NovelToon NovelToon
PEWARIS YANG MENGGUNCANGKAN ISTANA

PEWARIS YANG MENGGUNCANGKAN ISTANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Penyesalan Suami / Sistem
Popularitas:15.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Enam tahun lalu, Alisha Husnah melangkah keluar dari kediaman mewah keluarga Raffasyah dengan hati hancur. Sebuah skandal menjijikkan yang dirancang rapi memaksanya percaya bahwa suaminya, Fardan, telah berkhianat. Alisha pergi, membawa rahasia besar tentang janin yang dikandungnya.

Kini, takdir membawa mereka bertemu dalam sebuah proyek besar. Fardan, sang CEO dingin yang menyimpan dendam atas kepergian istrinya, memberikan ultimatum kejam: kembali padanya atau kehilangan hak asuh atas putra mereka, Ghifari.

Namun, baik Fardan maupun keluarga besar Raffasyah tidak menyadari satu hal. Ghifari bukan sekadar bocah biasa. Dibalik wajah imutnya, tersimpan kecerdasan genius yang ia warisi dari ayahnya. Sementara orang tuanya terjebak dalam perang dingin dan sisa-sisa cinta yang luka, Ghifari mulai bergerak dibalik layar.

Dia bukan hanya ingin menyatukan Ayah dan Ibunya saja. Tapi misinya ingin membongkar topeng busuk para penghuni "istana" yang memisahkan keluarganya. Si kecil siap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JEJAK DIGITAL.

Mobil hitam itu membelah jalanan pedesaan yang asri menuju kawasan Pondok Pesantren Nurul Hidayah. Fardan menatap keluar jendela, melihat pemandangan yang menyejukkan mata. Para lelaki mengenakan sarung dan baju koko, sementara para wanita menutup aurat dengan anggun. Suasana yang jauh dari kebisingan kota Jakarta ini terasa seperti oase bagi jiwa Fardan yang baru saja terbangun.

"Kita sudah sampai, Tuan," ucap Dewa sambil memarkirkan mobil di depan sebuah kediaman sederhana yang asri.

Ratna dan Maya turun dengan langkah ragu. Mereka melihat sekeliling dengan tatapan asing. Ini adalah dunia yang belum pernah mereka jamah sebelumnya. Tak lama, seorang pria paruh baya berwajah teduh keluar menyambut mereka. Ia adalah Kyai Abdullah, pemilik pesantren tersebut, didampingi istrinya, Nyai Salamah.

"Assalamu’alaikum, Kyai. Saya Fardan yang tadi menghubungi lewat telepon," sapa Fardan sambil mencium tangan sang Kyai dengan takzim.

Kyai Abdullah tersenyum ramah. "Wa’alaikumussalam, Nak Fardan. Mari masuk, silakan duduk di serambi."

Fardan duduk bersama Kyai, sementara Nyai Salamah mengajak Ratna dan Maya ke sisi lain. Fardan menarik napas panjang sebelum memulai pembicaraan. "Kyai, saya menitipkan ibu dan kakak saya di sini. Terus terang, mereka sangat jauh dari tuntunan agama. Saya mohon bimbingan Nyai Salamah agar mereka bisa mengenal kembali hakikat hidup sebagai hamba Allah."

"Insya Allah, Nak. Kami menerima siapa pun yang berniat bertaubat dengan tangan terbuka. Di sini, kami semua belajar, tidak ada yang merasa lebih suci," jawab Kyai Abdullah dengan suara yang menenangkan.

Setelah menunjukkan sebuah pondok kecil berbahan kayu yang bersih untuk tempat tinggal Ratna dan Maya, Fardan mengeluarkan sebuah amplop tebal. Di dalamnya terdapat cek dengan nominal yang sangat fantastis. Kyai Abdullah sempat terkejut dan bermaksud menolak.

"Maaf, Nak Fardan. Kami menerima mereka karena Allah, bukan karena bayaran," ujar Kyai Abdullah lembut.

Fardan menggeleng perlahan, ia tersenyum tulus. "Kyai, saya memberikan ini juga karena Allah. Ini adalah rezeki yang dititipkan Allah lewat saya untuk membantu pembangunan pondok dan kesejahteraan para santri di sini. Mohon diterima sebagai bentuk syukur saya."

Mendengar penjelasan itu, Kyai Abdullah akhirnya menerima dengan ucapan hamdalah. "Alhamdulillah, semoga Allah membalas kebaikanmu dan melancarkan segala urusanmu."

Fardan kemudian menghampiri ibunya yang tampak mulai melunak. Ia memeluk Ratna dengan erat, sebuah pelukan yang sudah bertahun-tahun tidak ia lakukan dengan tulus.

"Ma, Fardan pergi dulu. Mama baik-baik di sini bersama Nyai Salamah. Doakan Fardan agar bisa membawa Alisha dan Ghifari kembali ke pelukan kita," bisik Fardan.

Ratna meneteskan air mata, ia mengangguk pelan. "Iya, Nak. Mama akan selalu mendoakanmu. Maafkan semua kesalahan Mama selama ini."

Fardan pun berpamitan. Ia segera masuk ke dalam mobil dan menatap Dewa. "Langsung ke bandara, Dewa. Kita berangkat ke Swiss sekarang juga."

Sementara itu, di sebuah vila kayu yang hangat di lereng pegunungan Alpen, Swiss, suasana tampak tenang. Salju turun perlahan di balik jendela kaca yang besar. Ghifari duduk di sofa empuk dengan tablet canggih di pangkuannya. Jemarinya menari lincah di atas layar, memantau setiap pergerakan yang terjadi ribuan mil jauhnya.

"Bunda, Ayah sudah meninggalkan nenek di pesantren. Dia benar-benar serius ingin berubah," ucap Ghifari tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya.

Alisha yang sedang menyeduh teh hangat tertegun sejenak. Ia mendekati putranya dan duduk di sampingnya. "Kau masih mengawasinya, Sayang?"

"Tentu saja. Aku harus memastikan dia aman dan tidak melakukan kesalahan lagi," jawab Ghifari dengan nada dewasa yang seringkali membuat Alisha merinding. "Bunda, jika Ayah sampai di sini dan bersujud memohon ampun, apakah Bunda akan menerimanya kembali?"

Alisha terdiam. Ia menatap kepulan uap dari cangkir tehnya. Raut kekecewaan yang mendalam masih membekas di wajah cantiknya. "Bunda tidak tahu, Ghifari. Terlalu banyak luka yang ia torehkan. Terutama... pengkhianatannya di malam perjamuan itu."

Ghifari menoleh, ia menatap ibunya dengan tatapan menyelidik. "Maksud Bunda soal tidur dengan wanita lain?"

Alisha mengangguk perlahan, matanya mulai berkaca-kaca. "Kejadian di hotel itu sulit untuk Bunda lupakan, Nak."

Ghifari menghela napas panjang. Ia segera menekan beberapa tombol di tabletnya, memutar sebuah rekaman video yang selama ini ia simpan rapat-rapat. "Bunda, lihatlah ini baik-baik. Aku sudah merestorasi video CCTV asli dari hotel itu enam tahun lalu."

Alisha terpaku melihat layar tablet. Di sana terlihat Fardan yang tampak sangat tidak berdaya, wajahnya merah dan matanya tertutup rapat. Sherly masuk ke kamar, namun ia hanya merekayasa keadaan. Sherly memindahkan tangan Fardan agar terlihat sedang memeluknya, lalu mengeluarkan suara-suara palsu saat melihat Alisha datang. Fardan sama sekali tidak bergerak, ia benar-benar pingsan karena obat bius.

"Ayah tidak pernah berkhianat, Bunda," tegas Ghifari. "Dia adalah korban dari keserakahan keluarga dan kelicikan wanita itu. Dia tidak sadar sedikit pun saat kejadian itu berlangsung. Kesetiaannya pada Bunda tidak perlu diragukan."

Alisha menutup mulutnya dengan tangan. Air mata jatuh membasahi pipinya. Rasa bersalah yang besar kini menghujam jantungnya karena telah menuduh suaminya melakukan hal sehina itu. Selama enam tahun ia membawa kebencian yang ternyata salah alamat.

"Jadi... Ayahmu benar-benar tidak melakukannya?" tanya Alisha dengan suara bergetar.

"Sistem tidak pernah berbohong, Bunda. Data ini akurat seratus persen," jawab Ghifari tenang.

Alisha terisak pelan. "Lalu mengapa dia baru berubah sekarang? Mengapa dia membiarkan kita menderita begitu lama?"

Ghifari meletakkan tabletnya dan memegang tangan ibunya. "Karena terkadang Allah ingin kita tersesat dulu agar kita tahu betapa berharganya jalan pulang. Bunda tenang saja, kita tidak akan langsung memaafkannya begitu saja."

Alisha menatap putranya dengan heran. "Apa maksudmu, Sayang?"

"Kita akan melihat seberapa besar perjuangan Ayah untuk menemukan kita di Swiss yang luas ini," ujar Ghifari dengan senyum misterius. "Jika dia benar-benar mencintai kita dan Allah memang menjodohkan kalian kembali, dia pasti akan sampai di depan pintu ini tanpa bantuan GPS dariku."

"Bagaimana jika dia gagal?" tanya Alisha dengan nada cemas yang mulai muncul.

"Jika dia gagal, berarti dia belum cukup sungguh-sungguh. Dan kita akan menetap di sini selamanya bersama Kakek Henry," jawab Ghifari mantap.

Alisha memeluk putra kecilnya itu. Ia merasa kagum sekaligus ngeri dengan kecerdasan Ghifari. Di sisi lain, hatinya mulai berdoa secara rahasia. Ia berharap Fardan benar-benar bisa menemukan mereka. Kini, keraguan tentang kesetiaan Fardan sudah hilang, yang tersisa hanyalah ujian tentang kesungguhan hati.

Di belahan bumi yang lain, pesawat jet pribadi Fardan baru saja lepas landas. Fardan menatap hamparan awan di bawahnya sambil memegang tasbih. Ia tidak tahu koordinat pasti di mana Alisha berada, namun ia memiliki keyakinan bahwa jika ia melangkah karena Allah, maka Allah pulalah yang akan menuntun langkahnya.

"Tunggu aku, Alisha. Tunggu Ayah, Ghifari," bisik Fardan dalam hati.

Perjalanan panjang menuju Swiss bukan hanya sekadar perjalanan melintasi benua, melainkan perjalanan mencari kepingan jiwanya yang hilang. Dan di lereng gunung Alpen yang sunyi, Ghifari telah menyiapkan labirin kecil untuk menguji sang ayah sebelum ia benar-benar boleh mengetuk pintu rumah mereka.

1
Amy
coba ganti panggilannya kaka othor, masa suami istri tdak ada romantis2nya
Lali Omah: iy betul ganti donk thorrr sedikit romantis gt biar seneng bacanya
total 1 replies
Lia siti marlia
wel wel wel di tunggu pa alex🤣
Linda Muslimah: Seru lanjut kak 🤭
total 1 replies
Tata Hayuningtyas
jgn kelamaan up nya thor 🤭
Tata Hayuningtyas
cerita nya bagus dan ga bertele2
Amy
Cobalah terbuka alisha, karna seapik apapun kau menyembunyikan masalah, ada anakmu yg super, bisa membaca setiap masalah🤭
Lia siti marlia
untung ada gifari apapun yang di sembunyikan ibunya pasti akan ketahuan olehnya 😄👍
Lia siti marlia
sayng banget yah ayah hrnry sama alisha dan gifari saking sayang nya semua sudah di persiapkan secara matang👍
Lia siti marlia
lucu kamu fardan .....aduh gifari sampai kamar mamjmu di sadapnya nanti kalau mamahmu sama ayahmu lagi bikin adek buat kamu kamu jangan ngintpnya 🤭
Lia siti marlia
semangat fatdan💪
Uba Muhammad Al-varo
karma dibayar lunas dan langsung di terima Maya dan ibunya
Uba Muhammad Al-varo
Fardan........ inilah perjuangan sesungguhnya baru dimulai

perjuangan
Uba Muhammad Al-varo
Fardan ditinggal pergi oleh Alisa dan Ghifari 😭😭😭
Uba Muhammad Al-varo
good 👍👍👌 Fardan kamu tegas jangan kamu mau dikibulin melulu oleh ibu dan kakak mu
Uba Muhammad Al-varo
baru deh melek matanya Fardan setelah selama ini merem karena diselimuti kelicikan ibu dan Sherly
Uba Muhammad Al-varo
good job Ghifari........👍👍👌
Uba Muhammad Al-varo
kemenangan sementara ditangan Ghifari tapi perang ini belum usai /Hey//Hey/
Uba Muhammad Al-varo
pertarungan akan dimulai antara bocah dan CEO dingin 🤔🤔🤔
ceuceu
Anak Maya berapa kok ga ada?
tapi di sebutkan anak anak maya
Uba Muhammad Al-varo
Ghifari.........👍👍👌
Uba Muhammad Al-varo
fardan kata CEO tapi kena ogeb 🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!