Di tengah panas Kalimantan yang tak kunjung reda, Budi Santoso-seorang sales biasa di Palangkaraya menemukan kehidupan yang berubah drastis setelah sebuah “sistem” misterius muncul di kepalanya. Awalnya hanya alat untuk naik level dan bertahan hidup, sistem itu kini menjadi satu-satunya harapannya saat alam mulai bermutasi dengan kejam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Beberapa preman mendekat, dipimpin cowok muda umur sekitar 24 tahun. Penampilannya sembrono, tapi di pinggangnya tergantung pistol. Dia megang besi beton di tangan kanan, sesekali pukul-pukul ke telapak tangan kirinya. Begitu deket, dia langsung sombong, “Berani juga kau ya? Lihat kita dateng aja nggak kabur. Aku kira harus ngejar dulu!”
“Bos, ngapain omong panjang sama dia.”
“Oi, Kau! Senjata sama dompet taruh sini! Ceweknya tinggal! Cantik gini… pasti enak malam ini!” preman lain bilang sambil ngeliatin Rina, air liurnya hampir netes.
Muka Rina langsung pucat. Dia lirik Budi, bisik, “Harus panggil polisi nggak?”
“Polisi? Kau bercanda?”
“Ini akhir zaman, bro! Siapa peduli? Kalau nggak percaya, coba telepon aja.” Beberapa preman ketawa ngakak.
“Polisi udah nggak kerja lagi ya?” Meski Budi nggak paham dialek mereka sepenuhnya, dia bisa nebak maksudnya.
“Aku ngakak bro! Tiap hari orang mati berjibun, polisi sibuk sendiri. Bunuh kalian sekarang juga nggak ada yang selidiki. Kalau kau mau jadi pahlawan, nanti nyesel deh!” Pemimpin geng ketawa gila, tapi matanya gelisah. Tapi begitu ingat pistol di pinggang, dia langsung tenang lagi.
Lihat kelakuan mereka yang seenaknya, Budi yakin mereka nggak bohong. “Jadi… boleh dong aku bunuh kalian juga?” Budi tanya tenang banget.
Preman-preman itu nggak takut, malah maju. Pemimpinnya langsung tarik pistol, tapi Budi udah lama awasin. Dia nggak kasih kesempatan. Langsung dorong kaki ke depan, badannya melesat kayak panah. Pisau panjangnya keluar dari sarung secepat kilat, langsung iris tangan kanan pemimpin yang lagi pegang pistol. Tangan itu jatuh ke tanah, darah muncrat. Pemimpinnya jerit kesakitan kayak binatang.
Anggota geng lain langsung kaget. Kejadiannya terlalu cepat, mereka bingung mau lari atau maju.
Budi tendang pistol itu menjauh. Tanpa senjata api, mereka bukan lawan dia.
“Bunuh! Bunuh dia!” pemimpin geng teriak sambil pegang tangan berdarahnya, nangis histeris. Matanya penuh dendam. Beberapa preman ragu-ragu, sadar mereka ketemu lawan yang beda level.
Budi sempat ragu bunuh atau nggak? Moralnya, takut ditangkap polisi, bikin dia mikir dua kali. Tapi kalau pemimpin ini hidup, nanti Rina bakal kena masalah pas dia pergi. Dia nggak bisa ninggalin Rina sendirian.
“Rin, tutup mata,” Budi bilang tiba-tiba.
Pemimpin geng kayak ngerasa ada yang salah, mundur sambil teriak ke anak buahnya, “Pukul! Bodoh lu pada! Dia nggak bakal lepasin kalian!”
“Diam!” Budi bentak. Dia maju, angkat pisau, iris leher pemimpin itu sekali tebas. Mata pemimpin melebar, tangan kirinya pegang leher, coba nahan darah yang mengalir deras. Dia mau ngomong, tapi suara nggak keluar lagi. Badannya ambruk ke genangan darahnya sendiri.
Sesuatu berubah di pikiran Budi pas lihat orang itu jatuh. Dia balik badan, tatap preman-preman lain dengan mata pembunuh. Harus bunuh semua biar nggak ada saksi. Mereka preman, udah banyak berbuat jahat. Bunuh mereka nggak perlu ngerasa bersalah. Malah bisa dianggap bersih-bersih sampah masyarakat. Dia yakinin diri sendiri sebentar, lalu nggak ragu lagi.
Preman-preman itu ngerasa bahaya, langsung kabur. Tapi telat. Budi gerak cepat banget. Pisau iris leher satu orang, kepalanya melayang. Lompat lagi, tusuk leher yang lain, keluar dari sisi sebaliknya.
Tebas, tusuk, iris, potong! Nggak ada yang lolos. Dengan ketangkasan 12 poinnya, Budi habisin mereka semua dalam 12 detik. Darah berceceran di jalan berdebu.
Dia goyang-goyang pisau buat buang darah, lalu masukin lagi ke sarung.
Pas lagi bunuh, Budi ngerasa excited banget. Tapi sekarang, setelah selesai, yang tersisa cuma takut dan penyesalan. Gimana kalau polisi nemuin? Dia balik badan, lihat Rina duduk di tanah, mukanya pucat ketakutan.
Budi buru-buru lari ke arahnya. “Kamu baik-baik aja? Kan kubilang tutup mata, kenapa nggak nurut?”
“Pembunuh… kamu bunuh mereka…” Rina bergumam sendiri, nggak berani lihat Budi.
“Tenang, cuma preman. Kita harus cepet pergi, kalau ada yang lihat, kita kena masalah!” Budi bilang, tapi langsung sadar kata-katanya salah. Dia lebih khawatir konsekuensi hukum daripada pembunuhan itu sendiri. Bunuh orang sekarang rasanya sama kayak bunuh tikus mutan tadi. Dia bertanya-tanya dalam hati: sejak kapan dia jadi gini?
“Iya… kita harus pergi!” Rina langsung jawab. Tapi pas mau berdiri, kakinya lemes. “Bantu aku dong… kakiku kesemutan.”
Budi lihat posisi duduk Rina nggak pantas. Roknya tersingkap, memperlihatkan bokong mulusnya. Setelah adrenalin pembunuhan masih tinggi, Budi jadi lebih berani. Tangannya langsung nyentuh pantat Rina pelan.
“Apaan sih?!” Rina teriak kaget, mukanya merah padam.
Budi tarik Rina berdiri. “Dasar mesum! Otaknya cuma mikir yang aneh-aneh!” Rina marah, dorong tangan Budi.
“Kenapa nggak pake celana dalam? Wajar dong cowok normal bereaksi gitu!” Budi jawab polos. Dia bingung kenapa cewek ribet banget. Semalem Rina yang minta, tapi sekarang marah-marah.
Muka Rina tambah merah. “Meski aku nggak pake, kamu tetep nggak boleh! Kamu bukan pacarku!” Dia nendang kaki Budi pelan, lalu jalan pergi sambil marah. “Aku pergi sendiri! Kamu pulang aja!”
Tapi langkahnya pelan pas lihat mayat-mayat di belakang.
“Masih jauh jalan ke rumahmu. Bahaya kalau sendirian. Aku khawatir,” kata Budi.
“Tinggalin aku! Sampai rumahku juga aku usir kamu!” Rina ancam.
“Harus gini amat? Aku cuma mau bantu.” Budi menghela napas, lalu tambah kesal, “Yaudah, aku pulang. Kamu marah banget, nggak mau lihat aku lagi. Seharusnya aku nggak ikut dari awal!” Dia balik badan, jalan pergi tanpa nengok lagi.
Rina balik badan, lihat Budi makin menjauh. Dadanya sesak. Dia nunggu sebentar, tapi Budi tetep jalan. Akhirnya dia jongkok, nangis sesenggukan. Air mata yang ditahan sejak tadi jebol.
Pas lagi nangis, terdengar suara, “Udah gede kok masih nangis?”
Rina nangis lebih kenceng. “Jangan ganggu! Kenapa balik lagi? Bukannya pulang?!”
“Aku bercanda, sayang. Aku ingat ada pistol di situ. Mau ambil,” Budi jelasin. Dia nggak bakal ninggalin Rina sendirian, meski nggak ada misi.
Rina langsung berhenti nangis. Dia berdiri, tanya, “Kamu gila? Buang aja! Kalau polisi tahu, kita ditangkap!”
Budi tersentuh. “Pistol ini buat kamu. Nanti bisa dipake kalau bahaya. Polisi sibuk banget sekarang. Preman aja bisa punya senjata, pasti banyak orang lain juga. Simpen baik-baik, aman kok.”
“Tapi aku nggak bisa nembak,” Rina bilang pelan.
“Aku pernah belajar dari polisi dulu. Nanti aku ajarin,” Budi senyum.
Rina marah lagi lihat senyum itu. “Jangan senyum-senyum! Aku belum maafin kamu. Kejadian semalem itu kesalahan! Kalau kamu nyentuh aku lagi, aku… aku…” Dia nggak nemu ancaman yang pas.
Bau darah mulai narik hewan mutan lain. Ada bayangan gelap di langit burung pemakan bangkai mungkin. Lebih banyak lagi yang bakal dateng. Bagus juga, karena bakal susah polisi nemuin jejak kalau banyak hewan mutan dateng.
Budi lihat sekitar. “Tempat ini nggak aman lagi. Ayo pergi sekarang.” Dia gandeng tangan Rina, lalu lari.