NovelToon NovelToon
Pendekar Naga

Pendekar Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: MENUNGGU DI AMBANG KEMATIAN

Empat hari telah berlalu sejak debu pertempuran di Istana Macan Hitam mengendap. Namun, di perbatasan Lembah Mayat, waktu seolah berhenti berputar. Kabut kelabu masih menggantung pekat, tidak pernah benar-benar menipis meski matahari berusaha menembusnya. Kabut itu berputar pelan, menyerupai raksasa tak kasat mata yang menjaga gerbang neraka—sesuatu yang sangat purba dan tidak ingin diganggu oleh kaki-kaki manusia fana.

Di tepian lembah yang terkutuk itu, pemandangan kontras terlihat. Puluhan tenda sederhana berbahan kulit binatang berdiri berjajar, membentuk barikade pengepungan yang rapi namun mencekam. Api unggun menyala redup, mengirimkan lidah-lidah api yang menari gelisah di kegelapan.

Namun, suasana di perkemahan itu jauh dari kata tenang.

Para pendekar golongan hitam—pasukan elit yang biasanya tak kenal takut—kini duduk dan berjaga dengan kegelisahan yang nyata. Mata mereka sesekali melirik ke arah dinding kabut, seolah-olah mengharapkan sesuatu keluar dari sana, namun di saat yang sama, mereka juga sangat ketakutan akan apa yang mungkin muncul.

“Sudah empat hari…” gumam salah satu pendekar seraya mengasah parangnya yang besar. Suaranya pecah di tengah kesunyian. “Bocah itu… Rangga Nata, belum juga menampakkan batang hidungnya.”

“Tidak mungkin dia masih hidup,” sahut rekan di sampingnya dengan cepat, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri. “Masuk ke Lembah Mayat dalam kondisi terluka parah? Itu bukan bersembunyi, itu bunuh diri.”

Beberapa pendekar lain mengangguk setuju. Ada yang tersenyum sinis, ada pula yang menghela napas lega, berharap tugas membosankan ini segera berakhir.

“Apalagi dia membawa gadis yang terkena pukulan telak dari Pemimpin,” tambah seorang pendekar berwajah kasar dengan bekas luka melintang di pipi. “Kalau tidak mati karena hawa beracun lembah itu, si Bidadari Penebus Nyawa itu pasti sudah membusuk karena organ dalamnya hancur.”

Tawa kecil yang hambar mulai terdengar di antara mereka. Namun, tawa itu tidak sepenuhnya yakin. Masih ada ganjalan di hati mereka, sebuah keraguan yang tersembunyi jauh di balik kesombongan golongan hitam.

Di tengah-tengah perkemahan, duduk seorang pria dengan perawakan luar biasa besar. Tubuhnya yang kekar tertutup jubah bulu hitam, tampak seperti gunung karang yang tak tergoyahkan. Tatapannya tajam menembus kegelapan, sepasang matanya merah seperti bara api yang belum sepenuhnya padam oleh air hujan.

Dialah sang penguasa... Macan Hitam.

Ia tidak ikut tertawa. Ia tidak berbicara sedikit pun. Hanya diam membatu, namun keheningan yang ia ciptakan jauh lebih menakutkan daripada teriakan perang mana pun. Aura kesaktiannya menekan udara di sekitarnya, membuat api unggun di depannya bergoyang-goyang tidak stabil.

“Pemimpin…” salah satu kapten pasukannya memberanikan diri mendekat, membungkuk sangat dalam. “Sudah jelas bagi kami… Rangga Nata tidak akan pernah keluar dari sana. Lembah itu telah menelan ribuan pendekar sakti di masa lalu. Tak ada alasan baginya untuk menjadi pengecualian.”

Macan Hitam tidak langsung menjawab. Ia menatap ke arah kabut kelabu itu. Lama. Sangat lama, seolah-olah pandangannya sanggup menembus tabir gaib Nini Ruai.

“Menurutmu… dia benar-benar mati?” suaranya rendah, namun mengandung getaran yang membuat nyali bawahannya menciut.

Pendekar itu mengangguk cepat. “Sangat yakin, Pemimpin! Tidak mungkin ada manusia yang bisa bertahan dari serangan racun mayat selama empat hari tanpa penawar.”

“Benar, Pemimpin! Bahkan tetua golongan kita pun tak berani melintasi garis itu!” timpal yang lain, mencoba mencari muka.

Beberapa dari mereka mulai tertawa kecil lagi, kini dengan nada yang lebih yakin. Mereka merasa sang Naga Emas telah terkubur di dalam sunyinya lembah.

Namun—Macan Hitam tiba-tiba berdiri.

DUG!

Hentakan kakinya membuat tanah di bawahnya retak sedalam tiga inci. Semua tawa mendadak hilang. Kesunyian kembali menyergap, lebih pekat dari sebelumnya. Macan Hitam berjalan perlahan, mengitari api unggun. Setiap langkahnya membuat jantung para anak buahnya berdegup kencang, seirama dengan pijakannya yang berat.

“Bodoh…” desisnya pelan.

Semua menunduk, tak ada yang berani menatap mata merahnya.

“Kalian terlalu cepat menarik kesimpulan berdasarkan rasa takut kalian sendiri.” Ia berhenti tepat di batas lingkaran cahaya api, masih menghadap ke arah kabut. “Bocah itu… Rangga Nata, bukan orang biasa. Aku merasakannya saat benturan pedang kami.”

Macan Hitam mengingat kembali detik-detik di istana. Kecepatan Rangga, ketajaman sorot matanya, dan sisa tenaga dalam murni yang sanggup menangkis serangannya meski dalam keadaan terdesak.

“Aku tidak akan meremehkan orang yang berani menantangku secara terang-terangan,” lanjutnya. Matanya menyipit penuh perhitungan.

Salah satu pendekar senior kembali berbicara, kali ini dengan intonasi yang jauh lebih hati-hati. “Kalau begitu… apakah kita akan terus menunggu di sini sampai ia keluar, Pemimpin? Bagaimana jika dia benar-benar sudah menjadi tulang?”

Macan Hitam terdiam sejenak, lalu ia tertawa pelan. Tawa yang membuat bulu kuduk berdiri. “Tidak. Kita sudah membuang cukup banyak waktu di tepi lubang kubur ini.”

Semua anak buahnya mengangkat kepala, bingung dengan perubahan sikap pemimpin mereka.

“Kalau dia hidup… dia pasti punya satu tujuan yang sangat mendesak. Sesuatu yang membuatnya berani mempertaruhkan nyawa menembus gunung ini.”

“Tujuan?”

Macan Hitam menyeringai, menampakkan taringnya yang kuat. Wajahnya kini dipenuhi kelicikan yang mengerikan. “Perguruan Melati Putih. Dia membawa obat itu untuk menyelamatkan Dewi Melati.”

Ia berjalan mengitari pasukannya, membiarkan jubah hitamnya menyapu debu. “Jika dia benar-benar selamat dari Lembah Mayat, maka ia tidak akan bersembunyi di dalam sana selamanya. Dia akan berpacu dengan waktu menuju perguruan itu sebelum racun Nini Suro bekerja sepenuhnya.”

Suasana berubah. Kini sunyi itu bukan lagi sunyi ketakutan, melainkan sunyi yang dipenuhi rencana jahat.

“Pemimpin… kalau begitu, haruskah kita gerakkan seluruh pasukan untuk meratakan Melati Putih sekarang juga?” tanya sang kapten penuh semangat.

Macan Hitam berhenti melangkah. Tatapannya mendingin. “Tidak. Kita tidak akan bergerak secara membabi buta tanpa kepastian posisi si Naga Emas. Namun…”

Senyumnya kembali muncul, lebih lebar dan lebih haus darah.

“Kita akan kirimkan sebuah ‘hadiah’ pembuka. Beberapa orang pilihan dari satuan elit bayangan. Biarkan mereka ‘bermain-main’ sebentar dengan murid-murid Melati Putih yang sedang berduka.”

Beberapa pendekar tertawa kejam. Mereka mulai mengerti strategi licik sang pemimpin.

“Kalau Rangga Nata masih hidup, dia pasti akan muncul untuk melindungi mereka. Saat itulah, ia akan dalam kondisi paling lemah setelah memberikan tenaganya untuk si gadis luka. Dan jika tidak muncul…” Macan Hitam mengepalkan tangannya kuat-kuat, “…maka kita akan menghabisi sisa-sisa Melati Putih tanpa ada gangguan satu orang pun.”

Tawa penuh keyakinan kini membahana di perkemahan itu. Rencana telah disusun, mangsa telah ditentukan.

Macan Hitam kembali menatap ke arah kabut Lembah Mayat untuk terakhir kalinya sebelum berbalik menuju tendanya.

“Rangga Nata…” bisiknya pelan, terbawa oleh hembusan angin malam. “Kalau kau memang masih memiliki sisa nyawa, keluarlah dari sarang kematian itu segera.”

“Karena di dunia luar ini… aku sudah menyiapkan panggung kematian yang jauh lebih meriah untukmu.”

Angin malam berembus lebih kencang, menggulung kabut Lembah Mayat yang tetap menyimpan rahasianya rapat-rapat. Sementara di kejauhan, di luar jangkauan penglihatan mereka, roda takdir terus bergerak menuju sebuah pertemuan berdarah yang tidak akan mungkin bisa dihindari lagi.

Bersambung…

1
Ilman Xd
cerita apa ini dawk
anggita
ada visualisasi gambar tokohnya👌. like iklan👍☝
Idwan Syahdani: makasih kk udah mampir...
total 1 replies
angin kelana
lanjuuuuuttt mudah2n cerita selanjutnya makin seru...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!