Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.
Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.
Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan tak terduga
Ting!
"Pengumuman. Penjualan novel Malaikat Bayaran akan dibuka. Bagi pengunjung yang ingin mendapatkan nomor antrean, silahkan mendaftar di bagian administrasi. Terima kasih,"
Suara wanita itu menggema melalui pelantang suara, memecah ketenangan toko buku.
"Wah, sudah dibuka!" seru salah satu pengunjung yang baru saja melangkah masuk.
"Ayo cepat, kita ke sana!"
"Aku tidak boleh kehabisan nomor!"
Dalam sekejap, kerumunan orang mulai terbentuk. Seperti kawanan serigala yang mengincar mangsa, mereka berlarian menuju sudut ruangan, meninggalkan rak buku demi posisi di barisan depan.
"Benar di sini, kan?" guma Rafan. Matanya bergerak gelisah, menatap bergantian antara layar ponsel dan pintu kaca di hadapannya.
Toko buku ini sangat luas, bermandikan cahaya terang dengan udara sejuk yang berembus dari setiap sudut.
Ribuan buku tersusun rapi di rak-rak kayu yang tinggi, seolah menggoda siapa pun untuk menyentuhnya.
Poster-poster promo dan papan iklas estetik menghiasi dinding, bersanding dengan pot bunga imitasi dan manekin yang menambah kesan artistik.
Ada banyak jajaran bangku kayu yang disediakan untuk membaca atau sekadar berswafoto,
"Hah... Semoga aku tidak kehabisan antrean," cicit Rafan sembari melangkah mantap melewati pintu sensor.
Penampilan casualnya seperti pemuda pemalas. Rambut berantakan memakai kaos longgar dan kusut, serta hanya mengenakan celana kain selutut.
Karena terdesak waktu, ia nekat datang ke toko buku terbesar di kota tanpa memedulikan gaya.
Kaki beralas sandal jepitnya melangkah bimbang. "Dimana tempat antrenya?" Ia menoleh ke segala arah, mencova mencari barisan yang mencuri perhatian.
"Semoga benar, di sana. Aku sudah menunggu sangat lama untuk ini---"
Langkah Rafan terhenti seketika. Manik matanya membulat sempurna. Melirik pelan ke area yang baru saja dilewati, lalu sigap melangkah mundur guna memastikan apa yang tertangkap oleh pelupuk matanya.
Seorang gadis berdiri di antara rak buku. Mengenakan celana kulot cokelat dan kaos hitam yang simpel, tas rajut maroon tersampir di pundaknya.
Mata cokelat Myra tampak fokus menelusuri barisan tinta pada buku di tangannya. Rambutnya dicepol asal-asalan, namun tak mengurangi pesona.
Rafan tersenyum. Tujuan utamanya mengantre buku menguap begitu saja. "Ponsel! Mana ponselku?"
Dengan gerak cepat, ia merogoh saku celana. "Mode senyap, pastikan mode senyap!" bisiknya pada diri sendiri.
Ia mengarahkan kamera, membidik pemandangan indah di depan. Seorang gadis yang tenggelam dalam dunianya di antara jajaran buku,
"Ck! Wajahnya kurang jelas." Rafan bergumam lirih sembari mencubit layar ponsel untuk memperbesar gambar,
Beruntung semua orang sedang sibuk mengantre di sisi lain. Jika tidak, pasti ada yang menegur atas tindakan lancang Rafan.
"Aku harus berterima kasih karena dipindah tugaskan ke sini." bisiknya penuh syukur,
"Jika tidak ada kasus pembunuhan itu, kami tidak akan pernah bertemu. Dan aku takkan pernah tahu kalau ada bidadari di kota ini,"
Di kejauhan, Myra menikmati bacaannya. Ia tak bergerak sedikit pun, tak merasa lelah meski berdiri lebih dari setengah jam.
Namun, perasaan terusik perlahan merayap di benaknya. Seakan ada sepasang mata yang mengawasi, Myra mulai merasa tidak nyaman.
Ia coba abaikan,menganggap itu hanya radar kewaspadaannya yang berlebihan.
"Ssh..." Myra mendesis, mengernyit karena rasa nyeri yang menyengat lengannya.
Seketika seperti sengatan listrik yang mampu melumpuhkan,
"Belladona sialan!" umpatnya pelan, melirik bekas lebam di lengan kananya. "Ini masih terasa sakit meski aku sudah meminum penawarnya! Lagi-lagi aku tertembak di tangan,"
Myra menekuk bibirnya kesal, teringat kejadian tadi siang saat bawahannya mengeroyok. "Lain kali aku akan pakai alat pengaman,"
Ia menghela napas, lalu menutup buku tebal di tangannya. "Aku sudah membaca semuanya. Lebih baik aku pulang sekarang dan beristirahat,"
DEG!
Langkah Myra membeku. Tertegun mendapati seorang pria berdiri cukup jauh, namun jelas sekali dia sedang mengarahkan kamera kepada Myra.
"Kenapa dia menghadap ke sini?" batin Myra penasaran.
Kembali tersentak saat ponsel itu berpindah dan memperlihatkan wajah familiar,
Rafan menelan saliva. Kamera dengan zoom dua kali lipat tadi menangkap jelas ekpresi Myra,
Panik menjalar di dadanya. "Mampus, ketahuan!"
Ponselnya turun ke bawah, sambil menerbitkan senyum kikuk agar tak dituduh sebagai penguntit.
"Argh! Kenapa dia lagi?" benak Myra membuang muka.
Langsung memutar tubuh dan mencari jalan lain,
"Hei!" Rafan memanggil gadis yang sengaja menghindarinya,
Namun suaranya justru mempercepat langkah Myra.
"Kenapa dia selalu lari setiap melihatku?" Rafan terheran.
Kaki jenjangnya tidak tinggal diam dan menyusul, melupakan tujuan awalnya datang ke sana untuk membeli buku.
"Kita sudah ditakdirkan bertemu. Jadi mana mungkin aku melepaskanmu begitu saja?"
Rafan tak mampu menandingi kecepatan Myra. Tanpa kehabisan akal dia berputar ke arah lain, mengambil rute memutar dan melewati lorong guna meotong jalan Myra dari arah berlawanan.
DAP!
DAP!
DAP!
"Sial!" Myra terjebak,
Terhalang oleh tubuh tinggi kekar yang tiba-tiba muncul tepat di depannya.
Sebab tengah berlari, Myra sulit mengerem langkahnya secara mendadak.
"Minggir!" pekik Myra mengibaskan tangan, sebelum tubuh mereka saling bertabrakan.
DUK!
Secara refleks, tangan Rafan terjulur menggenggam kedua lengan Myra. Beruntung, dia berhasil menahan keseimbangan agar mereka tidak terjatuh menghantam lantai.
"Kamu baik-baik saja?" ucapnya risau, mengeratkan genggaman.
"Ck! Mangkanya minggir! Jangan menghalangi jalan." oceh Myra mengernyit kesal,
"Mangkanya jangan lari. Bagaimana kalau kamu terpeleset?"
"Aku bukan anak kecil." ketus Myra dengan raut masam,
"Lagian, kenapa kamu menghindariku?" kata Rafan, suaranya melembut, menghujani Myra dengan tatapan hangat.
"Karena kamu selalu mengejarku!"
"Tidak akan kukejar kalau kamu tidak berlari," Rafan menjawab santai,
"Hh, buat apa aku berdebat dengannya?" batin Myra mendengus geram,
Berganti melirik telapak yang masih mengenggam kedua lengannya. Myra baru sadar jika tubuh mereka masih saling menempel,
"Argh! Lepaskan aku." tegas Myra mendepak tangan Rafan, langsung mundur guna memperlebar jarak mereka.
"Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk selalu bertemu," celetuk Rafan tersenyum usil.
"Ha ha ha, lucu sekali." Myra tertawa datar,
"Sudah, cepat minggir!"
"Tunggu---apa yang kamu lakukan di sini?" ucap Rafan berbasa-basi, kekeh menghalangi jalan.
"Apa dia bodoh?" Myra mengeratkan gigi, tak sengaja memindai penampilan lusuh Rafan. "Kenapa pria sepertinya bisa keterima jadi polisi?"
"Kamu bilang apa tadi?" Rafan menyela, berusaha menangkap ucapan lirih dari mulut Myra.