seperti itu sambil mencari-cari arah dimana yang menurut dia ada suara tangisan bayi.

Sementara Pendeta Axel, menjadi sangat geram atas apa yang dilakukan oleh Nyonya Rania. Nyonya Rania begitu ketakutan, saat Nyonya Desi memeluk dirinya sendiri untuk mengapresiasikan suatu hal yang berbaur ketakutan, sementara yang lain, melihat-lihat ke arah lainnya sehingga tanpa diketahui oleh siapapun Nyonya Rania terjatuh.

"Nona Nadira, apa benar ada suara bayi ?" Tanya Adrian yang begitu ketakutan, sehingga ia tanpa sadar memegang tangan Nadira.

"Dia cuma menakut-nakuti." Jawab Nadira, hingga akhirnya jawaban itu membuat Adrian menjadi lega.

"Siapa yang memberi tahumu semua ini ?" Teriak Nyonya Rania kepada Desi. Pendeta Axel pun terus melihat ke arah mereka berada.

"Hahahaha....." Nyonya Desi, langsung menampar dirinya sendiri sehingga membuat Heri terkejut. Dan juga Adrian pun langsung memegang pipinya seakan-akan dia merasakan sakit juga.

"Semua salahku. Seharusnya aku sudah menduganya dari awal. Wanita tua ini bahkan begitu sangat kejam pada putri kandungnya sendiri. Dia mana mungkin mengampuni Yuna ? Semua salahku. Semua salahku." Kata Nyonya Desi sambil terus menampar pipinya itu, sementara Nyonya Rania kaget apa yang dilakukan oleh Nyonya Desi

Saat Nyonya Desi berbicara, Nadira tidak memperhatikan ia hanya fokus pada apa yang telah dia lihat dari awal. Dia mengangkat tangannya, hingga muncul sinar keemasan dari tangannya dan langsung di arahkan ke tempat dimana yang diyakini jenazah Yuna berada. Hingga Pendeta Axel terkejut apa yang dia lihat. Sementara Adrian malah langsung melihat ke arah Pendeta Axel, seakan dia mau bilang bahwa apa yang dia katakan adalah suatu kebenaran.

"Desi. Desi. Kau sedang apa ? Desi, Desi." Panggil Heri sambil memegang kedua tangan Nyonya Desi.

Pada saat itu, muncullah seberkas sinar emas dari tangan Nadira hingga menggumpal, dan diapun menggenggam nya erat sehingga menjadi warna merah dan hitam.

Sementara Pendeta Axel, begitu terkejut saat mengetahui apa yang dilakukan oleh Nadira, dan pendeta Axel pun juga sangat terkejut akan kekuatan dari Nadira.

"Wanita ini, sepertinya memang memiliki kemampuan." kata Pendeta Axel dalam hati.

Setelah Nadira membuka telapak tangannya, hingga menyebar lah asap hitam itu. Sehingga mereka semua melihat ke arah Pendeta Axel.

"Kenapa kalian melihatku ? Aku juga hanya bisa berpura-pura. Aku juga belum pernah melihat adegan seperti ini." Kata Pendeta Axel sambil menjelaskan tentang situasi sekarang.

Mereka pun terdiam, mendengar apa yang dikatakan oleh Pendeta Axel. Sehingga pada akhirnya Nyonya Desi, berlutut di depan Nadira.

"Kau memiliki kemampuan. Aku mohon kepadamu, bantu aku." Kata Nyonya Desi sambil memegang ujung baju Nadira.

Nadira pun hanya melihatnya saja. Sementara Adrian langsung membangunkan Nyonya Desi, dibantu oleh sang suami. Dikarenakan Adrian tahu, kalau Nadira sangat anti di pegang oleh orang lain kecuali dalam keadaan terdesak saja.

"Ingin aku membantumu, jawab dulu pertanyaanku." Tanya Nadira sambil melihat ke arah Nyonya Desi.

"Baik. Kau tanya saja. Aku pasti akan katakan semuanya padamu." Kata Nyonya Desi sambil mengangguk pelan.

"Menurutmu, siapa yang mencelakai putrimu." Tanya Nadira.

"Tentu saja wanita tua sialan ini. Kau nggak tahu. Dia setiap hari terus mendesak ku untuk melahirkan anak kedua. Aku memberitahunya bahwa aku hanya ingin menginginkan Yuna, tetapi tatapan matanya saat melihat Yuna sangat menakutkan." Spontan Nyonya Desi menjawab, sambil menunjuk ke arah Nyonya Rania sehingga Nyonya Rania menjadi mundur beberapa langkah.

"Benar. Bahkan putri kandungnya sendiri saja dibunuh. Orang yang begitu jahat dan kejam, hal apa yang nggak bisa dia lakukan ?" Kata Adrian, sehingga mereka semua pun membenarkan ucapan Adrian itu.

"Bukan begitu. Ibuku nggak mungkin membunuh orang." Kata Heri dan Nyonya Rania pun membenarkan perkataan sang anak dengan menganggukkan-anggukkan kepalanya.

"Siapa yang mengajarimu menyalakan Dupa Roh ini ?" Tanya Nadira kepada Nyonya Desi.

Setelah mendengar pertanyaan itu, Nyonya Desi langsung menoleh ke belakang.

"Bukan aku yang menyalakannya." Kata Nyonya Desi sambil melihat ke arah sang suami.

" Sejak Yuna pergi, tiap hari aku berharap bisa mati menemani Yuna. Heri melihatku terlalu menderita, jadi dia membakar dupa dan berdoa. Lalu mendapatkan dupa ini, dia bilang selama dinyalakan, aku terus bisa melihat Yuna." Kata Nyonya Desi sambil terus menerus melihat ke arah belakang.

"Nggak mungkin. Nona Nadira, aku sudah menyelidiki Keluarga Hutama. Heri nggak pernah keluar dari rumah, bagaimana mungkin dia pergi ke kuil untuk menyalakan Dupa?" Kata Adrian sambil menceritakan apa yang ia ketahui tentang keluarga Hutama. Saat Adrian berbicara Nadira melihat ke arah Adrian.

"Dengar nggak ?" Kata Nadira.

Sedangkan Nyonya Desi dan Tuan Heri saling menoleh seakan-akan mereka saling bertanya satu sama lain.

" Kau membohongiku?" Tanya Nyonya Desi.

"Desi, maaf. Aku melihatmu terlalu sedih. Jadi, aku ingin menghiburmu, jadi asal sembarang menyalakan sebatang Dupa. Ternyata kau menganggapnya itu serius." Kata Tuan Heri.

" Benarkah begitu ? Jadi, apapun yang kulakukan, aku nggak akan pernah bisa bertemu Yuna lagi." Kata Nyonya Desi.

" Omong kosong !. Aku bernai menjamin bahwa dupa Roh ini asli." Bantah Pendeta Axel. Sehingga membuat sepasang suami istri itu terkejut, dan Nyonya Desi langsung menoleh kebelakang.

1
Andira Rahmawati
absend dulu thor...
Chen Nadari
mampir Thorr
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!