Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Rumah yang Patah Hati
Rumah mewah Atala pagi itu terasa sangat berat. Aroma kopi yang biasanya dominan, kini kalah oleh aroma alkohol yang samar-samar masih tercium dari arah kamar utama. Para ART berkumpul di dapur, berbisik-bisik dengan wajah cemas sekaligus heran.
"Semalam Pak Dewa kacau banget," bisik seorang ART sambil mencuci piring. "Jalan saja harus dipapah Pak Hadi. Sepanjang tangga dia terus-terusan manggil nama Bu Gisel. Suaranya sedih banget, kayak orang kehilangan nyawa."
"Iya, saya juga dengar," timpal ART lain. "Tumben banget Bapak sampai mabuk begitu. Mana ini sudah jam delapan lewat tapi Bapak belum bangun juga. Biasanya jam enam sudah rapi pakai jas."
Di meja makan, suasananya jauh lebih suram. Raka (17 thn) hanya mengaduk-aduk sereal tanpa nafsu makan. Alya (16 thn) duduk dengan mata sembab, terus-menerus menatap kursi kosong yang biasanya diduduki Gisel dengan segala ocehan ceplas-ceplosnya.
Hanya Digo (4 thn) yang masih polos. Ia mengetuk-ngetuk sendoknya ke piring kosong. "Kakak Raka... Ibu Wangi ke mana? Kok Digo nggak disuapin? Digo mau makan nasi goreng yang baunya enak kayak Ibu Wangi."
Raka terdiam, rahangnya mengeras. Ia meletakkan sendoknya dengan kasar. "Ibu lagi... lagi ada urusan sebentar, Digo. Makan sama Kakak saja, ya?"
"Nggak mau! Mau Ibu Wangi!" Digo mulai merengek, matanya mulai berkaca-kaca. "Semalam Papa teriak-teriak panggil Ibu Wangi juga. Kenapa Ibu nggak datang? Apa Ibu Wangi marah sama Digo?"
Alya tidak tahan lagi. Ia berdiri dan langsung lari kembali ke kamarnya sambil terisak. "Papa jahat! Semuanya gara-gara Papa!" teriaknya dari kejauhan.
Raka menoleh ke arah tangga, menatap pintu kamar ayahnya yang masih tertutup rapat. Ada kemarahan besar yang berkecamuk di dadanya. Ia tidak tega melihat adik-adiknya hancur, dan ia lebih tidak tega lagi membayangkan Gisel sendirian di luar sana.
Tiba-tiba, pintu kamar utama terbuka. Dewa (35 thn) muncul dengan langkah gontai. Kemejanya kusut, rambutnya acak-acakan, dan kacamata bacanya entah di mana. Wajahnya pucat pasi dengan mata merah yang sangat kentara.
Dewa menuruni tangga perlahan, aroma alkohol masih menguar tipis dari tubuhnya. Begitu sampai di ruang makan, ia terpaku melihat Digo yang menangis dan kursi kosong Gisel.
"Papa..." panggil Digo lirih. "Ibu Wangi mana?"
Dewa merasa jantungnya diremas kuat. Ia tidak menjawab, malah berjalan menuju dapur dan mengambil segelas air dingin dengan tangan yang gemetar.
"Puas, Pa?" sindir Raka dingin. "Puas mabuk-mabukan sementara rumah ini hancur? Gisel pergi karena Papa lebih milih bengong liat 'kembaran' Mama daripada pegang tangan istri Papa sendiri."
Dewa membeku, ia membelakangi Raka. "Saya akan membawanya pulang, Raka. Sekarang juga."
"Gimana caranya? Papa bahkan nggak tahu dia di mana," ketus Raka lagi.
Dewa merogoh saku celananya yang kusut, mengambil kartu nama yang sempat ia minta dari Maya semalam. Ia baru teringat, ia punya akses ke sahabat Gisel.
Dewa melirik ke arah Digo yang duduk di sampingnya. Bocah itu tampak lesu, memeluk robot mainannya erat-erat. Wajah Dewa sendiri masih terlihat pucat akibat sisa alkohol semalam, namun matanya memancarkan tekad yang kuat. Ia harus membawa "mataharinya" pulang.
Mobil SUV hitam itu berhenti di depan rumah Maya yang terlihat sunyi. Dewa (35 thn) turun dengan langkah sedikit gontai, kemeja putihnya sudah rapi meski ia tidak memakai jas. Aroma white tea yang samar seolah memanggilnya dari dalam rumah itu.
"Sini, Digo," Dewa menggendong putra bungsunya.
Baru saja mereka hendak mengetuk pagar, seorang ibu-ibu paruh baya yang sedang menyapu halaman sebelah menghampiri mereka. "Cari Neng Maya ya, Pak?"
Hadi, asisten setia Dewa, segera maju mendahului bosnya. "Iya, Bu. Apakah Mbak Maya ada di rumah?"
"Oalah, telat Mas. Maya jam segini sudah di toko. Kan dia harus buka pagi," jawab si ibu sambil melirik Dewa dengan kagum. Jarang-jarang ada pria setampan dan setinggi 191 cm mampir ke komplek mereka.
"Oh begitu. Kalau boleh tahu, tokonya di mana ya, Bu?" tanya Hadi lagi.
"Itu, Toko Double M yang di ujung gang. Dekat pangkalan ojek. Cari saja yang catnya warna pink," si ibu memberi petunjuk dengan semangat.
"Oh, makasih ya, Bu," ucap Hadi sopan.
"Sama-sama, Mas!"
Hadi segera membukakan pintu mobil untuk Dewa. "Pak, sepertinya Bu Gisel juga ada di sana membantu Maya. Kita langsung ke sana?"
Dewa masuk ke dalam mobil tanpa banyak bicara, namun tangannya meremas ujung celananya. Ada rasa gugup yang aneh. "Jalan, Hadi. Ke toko itu sekarang."
Di dalam mobil, Digo mulai bersemangat. "Papa, kita mau jemput Ibu Wangi ke toko ya? Digo mau beli es krim juga!"
Dewa mengelus rambut Digo pelan. "Iya, Digo. Kita jemput Ibu."
Sepanjang jalan, Dewa hanya menatap ke luar jendela. Ia membayangkan pertemuan mereka nanti. Apa yang harus ia katakan? Apakah Gisel akan melemparkan botol sabun padanya? Atau justru mengusirnya dengan ocehan ceplas-ceplosnya? Dewa menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang karena rasa bersalah dan rindu yang bercampur jadi satu