Merasa kesal karena ada yang mengatakan bahwa dirinya tidak akan laku bahkan akan terus menjomblo seumur hidup, tidak ada satu pun pria yang tertarik padanya.
"Enak aja dia bilang begitu padaku! Awas saja kau! Akan aku buktikan diriku ini bisa memiliki seorang kekasih dan layak untuk dicintai!" geramnya wanita cantik itu.
Ia bersumpah pada dirinya sendiri, setelah mendapatkan kekasih justru ia akan langsung memamerkan kemesraannya terhadap orang yang telah berani berkata seperti itu.
"Tapi tunggu! Dari mana aku akan mendapatkan seorang kekasih!?" ia gelisah dan mondar-mandir.
"Astaga..." dirinya mengusap wajah dengan kasar.
"Hah, semoga dapat ya?" batinnya berdoa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xeynica_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode Delapan
"Gula Aren.." panggil Cellsyia setelah menguraikan pelukannya.
Wanita itu menangkup wajah tampan pria itu, Aren kemudian mengangkat kepala dan menatap tajam kekasihnya.
"Gula Ar..." ucapan Cellsyia terpotong oleh Aren.
"Jangan panggil aku Gula Aren!" ucap pria itu.
Dengan sengaja Cellsyia memanggil dirinya panggilan itu.
"Gula Aren..."
"Gula Aren, Gula Aren...Gu..." perkataan Cellsyia terhenti karena tiba-tiba saja mulutnya dibekap oleh tangan pria itu.
"Aku kan sudah katakan! Jangan panggil aku Gula Aren, Sayang!"
"Gula Aren, Gula Aren. Gula Aren jelek!" wanita itu mengejek diri Aren setelah melepaskan tangannya dari mulut.
"Aren itu Gula Aren, dan Aren Gula tetap Aren" wanita itu tidak berhentinya mengejek pria itu.
Sementara itu Aren, pria itu bersidekap dada dengan tatapan datar mengarah kekasihnya yang masih terus saja mengejeknya.
3 Menit Kemudian.....
"AAAAA, SAYANG! SUDAH IH! JANGAN EJEK AKU TERUS! KAMU NGGAK CAPE APA!?" pria itu menjerit kesal.
"Hah, okay. Aku berhenti" ucap wanita itu, ia pun duduk di lantai yang dingin sedangkan Aren terduduk di atas sofa.
"Janji kamu jangan panggil aku Gula Aren lagi!?"
Tangan kekarnya mengulur ke depan, Cellsyia terlihat mengernyitkan dahinya dan maksudnya apa ulur tangan ke arahnya.
"Apa?" sang kekasihnya bertanya dengan raut wajah yang kebingungan.
"Sini Sayang, ayo janji dulu" titahnya pria itu, Cellsyia segera menghampiri Aren dan setelah telat dihadapan pria itu Cellsyia lantas bertanya.
"Kenapa dengan tanganmu itu, Ren?"
"Janji" pria itu menjawab singkat.
"Untuk?" tanya Cellsyia.
"Janji untuk yang tadi" balas Aren.
"Oh" wanita itu menganggukkan kepala.
Tangan ragu Cellsyia menerima uluran tangan itu.
Grep
Keduanya saling bergenggam, pria itu mengeratkannya namun tak terlalu menekan.
"Aku atas nama Cellsyia Wielthama Azka, berjanji untuk tidak akan mengejek lagi Tuan Aren. Jika aku melanggar janjiku ini maka Aren harus aku hukum!" janjinya Cellsyia pada pria itu.
Pria itu membulatkan kedua mata saat mendengar perkataan dari sang kekasihnya itu.
"Loh? Sayang? Bukannya kebalik ya? Harusnya jika kamu langgar janji itu aku yang seharusnya menghukum dirimu!" Aren membantahnya dan tidak menyetujuinya.
"Huh! Iya..." jawab Cellsyia.
"Kali ini kau menang, Gula Aren! Tapi tidak untuk kemudian hari!" batinnya wanita itu.
"Cini peyuk acu, Cayangku" pinta Aren dengan manja.
"Hm" lantas Cellsyia mendekati pria itu, kemudian memeluknya.
Dan ya, kedua sepasang kekasih itu berpelukkan dengan mesranya.
"Sayang" Aren memanggil kekasihnya.
"Why?" tanya Cellsyia.
"I love you..." pria itu mengatakan rasa cintanya langsung pada kekasih.
"....." Cellsyia terdiam saja.
Merasakan kekasihnya tidak membalas, Aren menguraikan pelukan itu.
"I love you..." Aren mengulang kembali.
"Sorry" jawab Cellsyia.
"Aku belum bisa balas cintamu itu, Ren" mendengar hal itu, wajah Aren menjadi agak sedikit murung.
"Tidak apa-apa, Sayang" balas pria itu dengan lirih, lalu mendekap tubuh kekasihnya.
Tampak erat dan seakan tak mau melepaskannya.
"Huh! Benar ternyata, karena sebelumnya aku sudah menduganya dan kenyataannya Yia belum ada rasa apapun padaku" batinnya Aren berkata.
"Tidak masalah, selagi di sampingku aku tidak akan membiarkan dirimu pergi dari sisiku, nanti ku ikat kamu dalam ikatan seumur hidup dan tinggal menunggu waktu yang pasti"
"Nyatanya aku menerima Aren karena terpaksa, walaupun menurutku dia itu tampan, bule, sayang aku tak cinta"