NovelToon NovelToon
PEWARIS YANG MENGGUNCANGKAN ISTANA

PEWARIS YANG MENGGUNCANGKAN ISTANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Penyesalan Suami / Sistem
Popularitas:165.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Enam tahun lalu, Alisha Husnah melangkah keluar dari kediaman mewah keluarga Raffasyah dengan hati hancur. Sebuah skandal menjijikkan yang dirancang rapi memaksanya percaya bahwa suaminya, Fardan, telah berkhianat. Alisha pergi, membawa rahasia besar tentang janin yang dikandungnya.

Kini, takdir membawa mereka bertemu dalam sebuah proyek besar. Fardan, sang CEO dingin yang menyimpan dendam atas kepergian istrinya, memberikan ultimatum kejam: kembali padanya atau kehilangan hak asuh atas putra mereka, Ghifari.

Namun, baik Fardan maupun keluarga besar Raffasyah tidak menyadari satu hal. Ghifari bukan sekadar bocah biasa. Dibalik wajah imutnya, tersimpan kecerdasan genius yang ia warisi dari ayahnya. Sementara orang tuanya terjebak dalam perang dingin dan sisa-sisa cinta yang luka, Ghifari mulai bergerak dibalik layar.

Dia bukan hanya ingin menyatukan Ayah dan Ibunya saja. Tapi misinya ingin membongkar topeng busuk para penghuni "istana" yang memisahkan keluarganya. Si kecil siap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JEJAK DIGITAL.

Mobil hitam itu membelah jalanan pedesaan yang asri menuju kawasan Pondok Pesantren Nurul Hidayah. Fardan menatap keluar jendela, melihat pemandangan yang menyejukkan mata. Para lelaki mengenakan sarung dan baju koko, sementara para wanita menutup aurat dengan anggun. Suasana yang jauh dari kebisingan kota Jakarta ini terasa seperti oase bagi jiwa Fardan yang baru saja terbangun.

"Kita sudah sampai, Tuan," ucap Dewa sambil memarkirkan mobil di depan sebuah kediaman sederhana yang asri.

Ratna dan Maya turun dengan langkah ragu. Mereka melihat sekeliling dengan tatapan asing. Ini adalah dunia yang belum pernah mereka jamah sebelumnya. Tak lama, seorang pria paruh baya berwajah teduh keluar menyambut mereka. Ia adalah Kyai Abdullah, pemilik pesantren tersebut, didampingi istrinya, Nyai Salamah.

"Assalamu’alaikum, Kyai. Saya Fardan yang tadi menghubungi lewat telepon," sapa Fardan sambil mencium tangan sang Kyai dengan takzim.

Kyai Abdullah tersenyum ramah. "Wa’alaikumussalam, Nak Fardan. Mari masuk, silakan duduk di serambi."

Fardan duduk bersama Kyai, sementara Nyai Salamah mengajak Ratna dan Maya ke sisi lain. Fardan menarik napas panjang sebelum memulai pembicaraan. "Kyai, saya menitipkan ibu dan kakak saya di sini. Terus terang, mereka sangat jauh dari tuntunan agama. Saya mohon bimbingan Nyai Salamah agar mereka bisa mengenal kembali hakikat hidup sebagai hamba Allah."

"Insya Allah, Nak. Kami menerima siapa pun yang berniat bertaubat dengan tangan terbuka. Di sini, kami semua belajar, tidak ada yang merasa lebih suci," jawab Kyai Abdullah dengan suara yang menenangkan.

Setelah menunjukkan sebuah pondok kecil berbahan kayu yang bersih untuk tempat tinggal Ratna dan Maya, Fardan mengeluarkan sebuah amplop tebal. Di dalamnya terdapat cek dengan nominal yang sangat fantastis. Kyai Abdullah sempat terkejut dan bermaksud menolak.

"Maaf, Nak Fardan. Kami menerima mereka karena Allah, bukan karena bayaran," ujar Kyai Abdullah lembut.

Fardan menggeleng perlahan, ia tersenyum tulus. "Kyai, saya memberikan ini juga karena Allah. Ini adalah rezeki yang dititipkan Allah lewat saya untuk membantu pembangunan pondok dan kesejahteraan para santri di sini. Mohon diterima sebagai bentuk syukur saya."

Mendengar penjelasan itu, Kyai Abdullah akhirnya menerima dengan ucapan hamdalah. "Alhamdulillah, semoga Allah membalas kebaikanmu dan melancarkan segala urusanmu."

Fardan kemudian menghampiri ibunya yang tampak mulai melunak. Ia memeluk Ratna dengan erat, sebuah pelukan yang sudah bertahun-tahun tidak ia lakukan dengan tulus.

"Ma, Fardan pergi dulu. Mama baik-baik di sini bersama Nyai Salamah. Doakan Fardan agar bisa membawa Alisha dan Ghifari kembali ke pelukan kita," bisik Fardan.

Ratna meneteskan air mata, ia mengangguk pelan. "Iya, Nak. Mama akan selalu mendoakanmu. Maafkan semua kesalahan Mama selama ini."

Fardan pun berpamitan. Ia segera masuk ke dalam mobil dan menatap Dewa. "Langsung ke bandara, Dewa. Kita berangkat ke Swiss sekarang juga."

Sementara itu, di sebuah vila kayu yang hangat di lereng pegunungan Alpen, Swiss, suasana tampak tenang. Salju turun perlahan di balik jendela kaca yang besar. Ghifari duduk di sofa empuk dengan tablet canggih di pangkuannya. Jemarinya menari lincah di atas layar, memantau setiap pergerakan yang terjadi ribuan mil jauhnya.

"Bunda, Ayah sudah meninggalkan nenek di pesantren. Dia benar-benar serius ingin berubah," ucap Ghifari tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya.

Alisha yang sedang menyeduh teh hangat tertegun sejenak. Ia mendekati putranya dan duduk di sampingnya. "Kau masih mengawasinya, Sayang?"

"Tentu saja. Aku harus memastikan dia aman dan tidak melakukan kesalahan lagi," jawab Ghifari dengan nada dewasa yang seringkali membuat Alisha merinding. "Bunda, jika Ayah sampai di sini dan bersujud memohon ampun, apakah Bunda akan menerimanya kembali?"

Alisha terdiam. Ia menatap kepulan uap dari cangkir tehnya. Raut kekecewaan yang mendalam masih membekas di wajah cantiknya. "Bunda tidak tahu, Ghifari. Terlalu banyak luka yang ia torehkan. Terutama... pengkhianatannya di malam perjamuan itu."

Ghifari menoleh, ia menatap ibunya dengan tatapan menyelidik. "Maksud Bunda soal tidur dengan wanita lain?"

Alisha mengangguk perlahan, matanya mulai berkaca-kaca. "Kejadian di hotel itu sulit untuk Bunda lupakan, Nak."

Ghifari menghela napas panjang. Ia segera menekan beberapa tombol di tabletnya, memutar sebuah rekaman video yang selama ini ia simpan rapat-rapat. "Bunda, lihatlah ini baik-baik. Aku sudah merestorasi video CCTV asli dari hotel itu enam tahun lalu."

Alisha terpaku melihat layar tablet. Di sana terlihat Fardan yang tampak sangat tidak berdaya, wajahnya merah dan matanya tertutup rapat. Sherly masuk ke kamar, namun ia hanya merekayasa keadaan. Sherly memindahkan tangan Fardan agar terlihat sedang memeluknya, lalu mengeluarkan suara-suara palsu saat melihat Alisha datang. Fardan sama sekali tidak bergerak, ia benar-benar pingsan karena obat bius.

"Ayah tidak pernah berkhianat, Bunda," tegas Ghifari. "Dia adalah korban dari keserakahan keluarga dan kelicikan wanita itu. Dia tidak sadar sedikit pun saat kejadian itu berlangsung. Kesetiaannya pada Bunda tidak perlu diragukan."

Alisha menutup mulutnya dengan tangan. Air mata jatuh membasahi pipinya. Rasa bersalah yang besar kini menghujam jantungnya karena telah menuduh suaminya melakukan hal sehina itu. Selama enam tahun ia membawa kebencian yang ternyata salah alamat.

"Jadi... Ayahmu benar-benar tidak melakukannya?" tanya Alisha dengan suara bergetar.

"Sistem tidak pernah berbohong, Bunda. Data ini akurat seratus persen," jawab Ghifari tenang.

Alisha terisak pelan. "Lalu mengapa dia baru berubah sekarang? Mengapa dia membiarkan kita menderita begitu lama?"

Ghifari meletakkan tabletnya dan memegang tangan ibunya. "Karena terkadang Allah ingin kita tersesat dulu agar kita tahu betapa berharganya jalan pulang. Bunda tenang saja, kita tidak akan langsung memaafkannya begitu saja."

Alisha menatap putranya dengan heran. "Apa maksudmu, Sayang?"

"Kita akan melihat seberapa besar perjuangan Ayah untuk menemukan kita di Swiss yang luas ini," ujar Ghifari dengan senyum misterius. "Jika dia benar-benar mencintai kita dan Allah memang menjodohkan kalian kembali, dia pasti akan sampai di depan pintu ini tanpa bantuan GPS dariku."

"Bagaimana jika dia gagal?" tanya Alisha dengan nada cemas yang mulai muncul.

"Jika dia gagal, berarti dia belum cukup sungguh-sungguh. Dan kita akan menetap di sini selamanya bersama Kakek Henry," jawab Ghifari mantap.

Alisha memeluk putra kecilnya itu. Ia merasa kagum sekaligus ngeri dengan kecerdasan Ghifari. Di sisi lain, hatinya mulai berdoa secara rahasia. Ia berharap Fardan benar-benar bisa menemukan mereka. Kini, keraguan tentang kesetiaan Fardan sudah hilang, yang tersisa hanyalah ujian tentang kesungguhan hati.

Di belahan bumi yang lain, pesawat jet pribadi Fardan baru saja lepas landas. Fardan menatap hamparan awan di bawahnya sambil memegang tasbih. Ia tidak tahu koordinat pasti di mana Alisha berada, namun ia memiliki keyakinan bahwa jika ia melangkah karena Allah, maka Allah pulalah yang akan menuntun langkahnya.

"Tunggu aku, Alisha. Tunggu Ayah, Ghifari," bisik Fardan dalam hati.

Perjalanan panjang menuju Swiss bukan hanya sekadar perjalanan melintasi benua, melainkan perjalanan mencari kepingan jiwanya yang hilang. Dan di lereng gunung Alpen yang sunyi, Ghifari telah menyiapkan labirin kecil untuk menguji sang ayah sebelum ia benar-benar boleh mengetuk pintu rumah mereka.

1
Eliermswati
lnjut lg y thor up nya😍😍😍smngt thor up nya
Aghitsna Agis
fajar peetanyaannya untuk gifari kurang tepat, kenapa pertanyaannya tudak dimulai dengan mengatakan apa menyayangi ayah dulu
Umi Maryam
thor gimana kabar kehamilan nya alisha udah berapa bulan ? sibuk ngurusin fahmi sampe lupa kalau alisha lagi uamil jadi ga hamil nya?? 🤣🤣🤣🤣
Umi Maryam
kalau bukan di novel nya ramanda mana ada anak kaya gifari ,apalagi di dunia nyata , kalau ada sih mau thor punya cucu kaya gifari 🤭🤭
Umi Maryam
Akhir nya bujang lapuk ketemu jodoh .
Umi Maryam
alhamdulillah tofcer kembar yah tar anak nya.
Umi Maryam
masya allah fardan dan alisha KK amu anak2 yg baik ,bagi fardan sejahat apapun ibu mu surgamu ada pada ibu mu ,semiga ibu ratna husnul khotimah ya thor .
Umi Maryam
selamat mendapat hukuman kaluan tidur di luar 😂😂😂😂
Umi Maryam
cihuy semoga kecebong nya tofcer langsung jadi dua 🤣🤣🤣💪
Umi Maryam
hih aku benci deh kalau udah ada jebakan laknat ,mampus luh bastian and guntur ,hajar tuh cowo cabul....
Umi Maryam
musuh konglomerat mah ga ada abiis nya yah , semoga alysa cepet hamil dan anak nya kembar ,sayang harta nya kalau punya anak satu aja....
Umi Maryam
Thor masa alysa manggil suami dan anak sama nama doang ,aturan panggilan nya beda dong ,baca nya ga enak ...
Umi Maryam
bagus ghifari emang harus di kasih pelajaran ayah mu yg sombong dan songong , sekalian tuh nene lampur si ratna biar mati berdiri jadi musik n.
Aghitsna Agis
aduh gifari kemana ya
Naufal hanifah
bagus ceritanya
yelmi
mampir di karya barumu tor... awal yg menarik
semangat nulis y tor👍🫰
Aghitsna Agis
lagi pula jackson nga ounya hak mau nguras harta henry kecuali kalau perusahaan itu lpunya margaretha baru ingin kuasai dan itu juga kalau yg dioegang perusahhanya punya keluarga besar baru nuntut hak kalau margretha mendirikanya uang sendiri jakcin nga punya hak juga
endang
makin seru ceritanya Thor
Julidarwati
kyknya mo end the ya Krn semua UD happy
Rita Susanti
apa sih thor anu anu😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!